Amora (23) mengira takdirnya hanya sebatas membungkus es teh manis dan beradu urat dengan kuli panggul di pasar pelabuhan yang becek. Di balik tabiatnya yang ramai, dia tidak pernah tahu bahwa dirinya adalah darah daging Dinasti Klan—pemilik kasta tertinggi yang sengaja dilesapkan ke lumpur kemiskinan akibat tragedi belasan tahun lalu. Yang dia tahu, hidup kasarnya selalu aman karena dijaga oleh Hamdan (29), pria berkemeja hitam yang dingin laksana es.Namun, ketenangan itu koyak saat Gavin Raka (33), miliarder asal Swiss, datang membawa kepingan silsilah yang hilang. Amora diseret paksa masuk ke dunia elite yang penuh manipulasi finansial internasional, fitnah hubungan sedarah, hingga cakar fisik dari saingan cintanya, Elif Azra Karaca.Saat gurita dana rahasia Hamdan bergerak dingin meruntuhkan bursa efek Eropa murni demi melindunginya, seuntai anyaman gelang rumput kering di tangan Amora perlahan mulai mengoyak kabut amnesia bawah sadarnya. Dan tepat ketika rahasia malam kebakaran itu robek seutuhnya, sebuah bayangan dari masa lalu bersiap bangkit untuk meruntuhkan seluruh takhta kekuasaan dunia kelas atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Kebangkitan Sang Legenda
Malam itu, Mansion Tarkan nggak lagi jadi tempat persembunyian rahasia yang kelam. Rumah besar ini mendadak berubah jadi pusat perhatian seluruh kalangan bangsawan yang malam itu terguncang hebat. Di dalam aula yang masih menyisakan wangi parfum mahal dan sisa ketegangan dari acara perjamuan tadi, Amora berdiri tegap di samping ibunya, Saphira Elara. Tangannya sama sekali nggak lepas menggenggam jemari sang ibu yang rasanya masih dingin. Ada rasa takut yang terselip di hatinya; dia cemas kalau dilepas sedikit saja, sosok ibunya bakal hilang lagi ditelan kegelapan sel bawah tanah.
Layla Tarkan sendiri sudah dituntun keluar sama Farid beberapa saat lalu. Kepergian wanita paruh baya itu yang sunyi tanpa pembelaan jadi simbol runtuhnya kekuasaan penuh tipu daya yang dia bangun belasan tahun ini. Sekarang, di dalam aula cuma tersisa para tamu kehormatan yang masih mematung di tempatnya masing-masing. Mereka memandangi Saphira dengan tatapan yang susah diartikan—campur aduk antara merasa bersalah, takjub, sekaligus hormat.
"Tujuh belas tahun aku dianggap sudah jadi abu," suara Saphira memecah keheningan yang mencekam di ruangan itu. Nada bicaranya sekarang kedengaran jauh lebih kuat dan punya wibawa di depan para bangsawan yang dulu sempat jadi rekan sejawatnya. "Tapi malam ini, berkat keberanian anak perempuanku dan kesetiaan dari seorang Hamdan Tarkan, abu itu akhirnya kembali jadi api."
Amora menoleh sedikit, melihat ke arah Hamdan yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Pria itu kelihatan mirip tiang pelindung yang kokoh—diam, waspada, tapi sepasang matanya memancarkan rasa lega yang luar biasa. Hamdan akhirnya berhasil menunaikan tugas paling berat di hidupnya: mengembalikan dunia yang sudah semestinya jadi milik Amora sejak dulu.
Tiba-tiba, suara deru mesin helikopter yang bising banget memecah keheningan malam di luar mansion. Cahaya lampu sorot yang terang sekali menyapu jendela-jendela kaca aula, bikin kilatan putih yang silau di pandangan mata. Angin kencang gara-gara putaran baling-baling helikopter di halaman depan sampai bikin pohon-pohon di luar meliuk-liuk ekstrem.
Hamdan seketika balik ke mode siaga penuh. Dia langsung jalan cepat ke depan, memasang badan tegapnya buat melindungi Amora dan Saphira dari bahaya apa pun. "Farid! Siapkan pengamanan di halaman depan sekarang juga!"
Tapi, Farid yang baru aja masuk kembali ke dalam aula malah mukanya kelihatan pucat banget. Dia nggak bawa senjata apa-apa, melainkan cuma berdiri kaku di ambang pintu sambil melotot nggak percaya. "Tuan Hamdan... Anda harus lihat sendiri ke luar."
Pintu ganda mansion yang megah itu perlahan-lahan didorong terbuka lebar dari luar. Seorang pria paruh baya berjalan masuk dengan langkah kaki yang tegap banget sampai bunyi ketukan sepatunya bergema jelas di atas lantai marmer. Dia memakai jubah panjang warna hitam dengan hiasan sulaman benang emas berbentuk bunga mawar yang bersilang sama pedang—sebuah lambang kebesaran dari Dinasti Klan yang paling otentik.
