NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 : PERTEMUAN KEMBALI

Pagi di Kantor PT Harsono Group terasa berbeda. Udara AC lobby yang biasanya dingin menusuk kini terasa lebih hangat, atau mungkin itu hanya perasaan Arga. Setelah dua hari weekend yang tenang bersama Kirana, langkahnya pagi ini terasa lebih ringan. Jas hitamnya rapi, dasinya pas, dan di tangannya hanya ada satu map berisi laporan keuangan yang harus dia tanda tangan sebelum meeting jam sembilan.

Kirana hari ini datang lebih siang. Ada meeting eksternal dengan salah satu vendor kain di luar kantor. Jadi pagi ini Arga masuk kantor sendirian. Tidak ada Kirana yang berjalan di sampingnya sambil membawa tumbler warna biru kesayangannya.

Arga menyadari dirinya sudah terbiasa dengan kehadiran itu.

Lift masih dua lantai di atas. Arga memilih jalan kaki sebentar menyusuri lobby yang masih sepi. Karyawan lain kebanyakan baru datang dan masih mengantre di pantry.

Langkahnya berhenti ketika ada seseorang yang berjalan berlawanan arah sambil menunduk, Dia memeluk tumpukan map cokelat setinggi dada.

BLAK!

Tubuh kecil itu terhuyung. Tumpukan map yang dipegangnya terlepas dan berhamburan ke lantai marmer yang mengkilap. Suara kertas berjatuhan memenuhi lobby yang masih sepi.

“Astaghfirullah ma..maaf pak— maaf!” Suara perempuan itu gemetar, hampir panik. Dia langsung jongkok, berusaha mengumpukan map-map yang berantakan. Tangannya gemetar.

Arga mengernyit. Refleksnya langsung jongkok juga dan membantu mengambilkan map yang tercecer. “Hati-hati.” Suaranya pelan, datar seperti biasa.

Sesaat kemudian tangannya berhenti di tengah jalan.

Perempuan di depannya itu tiba-tiba diam. Tidak bergerak. Tidak mengambil map lagi. Dia hanya menatap Arga. Lehernya kaku. Matanya membulat. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Lalu bibirnya bergetar dan pelan-pelan keluar satu kata yang membuat Arga ikut membeku.

“Kak... Arga?” tiba-tiba wanita itu mengucapkan nama Arga.

Waktu seperti melambat.

Arga menatap wajah itu. Rambut hitam yang dikuncir kuda rendah. Kulit kuning langsat. Matanya bulat dengan bulu mata yang panjang.Wajahnya Natural tanpa riasan berlebihan, terlihat manis. Ada bekas luka kecil di dagunya yang Arga ingat samar-samar.

Tiga detik. Lalu ingatan lima belas tahun yang lalu tiba-tiba menghantamnya seperti ombak.

Flashback

Panti Asuhan Harapan Bangsa. Malam itu cuaca gerimis dari sore.Seorang anak perempuan berusia dua belas tahun terbaring lemah diatas kasur busa, Kondisinya demam tinggi. Tubuhnya menggigil. Bibirnya pucat.

" Bu, Nina kenapa Bu..? " Tanya Arga ke Bu Hana saat dia baru pulang dari warung sembako membeli kebutuhan panti.

"Arga, Nina demam tinggi ..dari tadi sore belum turun panasnya" ucap Bu Hana seraya

mengompres kening Nina.

“Kak Arga... aku dingin...” ucap Nina lirih matanya yang sayu menatap Arga.

" Bu, biar aku bawa ke puskesmas saja yah Bu..? " saran Arga.

" Tapi arga ini sudah malem, Ibu takut kamu nanti juga ikut sakit" Ucap Bu Hana khawatir.

Arga yang waktu itu baru lima belas tahun tidak pikir panjang. Dia melepas jaket lusuhnya dan menyelimutkan ke tubuh Nina. Lalu tanpa bilang apa-apa, dia menggendong tubuh kecil Nina yang kurus itu keluar panti. Hujan deras. Jalanan licin. Tapi Arga terus berlari sejauh satu kilometer menuju puskesmas terdekat.

“Tahan ya, Nin. Kita mau ke puskesmas. Pegangan yang kuat, Kakak nggak akan lepasin kamu.”

Suara Arga waktu itu serak. Napasnya tersengal. Tapi gendongannya tetap kuat.

Sejak malam itu... Nina tidak pernah bisa melupakan punggung Kak Arga yang basah kuyup karena hujan. Punggung yang kurus tapi terasa paling aman di dunia.

