Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 三
Cahaya fajar baru saja mengintip malu-malu di ufuk timur, menembus kabut tipis yang menyelimuti desa terpencil itu. Di dalam gubuk reot keluarga Lin, Chu Yue sudah terjaga. Meski raga ini masih terasa sangat ringkih seolah-olah tulang-tulangnya terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja, namun energi dari mata air dimensi yang ia minum semalam telah memberinya kekuatan yang cukup untuk sekadar bangkit dari tikar pandannya.
Ia menoleh ke samping, menatap A-Chen yang masih terlelap. Wajah kecil itu tampak lebih tenang dibandingkan semalam, meski jejak air mata kering masih membekas di pipinya yang kusam. Hati Chu Yue berdenyut perih. Sebagai seorang putri, ia tidak pernah membayangkan ada manusia yang hidup begitu dekat dengan jurang kematian hanya karena perut yang kosong.
“A-Chen, tidurlah lebih lama. Saat kau bangun, kau akan menemukan dunia yang berbeda.” batinnya berjanji.
Chu Yue kemudian melangkah menuju sudut gubuk yang berfungsi sebagai dapur. Matanya yang tajam, yang terbiasa melihat kemewahan istana, memandang jijik ke arah peralatan masak yang ada. Sebuah kuali besi yang sudah berkarat di bagian pinggirnya, mangkuk kayu yang retak, dan sebuah tungku batu yang dipenuhi abu dingin.
Sifat "Putri yang Bersih" di dalam dirinya langsung memberontak. Ia tidak sudi memasak makanan di tempat sekotor itu. Tanpa membuang waktu, ia menyentuh tanda lahir di lengannya dan berbisik, "Ling-Yue."
Dalam sekejap, ia mengambil air bersih dalam jumlah banyak dari mata air dimensi. Ia mulai mencuci peralatan masak itu dengan gerakan yang sangat teliti. Ia menggosok kuali besi itu berkali-kali sampai karatnya berkurang, dan mencuci mangkuk-mangkuk retak itu seolah-olah sedang membersihkan porselen kaisar. Bagi Chu Yue, kesehatan bermula dari kebersihan, dan sebagai tabib, ia tidak akan membiarkan bakteri sekecil apa pun merusak ramuannya.
Setelah semuanya bersih, ia mulai menyalakan api di tungku. Ini adalah tantangan tersendiri. Di istana, ia hanya perlu memerintah pelayan. Namun, ingatannya sebagai Lin Xiaoxi membantunya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meniup api pada kayu bakar hingga nyala merah mulai melahap kayu kering.
Ia mengeluarkan sekantong beras putih dari Ruang Dimensi. Beras itu begitu bersih, panjang-panjang, dan berkilau seperti mutiara, sangat berbeda dengan beras jatah atau beras sisa yang biasanya dimakan keluarga Lin. Tak lupa, ia mengeluarkan dua tangkai tanaman Herba Vitalis yang ia ambil dari kebun dimensinya.
“Beras ini mengandung Qi kehidupan, dan herbal ini akan memperkuat detak jantung A-Chen yang melemah.” pikirnya sambil mulai meracik.
Ia memasukkan beras ke dalam kuali yang sudah berisi air mata air suci. Saat air mulai mendidih, Chu Yue memotong herba itu dengan teknik yang sangat presisi, meski ia hanya menggunakan pisau dapur yang tumpul. Ia mengatur suhunya dengan sangat hati-hati, memastikan setiap sari pati obat menyatu sempurna dengan butiran beras.
Perlahan, aroma yang luar biasa mulai memenuhi gubuk itu. Itu bukan bau asap kayu bakar yang menyesakkan, melainkan aroma wangi yang sangat lembut, manis, dan menyegarkan. Aroma itu seolah-olah memiliki nyawa, merayap masuk ke setiap sudut ruangan yang tadinya berbau apek.
