Calypsa, seorang freelance video editor biasa di siang hari dan editor video deep web khusus geng mafia untuk menghikangkan bukti di malam hari. Ia ketahuan oleh clientnya, Cyrus ketua geng terbesar di Aethelgard. Namun, Cyrus bukan melenyapkannya, terapi merekrutnua untuk sebuah misi. Misi untuk membalas dendam kematian kakak laki-lakinya sekaligus misi cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Silent Queen (18+)
Enam minggu setelah malam di tepi kanal, Aethelgard berubah dengan cara yang tidak terlihat di permukaannya tapi sangat terasa di bawahnya.
Direktur biro keamanan kota mengundurkan diri. Beberapa posisi di bawahnya berubah dalam waktu berdekatan. Jaringan komunikasi bawah tanah antara pemerintah kota dan geng-geng lokal mengalami kalibrasi ulang yang tidak diumumkan tapi dirasakan oleh semua pihak yang berkepentingan.
Calypsa yang membantu membersihkan semuanya.
Dari balik tiga monitor di markas Wraithgate yang sekarang resmi menjadi ruang kerjanya, ia bekerja dengan cara yang sama seperti selalu ia bekerja. Teliti, sabar, dan sangat tidak ingin terlihat.
Silent Queen tetap menjadi Silent Queen.
Bedanya, sekarang ia tahu persis di mana kerajaannya.
Pada suatu malam yang tidak berbeda dari malam-malam lain kecuali karena hujannya lebih deras dan ruang kendali sudah kosong karena shift malam baru saja berganti, Calypsa sedang menyelesaikan lapisan terakhir dari sebuah analisis ketika pintu ruang kendali terbuka.
Cyrus masuk dengan membawa dua cangkir kopi, dan tanpa berkata apapun meletakkan satu di tepi meja Calypsa. Calypsa mengambilnya tanpa mengalihkan mata dari layar.
Cyrus tidak langsung pergi ke ruangannya seperti biasanya. Ia menarik kursi tambahan dan duduk di sebelah Calypsa, memandangi tampilan di layar.
"Jaringan yang ini sudah hampir selesai." ujar Calypsa. "Tiga atau empat hari lagi."
"Bagus." ujar Cyrus.
Mereka duduk berdampingan dalam keheningan kerja yang sudah sangat familiar. Di bawah meja, tanpa berkata apapun, jari-jari Cyrus menemukan jari-jari Calypsa dan menggenggamnya pelan. Calypsa tidak berhenti mengetik dengan tangan yang lain.
"Tadi ada seseorang menghubungi." ujar Cyrus setelah beberapa saat. "Perwakilan dari kota pelabuhan di selatan. Mereka punya masalah yang mirip dengan apa yang pernah kita hadapi di sini. Mereka butuh bantuan."
Calypsa meletakkan jari-jarinya sebentar. "Kamu mau menerimanya."
"Tergantung." jawab Cyrus. "Itu keputusan yang perlu dibuat bersama sekarang."
Calypsa menoleh ke arah Cyrus. Pria itu menatapnya dengan cara yang sangat langsung.
"Kamu bilang bersama." ujar Calypsa.
"Aku bilang bersama." konfirmasi Cyrus.
"Beri saya tiga hari untuk menyelesaikan ini dulu. Setelah itu kita bicarakan."
Cyrus mengangguk. Tangannya yang menggenggam jari-jari Calypsa bergerak sedikit, ibu jarinya menelusuri ruas jari Calypsa satu per satu dengan cara yang sangat pelan, tidak terburu-buru ke mana-mana. Calypsa menatap layar di depannya dan membiarkan sensasi itu ada tanpa menganalisisnya.
"Kamu mau pulang malam ini." ujar Cyrus, bukan pertanyaan.
"Belum tentu." jawab Calypsa, dan ia merasakan genggaman di tangannya sedikit lebih erat.
Mereka menyelesaikan pekerjaan bersama sampai lewat tengah malam. Percakapan bergerak antara hal-hal teknis dan hal-hal yang sama sekali tidak teknis dengan batas yang sudah lama tidak mereka jaga ketat.
Ketika Calypsa akhirnya menutup semua program dan mematikan layar, ruangan itu gelap kecuali cahaya kecil dari lampu server di sisi dinding.
Cyrus berdiri. Calypsa berdiri.
"Ruangan belakang." ujar Cyrus pelan, dan Calypsa mengangguk.
Ruangan kecil di belakang koridor itu sudah menjadi tempat yang sangat familiar bagi Calypsa dalam enam minggu terakhir, tapi malam ini ia memasukinya dengan cara yang berbeda dari malam-malam sebelumnya, lebih tenang, seperti seseorang yang pulang ke tempat yang sudah sangat ia kenal.