Sejak saat itu. Hari hari

Nina tak pernah jauh dari memperhatikan Arga.

Saat Kak Arga bagi in roti ke adik-adik lain, Nina yang paling senang kalau roti itu diberikan ke dia.

Saat Kak Arga ajarin adik-adik membaca, Nina yang paling rajin duduk paling depan.

Saat Kak Arga tersenyum kecil setelah selesai kerja bakti, Nina yang paling lama memandang senyum itu.

*Nina sangat

bahagia walaupun cuma sekedar berada di dekat Arga. Sampai hari itu tiba. Hari

dimana Pak Harsono

datang membawa Arga pulang ke rumahnya. Mulai

saat itu Dunia Nina terasa begitu sepi, dia mulai jarang bertemu Arga*.

Kembali ke masa sekarang,

“Nina?” Suara Arga pelan. Hampir tidak terdengar. Itu membuat Nina tersadar dari lamunannya. Dia buru-buru mengangguk kecil. “Iya... aku Nina. Dari panti... dulu.”

Arga tidak banyak berubah. Wajahnya tetap tegas. Tapi ada sedikit kerutan di dahinya, tanda dia sedang mengingat.“Nina... yang waktu itu demam tinggi?” Arga bertanya pelan.

Nina langsung menunduk. Wajahnya sedikit memerah. Matanya berkaca kaca. “Iya Kak...itu..itu aku.” jawabnya gugup ada rasa malu saat

mengingat moment itu.

"Dia ingat. Kak Arga masih ingat."

Hati Nina bergetar. Sudah lima belas tahun. Dan Kak Arga masih mengingat malam itu.

Arga berdiri dan menyerahkan map itu ke tangan Nina. “Kamu kerja di sini?”

Nina mengangguk cepat. “Iya Kak. Staff logistik. Baru seminggu pindah dari cabang Surabaya.” Dia berusaha tersenyum. Tapi senyumnya sedikit canggung. “Aku nggak nyangka... bisa ketemu Kak Arga lagi.”

Arga hanya mengangguk. Dia tidak banyak bicara. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat. Banyak yang berubah. Termasuk dirinya. Dulu dia anak panti yang hanya punya satu stel baju dan satu pasang sepatu bolong. Sekarang dia wakil direktur. Orang kepercayaan Pak Harsono, pemilik perusahaan ini.Tapi di depan Nina, dia merasa kembali menjadi Kak Arga yang lima belas tahun itu. Yang selalu berbagi roti tawar dan mengajari adik-adik panti membaca.

“Kerja yang baik ya.” Itu saja yang keluar dari mulut Arga. Kalimat singkat. Khas Arga.

Tapi bagi Nina, kalimat itu sudah cukup untuk membuat dadanya sesak. Karena Kak Arga yang dulu juga selalu bilang begitu. Setiap kali Nina jatuh saat belajar jalan dengan kaki yang terluka. Setiap kali Nina menangis karena kangen ibu.

“Belajar yang rajin ya, Nin. Biar bisa keluar dari sini.”

Nina mengangguk lagi. Dia tidak berani menatap Arga terlalu lama. Takut air matanya jatuh.

“Kak...” Nina memberanikan diri. “Kak Arga masih sering ke panti nggak?”

Arga menoleh. Tatapannya datar. “Kadang. Kalau ada waktu.”

Nina mengangguk. “Panti sekarang sudah bagus ya Kak. Ada donatur baru. Kamarnya sudah dicat ulang. Adik-adik juga sudah banyak.”

Dia berhenti sejenak. Lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, “Aku... aku dua bulan lalu aku mampir ke panti , Aku ketemu anak anak di sana. Aku juga cerita ke adik-adik tentang Kak Arga. Tentang kakak yang baik yang selalu jaga kami.”

Arga tidak menjawab. Dia hanya menatap pintu lift yang angka lantainya terus naik. 3... 4... 5...

Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang menghangat.Dia tidak pernah menyangka ada yang masih mengingatnya seperti itu.

Lift berhenti di lantai delapan. Pintu terbuka.

Arga melangkah keluar. “Sudah sampai Nina, selamat bekerja. Semoga kamu betah disini."

Nina buru-buru mengikuti. Dia menunduk hormat. “Makasih ya Kak. Maaf sudah ganggu waktu Kak Arga.”

