NovelToon NovelToon
NIKAH KONTRAK 9 BULAN

NIKAH KONTRAK 9 BULAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Hada

Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sementara Raja di rumah sakit dimana dirinya bertugas. Pria itu bingung hendak menghubungi keluarganya di tambah kondisi Sarah yang membuatnya tercengang tak percaya.

Raja saat ini masih di rumah sakit dan ikut memantau kondisi Sarah. Seketika ia pun ingat, harus menghubungi orang yang mungkin tahu keluarganya. Takut kalau orang rumah mencemaskannya, Raja pun mencoba menghubungi seseorang tetapi tidak di angkat. Membuatnya pasrah dan berniat menjaganya malam ini.

“Maaf, sudah merepotkanmu, kak,” ucap Sarah setelah menjumpai kesadarannya.

“Tidak, istirahat saja, tenangkan dirimu, aku akan menjagamu malam ini,” ucap Raja iba.

Raja tahu keadaan Sarah saat ini berdasarkan pemeriksaan dan hasil USG tadi siang karna Sarah mengeluh sakit perut yang hebat. Namun, rasanya lidah ini kelu untuk menanyakan suatu hal yang sangay privasi.

“Terima kasih banyak orang baik,” ucap Sarah dalam hati. Di sertai senyuman dan anggukan tulus.

Gadis itu mencoba memejam, sedikit lebih tenang setelah tidak lagi melihat bayang-bayang Lingga yang mengintimidasi selama dua hari. Bisakah dia tidak pernah melihat wajahnya lagi. Sarah benar-benar tidak ingin mendengar apapun tentang dia. Ia juga ingin sekali pergi dari rumah itu.

Perlahan mata itu memaksa untuk memejam, walau hatinya masih terjaga. Rasa lelah membuatnya benar-benar lelap membawa mimpi. Raja sendiri masih stay di ruangan itu sembari nugas. Terlihat sibuk di depan laptop hingga larut.

Sementara di kediaman Bu Alice, setelah makan malam, keduanya langsung menuju kamar. Begitupun dengan Lingga yang langsung masuk ke kamarnya.

“Sarah kemana ya? Benarkah dia hamil anak aku?” batin Lingga secara tidak sadar memikirkannya. Bahkan terlihat cemas sembari berdiri di balkon kamarnya dan berharap melihat gadis itu tengah pulang di bawah sana.

Sampai habis berbatang-batang rokok, tak melihat tanda-tanda kepulangan Sarah. Terakhir pasalnya bersama dirinya, jadi, Lingga jelas kepikiran. Kemana Sarah pulang? Bukankah disini tidak ada saudara selain di kampung.

“Nggak jelas banget tuh cewek, nyusahin orang aja hobinya, awas aja besok kalau ketemu!” batin Lingga jengkel. Kembali ke kamar lalu menarik selimutnya.

Pria itu asik berselancar di dunia maya. Terlihay obrolan mesra dengn seseorang melalui panggilan whatsapp. Melupakan sejenak kerumitan hidupnya. Hatinya lebih tenang setelah menghubungi orang tersayang.

Sementara Bu Alice dan Pak Re masih sibuk bercakap masalah putri art-nya yang tak kunjung pulang. Merasa khawatir, dan takut juga terjadi apa-apa dengan gadis itu mengingat selama ini tingga di rumahnya.

“Pah, ini kenapa Raja telpon aku banyak banget ya, ada apa?” tanya Bu Alice melihat layar ponselnya penuh dengan miss call dari sepupunya.

“Raja siapa?” tanya pak Re malah tak paham.

“Itu loh Pah, anaknya dokter Zayyan adik nya Shali, dia tumben banget nelpon sebanyak ini. Tidak mungkin kayaknya kalau tidak penting.”

“Owh …. Raja anaknya Gus Dokter toh, ya telpon balik aja Mah, siapa tau emang penting,” timpal Pak Re santai.

