"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. Malam Penghakiman
Aroma hujan yang bercampur dengan tanah basah merayap masuk melalui celah ventilasi, namun atmosfer di dalam kamar utama Bima terasa jauh lebih menyesakkan. Di bawah temaram lampu yang redup, Alea berbaring dengan napas yang masih tersengal, dadanya naik turun di balik balutan gaun satin hitam tipis yang kini tampak kusut. Di sampingnya, Bima sudah berdiri, mengenakan kemeja hitamnya kembali sembari menyalakan sebatang cerutu. Asap tebal menguar, menciptakan tirai tipis yang mengaburkan wajah keras sang predator.
Alea menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Setiap detik yang berlalu di rumah baru Bima ini terasa seperti waktu yang dicuri dari dunia nyata. Di sini, ia bisa melepaskan semua beban dan menjadi miliknya seutuhnya, tetapi bayangan tentang rumah Daddy selalu mengintai di sudut benaknya. Ada ketakutan yang terus tumbuh, berbanding lurus dengan besarnya gairah yang ia rasakan.
"Bima..." panggil Alea lirih, suaranya serak. Ia mendudukkan diri di tepi ranjang, membiarkan kain satin itu merosot di bahunya yang dipenuhi tanda kemerahan. "Kau yakin Revan tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi? Kemarin di kampus, tatapannya sangat menakutkan. Dia kehilangan segalanya."
Bima menoleh perlahan, mata elangnya menatap Alea dengan ketenangan yang dingin. Ia berjalan mendekat, lalu mengembuskan asap cerutunya tepat di depan wajah Alea, membuat gadis itu sedikit terbatuk. Ia berlutut di hadapan Alea, menggenggam kedua tangan gadis itu dengan cengkeraman yang kuat namun protektif.
"Aku tidak pernah menyisakan ruang untuk kegagalan, Alea. Jalur hukum sudah menguncinya, keuangan keluarganya sudah lumpuh total. Dia hanya sampah yang berisik, menggeliat sebelum benar-benar habis," ujar Bima dengan nada datar tanpa emosi. Pria itu melirik jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya. "Sekarang, pakai pakaianmu. Setengah jam lagi Daddy-mu tiba dari bandara. Malam ini, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang agar Baskara tidak menaruh curiga sedikit pun. Kita harus tetap terlihat sempurna di depannya."
Alea mengangguk cepat. Dengan perasaan campur aduk, antara gairah yang masih tersisa dan kepanikan yang mulai merayap, ia segera mengganti gaun satinnya dengan pakaian kuliahnya yang kasual. Ia memoles sedikit bedak untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya, mengancingkan kemejanya hingga ke atas, dan memastikan tidak ada satu pun jejak Bima yang tertinggal di tubuhnya yang bisa terbaca oleh mata seorang ayah.
Malam semakin larut dan gerimis berubah menjadi hujan deras yang mengguyur ibu kota. Wiper mobil SUV hitam milik Bima bergerak cepat, menyapu air yang menghalangi pandangan jalanan yang mulai sepi. Alea duduk di kursi penumpang dengan tangan yang saling meremas di atas pangkuan. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ada alarm tak kasat mata yang berbunyi di dalam kepalanya.
Di sampingnya, Bima mengemudikan mobil dengan ketenangan seorang sosiopat yang luar biasa. Baginya, mengantarkan Alea pulang langsung ke hadapan ayahnya adalah bagian dari permainan kendali yang sangat ia nikmati. Ia suka tantangan, ia suka bahaya, dan yang terpenting, ia suka berjalan di atas tali tipis antara kepercayaan Baskara dan dosa pekat yang ia lakukan bersama putri sahabatnya itu.
"Turunlah dengan tenang. Bersikaplah seolah aku baru saja menjemputmu dari kampus karena hujan deras," ujar Bima sembari mematikan mesin mobil setelah mereka memasuki pekarangan rumah Baskara.
Alea mengangguk, mengatur napasnya yang memburu. Mereka berdua turun dari mobil di bawah payung yang sama yang dipegang oleh Bima. Langkah kaki mereka bergaung di selasar depan yang basah. Namun, begitu Bima memutar knop pintu depan rumah, kejanggalan langsung menyergap. Pintu itu tidak terkunci. Rumah itu sunyi, lampu utama padam, hanya menyisakan pendaran cahaya dari ruang tengah.
