NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Arena Berdarah

​Alun-alun Pusat Kota Awan Merah telah disulap menjadi sebuah koloseum raksasa. Tiga arena pertarungan yang terbuat dari batu obsidian hitam legam dibangun di tengahnya, dikelilingi oleh tribun penonton yang bertingkat-tingkat. Sorak-sorai puluhan ribu penduduk kota terdengar menggelegar, menggetarkan awan di langit.

​Di tribun VIP tertinggi, duduklah para petinggi dari berbagai faksi utama kota. Tuan Kota, Zhao Wuji, duduk di tengah kursi kebesaran, mengamati keramaian dengan senyum tipis.

​Di sebelah kirinya, duduk para tetua dari Keluarga Liu. Sejak Liu Meng'er diangkat menjadi Murid Inti Sekte Pedang Awan Surgawi, status Keluarga Liu melonjak tajam. Kepala Keluarga Liu, Liu Zhen, duduk dengan dada membusung, seolah-olah ia sudah menjadi penguasa baru kota ini. Di belakangnya, berdiri empat pemuda berpakaian seragam putih dengan lambang pedang kecil di dada—mereka adalah Murid Luar dari Sekte Pedang Awan Surgawi yang diutus khusus untuk mengawasi turnamen ini.

​Di sebelah kanan Tuan Kota, faksi Keluarga Wang duduk dengan wajah muram. Kepala Keluarga Wang, Wang Lie, memancarkan aura membunuh yang kental. Putra kebanggaannya, Wang Teng, menghilang di Pegunungan Kabut Darah sebulan yang lalu dan hingga kini belum ditemukan, meninggalkan lubang besar dalam kekuatan generasi muda mereka.

​Ketika rombongan Klan Lin yang dipimpin oleh Lin Tian dan Lin Chen memasuki area VIP, suasana seketika berubah canggung.

​Wang Lie segera menatap tajam ke arah Lin Tian, mendengus keras. "Lin Tian, aku benar-benar terkejut kau berani muncul. Kudengar jenius klanmu, Lin Lang, telah cacat. Dan sebagai gantinya, kau membawa... si sampah Lin Chen ini? Apa kau bermaksud melawak di turnamen suci ini?"

​Lin Tian duduk di kursinya dengan tenang, tak terpancing. "Wang Lie, urus saja keluargamu sendiri. Terlebih lagi, aku dengar Wang Teng menghilang bak ditelan bumi. Jangan-jangan dia mati dimakan anjing liar di hutan karena terlalu lemah?"

​Brak!

Wang Lie menggebrak meja giok di depannya hingga retak. "Jaga bicaramu! Putraku sedang berlatih tertutup! Hari ini, putra keduaku, Wang Lei, yang akan membantai perwakilan kalian di arena!"

​Di belakang Lin Tian, Tetua Pertama Lin Ye menyeringai tipis, sebuah senyuman berbisa yang tak luput dari pandangan mata tajam Lin Chen.

​Lin Chen mengabaikan ocehan Wang Lie. Tatapannya tertuju pada empat Murid Luar Sekte Pedang Awan Surgawi di belakang Keluarga Liu. Salah satu dari mereka, seorang pemuda berwajah tirus dengan mata elang, menatap balik ke arah Lin Chen sambil menggorok lehernya dengan ibu jari, sebuah isyarat kematian yang jelas.

​"Hanya sekelompok semut di Ranah Pengumpulan Qi Bintang 1 dan 2. Mereka pikir mereka adalah dewa karena berasal dari sekte besar," kekeh Mo Xuan meremehkan di dalam benak Lin Chen.

​Biarkan mereka merasa di atas angin sebentar lagi, balas Lin Chen dalam hati, wajahnya setenang permukaan danau.

​Teng! Teng! Teng!

​Suara gong perunggu raksasa ditabuh tiga kali, menandakan dimulainya acara. Tuan Kota Zhao Wuji berdiri, menekan udara dengan tangannya. Seketika, puluhan ribu penonton terdiam.

​"Selamat datang di Turnamen Kota Awan Merah!" suara Zhao Wuji yang diliputi Qi Bintang 8 menyapu seluruh penjuru alun-alun. "Aturannya sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Pertarungan sistem gugur. Tidak ada belas kasihan di atas arena. Pemenang pertama tahun ini, tidak hanya akan mendapatkan hak pengelolaan atas Tambang Batu Esensi Spiritual milik kota selama tiga tahun, tetapi juga akan mendapatkan satu kuota langsung untuk masuk sebagai Murid Luar Sekte Pedang Awan Surgawi!"

