Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembali
Setelah sampai...
Terlihat ruang komandan Zhuxuan tidak terlalu besar. Dindingnya dihiasi peta-peta besar Benua Lingzhou, meja batunya penuh dengan berkas dan giok komunikasi. Kursi-kursi kayu jati diletakkan di sekitar meja bundar, dan di sudut ruangan ada rak buku berisi berbagai macam buku tentang taktik pertempuran dan sejarah faksi.
Zhuxuan duduk di kursi utama lalu menunjuk kursi di hadapannya. "Duduklah kalian berdua."
Lin Tian dan Mu Wan duduk bersamaan. Tidak ada kata-kata basa-basi.
Zhuxuan membuka gulungan kertas di atas meja lalu menjelaskan. Jika Lin Tian komandan, Mu Wan wakilnya. Mereka berdua akan memimpin satu pasukan yang terdiri dari sepuluh anggota tingkat Besi Hitam, dan enam anggota tingkat Perunggu.
Mu Wan tertegun mendengar bahwa ia akan menjadi wakil komandan. Matanya beralih ke Lin Tian, lalu kembali ke Zhuxuan. Ia tidak menolak, karena ini adalah perintah dari atasannya.
Obrolan berlangsung sangat panjang. Zhuxuan menjelaskan banyak hal: tugas Lin Tian sebagai komandan yang bertanggung jawab atas seluruh operasi pasukannya, tugas Mu Wan sebagai wakil yang mengurus logistik dan administrasi, prosedur pelaporan jika terjadi serangan makhluk kegelapan skala besar, dan berbagai aturan lain yang harus dipatuhi.
Zhuxuan kemudian menambahkan. "Banyak juga pengungsi dari wilayah barat yang mendaftarkan diri menjadi pasukan faksi. Beberapa dari mereka memiliki kemampuan yang cukup baik, karena mereka sudah terbiasa bertempur di medan perang saudara. Jangan meremehkan mereka, hanya karena statusnya sebagai pengungsi."
Lin Tian mengangguk. Ia mengerti maksud Zhuxuan.
Sore harinya, setelah matahari hampir sepenuhnya tenggelam di ufuk barat, rapat kecil kecilan itu akhirnya selesai. Semua orang di ruangan itu tampak lelah, terutama Zhuxuan yang harus menjelaskan hampir semua hal sendirian.
Tak berselang lama, seseorang mengetuk pintu, kemudian masuk. Ia adalah seorang pria muda berjubah hitam dengan lencana Perak di dadanya. Pria itu menyerahkan sebuah gulungan kertas pada Zhuxuan, lalu mundur dengan hormat.
Zhuxuan membuka gulungan itu, membaca sebentar, lalu mengangguk. "Ini daftar anggota untuk pasukan kalian. Semuanya sudah ditetapkan oleh Komandan Tingkat Giok."
Ia memberikan gulungan itu pada Mu Wan, karena Mu Wan adalah wakil yang bertanggung jawab atas urusan administrasi. Mu Wan menerimanya lalu membacanya dengan saksama. Setelah itu ia berdiri.
"Baik, kalau begitu kita akan melihat anggota kita sekarang."
Lin Tian mengangguk lalu berdiri. Mereka berdua keluar dari ruangan Zhuxuan, meninggalkan komandan itu sendirian di ruang kerjanya yang mulai gelap karena matahari tenggelam.
Lin Tian dan Mu Wan berjalan menuju halaman utama markas Faksi Kebenaran. Di sana, enam belas orang sudah berdiri dalam dua barisan rapi. Sepuluh orang di barisan depan memakai lencana Besi Hitam. Enam orang di barisan belakang memakai lencana Perunggu. Postur mereka tegap, mata mereka lurus ke depan, dan tidak ada yang berani bergerak.
Mu Wan berdiri di samping Lin Tian lalu berteriak. "Berikan hormat pada komandan kalian!"
"Selamat datang, Komandan! Selamat datang, Wakil Komandan!" seru keenam belas orang itu bersamaan.
Lin Tian mengamati mereka sebentar lalu berkata. "Berdiri tegak. Tidak perlu formal."
Mereka semua segera berdiri dengan postur lebih santai.
Tepat pada saat itu, Zhuxuan tiba tiba muncul di samping Lin Tian. Wajahnya serius, dan matanya tertuju ke arah gerbang masuk markas.
"Ada tamu kehormatan yang akan datang menemui aku," ucap Zhuxuan pelan. "Mereka adalah keluarga dari wilayah barat yang baru saja pindah ke tengah. Mereka memiliki pengaruh cukup besar di kalangan pengungsi."
Para anggota pasukan Lin Tian bergeser ke samping, memberi jalan.
Dua sosok berjalan masuk melewati gerbang. Yang pertama adalah seorang pria paruh baya dengan postur tegap dan wajah tegas. Lin Tian mengenalinya. Itu adalah ayah Jiyue.
Yang kedua adalah seorang gadis berambut lavender dengan pakaian putih keperakan. Wajahnya cantik, matanya jernih, dan ekspresinya sedikit canggung karena ia tidak terbiasa berada di tempat seramai ini.
Jiyue.
Lin Tian tertegun. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan gadis itu di sini.
Jiyue yang sedang melangkah tiba-tiba berhenti. Matanya menangkap sosok pemuda berjubah putih dengan wajah yang tidak mungkin ia lupakan. Mulutnya terbuka, jarinya terulur, dan tanpa sadar ia berteriak.
"Tukang intip...?!"
Lin Tian yang terkejut juga ikut menunjuk ke arah Jiyue.
"Penguntit gila...?!"
Seluruh orang di halaman itu terdiam. Tidak ada yang mengerti apa yang sedang terjadi. Mu Wan menatap Lin Tian dengan alis terangkat. Zhuxuan menutup wajahnya dengan telapak tangan untuk kedua kalinya hari itu. Ayah Jiyue hanya menggelengkan kepala dengan pasrah.
Jiyue berjalan cepat mendekati Lin Tian, wajahnya merah padam. "Kau bilang akan pergi ke barat! Kenapa kau di sini?!"
Lin Tian menjawab dengan nada kesal, "Aku berubah pikiran! Memangnya kenapa? Peraturan mana yang melarang orang berubah pikiran?!"
"Kau bilang akan meluruskan kesalahpahaman di wilayah tengah! Tapi kau malah disini?!"
"Ini juga bagian dari meluruskan! Intinya kau jangan ikut campur!"
Ayah Jiyue menarik lengan Jiyue ke belakang. "Cukup, cukup. Ini bukan tempat untuk bertengkar."
Jiyue mendengus lalu membuang muka. Lin Tian mengepalkan tangannya.
Zhuxuan yang melihat semua ini hanya bisa menghela nafas. "Ternyata kalian sudah saling kenal."
"Tidak kenal!" jawab Lin Tian dan Jiyue bersamaan.
Seluruh pasukan di halaman itu tertawa pelan, termasuk Mu Wan yang ikut tersenyum melihat tingkah komandan barunya yang sebentar lagi akan memimpin mereka di medan pertempuran.