NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Bertahan Hidup dari Fitnah dan Hipotermia

 "ITU MEREKA! JANGAN KASIH LOLOS!"

Suara teriakan itu memecah sunyi hutan bambu, dibarengi sama puluhan sorot lampu senter yang bikin mata gua perih bukan main.

Gua refleks makin nempel ke punggung Dedik, tangan gua nyengkrem kaos oblong putihnya yang udah kotor. Jantung gua rasanya mau copot.

Ini beneran lebih serem daripada ketemu babi hutan atau hantu penunggu pohon bambu.

"Ded... gimana nih? Kita beneran dikepung!" bisik gua panik, suara gua gemeteran hebat.

Dedik nggak gerak sedikit pun. Dia tetep berdiri tegak di depan gua, tangannya masih megang batang bambu kering sebagai bentuk pertahanan terakhir.

"Tenang, Rey. Jangan lari. Kalau lo lari, mereka makin yakin kita salah. Ikutin instruksi gua."

Sekelompok orang itu makin deket. Ternyata mereka adalah warga desa, lengkap sama sarung yang dikalungin di leher dan beberapa bawa kayu.

Di depan sendiri, ada Bapak Kepala Desa yang tadi sore nyambut kita di balai desa. Mukanya kelihatan kecewa banget.

"Dedik! Reyna! Apa yang kalian lakukan berduaan di tengah hutan jam segini?!" tanya Pak Kades dengan suara berat. "Kalian ini mahasiswa, tamu di desa kami, tapi kenapa malah melanggar norma kesopanan?!"

"Pak, ini tidak seperti yang Bapak pikirkan!" gua coba teriak bela diri, tapi suara gua kalah sama omelan warga di belakang.

"Halah! Nggak kayak gimana?! Senter mati, HP mati, pelukan di kegelapan! Itu namanya apa kalau bukan maksiat?!" sahut salah satu warga yang bawa senter paling terang. "Bikin kotor desa kita aja!"

Dedik narik napas panjang. Dia nurunin batang bambunya, nunjukin kalau dia nggak mau cari ribut fisik. Dia maju satu langkah, tetep narik tangan gua biar gua tetep di belakang punggungnya.

"Pak Kades, dan Bapak-bapak sekalian," suara Dedik keluar dengan tenang, datar, seolah-olah dia lagi presentasi di depan kelas.

"Logikanya, kalau kami ke sini buat melakukan hal yang tidak sopan, kami tidak akan membawa tas gitar sebesar ini, tripod, dan alat rekam frekuensi digital."

"Alasan aja itu! Alat itu bisa buat kedok!" timpal warga lain.

"Mari kita bicara fakta," lanjut Dedik, nggak terganggu sama interupsi itu. "Senter kami mati karena baterainya habis. HP kami mati karena korslet kena hujan saat menolong Arlan tadi sore."

"Kami terjebak di sini karena jarak pandang nol persen. Jika kami memaksakan jalan dalam gelap, risiko kami jatuh ke jurang di sebelah timur sangat tinggi."

"Menunggu fajar dengan menjaga suhu tubuh adalah tindakan bertahan hidup yang paling masuk akal."

"Bertahan hidup kok pake pelukan?!" celetuk warga.

Dedik nengok ke arah warga itu dengan tatapan tajem. "Dalam medis, itu namanya skin-to-skin contact untuk mencegah hipotermia. Reyna kedinginan karena bajunya masih basah bekas hujan tadi sore."

"Kalau saya biarkan dia membeku sendirian demi 'norma' yang Bapak maksud, dan dia meninggal di desa ini, apakah Bapak-bapak siap bertanggung jawab di depan hukum karena membiarkan tamu celaka?"

Suasana mendadak hening. Argumen Dedik soal "mati" dan "hukum" emang selalu manjur buat bikin orang mikir dua kali.

Pak Kades ngerutin dahi, dia liat ke arah tas gitar Dedik yang emang masih terbuka, nunjukin alat-alat risetnya.

"Tapi laporan dari Nak Arlan tadi bilang kalau kalian sengaja menghindar dari pengawasan untuk... kegiatan pribadi," kata Pak Kades ragu.

