NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 9

Dinding gudang tua itu terasa seperti es yang membalut punggung Arumi. Suara rintik hujan yang menghantam atap seng berkarat menciptakan simfoni keputusasaan yang tidak pernah berhenti.

Di sudut ruangan yang hanya beralaskan karung goni dan sisa-sisa kain perca, Arumi duduk mendekap lutut.

Di depannya, sebuah kaleng biskuit karatan berisi air tajin putih keruh mengepulkan sedikit uap. Itu adalah satu-satunya kemewahan yang bisa ia berikan untuk Kirana malam ini.

"Minum sedikit lagi, Sayang. Biar perutnya hangat," bisik Arumi. Suaranya serak, nyaris hilang tertelan batuk yang terus menekan dadanya.

Kirana, yang biasanya ceria, kini hanya bisa berbaring lemah. Matanya yang bulat tampak cekung. "Ibu... pahit. Kirana mau nasi pakai telur seperti di butik kemarin."

Hati Arumi seperti diremas oleh tangan raksasa. Ia membuang muka, tak sanggup menatap mata polos anaknya. Butik. Nama itu sekarang terasa seperti kutukan. Bu Sarah telah menyita seluruh gajinya, meninggalkan Arumi tanpa sepeser pun uang untuk bertahan hidup.

Arumi menarik napas panjang, namun yang ia rasakan justru rasa perih yang menjalar di paru-parunya. Ia mengambil sepotong kain perca sutra dan mulai menjahitnya dengan tangan.

Jemarinya gemetar hebat. Penglihatannya sesekali kabur, berbayang antara pola jahitan dan lantai gudang yang lembap.

Uhuk! Uhuk!

Arumi menutup mulutnya dengan telapak tangan. Saat ia menjauhkannya, setitik warna merah pekat menodai telapak tangannya yang pucat. Darah.

"Tidak sekarang... tolong, jangan sekarang," gumamnya pada diri sendiri. Ia menyeka darah itu ke daster batiknya yang sudah kusam. Ia tidak boleh tumbang. Jika ia tumbang, siapa yang akan melindungi Kirana?

Ia terus memaksakan jarum itu menembus kain. Setiap tusukan adalah pertaruhan nyawa. Ia berharap bisa menyelesaikan sepuluh bros bunga dari kain perca ini agar besok pagi bisa dijual ke pasar loak seharga beberapa keping koin untuk membeli obat penurun panas.

Namun, daya tahan tubuh manusia ada batasnya. Kurang gizi yang ekstrem dan tekanan batin yang bertubi-tubi mulai meruntuhkan sistem pertahanannya.

Tubuh Arumi mulai menggigil hebat meskipun ia merasa panas membara. Ia terserang demam tinggi yang membuatnya berhalusinasi.

Tengah malam, suhu di dalam gudang turun drastis. Kirana mulai mengigau. Tubuh kecil itu panas seperti api.

"Ayah... Ayah... tolong Kirana..." lirih Kirana dalam tidurnya.

Arumi tersentak. Nama itu. Nama pria yang telah membuang mereka, yang lebih memilih harga diri keluarganya daripada darah dagingnya sendiri. Mendengar Kirana memanggil Ayah di tengah penderitaan ini adalah belati yang diputar di dalam luka Arumi.

"Ibu di sini, Nak. Ibu di sini," Arumi memeluk Kirana, mencoba menyalurkan kehangatan dari tubuhnya yang juga sedang berjuang melawan maut.

Pak Salim masuk ke dalam gudang dengan langkah gontai, membawa sepotong roti tawar yang sudah agak keras. "Arumi... ini ada sedikit makanan. Makanlah."

"Pak Salim... Kirana butuh dokter," ucap Arumi dengan mata yang nanar.

Pak Salim menunduk sedih. "Maafkan aku, Arumi. Pemilik pasar menahan setoran jagaku bulan ini karena sepi. Aku tidak punya uang sepeser pun. Puskesmas memang gratis, tapi biaya pendaftaran dan penebusan resep di apotek tetap butuh uang."

Arumi menyadari kenyataan pahit itu. Di dunia ini, bahkan untuk sekadar bernapas pun butuh biaya. Ia melihat gunting jahitnya yang tergeletak di atas karung.

Senjata terakhirnya. Ia tahu, ia harus melakukan sesuatu sebelum fajar menyingsing, atau ia akan kehilangan satu-satunya alasan baginya untuk tetap hidup.

Saat fajar mulai menyingsing dengan warna kelabu yang suram, sebuah suara keras menghantam pintu gudang.

Brak!

Seorang pria tambun dengan seragam safari dan wajah sangar masuk. Itu adalah Tuan broto, pemilik gudang tempat Pak Salim bekerja. Ia menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra.