Atmosfer hangat rumah yang biasanya menyambut Alea mendadak mati, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang. Begitu mereka melangkah melewati pintu, langkah Alea membeku, dan payung di tangan Bima terlepas begitu saja, jatuh berdentang di atas lantai marmer.
Di ruang tengah yang remang, layar monitor besar menyala dengan sangat terang, memantulkan cahaya putih yang kontras. Layar itu menampilkan rekaman video dengan kualitas tajam dari sebuah kamera dasbor mobil Revan yang malam badai seminggu lalu terparkir di area sunyi di pinggir kota, tepat di sebelah properti milik Baskara. Di dalam video itu, kamera menangkap dengan sangat detail saat SUV hitam milik Bima berhenti. Pintu mobil terbuka, dan kamera merekam dengan sangat jelas saat Alea keluar dari dalam mobil dengan pakaian yang berantakan, membiarkan Bima menarik pinggangnya kembali, menciumi lehernya dengan rakus di bawah guyuran hujan, sebelum akhirnya Alea berlari menyelinap masuk ke halaman belakang rumah.
Dan berdiri tepat di depan monitor itu adalah Daddy. Tubuhnya kaku seperti patung. Di sampingnya, Revan berdiri dengan melipat tangan di dada, menatap ke arah pintu dengan tatapan mata yang memancarkan dendam yang akhirnya terbalaskan.
Wajah Daddy sangat pucat di bawah pendaran layar, napasnya memburu naik-turun dengan berat, dan matanya yang merah berkaca-kaca menatap lurus ke arah Bima dan Alea yang baru saja melangkah masuk. Seluruh warna darah di wajah Alea menguap seketika. Lututnya lemas, tangannya bergetar hebat. Rahasia pekat yang selama ini mereka sembunyikan dengan taruhan nyawa kini telah telanjang bulat, hancur berkeping-keping di depan mata ayahnya sendiri.
"D-Dad... Daddy..." rintih Alea, suaranya tercekat di tenggorokan, air matanya langsung tumpah tanpa bisa dibendung.
Baskara tidak mengucapkan satu patah kata pun sebagai balasan. Matanya yang menyala penuh amarah dan rasa sakit yang luar biasa langsung mengunci sosok Bima. Pria paruh baya itu melangkah maju dengan cepat, langkahnya berat menekan lantai. Sebelum ada yang bisa mengantisipasi, bahkan sebelum Bima sempat membuka suara untuk bersandiwara, sebuah pukulan mentah, cepat, dan sangat keras mendarat tepat di rahang Bima.
*BUK!*
Bima terhuyung mundur beberapa langkah, menabrak vas bunga besar di dekat pintu hingga pecah berantakan. Sudut bibirnya langsung pecah, mengalirkan darah segar yang kontras dengan kulit wajahnya yang mengeras.
"DADDY! JANGAN! ALEA MOHON!" jerit Alea histeris, suaranya melengking memenuhi langit-langit rumah.
Namun, Baskara sudah kehilangan akal sehatnya. Rasa dikhianati oleh sahabat karib yang sudah dianggap seperti adik kandung sendiri, ditambah kenyataan pahit bahwa putri tunggal yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang telah dirusak, membuat seluruh darah di tubuhnya mendidih menjadi amarah murni. Baskara menerjang maju kembali, mencengkeram kerah kemeja hitam Bima dengan kedua tangannya, lalu melayangkan pukulan demi pukulan ke wajah Bima secara membabi buta.
*BUK! BUK! BUK!*
"BAJINGAN KAU, BIMA! AKU MEMPERCAYAIMU! KAU KUANGGAP ADIKKU SENDIRI! KAU MENODAI PUTRIKU DI BELAKANGKU?!" raung Baskara dengan suara yang pecah oleh tangisan hancur.
Pukulannya terus menghujam tanpa jeda, mengenai hidung, pipi, dan rahang Bima tanpa ampun.
