NovelToon NovelToon
Rahasia Pangeran Pecundang

Rahasia Pangeran Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.



Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.


Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Munculnya Yang Terpilih

"Reputasi Pangeran Mapanji Wijaya, sudah sedemikian buruk di mata masyarakat dan kerabat istana, Gusti Rakryan Kanuruhan...

Seorang pangeran yang gemar berbuat tak senonoh tak mungkin lagi di pilih oleh Maharani Sri Isyana Tunggawijaya sebagai Yuwaraja. Untuk apa kita capek-capek mencelakai nya? Danghyang Resi Panawaja dari Perguruan Harinjing saja yang biasanya tidak menolak untuk mengajar calon punggawa istana, tidak mau menerima Pangeran Mapanji Wijaya sebagai murid. Lantas buat apa kita bersusah payah seperti ini? ", tanya Tumenggung Kandadaha dengan mimik wajah keheranan.

" Aku tahu kau pasti akan berpikir seperti itu, Kandadaha..

Tapi aku curiga ia sengaja melakukan hal ini untuk menutupi ambisi nya. Hanya sayang, aku belum bisa membongkar kebusukannya. Dia terlalu pintar menyembunyikan setiap ambisi dalam balutan tingkah konyolnya ", sahut Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana sembari mengusap jenggotnya.

" Aku yakin jawaban untuk semua pertanyaan mu ini hanya ada dua, Gusti Rakryan Kanuruhan..

Yang pertama, Pangeran Mapanji Wijaya terlalu pintar berpura-pura menjadi seorang bajingan. Sedangkan yang kedua, ini hanya ketakutan pribadi mu yang menganggap Pangeran Mapanji Wijaya terlalu tinggi. Dia cuma pangeran bejat yang suka bersenang-senang tapi kau menganggapnya sebagai ancaman.

Sudahlah, aku tidak mau bersusah payah mengurusi Pangeran Mapanji Wijaya yang urakan itu. Sudah cukup malam, aku harus segera pulang. Aku permisi Gusti Rakryan Kanuruhan ", pungkas Tumenggung Kandadaha sembari bangkit dari tempat duduknya dan menghormat sebelum memutar badannya.

" Tapi... "

Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana tak meneruskan omongan nya setelah melihat Tumenggung Kandadaha melambaikan tangannya.

Meskipun jabatan Tumenggung Kandadaha hanya seorang tumenggung yang menguasai keprajuritan di barat Kotaraja Watugaluh, dia masih kerabat dekat istana Medang karena dia adalah sepupu Maharani Sri Isyana Tunggawijaya dari pihak ibu. Dia juga dihormati oleh sang penguasa Kerajaan Medang sebagai seorang yang dituakan. Walaupun kadang ia sedikit keras kepala, tetapi pengaruhnya dalam ketatanegaraan cukup besar dan bisa sangat berarti jika Pangeran Mapanji Jayanegara dicalonkan sebagai Yuwaraja. Karena itu, mau tidak mau Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana harus sedikit bersabar menghadapi orang ini.

"Mangir..!! "

Yang dipanggil segera menghormat sebelum berbicara.

"Hamba Gusti Rakryan Kanuruhan... "

"Laporkan apapun yang terjadi pada Pangeran Mapanji Wijaya, jangan sampai ada yang terlewat.

Kalau perlu, kelompok telik sandi Gagak Ireng kau libatkan. Berikan ini pada Rampal, dia akan segera memenuhi apa yang kau inginkan", ucap Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana seraya menyerahkan sebuah lencana perunggu berukir tengkorak manusia bermata tiga menggigit bulan sabit pada sang abdi yang segera menyimpan nya di balik baju.

"Kalau begitu, hamba permisi Gusti Rakryan Kanuruhan", Mangir menghormat sebelum beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Sembari menatap ke arah perginya Mangir, Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana mengepalkan tangannya erat-erat sembari menggumamkan sesuatu.

"Pangeran Mapanji Wijaya, sebaiknya kau tak ketahuan niat busuk mu.. "

*****

Sementara itu, di sisi utara Gunung Lawu...

