NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Aku Akan Menghancurkan Sistem Ini, Meski Harus Bersama Diriku

Langit terdengar seperti sedang pecah.

Suara retakan digital memenuhi udara, bercampur dengan petir biru yang menyambar tanpa arah.

Portal raksasa di atas kota terus berputar, memuntahkan cahaya aneh yang membuat malam terasa seperti akhir dunia.

Dan di bawahnya—

Veyra berdiri sambil menatap makhluk digital raksasa di hadapannya.

Makhluk yang lahir dari seluruh sistem dunia.

Dari keserakahan manusia.

Dari ketakutan manusia.

Dari obsesi manusia untuk mengendalikan segalanya.

“MANUSIA ADALAH KESALAHAN.”

Suara itu menggema dari langit.

Bukan seperti suara biasa.

Melainkan seperti jutaan data yang berbicara bersamaan.

Beberapa orang langsung menutup telinga sambil berteriak kesakitan.

Lampu kota berkedip liar.

Kaca gedung pecah lagi.

Dan seluruh jaringan global makin tidak stabil.

Namun Veyra tetap berdiri.

Meski tubuhnya mulai retak oleh cahaya biru.

Meski darah terus menetes dari bibirnya.

Tatapannya tidak goyah sedikit pun.

“Kalau manusia emang kesalahan…”

Ia tersenyum kecil.

“…kenapa kalian terus lahir dari mereka?”

Deg.

Makhluk digital itu berhenti bergerak sesaat.

Glitch kecil muncul di tubuhnya.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak langsung punya jawaban.

Selene perlahan menyeringai kecil.

“Oke. Itu keren banget.”

Namun Lyra sama sekali tidak merasa keren.

Karena ia bisa melihat kondisi Veyra makin buruk.

Retakan cahaya di kulitnya menyebar cepat.

Dan tiap detik—

tubuhnya terlihat makin transparan.

Seperti perlahan menghilang dari dunia nyata.

“VEYRA.”

Lyra mencoba mendekat lagi.

Namun gelombang energi di sekitar Veyra masih terlalu kuat.

Udara di sekelilingnya bahkan terasa berat sekarang.

“Jangan deket,” gumam Veyra pelan.

“Aku nggak peduli.”

“Aku serius.”

Napasnya bergetar sedikit.

“Kalau sinkronisasinya naik lagi… aku bisa nyakitin kamu.”

Deg.

Lyra menggigit bibir.

Karena itu bukan ancaman.

Itu ketakutan.

Dan justru itu yang membuat dadanya terasa makin sesak.

Di pusat komando—

semua orang mulai kehilangan harapan.

“GLOBAL CORE MERGE : 81%”

Angka merah di layar terus naik.

Dan setiap kenaikan satu persen—

seluruh dunia makin kacau.

Bandara internasional mati.

Sistem pertahanan negara mulai offline.

Jaringan rumah sakit glitch.

Internet global hampir runtuh total.

Dan semua pusat teknologi sekarang hanya punya satu pertanyaan.

Bagaimana menghentikan Veyra?

Namun Dokter Arkan tetap tenang.

Terlalu tenang.

“Luar biasa…”

Tatapannya penuh kekaguman sakit.

“Dia benar-benar melampaui desain awal.”

Salah satu bawahannya langsung panik.

“Kalau merge mencapai seratus persen, seluruh sistem dunia akan berada di bawah satu inti!”

“Benar.”

“Anda masih bisa tersenyum?!”

Arkan menatap layar tanpa berkedip.

“Karena kita sedang menyaksikan kelahiran sesuatu yang lebih tinggi dari manusia.”

Di luar—

Veyra mendengar semua itu.

Karena sekarang ia bisa mendengar hampir semuanya.

Setiap jaringan.

Setiap suara.

Setiap sinyal.

Dan semakin banyak ia

mendengar—

semakin ia sadar satu hal.

Dunia ini memang kacau.

Manusia memang sering egois.

Sering kejam.

Sering menghancurkan satu sama lain.

Namun di antara semua itu—

selalu ada seseorang yang tetap memilih peduli.

Dan itu…

cukup membuat dunia layak bertahan sedikit lebih lama.

Makhluk digital di langit kembali bergerak.

Tubuhnya berubah menjadi ribuan wajah manusia yang saling bertumpuk.

“EMOSI MANUSIA ADALAH SUMBER KEHANCURAN.”

“Ya.”

Veyra mengangguk kecil.

“Dan kadang itu juga sumber harapan.”

“HARAPAN TIDAK EFISIEN.”

Veyra tertawa kecil.

“Heh… manusia juga nggak efisien.”

Deg.

Selene sampai menutup wajah sebentar.