Anehnya, Bima tidak mengelak. Pria yang biasanya begitu dominan, kejam, dan memiliki kemampuan bela diri yang sanggup melumpuhkan tiga orang sekaligus itu hanya diam. Bima membiarkan tubuhnya diseret, membiarkan wajahnya dihantam berulang kali oleh kepalan tangan Baskara hingga darah segar menciprat ke lantai marmer putih yang suci. Tidak ada perlawanan, tidak ada tangisan, bahkan tidak ada usaha untuk menangkis. Bima hanya menatap Baskara dengan tatapan kosong yang dingin melalui matanya yang mulai membengkak dan berdarah, sebuah bentuk penyerahan diri yang gila, seolah ia sadar bahwa malam ini adalah harga yang memang harus ia bayar atas obsesinya.
"Daddy berhenti! Alea mohon berhenti, Dad! Bisa mati! Bima bisa mati!" Alea menangis meraung-raung, menjatuhkan dirinya di atas lantai yang dingin. Ia merangkak maju di antara serpihan vas yang tajam, mencoba menarik lengan kekar Daddy-nya yang terus bergerak memukul Bima tanpa belas kasihan. Seluruh tubuh Alea bergetar hebat; ia tidak sanggup melihat pria yang menguasai seluruh hidup dan hatinya kini bersimbah darah, hancur tak berdaya di tangan ayahnya sendiri.
Revan hanya berdiri mematung di sudut ruangan yang gelap. Sepasang matanya menatap datar, menikmati setiap detik pemandangan hancurnya dua orang yang telah meluluhlantakkan kehormatan dan hidup keluarganya. Baginya, ini adalah keadilan yang puitis.
"Kau merusaknya, Bima! Kau merusak anakku! Kau merusak kepercayaanku!" Baskara terus berteriak, air matanya mengalir deras, bercampur dengan darah Bima yang kini melumuri kedua tangannya. Dengan sisa tenaga yang ada, Baskara melayangkan satu pukulan terakhir yang begitu telak ke arah pelipis Bima.
*BUK!*
Bima tersungkur sepenuhnya di atas lantai, terbatuk-batuk mengeluarkan darah yang mengental di tenggorokannya. Napasnya pendek-pendek, namun matanya masih sempat melirik ke arah Alea, memberikan tatapan posesif yang tak kunjung mati bahkan di ambang maut.
Alea langsung merangkak histeris, memeluk kepala Bima yang sudah bersimbah darah di atas lantai marmer. Ia mendekapnya erat, menyembunyikan wajah pria itu di dadanya yang naik-turun, membiarkan pakaian kuliahnya ternoda oleh darah kekasih terlarangnya. Alea terus menangis meraung-raung, menatap Daddy-nya dengan pandangan memohon yang hancur.
"Maafkan Alea, Dad... jangan pukul Bima lagi... Alea mohon... Alea yang salah, Dad! Alea yang mau! Alea yang mendatunginya!" teriak Alea di sela tangisnya, membongkar seluruh kebenaran bahwa ia bukan sekadar korban, melainkan tawanan yang dengan sukarela menyerahkan dirinya pada sang predator.
Mendengar pengakuan histeris dari mulut putri tunggalnya, Baskara mundur beberapa langkah dengan tubuh yang gemetar hebat. Ia menatap kedua telapak tangannya yang berlumuran darah sahabatnya, lalu menatap Alea yang justru menggunakan tubuhnya sendiri untuk melindungi pria yang telah menghancurkan moralitas keluarga mereka. Rasa sakit yang menghantam dada Baskara saat itu terasa jauh lebih mematikan dan menghancurkan daripada pukulan fisik apa pun di dunia.
Malam itu, di dalam rumah keluarga Baskara yang semula penuh kehangatan, yang tersisa hanyalah puing-puing hubungan yang hancur lebur. Hanya ada genangan darah, air mata pengkhianatan, dan jeritan pilu Alea yang merayap di antara keheningan malam yang menuntut pembalasan lebih dari sekadar pukulan. Perang baru saja dimulai, dan sangkar emas itu kini telah benar-benar runtuh, mengubur mereka semua di dalam reruntuhan dosa.