Di atas tikar, hidung kecil A-Chen kembang kempis. Kelopak matanya bergetar. Rasa lapar yang tadinya terasa seperti luka bakar di perutnya, kini berubah menjadi rasa penasaran yang hebat. Ia terbangun bukan karena suara, melainkan karena jiwanya seolah ditarik oleh aroma masakan itu.
A-Chen mengucek matanya, mencoba memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi di alam baka. Ia melihat siluet kakaknya yang sedang berdiri di depan tungku. Sinar matahari pagi yang menembus celah dinding membuat sosok kakaknya terlihat seperti dewi yang turun dari langit, dengan uap panas yang membubung di sekelilingnya.
"Jie-jie...?" suara A-Chen terdengar serak dan ragu.
Chu Yue menoleh, memberikan senyum tipis yang sangat anggun, senyum yang mampu membuat para bangsawan di Kerajaan Ling-Yue terpesona. "Kau sudah bangun? Duduklah. Buburnya sudah hampir siap."
A-Chen mengerjap. "Bau apa ini, Jie-jie? Wangi sekali... apa kita sedang di surga?"
Chu Yue tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting lonceng perak. "Tentu saja tidak. Ini adalah bubur penguat tubuh. Kemarilah."
A-Chen mendekat dengan langkah lemah, namun matanya terpaku pada isi kuali. Ia belum pernah melihat beras seputih itu seumur hidupnya. Chu Yue menyendokkan bubur panas itu ke dalam mangkuk yang sudah dibersihkan, lalu meniupnya perlahan sebelum memberikannya kepada A-Chen.
"Makanlah perlahan. Ini masih panas." ucap Chu Yue.
A-Chen menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar. Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, mata anak itu membelalak. Bubur itu terasa sangat lembut di lidah, rasanya manis alami, dan yang paling ajaib adalah sensasi hangat yang langsung menjalar dari kerongkongannya menuju ke seluruh tubuh.
Tanpa sadar, air mata mulai jatuh membasahi pipi A-Chen. Ia makan dengan lahap, seolah-olah ini adalah perjamuan terakhirnya. "Enak... Jie-jie, ini sangat enak. Aku belum pernah makan sesuatu yang seajaib ini."
Chu Yue menatap adiknya dengan penuh kasih. Menggunakan mata batin tabibnya, ia bisa melihat bagaimana rona kemerahan perlahan mulai muncul di pipi A-Chen yang tadi pucat pasi. Kekuatan mata air roh bekerja dengan cepat.
"Makanlah yang banyak. Mulai sekarang, Kakak tidak akan membiarkanmu makan rumput liar lagi." kata Chu Yue sambil ikut menyuap buburnya sendiri. Rasa hangat segera memulihkan energinya, membuat tubuh Lin Xiaoxi yang tadi terasa seperti kapas kini terasa lebih berisi.
Namun, kebahagiaan mereka terusik. Aroma harum dari bubur itu ternyata terlalu kuat hingga menembus keluar gubuk dan terbawa angin ke rumah-rumah tetangga.
Tiba-tiba, pintu gubuk yang sudah reyot itu digedor dengan kasar dari luar.
Brak! Brak!
"Xiaoxi! Keluar kau!" teriak sebuah suara perempuan yang melengking dan penuh kedengkian.
Chu Yue menghentikan gerakannya. Matanya yang jernih seketika berubah menjadi sedingin es. Ia mengenali suara itu dari ingatan Xiaoxi. Itu adalah Nyonya Wang, tetangga yang sering mencaci-maki mereka dan bahkan pernah mencuri kayu bakar milik keluarga Lin.
"Jie-jie... itu Bibi Wang." bisik A-Chen ketakutan, ia langsung bersembunyi di belakang punggung kakaknya.