Gurat wajahnya kelihatan tegas dengan rahang yang kokoh, ditambah sepasang mata cokelat tajam yang mirip banget sama matanya Amora. Walaupun ada beberapa kerutan tanda usia di mukanya, aura kekuasaan yang keluar dari tubuh pria itu pekat sekali, sampai-sampai bikin orang-orang di dalam ruangan otomatis menundukkan kepala karena segan.
Saphira mendadak melepas genggaman tangan Amora. Seluruh tubuh wanita itu bergetar hebat. "Alaric...?" bisiknya pakai suara yang hampir habis, nyaris nggak kedengaran sama sekali.
Dunia rasanya kayak berhenti berputar pas pria itu menghentikan langkah kakinya tepat di tengah aula pesta. Dia adalah Baron Alaric Klan. Sang legenda yang selama tujuh belas tahun ini dianggap sudah tewas terbakar di dalam rumahnya sendiri, sekarang nyata berdiri tegak sebagai manusia yang utuh di depan mereka semua.
"Aku pulang buat menjemput keluargaku," ucap Alaric pakai suara bariton yang dalam dan langsung menggetarkan seisi ruangan.
Amora langsung kaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang banget sampai rasanya agak sakit. Sosok ayah yang selama ini cuma bisa dia lihat lewat mimpi, lembaran foto kusam, bahkan gundukan tanah makam yang pernah dia datangi bersama Hamdan buat tabur bunga, sekarang beneran ada di depannya. Alaric memandangi Amora, dan buat pertama kalinya, sorot mata tajam sang Baron melembut, kelihatan berkaca-kaca gara-gara rasa rindu yang nggak bisa diungkapkan pakai kata-kata.
"Mawar kecilku..." bisik Alaric pelan.
Amora udah nggak bisa menahan emosi di dadanya lagi. Dia langsung berlari kencang menerjang pelukan ayahnya, menumpahkan semua air mata yang selama ini dia simpan rapat-rapat selama hidup susah jadi gadis pasar di desa. Alaric mendekap erat tubuh anak perempuannya, seolah-olah pengin mengganti tiap detik waktu yang hilang selama belasan tahun mereka terpisah jauh.
Pas momen emosional itu perlahan mulai reda, Alaric menyudahi pelukannya lalu menatap ke arah Hamdan Tarkan yang dari tadi masih berdiri diam di posisinya. Suasana di dalam aula seketika balik berubah tegang lagi. Alaric berjalan mendekati Hamdan, memandangi pria muda itu pakai tatapan mata mengintimidasi yang biasanya sanggup bikin pejabat mana pun gemetaran ketakutan.
Tapi, Hamdan nggak menundukkan kepalanya sama sekali. Dia tetap berdiri tegap, menatap balik mata sang Baron dengan rasa hormat yang dalam tapi tanpa ada rasa takut sedikit pun. Dia sudah siap menerima konsekuensi atau penilaian apa pun kalau misal sang Baron menganggap caranya menjaga Amora selama ini salah.
Alaric mengangkat tangan kanannya, dan secara mengejutkan, dia menepuk bahu Hamdan agak keras—sebuah gestur tanda pengakuan dan rasa hormat antar sesama pria dewasa.
"Kamu sudah melakukan apa yang tidak bisa kulakukan tujuh belas tahun lalu, Hamdan," ucap Alaric pakai nada suara yang kedengaran tulus banget. "Kamu menjaga mereka dengan baik di tengah sarang serigala. Kamu bahkan rela membiarkan namamu sendiri hancur demi menjaga identitas anakku tetap aman. Mulai malam ini, kasta Klan berhutang nyawa kepadamu."
Hamdan menundukkan kepalanya sedikit, lalu merespons pakai suara rendah yang mantap. "Saya hanya memenuhi janji yang pernah saya ucapkan di bawah pohon mangga, Tuan Baron. Menjaga Amora adalah satu-satunya misi yang membuat hidup saya memiliki arti."
Aula itu sekarang dipenuhi sama keheningan yang khidmat pas Alaric Klan melihat ke sekeliling ruangan, memandangi satu per satu para bangsawan yang dulu sempat mempertanyakan garis keturunan anaknya. Lewat satu gerakan tangan yang tegas, dia memberi kode ke pengawal pribadinya buat membawa sebuah koper warna perak ke depan meja.
"Di dalam sini," Alaric menunjuk koper itu sambil mengarahkan pandangan tajamnya ke arah para tamu undangan dan sisa jurnalis yang masih ada, "terdapat semua catatan asli transaksi dan dokumen rahasia milik Dinasti Klan yang sempat dicuri orang. Mulai besok pagi, tiap orang yang ikut terlibat dalam penyebaran fitnah hubungan sedarah terhadap anakku bakal menerima surat panggilan dari pengadilan. Dinasti Klan tidak pernah lupa, dan kami tidak pernah memaafkan pengkhianatan."
