NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Hidangan Baru

"Ibu-ibu, kita mulai praktek masaknya ya. Pastikan semua bahan yang diperlukan sudah tersedia.” 

Raka memberi aba-aba di depan peserta ibu-ibu muda yang akan belajar masak di bawah bimbingannya. Ayu berdiri di antara para peserta. 

“Siap!” jawab semua peserta ibu-ibu serentak.

Ayu memilih hari kelas khusus memasak steak, berkat jadwal yang diberikan Raka sebelum Ayu pergi beranjak dari supermarket beberapa hari lalu.

Dengan gerakan sedikit gugup, Ayu meletakkan semua bahan yang diperlukan di atas meja masak. 

Raka memberi instruksi ke semua peserta untuk menaburi garam dan merica secara merata ke daging steak sebelum nantinya digoreng. 

Kemudian Raka menyuruh tiap peserta memijat permukaan daging steak.

Ayu melakukan persis yang dikatakan Raka, hanya saja, gerakan tangan Ayu sedikit kasar dan terburu-buru memijat steaknya. 

Raka melihat cara memijat Ayu kemudian sigap mendekat.

Bukan mendekat biasa, melainkan pemuda yang usianya sedikit lebih tua dari Ayu itu tak sungkan berdiri tepat di belakang Ayu. Menempel di belakang, lalu mengulurkan kedua tangannya.

Perlahan-lahan, Raka memandu dua tangan Ayu agar memijat pelan seperti yang ia inginkan.

“Pijatnya jangan terlalu ditekan. Lakukan dengan lembut biar rasanya juga ikut lembut di lidah.”

“Ba-baik.” 

Wajah Ayu jadi gugup. Apalagi mentornya ini memandu dengan posisi yang tidak biasa. Terlalu dekat.

Bahkan Ayu bisa merasakan desiran napas hangat Raka menggelitik daun telinganya.

“Pijat seperti ini ..  lalu begini,” pandu Raka yang semakin merapatkan diri. Darah Ayu semakin mendesir.

Ibu-ibu yang lain jadi terpancing untuk melihat. Pasalnya Raka adalah mentor brondong yang tampan. Mereka jadi mau dipandu dengan cara seperti itu juga.

Tak butuh waktu lama, Ayu menguasai saran Raka. Pemuda itu akhirnya lepas menjauh.

Kini tiba waktunya untuk menggoreng steak di panci anti lengket dengan minyak alpukat. Serta akan diberi taburan rempah-rempah.

Ayu tidak menyangka, menggoreng steak tidak sesusah menggoreng ikan gurame. Hanya saja panas api, takaran rempah-rempah, dan kematangan daging sangat perlu diperhatikan.

“Ingat! Steak yang berhasil adalah steak yang saat disantap, serat dagingnya terasa meleleh dan juicy.”

“Siap Pak mentor!” Ucap semua peserta serempak.

Semua peserta akhirnya berhasil selesai menghidangkan masakannya. Raka datang, mencicipi satu persatu.

Di saat tiba giliran mencicipi steak buatan Ayu, rahang Raka mengunyah pelan, seolah sedang menikmati setiap sari daging dengan penuh penghayatan.

“Rasanya udah mirip seperti buatan di restoran,” pujinya sembari terus mengunyah.

“Benarkah?”

Raka mengangguk mantap.

Ayu tidak bisa menahan senyum senangnya. Dadanya berdegup kencang. Tidak sabar untuk menyaksikan suaminya akan terlihat sama senangnya seperti wajah Raka, saat mencicipi hasil steaknya malam ini.

Selesai belajar masak, Ayu bersama beberapa peserta lainnya berjalan ke luar ruangan. Kini dia yang tampak lebih percaya diri menunggu di area pelataran, bersamaan dengan itu, Raka di belakang berjalan mendekat.

“Terimakasih Mas Raka, buat ilmu memasaknya,” ujar Ayu dengan mata berbinar.

“Sama-sama. Dengan begini aku sudah merasa gak punya hutang lagi,” seloroh Raka, tertawa renyah.

“Kapan-kapan, aku mungkin pengen belajar lagi, pengen masak menu yang lain.”

“Boleh banget. Kamu bisa datang kapan saja. Oh iya …”

Raka menurunkan tas gendongannya, mengeluarkan buku berukuran cukup lebar berwarna cerah.

“Sekalian. Aku punya buku resep. Nih! Ini berguna banget kalau pengen belajar sendiri di rumah.”

Ayu senang hati menerima buku itu. Di sisi lain sedikit ragu. “Wah, ini sih ngebantu banget. Tapi apa ini gak terlalu berlebihan?”

“Gak berlebihan. Semua yang ikut kelasku dapat buku kaya gitu, ko,” ungkap Raka lalu mengedipkan mata.

