NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angin Perubahan dari Utara

Kedamaian yang terasa begitu manis dan hangat itu tak berlangsung selamanya dalam diam. Meski para pengkhianat telah dihukum, meski kesalahpahaman telah terurai, dan meski ikatan keluarga telah kembali lebih kuat dari sebelumnya, dunia di luar tembok istana terus bergerak dan berubah. Di kejauhan, di wilayah-wilayah yang terletak di bagian paling utara kerajaan, angin mulai membawa kabar yang tak sepenuhnya menyenangkan, kabar yang perlahan akan kembali menguji keteguhan hati mereka semua.

Beberapa minggu setelah upacara kenegaraan usai, Taylor menerima laporan dari para pengawas perbatasan. Laporan itu disampaikan dengan nada yang hati-hati dan penuh perhatian, seolah mereka takut menyampaikan sesuatu yang bisa mengganggu ketenangan pemimpin mereka. Di daerah Pegunungan Utara, yang selama ini dikenal sebagai wilayah yang damai dan makmur, mulai terjadi gejolak yang tak biasa. Penduduk di sana mulai berbisik-bisik, para kepala suku mengadakan pertemuan tertutup, dan beberapa kelompok orang mulai berkumpul dengan alasan yang belum jelas.

Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat dan cahayanya menyinari ruang kerja dengan warna keemasan, Taylor duduk di balik meja besarnya, membolak-balikkan tumpukan surat dan laporan yang baru saja diterimanya. Wajahnya yang biasanya berseri dan tenang kini terlihat serius, alisnya sedikit berkerut seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat. Elizabeth masuk ke dalam ruangan sambil membawa secangkir teh hangat, dan saat melihat wajah suaminya, dia langsung mengerti bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran laki-laki itu.

“Masih memikirkan laporan dari utara?” tanya Elizabeth lembut sambil meletakkan cangkir teh di atas meja, lalu duduk di kursi di hadapan suaminya.

Taylor mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis, senyum yang tak sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran di matanya. “Kau tahu aku memang tak bisa menyembunyikan apa-apa darimu, ya. Benar, aku sedang memikirkan hal itu. Selama ratusan tahun, wilayah utara selalu menjadi bagian yang setia dan damai di dalam kerajaan kita. Penduduknya hidup rukun, mereka membayar pajak dengan tepat waktu, dan mereka selalu bersedia membantu jika negeri ini membutuhkan. Tapi sekarang, tiba-tiba saja mereka mulai berubah. Laporan mengatakan bahwa mereka merasa tidak puas, mereka merasa terasingkan, dan mereka merasa bahwa pemerintah pusat di ibu kota tak lagi memahami kebutuhan dan kesulitan mereka.”

Elizabeth mengangguk pelan, matanya menatap suaminya dengan perhatian. “Aku mengerti perasaanmu. Hal yang paling menakutkan bagi seorang pemimpin bukanlah musuh yang datang dengan pedang dan perisai, melainkan orang-orang yang dulu kita anggap saudara mulai merasa asing dan terasingkan. Tapi apakah kita tahu apa yang sebenarnya membuat mereka merasa seperti itu? Apakah ada masalah yang belum terselesaikan, atau apakah ada orang lain yang sengaja menanamkan benih keraguan di sana, sama seperti yang pernah terjadi di dalam istana kita dulu?”

“Itulah yang membuatku khawatir,” jawab Taylor sambil menyandarkan punggungnya di kursi dan memejamkan matanya sejenak. “Bisa jadi memang ada masalah yang kita tak sadari selama ini. Wilayah utara terletak di daerah pegunungan yang jauh dari sini, perjalanannya memakan waktu berhari-hari, dan komunikasi antara mereka dengan ibu kota memang tak secepat dan semudah dengan daerah-daerah lain. Bisa jadi kebijakan yang kita buat di sini ternyata tak cocok dengan keadaan dan kebutuhan mereka di sana. Tapi di sisi lain, aku juga tak bisa melupakan apa yang telah kita alami. Kita tahu betapa mudahnya orang bisa dimanipulasi, betapa mudahnya benih keraguan bisa tumbuh di hati orang-orang yang baik dan setia. Bisa jadi ada orang yang berniat jahat yang sedang bermain di balik layar di sana, berusaha memecah belah persatuan negeri kita sama seperti yang pernah dilakukan oleh Guetta, Berlin, dan Valeria.”