Pernyataan dingin itu laksana vonis mati buat karier politik sama status sosial siapa pun yang pernah menghina atau merendahkan Amora selama ini.
Begitu para tamu undangan mulai keluar meninggalkan mansion satu per satu dengan wajah pucat, Alaric berbalik sepenuhnya menghadap ke arah Hamdan. "Aku sudah mendengar semua yang terjadi di kapal pesiar itu, Hamdan. Tentang gelang rumput itu."
Mendengar ucapan sang ayah, Amora langsung tersipu malu. Tangannya otomatis bergerak menyentuh pergelangan tangannya sendiri yang masih memakai anyaman rumput kering itu, kelihatan kontras tapi manis pas bersanding di sebelah cincin berlian mewahnya.
Alaric tersenyum tipis, jenis senyuman yang jarang dia tunjukkan tapi kerasa penuh arti. "Ayahmu, Tarkan Senior, dulu orangnya kaku banget. Tapi dia pasti bakal bangga melihat anak lakinya tumbuh jadi pria sejati yang tahu kalau cinta nggak bisa diukur pakai nilai saham atau emas. Hamdan, besok aku mau ngobrol sama kamu secara pribadi. Ada sebuah tempat di wilayah utara yang mau kupulihkan bareng kalian berdua."
Hamdan mengangguk mantap tanpa ada ragu. "Dengan senang hati, Tuan Baron."
Pas semua tamu undangan bener-bener sudah mengosongkan mansion dengan langkah buru-buru—beberapa di antaranya ketakutan gara-gara ancaman hukum dari sang Baron—suasana damai akhirnya menyelimuti kediaman Tarkan. Aula yang tadinya penuh sama urusan persaingan ego, sekarang berubah total jadi ruangan yang hangat buat sebuah keluarga yang baru aja disatukan lagi sama takdir.
Baron Alaric melangkah mendekati Saphira. Pakai gerakan yang pelan dan hati-hati banget, seakan takut sosok di depannya ini cuma bayangan khayalan saja, dia menyentuh lembut pipi istrinya.
"Maafkan aku ya, karena butuh waktu sampai tujuh belas tahun buat menembus kabut ini, Saphira," bisik Alaric, suaranya mendadak kedengaran serak gara-gara menahan gejolak emosi. "Malam kebakaran itu, aku emang terjebak di dalam rumah. Tapi sebelum api melahap semuanya, tim agen rahasia bentukan ayahku berhasil menarik tubuhku keluar lewat jalur bawah tanah darurat yang posisinya berbeda. Kondisi badanku hancur, dan aku sempat koma berbulan-bulan di fasilitas medis tersembunyi di luar negeri."
Alaric menarik napasnya dalam-dalam, menggenggam erat telapak tangan Saphira yang masih agak gemetaran. "Pas aku sadar, aku sudah dinyatakan tewas. Makam yang pernah didatangi Hamdan sama Amora... itu sebenarnya makam palsu yang sengaja dibangun sama musuh-musuh kita buat mengelabui publik, sekaligus mengecek apa ada dari kita yang masih hidup dan bakal datang ke sana. Makanya aku sengaja membiarkan makam itu tetap berdiri dan pura-pura mati. Aku mesti bergerak diam-diam, menghancurkan jaringan musuh kita di luar negeri satu per satu dulu tanpa ketahuan, supaya bisa menjamin keselamatan kalian secara mutlak pas aku pulang kayak malam ini."
Saphira cuma menggelengkan kepalanya pelan. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini seulas senyum bahagia kelihatan jelas di bibirnya. "Kamu pulang di waktu yang pas kok, Alaric. Kamu pulang pas anak perempuan kita sudah tumbuh jadi wanita yang kuat banget."
Alaric lalu beralih memandangi Amora dan Hamdan yang berdiri berdampingan dengan serasi. Dia merhatiin gimana cara tangan Hamdan yang masih menggenggam erat jemari tangan Amora dengan protektif banget. Sang Baron mengangguk pelan, kali ini pakai senyuman hangat yang bener-bener kelihatan di matanya.
"Hamdan, besok pagi aku mau kamu mendampingiku ke kantor pusat Tarkan Group. Ada beberapa benalu di jajaran dewan direksi yang mesti kita bersihkan sebelum kalian berdua melangkah ke jenjang yang berikutnya," kata Alaric pakai nada bicara dewasa yang otoriter tapi penuh dukungan. "Terus buat Amora, persiapkan dirimu dengan baik. Dunia nggak bakal lagi memanggilmu gadis pasar atau cuma calon tunangan. Mulai besok pagi, kamu adalah wajah utama dari seluruh Dinasti Klan."
Amora mendongak, melihat ke arah Hamdan yang langsung memberikan seulas senyuman penyemangat yang manis sekali buat dia. Di bawah perlindungan dua pria paling berpengaruh di hidupnya, Amora tahu kalau masa lalunya yang kelam sudah resmi terkubur, dan takhta masa depannya yang cerah baru aja dimulai.