NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si Mesum (part 1)

Bab 20 | Si Mesum (Part 1)

Kamar itu sunyi. Lampu tidur temaram menyisakan cahaya hangat yang memantul di kulit pucat Aelira. Gadis itu tertidur pulas dalam pelukan Ravian, napasnya ringan naik turun menyentuh dada cowok itu.

Ravian tidak bisa tidur.

Bukan karena insomnia. Tapi karena Aelira terlalu cantik saat tertidur. Terlalu manis. Rambutnya tergerai di atas bantal, bulu matanya yang lentik membentuk bayangan tipis di pipi, bibirnya sedikit terbuka—seperti sedang bermimpi tentang sesuatu yang indah.

Tangannya mengusap pelan punggung Aelira, lalu turun ke pinggangnya. Ia menunduk, menatap wajah gadis itu lekat-lekat.

"Cantik banget sumpah. Gue beneran udah gila gara-gara lo."

Ia mencium bibir Aelira pelan. Sekali. Lalu sekali lagi—lebih lama. Bibir itu masih terasa hangat dan familiar. Seolah milik dia. Hanya dia.

"Lo tahu nggak, gue benci banget kalau lo ketemu cowok lain. Lo senyum aja ke orang, dada gue sesak. Rasanya pengen ngurung lo. Pengen bikin lo lupa sama siapa pun selain gue." Desisnya lembut, namun dingin.

"Gue cinta sama lo. Jangan pergi, oke? Gue beneran bisa gila. Dan lo nggak mau lihat gue gila, kan?"

Ia menarik tubuh Aelira makin dekat, mendekap erat, seakan takut Aelira akan menghilang saat bangun nanti.

"Lo punya pilihan, sih. Tapi di mata gue, lo nggak pernah punya tempat lain selain di pelukan ini. Sampai kapan pun."

Ia mencium puncak kepala Aelira, lalu kembali menatapnya dengan mata tajam penuh obsesi.

"Kalau lo ninggalin gue, gue bakal nyari lo. Sampe dapet. Sampe lo bisa jatuh cinta ke gue—meskipun lo harus gue paksa."

Tangan Ravian mulai menjalar. Tidak kasar, tapi pasti.

Ia menyentuh tulang selangka Aelira dengan ujung jarinya, lalu turun ke garis pinggang gadis itu, membelai lembut kulit hangat di bawah piyama tipisnya. Satu sisi piyama gadis itu sedikit tersingkap karena gerakan mereka tadi—dan Ravian tidak membenarkannya.

Ia menunduk lagi.

Bibirnya menyusuri leher Aelira, mengendus aroma sabun mandi yang masih tertinggal samar. Ciumannya makin dalam. Satu tangannya menyelip di bawah leher Aelira, satu lagi menahan pinggul gadis itu.

Napasnya mulai berat, tapi masih terkendali. Bahaya justru ada pada tenangnya Ravian.

"Lo bakal takut sama gue kalau tahu seberapa banyak gue terobsesi sama lo?"

Kilatan matanya dingin, sementara tangannya menyentuh punggung Aelira dari balik piyama tidurnya—memainkan dan menarik-narik pengait bra.

Aelira mengerang pelan dalam tidurnya.

Entah bermimpi atau tubuhnya mulai merespons sentuhan Ravian yang terlalu intim. Tapi Ravian tidak berhenti.

Ia menempelkan dahinya ke kening Aelira.

"Lo satu-satunya hal di dunia ini yang bikin gue waras."

Ravian mencium bibir Aelira sekali lagi—lebih lama.

"Good night, baby girl."

---

Sore harinya — Lorong Rumah Sakit

Lorong rumah sakit sore itu dipenuhi aroma disinfektan dan langkah-langkah tergesa para tenaga medis.

Aelira berjalan di samping Ravian, yang mengenakan hoodie hitam dengan topi dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Mereka baru saja selesai menjenguk Ziva—yang masih koma namun kondisinya mulai stabil.

Namun langkah mereka terhenti saat menangkap dua sosok familiar di kursi tunggu depan ruang IGD.

"Itu Pak Andrew sama Bu Nadia, kan?" Aelira segera melepaskan genggaman tangan Ravian dan melangkah cepat menghampiri.