Chu Yue berdiri dengan tenang. Ia merapikan bajunya yang lusuh seolah-olah itu adalah gaun sutra kekaisaran. Keanggunan seorang putri memancar dari setiap gerakannya. Ia tidak menanggapi dengan teriakan, melainkan berjalan menuju pintu dengan langkah yang mantap.
Begitu pintu terbuka, Nyonya Wang berdiri di sana dengan tangan di pinggang. Wajahnya yang penuh lemak tampak merah karena marah dan curiga. Di belakangnya, beberapa tetangga lain mulai berbisik-bisik karena mencium aroma harum yang masih tertinggal di udara.
"Heh, gadis sialan! Dari mana kau dapat makanan mewah begini, hah?!" bentak Nyonya Wang sambil mencoba mengintip ke dalam gubuk. "Aroma ini... ini beras kualitas tertinggi! Kau pasti mencurinya dari lumbung desa, kan? Atau kau mencuri uang milik keluargaku?"
Chu Yue berdiri tegak, menghalangi pandangan wanita itu. Ia sedikit lebih tinggi dari Xiaoxi yang asli karena cara berdirinya yang tegap dan berwibawa. Ia menatap Nyonya Wang tepat di matanya, tatapan dingin yang membuat Nyonya Wang tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri.
"Nyonya Wang." ucap Chu Yue dengan nada suara yang rendah namun sangat tegas. "Sejak kapan seorang bangsawan sepertiku... maksudku, sejak kapan aku harus melaporkan menu sarapanku padamu?"
Nyonya Wang tertegun. Ia merasa ada yang salah dengan Lin Xiaoxi. Gadis yang biasanya menunduk dan gemetar ketakutan saat ia maki-maki, kini menatapnya seolah-olah ia hanyalah seekor lalat yang mengganggu.
"Kau... kau bicara apa?! Berikan sisa beras itu padaku sebagai ganti rugi karena kau sudah mengganggu penciumanku dengan baumu yang harum ini!" Nyonya Wang mencoba merangsek masuk.
Namun, Chu Yue hanya sedikit menggeser kakinya, dan dengan gerakan yang sangat halus, seperti sedang menepis debu, ia mendorong bahu Nyonya Wang menggunakan teknik titik saraf ringan yang ia pelajari. Nyonya Wang tiba-tiba merasa lengannya lemas dan ia terhuyung ke belakang.
"Jaga bicaramu dan jaga kakimu agar tidak melewati batas pintuku." ucap Chu Yue, suaranya kini terdengar sangat tajam seperti sembilu. "Jika kau menuduhku mencuri tanpa bukti, aku tidak akan segan-segan membawa masalah ini ke kepala desa. Atau mungkin... aku harus memeriksa kenapa bau mulutmu lebih busuk daripada kotoran babi pagi ini? Itu tanda lambungmu sedang bermasalah, Nyonya Wang. Mau aku obati dengan racun?"
Para tetangga yang menonton langsung terdiam. Mereka tidak percaya Lin Xiaoxi yang lemah bisa bicara seberani itu. Nyonya Wang yang ketakutan tanpa alasan yang jelas, hanya bisa mundur dengan wajah pucat.
"Kau... kau tunggu saja! Kau pasti akan kualat!" teriak Nyonya Wang sambil lari terbirit-birit menjauh.
Chu Yue mendengus pelan, menatap punggung wanita itu dengan sinis. Ia menutup pintu gubuknya kembali.
"Jie-jie, kau sangat hebat!" puji A-Chen dengan mata berbinar-binar.
Chu Yue menghela napas, ia kembali duduk di depan A-Chen. "Dunia ini keras, A-Chen. Jika kau terus menjadi domba, mereka akan memakanmu. Mulai hari ini, kita akan menjadi harimau."
Ia tahu, ini hanyalah permulaan. Aroma bubur itu baru saja menarik perhatian kecil. Ke depannya, ia harus lebih berhati-hati, namun ia tidak akan pernah lagi membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya sebagai Chu Yue.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/