“Iya, tapi masalahnya ini udah larut, besok sajalah, biar aku telpon balik,” ujar Bu Alice waktunya untuk istirahat. Hanya malam hari saatnya menghabiskan waktu berdua lebih banyak setelah siang sama-sama sibuk.

Malam berlalu, disambut pagi dengan hawa dingin setetes embun yang menyerbu dedaunan di sekitar halaman rumah. Mentari pagi ini pun sepertinya tak malu-malu untuk menampakkan paripurnanya hingga nampak begitu cerah menyambut hari.

Seseorang di bilik rumah masih terlihat mengkhawatirkan putrinya. Tak seceria cuaca pagi yang begitu berisinar. Berbeda sekali dengan Bu Maryam yang nampak dalam kecemasan. Semalaman bahkan tidak tidur sebab memikirkan keadaan putrinya.

Belum ada kabar membuatnya tidak semangat melalukan banyak hal. Kendati demikian, perempuan yang sudah bekerja belasan tahun di rumah majikannya itu tetap melaksanakan pekerjaannya pagi ini secara profesional.

Menyiapkan sarapan, dan melakukan banyak hal di rumah yang telah memberikan banyak pekerjaan dan menghidupi keluarganya sejak dulu.

“Masak apa Mbok? Apa Sarah sudah ada kabat?” tanya Bu Alice berharap gadi itu sudha di rumah.

“Bikin roti panggang reques mas Lingg Bu, Ibu sma Bapak mau di buatkan sarapan apa?” tanya Bu Maryam memberikan pilihan.

“Sama aja Mbok,ngak apa-apa. Sarah udha pulang?” tanya Bu Alice mengulang pertanyaan yang sama.

“Belum,” jawab Bu Maryam menggeleng pelan.

“Yang sabar ya Mbok,nanti biar Mas Re caru tahu di kampus, mana tahu tiga hari ini masuk atau tidak,” ucap Bu Alice menenangkan.

Perempuan itu kembali ke meja makan, ikut menyiapkan sarapan dan menyeduhnya kopi wajib untuk suaminya. Setelah lebih dulu menyiapkan ganti untuk pagii ini dan apa saja yang hendak di bawa.

“Ma, ini handphone kamu bunyi terus. Sepertinya Raja menghubungi lagi,” Pak Regan bergabung di meja makan seraya menenteng ponsel istrinya. Menyodorkan agar perempuan itu menjawab telponnya.

“Eh iya Pah,” jawab Bu Alice langsung menggeser tombol hijau. Terdengar suara helaan napas lega di ujung sana.

“Alhamdulillah….. assalamu’alaikum Budhe …. Maaf mengganggu waktunya,” ucap Raja di ujung telpon.

“Waalaikumsalam …. Ada apa Ja, dari kemarin telpon, maaf semalam tidak tahu,”

“Nggak apa-apa Budhe, sebenarnya ad yang mau Raja sampaikan. Hanya mengabari saja takut orang rumah cemas, atau khawatir.”

“Iya, ada apa Ja?” tanya Bu Alice menyimak.

“Sarah ada di rumah sakit Budhe, sama saya, kondisinya sudah mendingan, tapi tidak baik-baik saja. Kalau ada waktu Budhe bisa kesini atau tolong kabari keluarganya.”

“Masya Allah , alhamdulillah …. Kamu kasih tahu Ja, benar kamu di rumah mencemaskanya, terutama ibunya. Nanti Budhe kesana ya, sekalian sama Bu Maryam, tolong kirim alamat rumah sakitnya.”

“Iya Budhe Raja tunggu, saya sharelok ya biar cepat. Ada hal yang ingin Raja tanyakan juga Budhe.”

“Iya , siap, makasih infonya Ja, nanti setelah sarapan saya kesana.” Panggilan di tutup menampilkan kelegaan di wajah perempuan itu. Sarah sudah di temukan tapi sayangnya di rumah sakit, semoga saja kondisi perempuan itu baik-baik saja.

1
Sabil illah
bagus kak ceritanya.... semangat update kak
Ningsih Hada: Terima kasih ya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!