"Bu? Pak?"

Nadia menoleh pelan.

Andrew baru mengangkat wajahnya ketika mendengar suara Aelira. Mata pria itu melebar, sebelum menatap gadis itu lama—terlalu lama.

"Aelira?" gumam Andrew dengan suara serak.

"Siapa yang sakit?" tanya Aelira cemas.

Nadia mengusap pipinya yang basah. "Alvandra, Nak. Jatuh dari tangga sekolah. Kepalanya terbentur. Sekarang masih di ruang observasi."

"Aelira," panggil Andrew lagi—suaranya bergetar.

Aelira menoleh bingung. "Ada apa, Pak?"

Andrew menghela napas panjang. Matanya masih tidak bisa lepas dari wajah Aelira. "Bapak... Bapak ingin bertanya sesuatu. Tapi nanti saja. Di lain waktu."

Ravian yang dari tadi berdiri di belakang Aelira, kini melangkah maju. Matanya menyipit menatap Andrew—pria yang dulu pernah menawari Aelira beasiswa ke Jepang. Yang wajahnya sekarang pucat dan matanya berkaca-kaca.

Bukan karena anaknya Alvandra dirawat di rumah sakit.

Tapi karena Aelira.

---

Di sudut lain lorong, Nadia dan Andrew duduk berdua setelah Aelira dan Ravian pamit untuk kembali ke ruang Ziva.

"Andrew," bisik Nadia. "Kamu sejak tadi terus menatap Aelira. Ada apa?"

Andrew menggenggam tangannya sendiri. "Wajahnya... Li, wajah Aelira persis seperti adikku. Jevanna."

Nadia terdiam.

"Jevanna yang hilang lima belas tahun lalu? Yang kabur bersama suaminya?" tanya Nadia dengan alis terangkat.

Andrew mengangguk. "Sebelum mereka menghilang, Jevanna sedang hamil. Bapak yakin... yakin kalau Aelira adalah anak adik bapak." Suaranya bergetar. "Aku yakin Aelira adalah putri dari adikku. Rencananya aku mau tes DNA."

Nadia tersenyum paksa. "Kalau itu benar, aku senang Mas akhirnya bisa nemuin keponakan Mas lagi."

"Makasih, ya, Nad."

"Sama-sama, Mas."

Nadia tersenyum—tapi di balik senyum itu, tangan kanannya yang memegang tas menggenggam erat. Kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Matanya menajam.

Jevanna.

Nama itu selalu membuatnya panas dingin.

Dulu, mereka bersahabat. Nadia dan Jevanna tumbuh bersama. Tapi Jevanna selalu lebih beruntung. Lebih pintar. Lebih cantik. Lebih disayang keluarga. Semua orang memuja Jevanna. Sementara Nadia? Hanya bayangan di belakangnya.

Dan Jevanna tetap sempurna di mata semua orang.

Sampai hari ini. Sampai saat ini.

Dan sekarang putri Jevanna muncul—dengan wajah yang sama sempurnanya.

Tidak. Nadia menggigit bibir dalam hati.

Dia tidak akan membiarkan Aelira mengambil perhatian yang selama ini ia bangun. Alvandra—anaknya—akan tetap menjadi pewaris utama.

Apapun caranya.

"Sialan," gumam Nadia pelan—hampir tidak terdengar. Matanya menyipit ke arah lorong tempat Aelira menghilang.

Jevanna, kau sudah mati. Tapi kau tetap menghantuiku.

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
secawan ☕️ biar seger dan semangat up nya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
aku mampir ya
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Alia Chans: Thanks kk for support nya 👈😉
total 1 replies
SANG
Sampai tamat💪👍
Alia Chans: Bismillah
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
Alia Chans: Thanks, dilanjut kok kk👈😉
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans: Thanks👈😉
total 1 replies
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduhhhh parahhhh nih kasian Aelira padahal dia pakai jaket kaka kelasnya buat nutupin bajunya yang basah jadinya salah paham ini
Alia Chans: wk" namanya juga cowok mana mau dengerin penjelasan cewek kk🙄
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Vergan ini terlalu posesif ihhhh ngerinya😱🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!