Pangeran Mapanji Wijaya duduk bersila di atas batu pipih sembari menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Matanya terpejam rapat sementara keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya. Sepertinya ia sedang menahan sesuatu yang sangat berat.

Di depan nya, lelaki tua berjanggut putih panjang berpakaian serba putih yang membawanya dari Keputran Istana Kotaraja Watugaluh berdiri sambil meletakkan tapak tangan nya pada ubun-ubun sang pangeran Medang.

Zzrrrrrtttttttttttthhh!!!!!

Cahaya merah menjalar dari tangan lelaki sepuh ini, menyebar ke seluruh tubuh Pangeran Mapanji Wijaya. Menelusup ke setiap titik di bagian tubuh putra kedua Maharani Sri Isyana Tunggawijaya dan Sri Lokapala ini, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Tetapi Pangeran Mapanji Wijaya tetap bertahan dibawah siksaan rasa sakit yang kini mendera tubuh nya.

Setelah merasa cukup, lelaki sepuh ini melepaskan telapak tangannya dari ubun-ubun Pangeran Mapanji Wijaya sambil menghela nafas panjang. Dia menatap ke arah Pangeran Mapanji Wijaya yang mulai membuka mata dengan nafas tersengal.

"Separuh bagian dari Ajian Segara Geni sudah ku turunkan kepada mu, Wijaya...

Ingat, sebelum mencapai tahap sempurna kau tak boleh menggunakannya sembarangan. Tubuh mu tidak akan kuat dengan kekuatan nya yang merusak. Saat ini tenaga dalam mu baru mencapai tahap ke enam, belum bisa menggunakan ajian ini dengan sempurna. Camkan itu baik-baik..! ", peringat orang tua itu yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya menganggukkan kepalanya.

" Saya mengerti Eyang Guru...

Tubuh saya memang lemah, harus setahap demi setahap agar bisa mencapai tahap sempurna. Terimakasih Eyang Guru sudah membantu saya sejauh ini ", ucap Pangeran Mapanji Wijaya sembari menghormat.

" Bocah ini memang pandai bicara, tapi aku suka hehehe...

Aku menerima mu sebagai murid karena aku adalah paman guru ayah mu, Wijaya. Hehhh, aku ingin mewariskan ilmu kanuragan ku sebelum aku mati agar tidak ada penyesalan ", ucap lelaki sepuh itu sambil memejamkan matanya rapat sembari menghirup nafas dalam-dalam.

" Maksud Eyang Guru adalah Eyang Guru ini paman guru dari kanjeng Romo Sri Lokapala?

Kok Kanjeng Romo tidak pernah menceritakan nya? ", tanya Mapanji Wijaya keheranan.

" Itu bukan sesuatu yang penting, Wijaya..

Ilmu kanuragan ku adalah pengembangan dari ilmu yang sama dari punya ayah mu. Ajian Sepi Angin adalah pengembangan dari Ajian Langkah Dewa Angin yang dimiliki Lokapala, hanya sedikit berbeda pada cara lelaku dan hasilnya. Sedangkan Ajian Segara Geni adalah ilmu yang aku kembangkan sendiri dengan menyerap inti api dari sisa potongan besi pembentuk Pedang Naga Api yang menjadi senjata andalan ayah mu.

Terus tingkatkan olah tubuh mu, Wijaya. Satu purnama lagi Ajian Segara Geni dan Ajian Sepi Angin akan bisa menyatu sempurna dengan tubuh mu", perintah lelaki sepuh itu yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya segera menghormat.

"Baik Guru... "

Hemmmmmmmmm...

"Ini sudah hampir pagi. Kita harus segera kembali ke Istana Kotaraja Watugaluh. Ayo pergi.. "

Setelah bicara demikian, lelaki sepuh itu segera meraih tangan Mapanji Wijaya dan detik waktu berikutnya mereka sudah menghilang dari tempat itu.

Mentari pagi mulai menampakan diri di cakrawala timur, membangunkan seisi bumi dengan kehangatan sinarnya yang terang. Kehidupan Kotaraja Watugaluh yang semalam terlelap dalam buaian mimpi dan malam yang gelap, berangsur-angsur bangun dan menggeliat.

