NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Cara yang Lebih Kotor

Layar ponsel di atas meja kaca itu terus menyala. Deretan notifikasi keluar bergantian, berbaris rapi di layar. Tiara keluar. Michelle keluar. Clara keluar. Ruang obrolan digital bernama Elite Circle yang berisi putri-putri pengusaha top Jakarta itu kini menyisakan keheningan mutlak.

Jari telunjuk Shanaya mengetuk permukaan meja berirama. Ia tidak panik. Bibirnya justru melengkung ke atas, membentuk senyum asimetris yang dingin.

Tiara adalah orang terakhir yang ia duga akan pergi secepat ini. Tiga hari lalu, gadis itu masih memujanya, sibuk meminjam gaun rancangan Shanaya untuk pesta amal. Sekarang, Tiara menjadi orang pertama yang melompat dari kapal yang ia anggap akan karam.

Shanaya membuka aplikasi Instagram. Notifikasi merah menyala di sudut kanan atas. Akun Tiara baru saja memperbarui cerita.

Sebuah foto meja kafe mewah di kawasan Senopati. Dua cangkir teh chamomile dan piring berisi macaron. Di seberang meja, duduk Anastasia. Mata sepupunya itu disorot dari sudut atas, sengaja menonjolkan kantung mata yang sembap. Wajahnya menunduk sedih, terekam sempurna sebagai sosok korban perundungan yang butuh diselamatkan.

Takarir di bawah foto itu terpampang tebal. Support system untuk wanita kuat ini. Kebenaran pasti terungkap. Jangan takut, Ana.

Taktik yang rapi. Anastasia bergerak memotong akar sosial Shanaya. Sepupunya itu tahu publik sedang mengawasi keluarga Kesuma. Dengan menarik simpati anak-anak pengusaha lain, Anastasia sedang membangun narasi bahwa Shanaya adalah tiran di dalam perusahaan yang sengaja menyingkirkan adiknya sendiri demi kekuasaan.

Ponsel Shanaya bergetar panjang. Panggilan masuk. Nama Alvian berkedip di layar.

Ia membiarkan getaran itu berlangsung lima detik sebelum menekan tombol hijau.

"Nay, kamu udah lihat Instagram Tiara?" Suara Alvian terdengar penuh simpati buatan. Pria ini sedang memainkan perannya lagi. "Teman-teman kamu mulai menjauh. Opini publik makin liar sejak rapat direksi kemarin."

"Terus?" Shanaya merespons datar.

"Udah kubilang, kita harus percepat pengumuman resmi pertunangan kita." Alvian menurunkan suaranya, membujuk dengan nada pelindung palsu. "Kamu butuh aku, Nay. Kalau kamu sendirian, akan ada aja yang pakai simpati orang buat hancurin reputasi kamu. Cuma aku yang berani pasang badan di samping kamu sekarang."

Isolasi sosial. Anastasia memotong sayap pertemanan Shanaya, sementara Alvian berdiri di ujung jalan menawarkan sangkar pelindung. Polanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

"Tiara menjauh karena mamanya baru dapat suntikan dana dari perusahaan cangkang kamu kan, Al?" Shanaya menembak langsung ke jantung pertahanan pria itu.

Suara napas Alvian tertahan seketika. Saluran telepon itu mendadak kosong dari suara apa pun.

"Kamu fasilitasi pertemuan Anastasia sama keluarga Tiara kemarin sore. Kalian beli loyalitas mereka." Shanaya bersandar ke kursinya, menatap lurus ke arah dinding.

"Nay, kamu ngomong apa sih? Aku ini calon suami kamu!" Suara Alvian kembali terdengar, kali ini nadanya meninggi menutupi kepanikan yang bocor. "Aku cuma mau lindungin kamu!"

"Simpan aktingmu buat dewan direksi besok." Shanaya memutus sambungan secara sepihak.

Ia melempar ponselnya ke atas meja. Kepalanya tetap sedingin es. Di kehidupan lalu, pengkhianatan dari teman-temannya ini sukses membuat mental Shanaya hancur dan bergantung sepenuhnya pada Alvian. Kini, ia hanya berhadapan dengan sekumpulan parasit yang dengan bodohnya menyingkirkan diri mereka sendiri.

Belum genap satu menit, layar ponselnya menyala lagi.

Bukan Alvian. Rentetan angka di layar membuat napas Shanaya tertahan sepersekian detik.

Steven Aditya.

Shanaya menggeser tombol hijau. "Halo."