​Mendengar hadiah tersebut, mata para pemuda dari seluruh klan menyala penuh keserakahan dan semangat tempur.

​"Pengundian telah dilakukan! Pertandingan pertama akan segera dimulai!"

​Pertandingan-pertandingan awal berjalan cukup standar. Para kultivator muda beradu Teknik Bela Diri tingkat dasar. Ledakan Qi dan suara dentuman senjata sesekali memicu sorak-sorai penonton. Namun, bagi Lin Chen yang telah merasakan brutalnya pertarungan hidup dan mati melawan monster tingkat tinggi, pertarungan mereka terlihat seperti anak kecil yang sedang berkelahi memperebutkan mainan.

​Hingga akhirnya, wasit di Arena Nomor 1 meneriakkan dua nama yang langsung menarik perhatian seluruh tribun VIP.

​"Babak Ketiga, Arena Satu! Lin Chen dari Klan Lin, melawan Wang Lei dari Keluarga Wang!"

​Sorak-sorai penonton seketika menggelegar. Rumor tentang kembalinya meridian Lin Chen dan bagaimana ia melumpuhkan Lin Lang telah menyebar luas, tetapi banyak yang masih tidak percaya bahwa mantan jenius yang jatuh itu benar-benar bisa bangkit kembali.

​Di tribun, Wang Lie tersenyum ganas. "Lei-er, jangan tahan kekuatanmu! Patahkan keempat anggota badannya dan hancurkan Dantiannya! Aku akan bertanggung jawab jika dia mati!"

​Wang Lei, seorang pemuda bertubuh kekar setinggi dua meter, melompat ke atas arena hitam dengan suara dentuman keras. Ia memutar lehernya hingga berbunyi krak, memamerkan kultivasi Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 9 yang dimilikinya.

​Di sisi lain, Lin Chen berjalan santai menaiki tangga arena. Langkahnya sangat biasa, tidak ada tekanan Qi yang terpancar dari tubuhnya, terlihat seolah-olah ia hanyalah manusia fana tanpa kekuatan.

​"Bocah cacat," Wang Lei menyeringai, menatap Lin Chen dari atas ke bawah. "Kudengar kau memukul Lin Lang dengan serangan diam-diam. Jangan harap trik rendahan itu bisa berhasil padaku. Aku akan menghancurkan setiap tulang rusukmu agar kau tahu—"

​"Bisa kita mulai sekarang?" potong Lin Chen datar, memasukkan satu tangannya ke balik punggung. Ia sama sekali tidak mengambil kuda-kuda bertarung. "Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan anjing menggonggong."

​Wajah Wang Lei berubah ungu karena marah. Urat-urat di pelipisnya menonjol.

​"Mulai!" teriak wasit.

​"MATI KAU, SAMPAH!"

​Wang Lei meraung, tubuh kekarnya melesat ke depan seperti badak yang mengamuk. Ia memusatkan seluruh Qi Bintang 9-nya ke lengan kanannya. Otot lengannya membengkak dua kali lipat, kulitnya berubah sekeras batu karang.

​Tinju Penghancur Karang - Tingkat Fana Puncak!

​Angin dari tinju itu berhembus kencang, menyapu debu di atas arena. Kekuatan di balik pukulan ini cukup untuk melubangi tembok baja setebal tiga inci.

​Di tribun, Lin Tian menahan napas, tangannya mencengkeram erat sandaran kursi. Wang Lie tertawa terbahak-bahak, sudah bisa membayangkan kepala Lin Chen meledak seperti semangka. Para Murid Luar Sekte Pedang tersenyum meremehkan.

​Tinju raksasa itu hanya berjarak setengah jengkal dari hidung Lin Chen.

​Tiba-tiba, Lin Chen mengangkat tangan kirinya yang sejak tadi menganggur dengan kecepatan yang mustahil ditangkap oleh mata telanjang Wang Lei.

​Ia tidak mengepalkan tangannya. Ia hanya menampar udara di depannya. Tidak ada cahaya keterampilan bela diri, tidak ada fluktuasi Qi yang mencolok. Hanya sebuah tamparan fisik murni yang dibungkus oleh seutas kekuatan fisik dari Mandi Darah Naga.