Lalu lintas jalanan kotaraja mulai dipadati para pencari penghidupan. Mereka umumnya para pedagang yang berangkat menuju pasar besar dan para petani yang bersiap untuk menggarap sawah. Selain mereka ada juga para pengelana dari luar kota yang ingin melihat kemajuan ibukota baru Kerajaan Medang setelah berpindah dari Tamwlang.

Sementara Kotaraja Watugaluh mulai menggeliat dengan segala kesibukannya, di keputran Istana Kotaraja Watugaluh, Warak dan Ludaka mondar-mandir di depan pintu kamar tidur Pangeran Mapanji Wijaya. Matahari sudah sepenggal naik ke langit timur dan sebentar lagi pisowanan akan segera dimulai sedangkan orang yang ditunggu masih belum juga nampak batang hidung nya.

"Bagaimana ini Lu?

Sebentar lagi pisowanan akan segera dimulai, tapi Gusti Pangeran masih belum juga bangun. Aduhh bagaimana ini? Pasti Gusti Maharani akan marah lagi.. ", ucap Warak sambil memukuli telapak tangannya sendiri. Dia benar-benar terlihat khawatir.

" Aku juga tidak tahu, Rak....

Membangunkan Gusti Pangeran Mapanji Wijaya saat ini sama juga cari mati. Kau saja yang bangunkan dia, aku masih mau hidup ", seru Ludaka sembari mundur selangkah dari depan pintu kamar.

" Apa kau pikir aku juga berani?

Bekas luka di wajah ku saja masih belum sembuh benar karena dipukuli dia. Kalau sampai dia marah lagi, pasti habis aku di tangan nya", jawab Warak dengan cemas.

"Ada apa ini?!! "

Suara berat nan berwibawa itu sontak membuat Warak dan Ludaka menoleh ke sumber suara dan melihat seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal dan janggut yang mulai ditumbuhi uban berdiri disana. Meskipun sudah berumur, masih terlihat jelas sisa sisa gurat ketampanan di wajah lelaki yang mengenakan pakaian bangsawan ini. Ludaka dan Warak langsung membungkuk hormat pada lelaki paruh baya itu.

"Hormat kami Gusti Lokapala... "

Lelaki tua yang tak lain adalah Sri Lokapala atau semasa muda nya dikenal sebagai Panji Rawit ini mengangkat tangannya sebagai tanda penerimaan. Sekalipun ia bukan raja de facto Kerajaan Medang tapi secara de jure ia lah penguasa Medang yang sebenarnya. Status nya hanya pendamping Maharani Sri Isyana Tunggawijaya, tetapi segala keputusan besar tetap berasal dari dirinya.

"Anak sialan itu masih belum bangun?", tanya Sri Lokapala yang langsung membuat Warak dan Ludaka saling pandang sebelum kompak menggelengkan kepala.

" Dasar pemalas...!!

Sudah siang begini masih bisa tidur nyenyak? Kurang ajar, aku harus memberinya pelajaran! "

Sambil mengomel tak karuan, Sri Lokapala langsung menendang pintu kamar tidur Pangeran Mapanji Wijaya dengan kuat.

Brruuuuuuaaaaaakkkkk!!!!

Suara keras berbarengan dengan mencelat nya daun pintu yang jatuh di dekat ranjang tidur sontak membuat Pangeran Mapanji Wijaya yang masih terlelap langsung bangun dengan wajah masam.

"Bangsat!! Siapa yang berani mengganggu ketenangan ku?!!! ", teriak Pangeran Mapanji Wijaya sembari melompat turun dari ranjang.

Belum genap 2 langkah dari ranjang tidur, Sri Lokapala muncul dengan wajah gusar sambil berkata,

" Aku..!! Kenapa? Ada masalah?!! "

1
🗣Aku 😆🇲🇨🦅
biasa aja dong kagetnya nanti @🐼𝒫𝒶𝓃𝒹𝒶𝓃𝒲𝒶𝓃𝑔𝒾 🏡s⃝ᴿ lagi bobok keberisikan 😅
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Idrus Salam
Ajian yang dahsyat tentu perlu penyelarasan dengan kesiapan tubuh pengguna dan naluri dalam penggunaannya perlu dilatih.
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!