"Apa-apaan ini, Salim?! Aku menyuruhmu menjaga gudang, bukan menjadikannya tempat penampungan gelandangan sakit!" bentak Tuan Broto.

"Tuan, tolong... mereka hanya butuh tempat berteduh sebentar. Anak itu sedang sakit keras," mohon Pak Salim sambil membungkuk-bungkuk.

Tuan Broto menatap Arumi yang sedang bersandar lemah dengan tatapan jijik. "Aku dengar selentingan di pasar. Wanita ini adalah janda yang bermasalah di butik ternama, kan? Dia pembawa sial! Lihat, gudangku jadi bau obat dan penyakit. Keluar! Sekarang juga!"

"Tuan, tolong tunggu sampai hujan reda..." Arumi mencoba berdiri, namun kakinya lemas seperti jeli.

"Tidak ada tunggu-tunggu! Bawa barang-barang sampahmu ini keluar!" Tuan Broto menendang tumpukan kain perca Arumi hingga berhamburan ke luar pintu, tepat ke atas tanah yang becek karena sisa hujan.

Arumi dengan susah payah menggendong Kirana yang masih mengigau. Ia memunguti kain-kainnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Pak Salim mencoba menahan Tuan Broto, namun ia justru didorong hingga jatuh.

"Pergi! Jangan sampai aku melihat wajahmu lagi di sekitar pasar ini!" teriak Tuan Broto.

Arumi melangkah keluar dari area pasar. Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk telapak kakinya. Ia mendekap Kirana erat-erat di dadanya, mencoba melindunginya dari angin pagi yang menusuk.

Orang-orang pasar mulai berdatangan. Para pedagang menggelar dagangannya, kuli panggul berlalu lalang. Namun, tidak ada satu pun yang menoleh ke arah wanita yang berjalan sempoyongan dengan mata merah dan bibir pecah-pecah itu.

Bagi mereka, Arumi hanyalah satu lagi pemandangan kemiskinan yang biasa di kota besar.

Dunia mendadak berputar di mata Arumi. Langit yang kelabu berubah menjadi hitam. Napasnya tersengal, dan rasa manis darah kembali memenuhi kerongkongannya.

"Kirana... bertahanlah..." bisiknya terakhir kali.

Pandangannya gelap. Arumi ambruk di pinggir jalan raya, tepat di atas aspal yang mulai menghangat oleh sinar matahari yang tipis. Ia jatuh dengan posisi melindungi Kirana agar tubuh anaknya tidak membentur trotoar.

Ia pingsan dengan tangan yang masih menggenggam erat tas kain berisi gunting dan sisa perca. Di tengah hiruk-pikuk kota yang mulai terbangun, Arumi tergeletak tak berdaya.

Ia telah sampai di titik nadir fisiknya. Harapannya telah lumat, dan harga dirinya telah habis dikuliti oleh keadaan.

Namun, di dalam kegelapan pingsannya, sebuah suara batin yang sangat dingin mulai menggema. Sebuah suara yang bukan lagi milik Arumi yang lembut.

'Bangun, Arumi. Jangan mati sebagai pecundang. Jika dunia ini ingin kamu hancur, maka hancurkanlah dunia ini terlebih dahulu.'

Arumi tak sadarkan diri di trotoar, sementara mobil-mobil mewah melintas begitu saja di sampingnya tanpa peduli bahwa ada sebuah nyawa yang sedang dipertaruhkan di atas debu jalanan.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Dew666
💎💎💎💎
Enny Suhartini
semangat Arumi
Dyas31
bagus cerita nya KK, mengandung konflik berat, tetep semangat KK kuuuu 😘😘😘😘
Enny Suhartini
ayo Arumi semangat 💪
Sulfia Nuriawati
kok ni crta keterlaluan skali konflik nya, dlm dunia nyata bs d siksa tu yg sk fitnah knp jatuhnya arumi sampai sdh bangkit jd kesel bc nya
Enny Suhartini
semangat ya Arumi
Enny Suhartini
Miss Ra kenapa kok kejam banget
Enny Suhartini
kok kejam sekali sih
Enny Suhartini
sabar dan kuat ya Arumi 💪
Enny Suhartini
ayo semangat Arumi💪
Enny Suhartini
cerita penuh perjuangan
semoga kuat dan sabar Arumi
Dew666
☀️☀️
Dew666
🔥🔥🔥🔥
Himna Mohamad
sdh mampir baca,,lanjut kk
Ma Em
Miss Ra , Arumi atau Arini namanya , tapi semoga sukses Arini dgn usahanya dan balas tuh perbuatan mbak Sari yg menyebalkan selalu menghina dan merendahkan Arini tunjukan pada mereka yg sdh menghina kamu Arini bahwa Arini bisa sukses .🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Miss Ra: ooh sori, saya ingatnya arini yg di novel baru yg belum rilis..
nanti saya rubah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!