Gua langsung melongo. ARLAN LAGI?! Sumpah, itu sepupu mau gua racun pake apa ya biar diem? Tadi bilangnya udah minta maaf, sekarang malah ngadu ke warga?!

"Arlan?" Dedik ngerasa ada yang nggak beres. Dia lirik gua sebentar. "Pak, Arlan itu sedang terluka di Puskesmas. Bagaimana dia bisa tahu kami di sini kalau bukan dia sendiri yang sengaja memprovokasi warga?"

"Tadi dia telepon ke salah satu pemuda desa, katanya dia khawatir Reyna dibawa kabur sama kamu ke hutan karena ada perselisihan soal sponsor," jelas Pak Kades.

"Itu fitnah, Pak!" gua akhirnya nggak tahan buat diem. "Arlan itu hanya sirik! Dia yang buat kami hampir celaka tadi sore!"

Tiba-tiba, dari arah belakang kerumunan warga, muncul sosok yang sangat gua kenali. Kak Tiara. Dia lari-lari kecil nyamperin kita dengan muka yang campur aduk antara cemas dan kesel.

"Dedik! Reyna! Ya ampun, kalian beneran di sini?!" Kak Tiara langsung berdiri di antara kita dan warga. "Pak Kades, mohon maaf sekali lagi."

"Ini semua salah paham. Saya yang bertanggung jawab atas mereka. Mereka memang sedang mengejar data riset karena besok pagi tim harus ditarik balik ke kampus."

"Tapi Nak Tiara, ini sudah lewat tengah malam..."

"Saya tahu, Pak. Tapi mereka ini mahasiswa teladan. Dedik ini asisten saya yang paling disiplin. Tidak mungkin dia berbuat macam-macam," Kak Tiara ngasih jaminan.

Melihat asdos cantik yang selama ini mereka hormati menjamin, warga mulai nurunin kayu-kayunya. Pak Kades ngehembusin napas lega.

"Ya sudah, kalau begitu. Tapi tolong, jangan diulangi lagi. Desa ini punya aturan. Sekarang, ayo semuanya balik ke penginapan. Biar pemuda desa yang bantu tuntun motor kalian."

Gua ngerasa lemes banget. Bahu gua merosot. Dedik ngelepasin tangan gua pelan-pelan, terus dia mulai beresin alat-alatnya tanpa ngomong satu kata pun.

Mukanya makin datar dari biasanya, tapi gua tau dia lagi nahan emosi yang meledak-ledak.

Sepanjang perjalanan balik ke penginapan, kita dikawal warga. Rasanya kayak tahanan yang lagi digiring. Sesampainya di depan kamar penginapan, Kak Tiara minta warga bubar dan dia mau bicara enam mata sama kita.

"Dedik, Reyna... masuk dulu," kata Kak Tiara tegas.

Kita duduk di ruang tamu penginapan yang kecil. Kak Tiara berdiri di depan kita sambil berkacak pinggang. "Kalian tau kan apa yang kalian lakuin itu bahaya banget? Bukan cuma soal warga, tapi soal keselamatan kalian!"

"Data risetnya udah beres, Kak," kata Dedik sambil narik alat rekamnya. "Itu alasan utama kami ke sana."

"Gua tau lo ambisius, Ded. Tapi lo nggak bisa seret Reyna ke dalam masalah ini! Arlan tadi nelepon kantor pusat, dia bilang lo ngerasa nggak aman dan bawa lari Reyna."

"Pihak sponsor marah besar, Ded! Mereka mau mutus kontrak malam ini juga!"

Gua kaget. "Loh? Kok gitu? Kan Arlan sendiri yang tadi bilang masalah pengacara udah beres?"

"Arlan itu licik, Rey," Kak Tiara mijit pelipisnya. "Dia mungkin minta maaf di depan kalian, tapi di belakang, dia lapor ke kantornya kalau Dedik itu nggak stabil secara emosional."

"Dia mau nendang Dedik dari proyek ini biar dia bisa handle riset ini sendirian bareng gue."