Mendengar nama-nama itu, suasana di dalam ruangan terasa sedikit menjadi dingin. Walaupun mereka sudah dihukum dan diusir dari istana, bayang-bayang perbuatan mereka masih terasa ada di udara, mengingatkan mereka bahwa kejahatan dan ambisi takkan pernah benar-benar mati, mereka hanya berubah bentuk dan berpindah tempat.

“Kalau begitu, apa rencanamu?” tanya Elizabeth lagi dengan suara yang tenang namun penuh dukungan. “Kita tak bisa hanya duduk diam dan menunggu sampai gejolak di sana menjadi besar dan sulit dikendalikan. Tapi kita juga tak bisa bertindak tergesa-gesa, karena tindakan yang salah justru bisa membuat keadaan menjadi lebih buruk lagi.”

Taylor membuka matanya dan menatap wajah istrinya dengan pandangan yang penuh tekad. “Kau benar. Kita tak bisa bertindak dengan tergesa-gesa, dan kita juga tak bisa diam saja. Aku sudah memutuskan, dalam beberapa hari ke depan aku akan berangkat sendiri ke wilayah utara. Aku akan pergi ke sana, berjalan di antara rakyatku, mendengar langsung apa yang ada di dalam hati mereka, melihat sendiri keadaan dan kesulitan yang mereka hadapi, dan mencari tahu apakah ini memang masalah yang nyata atau sekadar akibat dari kebohongan yang disebarkan oleh orang yang berniat jahat. Aku ingin memastikan kebenarannya sendiri, dengan mataku dan telingaku sendiri, tanpa perantara atau laporan orang lain yang mungkin saja bisa berubah maknanya.”

Mata Elizabeth melebar sedikit mendengar rencana itu, dan di dalam hatinya timbul rasa khawatir yang mendalam. Wilayah utara bukanlah tempat yang mudah untuk dijangkau. Jalan menuju ke sana melewati hutan lebat dan pegunungan yang terjal, cuacanya berubah-ubah dengan cepat, dan di sana pun ada orang yang mungkin saja tak menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka. Tapi saat dia menatap mata suaminya, dia melihat tekad yang sama yang selalu dia lihat setiap kali suaminya menghadapi masalah yang berat, tekad yang takkan pernah goyah, tekad yang tumbuh dari rasa tanggung jawab dan kasih sayang yang tulus pada rakyat dan negaranya. Elizabeth menghela napas pelan, lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk memegang tangan suaminya.

“Kalau itu keputusanmu, maka aku akan mendukungmu sepenuhnya. Aku tahu bahwa ini adalah hal yang harus kau lakukan sebagai seorang pemimpin, dan aku tahu bahwa kau takkan merasa tenang sampai kau mengetahui kebenarannya dengan jelas. Tapi izinkan aku untuk ikut bersamamu. Aku tak ingin kau pergi sendirian ke tempat yang jauh dan asing, dan aku juga ingin melihat dan mendengar sendiri apa yang terjadi di sana. Aku ingin berbagi bebanmu, sama seperti yang selalu kita lakukan selama ini.”

Taylor membalas genggaman tangan istrinya dengan erat, dan senyum terukir di wajahnya, senyum yang terasa hangat dan menenangkan. “Terima kasih, sayang. Aku tahu aku takkan pernah bisa melakukan hal-hal berat ini sendirian, dan kehadiranmu di sisiku akan memberiku kekuatan yang jauh lebih besar dari ribuan prajurit sekalipun. Kita akan pergi bersama-sama, dan kita akan menghadapi segala hal yang ada di depan kita bersama-sama.”