"Lingkaran sosialmu runtuh dalam hitungan jam." Suara bariton Steven langsung menghantam telinganya tanpa basa-basi. "Saham Kesuma Group turun dua poin siang ini karena rumor kamu menekan adik sepupumu makin meluas. Kamu kehilangan pijakan."

"Kamu mantau akun gosip sekarang, Steven?" Shanaya membalas tenang. "Redaktur Kanal Satu pasti menangis kalau tahu bos mereka sibuk ngurusin update Instagram anak-anak Senopati."

Terdengar dengusan pelan dari seberang telepon. Tawa kering bernada angkuh. "Saya memantau investasi saya. Rating program kita bulan depan butuh drama, tapi saya tidak butuh partner yang jatuh sebelum naik panggung."

"Aku belum jatuh."

"Mantan sahabatmu baru saja mendeklarasikan perang terbuka di media sosial." Nada suara Steven merendah. Udaranya terasa mengintimidasi meski mereka terpisah jarak puluhan kilometer. "Opini publik itu beringas, Shanaya. Kalau kamu tidak punya dukungan sosialita, kamu akan dicap antagonis. Butuh bantuan tim humas saya untuk membersihkan namamu?"

Shanaya terdiam dua detik. Pria ini baru saja menawarkan tali penyelamat, tapi Shanaya tahu pria itu tidak sedang menawarkan bantuan secara cuma-cuma. Steven Aditya tidak suka kehilangan kendali atas sesuatu yang sudah ia anggap masuk dalam perhitungannya.

"Nggak perlu." Shanaya menolak tegas. "Tim humas kamu terlalu rapi. Aku butuh cara yang lebih kotor."

"Jangan bertindak bodoh."

"Lebih gampang mengawasi orang-orang yang berkumpul di sarang yang sama, Steven." Shanaya berdiri dari kursinya. Ia menatap deretan gedung pencakar langit dari kaca jendela ruang kerjanya. "Biar mereka kumpul dulu. Simpan saja tenagamu buat tayangin headline yang bakal aku kirim lusa."

Steven mendesah pelan. "Jangan sampai kamu datang ke kantor saya dengan kepala menunduk meminta tolong."

"Itu nggak akan pernah terjadi."

Shanaya menjauhkan ponsel dari telinganya dan memutus panggilan. Ia menarik napas panjang. Bermain kata dengan Steven selalu menguras energi. Pria itu benar soal satu hal, opini publik tidak bisa dilawan dengan sekadar diam. Ia harus melawan racun dengan racun yang lebih mematikan.

Teman-teman sosialita itu tidak berguna. Mereka hanya loyal pada uang, kemewahan, dan keuntungan sesaat. Shanaya membutuhkan pasukan yang loyal pada hidup dan mati. Ia membutuhkan bayangan.

Di kehidupan lalunya, Shanaya mengenal seorang peretas muda yang hidupnya dihancurkan oleh utang dan tagihan rumah sakit. Waktu itu, ia menemukannya terlalu lambat.

Kali ini, Shanaya menemukannya lebih dulu. Sebulan yang lalu, jauh sebelum Alvian atau Anastasia menyadari eksistensi pemuda itu, Shanaya sudah turun tangan. Loyalitas paling mahal bukan dibeli dengan uang. Tapi dengan menyelamatkan seseorang di saat seluruh dunia membiarkannya mati.

Shanaya melangkah menuju meja kerjanya. Ia menarik laci paling bawah. Sebuah ponsel hitam cadangan tergeletak di sana.

Ia menekan tombol daya. Layar menyala redup, menampilkan satu-satunya nama kontak yang tersimpan di dalam memori perangkat tersebut.

Leo.

Anastasia ingin bermain opini publik? Anastasia ingin panggung drama sebagai korban yang tertindas? Biar Shanaya berikan panggung itu. Ia akan mengangkat sepupunya tinggi, hanya untuk kemudian menjatuhkannya ke dasar jurang terdalam.

Jari-jarinya menari cepat di atas layar sentuh. Ia menyiapkan dua instruksi utama. Melacak semua rekam jejak percakapan antara keluarga Tiara dan perusahaan cangkang milik Alvian. Lalu, menyusup ke draf jadwal peluncuran koleksi musim gugur Kesuma Mode yang dikira Anastasia aman di bawah pengawasannya.

Shanaya mengetik pesan: "Aku butuh kamu aktif lagi. Mulai besok."

Satu centang biru. Lalu dua.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!