Gua nengok ke Dedik. Gua kira dia bakal marah, teriak, atau banting sesuatu. Tapi dia malah senyum. Senyum tipis yang serem banget.

"Logikanya, Kak..." Dedik berdiri, dia buka laptopnya yang ada di meja. "Arlan nggak tahu kalau riset 'Harmoni Nada' itu nggak bisa jalan tanpa kunci frekuensi yang cuma ada di memori alat rekam gua."

"Dan dia juga nggak tahu, kalau suara Reyna itu bukan suara sembarangan."

Dedik nengok ke arah gua. "Rey, lo masih punya flashdisk rahasia lo itu?"

"Ada... di tas gua. Kenapa?"

"Kasih ke Kak Tiara."

Gua bingung, tapi gua nurut. Gua ambil flashdisk merah kecil itu dan gua kasih ke Kak Tiara.

"Isinya apa?" tanya Kak Tiara heran.

"Isi rekaman asli suara Reyna yang udah gua sinkronisasi sama nada bambu tadi malam," kata Dedik.

"Kak, kalau Arlan mau main kotor, kita main lebih pinter. Besok pagi, jangan temuin sponsor. Kita langsung temuin Dekan."

"Kita tunjukin kalau proyek ini sudah jadi, dan sponsor nggak punya hak buat klaim riset ini sebagai milik mereka kalau mereka mutus kontrak secara sepihak."

"Tapi Ded, prosedurnya..."

"Persetan sama prosedur, Kak. Ini soal hak cipta intelektual," Dedik nutup laptopnya dengan suara keras. BRAK!

"Malam ini kita nggak tidur. Kita edit semua data ini. Rey, lo bantu gua input data statistiknya. Kak Tiara, lo bagian surat menyurat ke Dekanat."

Gua ngeliat semangat di mata Dedik. Sifat Aquarius-nya yang pemberontak dan jenius lagi keluar total.

Gua nggak tau ini bakal berhasil apa nggak, tapi liat gimana dia belain gua dan karyanya, gua ngerasa siap buat begadang semalaman.

"Oke, Ded! Gua bantu!" kata gua semangat.

Kita bertiga akhirnya begadang di ruang tamu itu. Gua duduk di sebelah Dedik, dengerin dia ngejelasin angka-angka statistik yang tadinya bikin gua pusing, sekarang malah kedengeran kayak melodi.

Berkali-kali Dedik benerin posisi duduk gua yang hampir merosot karena ngantuk.

"Tahan, Rey. Satu jam lagi beres," bisiknya sambil nepuk-nepuk pundak gua pelan.

Subuh mulai menjelang. Suara adzan dari masjid desa mulai kedengeran. Dedik neken tombol Save terakhir.

"Beres," katanya pelan.

Tapi tepat saat itu, pintu penginapan kita digedor keras banget dari luar.

"DEDIK! KELUAR LO! GUE TAU LO LAGI SABOTASE DATA SPONSOR!"

Suara Arlan. Kali ini suaranya nggak kedengeran kayak orang sakit. Dia kedengeran marah banget, dan sepertinya dia nggak dateng sendirian. Ada suara beberapa orang lain yang kedengeran berat dan tegas.

Gua natap Dedik. Dedik cuma berdiri, ngerapiin kaos oblongnya yang udah kusut, terus pake kacamata hitamnya biar matanya yang merah karena begadang nggak kelihatan.

"Rey, simpen laptopnya di tas lo. Jangan kasih siapa pun."

"Terus lo?"

Dedik jalan ke arah pintu. "Gua bakal kasih Arlan sedikit pelajaran soal hukum Newton. Bahwa setiap aksi, bakal dapet reaksi yang setimpal."

Dedik buka pintunya, dan di sana Arlan berdiri bareng Mas Rendy (si pengacara) dan dua orang pria berjas hitam yang badannya gede-gede.

***

Konfrontasi terakhir di penginapan! Arlan bawa "pasukan" buat nyita hasil riset mereka. Apakah Dedik sanggup nahan mereka sementara Reyna nyelametin data penting itu? Dan apa sebenernya rencana Arlan dengan membawa orang-orang berjas hitam itu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!