Namun saat rencana itu disampaikan kepada Raja dan Ratu, reaksi mereka tak sepenuhnya sama. Raja mendengar rencana itu dengan wajah yang tenang dan penuh pertimbangan, sementara Ratu langsung terlihat khawatir dan cemas.

“Pergi ke wilayah utara sekarang?” kata Ratu dengan suara yang sedikit bergetar, tangannya tergenggam erat di atas meja. “Anakku, kau tahu betapa berbahayanya perjalanan ke sana. Jalanannya sulit, tempatnya jauh, dan kita bahkan tak tahu apa yang menanti di sana. Mengapa kau tak mengirimkan utusan saja? Mengapa kau harus pergi sendiri dan membawa serta istrimu ke tempat yang belum tentu aman?”

Taylor menatap wajah ibunya dengan penuh pengertian, dia mengerti bahwa kekhawatiran wanita tua itu murni berasal dari kasih sayang seorang ibu pada anaknya. “Aku mengerti kekhawatiranmu, Ibu. Dan aku juga tak ingin mengambil risiko yang tak perlu. Tapi masalah ini tak bisa diselesaikan hanya dengan mengirimkan utusan. Ini bukan masalah soal pajak atau peraturan yang bisa dibahas dengan surat dan perintah. Ini adalah masalah hati, Ibu. Rakyat di sana merasa terasingkan, mereka merasa tak dipahami, dan satu-satunya cara untuk mengembalikan kepercayaan mereka adalah dengan datang sendiri ke hadapan mereka, mendengar suara mereka sendiri, dan menunjukkan bahwa kita benar-benar peduli pada mereka. Jika kita hanya mengirimkan orang lain, mereka akan merasa bahwa kita masih memandang mereka sebagai orang asing, dan hal itu hanya akan membuat masalah menjadi semakin besar.”

Raja yang selama ini hanya diam mendengar akhirnya berbicara dengan suara yang dalam dan tegas, suara yang selalu membawa ketenangan di dalam hati semua orang yang mendengarnya. “Anakmu benar, Istriku. Dalam urusan seperti ini, kehadiran dan kepercayaan jauh lebih berharga daripada ribuan kata dan perintah. Jika mereka merasa jauh dari kita, maka satu-satunya cara untuk mendekatkan diri adalah dengan datang ke tempat mereka sendiri. Ini memang perjalanan yang berat dan penuh risiko, tapi inilah tugas dan tanggung jawab yang harus dipikul oleh seorang pemimpin. Aku pun akan ikut mendukung keputusanmu, Nak. Pergilah ke sana, bawa serta orang-orang yang kau percayai, dan cari tahu kebenarannya. Ingatlah satu hal: selama kau bertindak dengan hati yang tulus dan niat yang baik, kebenaran dan keadilan akan selalu menyertaimu.”

Mendengar kata-kata suaminya, Ratu akhirnya menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya, menyadari bahwa meski dia khawatir, dia tak bisa menghalangi anaknya untuk melakukan apa yang dianggapnya benar. “Baiklah, jika memang ini yang harus kau lakukan, maka aku akan mendoakan keselamatanmu. Tapi tolong berjanjilah padaku, berhati-hatilah di setiap langkah yang kau ambil, dan kembalilah dengan selamat ke sini, membawa kebenaran dan kedamaian kembali ke negeri kita.”

“Kami berjanji, Ibu,” jawab Taylor dan Elizabeth serentak dengan suara yang tulus dan penuh keyakinan.