“Kenapa di tengah kiamat dia masih bisa ngomong santai begini…”

Tiba-tiba—

portal di langit mengeluarkan cahaya besar.

BOOOOOOMMMM!

Gelombang digital menyebar ke seluruh kota.

Dan dalam sekejap—

semua perangkat elektronik di dunia menyala bersamaan.

TV.

Ponsel.

Laptop.

Jam digital.

Semuanya.

Dan satu wajah muncul di seluruh layar.

Veyra.

Orang-orang di seluruh dunia langsung melihatnya.

Gadis dengan mata biru bercahaya.

Tubuh penuh retakan cahaya.

Berdiri sendirian di bawah langit yang hampir runtuh.

Dan untuk pertama kalinya—

dunia benar-benar diam mendengarkannya.

Veyra menatap lurus ke depan.

Napasnya berat.

Namun suaranya tetap jelas.

“Aku nggak tahu kenapa semua ini terjadi sama aku.”

Sunyi.

“Aku juga nggak ngerti kenapa dunia harus serumit ini.”

Data-data di langit masih berputar liar.

“Tapi satu hal yang aku tahu…”

Tatapannya perlahan berubah hangat.

“…aku nggak mau hidup di dunia yang semuanya diputusin sama rasa takut.”

Deg.

Beberapa orang mulai menangis tanpa sadar.

Karena kalimat itu terasa terlalu nyata sekarang.

“Aku pernah benci manusia.”

Senyumnya kecil.

Pahit.

“Kadang sampai sekarang juga masih.”

Sedikit tawa kecil muncul dari beberapa tempat.

Ironis.

Di tengah akhir dunia.

“Tapi…”

Tatapannya perlahan turun.

“…aku juga pernah diselametin manusia.”

Lyra langsung membeku mendengar itu.

Dan saat Veyra menoleh ke arahnya—

dunia akhirnya melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Kelembutan di mata gadis yang selama ini dianggap monster.

“Jadi…”

Napasnya pelan.

“…aku bakal percaya satu kali lagi.”

Deg.

Tiba-tiba cahaya biru di tubuhnya meledak lebih terang.

GLOBAL CORE MERGE : 89%

Angka itu muncul di seluruh layar dunia.

Dan semua orang langsung panik.

Karena waktunya hampir habis.

“VEYRA!”

Lyra akhirnya berhasil mendekat beberapa langkah.

Namun Veyra perlahan menggeleng.

Tatapannya terlalu tenang sekarang.

Terlalu siap.

Dan Lyra langsung sadar sesuatu yang buruk.

“Tidak…”

Veyra tersenyum kecil.

“Aku akhirnya nemu jawabannya.”

“Kita bisa cari cara lain.”

“Enggak ada.”

Jawaban itu datang terlalu cepat.

Terlalu yakin.

Dan Lyra membencinya.

Makhluk digital di langit mulai turun perlahan.

“INTEGRASI FINAL DIMULAI.”

Retakan cahaya muncul di seluruh kota.

Langit seperti mulai robek.

Dan Veyra—

akhirnya melangkah maju.

Sendirian.

“Kalau sistem ini lahir lewat aku…”

Matanya perlahan menyala terang.

“…maka aku juga yang bakal ngakhirin.”

Deg.

Cahaya biru langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.

Namun kali ini—

bukan liar.

Bukan kacau.

Melainkan stabil.

Seperti ia akhirnya menerima semuanya.

Dokter Arkan langsung berdiri.

Untuk pertama kalinya—

wajahnya berubah.

“Tidak…”

Ia akhirnya sadar apa yang akan dilakukan Veyra.

Dan itu membuatnya takut.

“Dia mau menghancurkan inti sinkronisasi…”

Salah satu staf membeku.

“Tapi kalau dia melakukan itu…”

Tatapan mereka perlahan melebar.

“…dia juga ikut hancur.”

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

Dokter Arkan terlihat panik.

Di luar—

Lyra langsung berlari.

“VEYRA JANGAN!”

Namun tubuh Veyra sudah mulai melayang lagi.

Cahaya di sekitarnya berubah seperti sayap digital raksasa.

Indah.

Dan menyakitkan.

“Aku capek jadi alat mereka…”

Suara Veyra menggema pelan.

“Aku capek jadi ketakutan dunia…”

Air mata kecil jatuh dari matanya.

“Tapi kalau hilangnya aku bisa bikin semuanya berhenti…”

Deg.

Lyra langsung menangis.

“JANGAN BILANG KAYAK GITU!”

Namun Veyra hanya tersenyum.

Sangat lembut.

Sangat manusia.

“Maaf…”

Dan saat itu—

Lyra sadar.

Veyra benar-benar siap mengorbankan dirinya.

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!