Padahal kelas masaknya tak pernah ada hadiah buku resep gratis.

“Kalau gitu aku permisi dulu.”

Ayu membalikkan badan lalu melangkah pergi. Sementara Raka di belakang terus memperhatikan Ayu tak berkedip.

“Dia mempesona sesuai namanya,” gumamnya.

...****...

Pukul 06.30 malam, Ayu di area dapur tergesa-gesa seperti dikejar setan.

Bagaimana tidak. Dia baru mendapat kabar kalau Arvin sedang dalam perjalanan pulang, sedangkan steak untuk makan malam belum siap.

Harusnya sang suami tiba di rumah pukul delapan atau sembilan malam. Setidaknya itu adalah jam rutinitasnya pulang kerja setiap hari. Tapi entah ada apa, Arvin pulang lebih cepat.

“Ingat. Harus memijat daging dengan lembut dan kasih sayang,” gumam Ayu sambil memijat-mijat daging steak dan mengatur nafasnya agar tak panik.

Selesai itu, panci anti lengket dibanting tepat ke atas kompor. Tak peduli dengan suara bantingannya yang jadi nyaring.

Minyak alpukat dituang sepanik mungkin. Sembari menunggu panas, Ayu buru-buru mengikat rambutnya dengan jepit rambut.

Steak pun digoreng. Ditambah dan ditaburi rempah-rempah.

“Harus memperhatikan kadar kematangan. Pak Arvin suka yang setengah matang.”

“Ah … panas-panas!”

Punggung tangan Ayu terkena cipratan minyak panas. Hampir saja gagang panci reflek ia lempar kalau saja tekadnya tidak sebesar cintanya kepada Arvin.

Arvin baru keluar dari pintu lift. Pria itu kemudian lekas menuju pintu rumah penthousenya. Mendorong pintu rumah dan langsung disambut kehadiran Ayu yang bernapas lega, berhasil menyelesaikan masakannya tepat waktu.

“Mukamu kenapa?” tanya Arvin datar kepada Ayu yang tak menyadari pipinya sendiri cemong, karena noda hitam dari panci.

“Ini …” Ayu cepat-cepat mengusap noda itu di pipinya, namun semakin dihapus semakin menyebar hitamnya.

Tak kunjung mendapat jawaban, Arvin membuang muka malas, beralih berjalan menuju area kamarnya sembari melonggarkan dasi.

Ayu buru-buru mengejar.

“Pak, saya masak sesuatu!”

Arvin tak peduli, terus melangkah. “Kamu mau cari masalah lagi?”

“Kali ini beda pak. Kali ini benar-benar enak. Tidak akan mengecewakan.”

“Ayu! kalau kau terus seperti ini, saya tidak akan segan-segan main kasar lagi!”

“Saya masak steak kesukaan bapak!”

Kaki Arvin sontak mengerem, membuat Ayu yang di belakang menabrak punggung lebar Arvin.

“Ma–maaf, Pak!” Ayu menunduk takut.

Arvin putar badan.

“Steak?”

“I-iya.”

Penciuman Arvin baru menyadari ada aroma-aroma lezat makanan kesukaannya dari arah meja makan. Saat menengok ke sana memang ada piring lengkap dengan alat makannya sudah bertengger di sana.

“Darimana kamu tahu aku suka steak?”

Ayu melipat mulut dalam-dalam. Tak mau bilang kalau pernah bertanya ke sepupu Arvin.

Arvin yang memang belum makan malam, serta penasaran ko bisa istri kampungannya ini tiba-tiba bisa masak steak, tak mau menunggu jawaban Ayu dan memilih berjalan menuju meja makan di sana.

Selesai menurunkan jas dan menggulung ujung kemejanya, Arvin menarik kursi lalu duduk. Ayu di seberang ikut duduk dengan detak jantung kembali tak beraturan.

Raut wajah Ervin terlihat masam sambil terus memandang bentuk steak buatan Ayu yang jauh dari estetik.

Ayu sadar akan ekspresi tak enak Arvin itu, membuatnya jadi tak berhenti menggigit bibir bawahnya yang terasa kelu.

Tenang Yu, jangan tegang. Tampilan boleh jelek. Yang penting kan rasanya.

Sebelum mengangkat alat makan, Arvin menghujani Ayu dengan tatapan mengancam. “Kalau ini tidak enak, kau tidur di luar!”

Ayu melotot tegang.

Arvin mulai memotong pinggiran steak secara hati-hati. Kemudian menyantapnya dengan kunyahan pelan. Sementara Ayu mengatup mata serapat mungkin.

Kunyahan demi kunyahan, Arvin rasakan.

Tanpa jeda lama, otot wajahnya menegang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!