​PLAK!

​Suara tamparan itu tidak terdengar seperti kulit bertemu kulit, melainkan seperti palu godam raksasa yang menghantam pilar besi dengan kecepatan suara.

​Seketika itu juga, waktu di arena seolah berhenti.

​Mata Wang Lei nyaris melompat keluar dari rongganya. Rahang bawahnya hancur berkeping-keping. Tinju Penghancur Karang kebanggaannya tak ada artinya di hadapan kekuatan fisik murni yang mengerikan itu.

​BOOOM!

​Sebuah ledakan udara tercipta di sekitar wajah Wang Lei. Tubuh pemuda raksasa seberat ratusan kilogram itu terangkat dari lantai arena dan terpelanting berputar-putar di udara layaknya boneka jerami yang tertabrak kereta kuda yang melaju kencang. Ia terbang melewati batas arena, melintasi barisan penonton terdepan, dan menabrak dinding batu pelindung koloseum.

​KRAAAK!

​Dinding batu itu runtuh sebagian. Wang Lei merosot ke tanah, darah memancar dari hidung, mulut, dan telinganya. Giginya berserakan di tanah, dan ia langsung pingsan tak sadarkan diri, tulang-tulang di separuh wajahnya hancur total.

​Satu tamparan.

​Kesunyian yang mencekik menjalar ke seluruh tribun koloseum. Mulut puluhan ribu penonton menganga lebar, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

​Tangan Wang Lie yang sedang memegang cangkir teh gemetar hebat, lalu cangkir itu jatuh dan hancur di lantai. Wajah Tuan Kota Zhao Wuji menegang, sementara senyum congkak di wajah para Murid Luar Sekte Pedang Awan Surgawi membeku seketika.

​Di atas arena obsidian yang retak di bagian tempatnya berpijak, Lin Chen perlahan menarik kembali tangannya dan membersihkannya dari debu imajiner. Ia tidak menoleh ke arah tubuh Wang Lei yang hancur. Ia menengadah, menatap lurus ke tribun VIP, tepat ke arah mata Kepala Keluarga Wang, Wang Lie.

​"Keluarga Wang... kekuatan yang kalian banggakan, ternyata begitu rapuh," suara Lin Chen tenang, namun menggema di alun-alun yang sunyi berkat bantuan Qi tersembunyi. "Kirim orang yang lebih kuat. Aku belum mulai pemanasan."

​Wang Lie langsung melompat dari kursinya, matanya merah menyala seolah memuntahkan api. "BINATANG KECIL! KAU MENCARI MATI!"

​Sebelum Wang Lie bisa mengamuk, seorang pemuda dari barisan belakang Keluarga Liu melesat terbang dan mendarat di atas arena dengan gaya anggun. Pedang panjang di pinggangnya memancarkan hawa dingin yang menusuk.

​Itu adalah pemuda bermata elang, salah satu Murid Luar Sekte Pedang Awan Surgawi.

​"Mulutmu terlalu sombong, katak dari dasar sumur," ucap pemuda itu dingin, mencabut pedangnya perlahan. Fluktuasi Qi yang jauh melampaui Pemurnian Tubuh meledak dari tubuhnya. Ranah Pengumpulan Qi Bintang 1!

​"Namaku Zhang Han, Murid Luar Sekte Pedang Awan Surgawi. Atas perintah Kakak Senior Meng'er, aku datang ke sini khusus untuk memotong lidahmu, merobek meridianmu, dan mengajarimu perbedaan antara langit dan lumpur!"

​Melihat lawannya, Lin Chen bukannya ketakutan, bibirnya justru melengkung membentuk senyuman yang sangat lebar dan menakutkan, sebuah senyuman milik predator yang akhirnya melihat mangsa yang layak.

​"Sekte Pedang Awan Surgawi, ya? Bagus," Lin Chen merendahkan kuda-kudanya, fluktuasi Qi emas yang samar mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya, melelehkan batu obsidian di bawah kakinya. "Mari kita lihat apakah tulangmu sekeras mulutmu."

1
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪1
yos helmi
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪
Fiktor
mantap alur cerita nya ngak bertele2👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄🙏🙏🙏👍👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!