Arga hendak berjalan pergi. Tapi kemudian dia berhenti. Dia menoleh dan melihat map di tangan Nina yang masih berantakan. Tanpa bilang apa-apa, dia membantu merapikan lagi map yang sudutnya terlipat. Tangannya pelan dan hati-hati.

Nina menatap tangan itu. Tangan yang dulu menggenggam tangannya erat-erat saat dia menggigil demam di tengah hujan. Tangan yang dulu membuat Nina merasa aman untuk pertama kalinya.

Padahal Arga memang selalu baik ke semua adik-adiknya di panti. Tanpa pilih kasih. Tanpa pandang bulu. Tapi Nina... Nina yang mengartikannya lain. Nina yang diam-diam menyimpan rasa itu di dalam hati. Rasa yang dia sendiri tidak mengerti apa namanya.

“Sudah. Lain kali lebih hati-hati.” Arga berdiri tegak dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Nina masih berdiri di tempat. Memegang map dengan kedua tangan. Menatap punggung Arga yang semakin menjauh.Jantungnya berdebar kencang. Bukan karena gugup. Tapi karena... berharap.

"Kak Arga masih sama. Masih baik. Masih bikin aku merasa aman."

Nina tersenyum kecil. Senyum yang sudah lama tidak dia rasakan. Selama ini dia pikir Kak Arga sudah lupa dengan anak panti seperti dia. Pikirnya Kak Arga sudah punya dunia sendiri yang jauh.Tapi ternyata tidak. Kak Arga masih mengingatnya.

Dia memeluk map itu erat-erat. Seperti memeluk kenangan yang sudah lama dia simpan.

"Kalau bisa... aku ingin dekat lagi dengan Kak Arga. Cuma dekat. Cuma sapa. Cuma lihat Kak Arga baik-baik saja itu sudah cukup."

Tapi kemudian matanya tertuju pada sesuatu.

Cincin.

Cincin emas sederhana di jari manis tangan kiri Arga.

Nina membeku.

Cincin...

Kak Arga sudah menikah?

Dadanya terasa sesak tiba-tiba. Seperti ada sesuatu yang ditusuk pelan-pelan.

Nina langsung menunduk. Dia tidak berani berpikir lebih jauh.

"Wajar. Kak Arga sudah sukses. Pasti sudah punya keluarga."

"Wajar. Aku cuma adik panti. Aku nggak berhak berharap apa-apa." hatinya terasa nyesek memikirkannya.

Nina menghela napas pelan. Dia memaksakan senyum.

"Tidak apa-apa, Nina. Cukup lihat Kak Arga baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup."

"Jangan berharap lebih. Jangan."

Dia berjalan pelan menuju ruang logistik dengan map di pelukannya. Tapi langkahnya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Karena untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun, dia bisa melihat Kak Arga lagi. Bisa menyapa. Bisa berbicara. Itu lebih dari cukup.

Di dalam lift yang sudah menutup, Arga berdiri diam. Tangannya di saku jas. Matanya menatap angka lantai yang terus turun. 7... 6... 5...

Dia tidak sadar kalau ada seseorang yang masih menatap punggungnya dari belakang.

Dia juga tidak sadar kalau tindakan kecilnya tadi membantu mengangkat map, mengantar ke lift. Sudah membuat seseorang berharap lagi.

Bagi Arga, Nina hanya adik panti. Anak yang dulu pernah dia jaga. Bagi Arga, itu hal biasa. Karena dia memang terbiasa menjaga orang lain. Karena dia memang terbiasa menjadi kakak.

Tapi Arga bukan tidak tahu. Arga tahu.

Bahwa bagi Nina, dia bukan hanya kakak.

Dia adalah sosok yang membuat Nina bertahan di panti.Dia adalah alasan Nina mau belajar keras sampai bisa kuliah dan kerja di perusahaan besar. Dia adalah orang yang Nina kagumi diam-diam selama lima belas tahun.

Menjelang siang,

Di lantai satu, Kirana baru saja turun dari taksi. Dia tersenyum kecil sambil memegang kotak bekal di tangannya.Hari ini dia ingin mengejutkan Arga dengan bekal makan siang buatan sendiri.

Dia tidak tahu kalau lima menit yang lalu, suaminya baru saja bertemu dengan seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang diam-diam masih menyimpan perasaan untuk Arga.

Dan Arga...

Arga juga tidak tahu. Bahwa pertemuan singkat itu akan menjadi awal dari ujian kecil untuk pernikahannya.

[BERSAMBUNG.. ]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!