Persiapan pun segera dimulai. Dalam waktu tiga hari, mereka menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk perjalanan panjang itu. Mereka tak membawa pasukan yang besar dan berisik, karena mereka tak ingin membuat penduduk di sana merasa takut atau terancam. Sebaliknya, mereka hanya membawa dua puluh orang pengawal terpercaya yang dipimpin oleh Savero dan Briant, serta David dan Fransiskus sebagai penasihat dan teman perjalanan mereka. Mereka membawa perbekalan secukupnya, obat-obatan, dan hadiah-hadiah kecil untuk diberikan kepada para kepala suku dan rakyat di sana, sebagai tanda persahabatan dan kasih sayang mereka.

Pada pagi hari keempat, saat matahari baru saja terbit dan langit masih berwarna biru muda, rombongan kecil itu berangkat dari gerbang utama istana. Rakyat yang tinggal di sekitar istana berkumpul untuk melepas kepergian mereka, membawa harapan dan doa di dalam hati mereka. Mereka percaya pada pemimpin mereka, dan mereka yakin bahwa perjalanan ini akan membawa kebaikan dan kedamaian bagi seluruh negeri.

Hunter berdiri di dekat pintu gerbang, memeluk kaki ayah dan ibunya erat-erat dengan mata yang berkaca-kaca, meski dia berusaha sekuat tenaga agar tak menangis. “Ayah, Ibu, cepatlah kembali ya. Aku akan menunggu kalian di sini, dan aku akan belajar dengan giat sampai kalian pulang. Jangan lupa bawa cerita dan oleh-oleh untukku dari tempat yang jauh itu.”

Taylor berjongkok dan memeluk anaknya erat-erat, lalu mencium kening anaknya dengan penuh kasih sayang. “Tentu saja, Nak. Kita akan segera kembali, dan kita akan membawa banyak cerita indah untukmu. Sementara kita pergi, kau harus menjadi anak yang baik dan membantu Kakek dan Nenek mengurus hal-hal di sini, ya. Ingatlah, di mana pun kita berada, hati kita akan selalu bersama-sama.”

Elizabeth juga memeluk anaknya, lalu mengusap air mata yang menetes di pipi anak kecil itu. “Jangan sedih ya, sayang. Kita akan segera kembali. Dan ingatlah, cintaku padamu akan selalu menyertaimu, sama seperti sinar matahari yang selalu menyinari bumi.”

Setelah melepas rindu dan berpesan satu sama lain, rombongan itu akhirnya melanjutkan perjalanan mereka. Mereka berjalan keluar dari gerbang kota, melewati ladang-ladang pertanian yang hijau dan luas, dan perlahan bergerak menuju ke arah utara, tempat di mana angin membawa kabar yang penuh teka-teki dan tantangan.

Saat mereka berjalan semakin jauh dan tembok istana mulai terlihat semakin kecil di kejauhan, Elizabeth menoleh ke arah suaminya yang berjalan di sampingnya. Wajah laki-laki itu tenang, matanya menatap lurus ke depan, dan di dalam hatinya terasa campuran antara harapan dan kewaspadaan. Mereka tak tahu apa yang menanti mereka di pegunungan yang jauh di sana. Apakah mereka akan disambut dengan senyum dan persahabatan, ataukah mereka akan dihadapi dengan kemarahan dan kecurigaan? Apakah masalah yang ada di sana memang hanya masalah kesalahpahaman, ataukah ada bahaya yang tersembunyi menanti mereka di balik kabut tebal dan hutan lebat?

Namun satu hal yang mereka yakini sepenuh hati: selama mereka berjalan bersama-sama, selama mereka berpegang pada kebenaran dan kebaikan, dan selama mereka membawa kasih sayang di dalam hati mereka, mereka akan mampu menghadapi segala hal yang menanti, sama seperti yang telah mereka lakukan berkali-kali di masa lalu.

Angin dari utara mulai berhembus lebih kencang, membawa serta hawa dingin dan aroma tanah serta daun-daun yang basah. Angin itu seolah berbisik, memberitahu mereka bahwa perjalanan yang berat dan ujian yang baru kini telah dimulai, dan bahwa lembaran baru dalam perjalanan hidup mereka telah terbuka lebar di hadapan mata mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!