Cyrus menyalakan lampu kecil di sudut, yang cahayanya kekuningan dan redup, cukup untuk melihat tapi tidak cukup keras untuk mengusir keintiman yang dibawa oleh malam. Di luar, hujan mengetuk atap gudang tua itu dengan ritme yang sudah tidak asing.
Tidak ada yang terburu-buru.
Itu yang paling Calypsa sadari tentang malam ini dibanding malam-malam sebelumnya. Tidak ada ketegangan yang menumpuk selama berminggu-minggu yang akhirnya menemukan lepasannya, tidak ada adrenalin sisa dari pertempuran yang baru selesai. Hanya dua orang yang sudah sangat mengenal satu sama lain, dalam cahaya yang redup, di dalam kota yang hujannya tidak pernah benar-benar berhenti.
Cyrus duduk di tepi ranjang dan menarik tangan Calypsa, memintanya duduk di sebelahnya tanpa kata-kata. Calypsa duduk. Cyrus membuka kacamatanya dengan hati-hati dan meletakkannya di meja kecil di samping ranjang, lalu menyelipkan rambut yang jatuh di wajah Calypsa ke belakang telinganya dengan gerakan yang sangat biasa, sebiasa seseorang yang sudah melakukan itu ratusan kali.
Padahal baru beberapa minggu.
"Kamu capek." ujar Cyrus, mengamati wajahnya.
"Kamu juga." jawab Calypsa.
Ia meletakkan tangannya di pipinya, dan Calypsa menutup matanya sebentar, condong sedikit ke tekanan hangat itu. Telapak tangan Cyrus terasa seperti sesuatu yang stabil di tengah semua yang sudah bergerak begitu cepat dalam hidupnya selama dua bulan terakhir.
Ketika Cyrus menciumnya malam itu, tidak ada ledakan, tidak ada urgensi yang menyala-nyala. Ciumannya panjang dan pelan dan terasa seperti sebuah percakapan yang tidak memerlukan kata-kata, semacam cara dua orang saling berkata aku tahu kamu ada di sini dan itu cukup dan lebih dari cukup.
Calypsa melingkarkan tangannya di lehernya dan membalasnya dengan cara yang sama, tidak menarik, tidak mendorong, hanya ada.
Mereka berbaring bersama dengan cara yang tidak terburu-buru menuju apapun, Cyrus menelusuri punggung Calypsa dari balik bajunya, bahu ke pinggang, pinggang ke dada, dengan gerakan yang sangat sabar seperti seseorang yang tidak punya tujuan selain gerakan itu sendiri, dan Calypsa memejamkan mata sambil mendengarkan suara hujan dan merasakan kenikmatan di seluruh sisi tubuhnya yang sudah sangat terbiasa.
Ketika mereka akhirnya saling menyatu sepenuhnya, semuanya berlangsung dengan sangat pelan dan sangat sunyi, seperti air yang mengalir masuk ke celah yang sudah lama kering tanpa suara, tanpa drama, hanya hangat dan penuh. Calypsa menyembunyikan wajahnya di leher Cyrus dan merasakan detak jantungnya yang stabil di bawah telinganya, dan Cyrus menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Calypsa dan tidak melepaskannya.
Mereka terus bergerak dalam gelap menikmati kehangatan tubuh satu sama lain.
Di luar, hujan Aethelgard jatuh tanpa berhenti di atas atap-atap tua dan kanal-kanal yang penuh dan jalan-jalan yang sudah terbiasa basah. Di dalam ruangan kecil yang cahayanya kekuningan dan redup, napas mereka pelan-pelan menyatu ke ritme yang sama, setelah bersama mencapai pelepasan.
Calypsa berbaring dengan kepalanya di dada Cyrus setelahnya, mendengarkan detak jantung di bawah telinganya yang tidak pernah setenang ekspresi wajah pria ini, tapi malam ini terasa lebih tenang dari biasanya. Tangannya bergerak naik turun di punggungnya dengan sangat pelan, tanpa tujuan, hanya bergerak.
"Kamu berpikir tentang sesuatu." ujar Cyrus di kegelapan.
"Selalu." jawab Calypsa.
"Tentang?"
Calypsa menatap langit-langit di atas mereka, dinding bata tua yang sudah menyaksikan terlalu banyak hal untuk dihitung.
"Tentang betapa berbedanya ini dari yang saya bayangkan hidup saya akan terlihat dua tahun lalu." ujarnya pelan. "Waktu itu saya pikir saya akan menghabiskan sisa hidup saya di depan tiga monitor dalam kamar sempit, mencari sesuatu yang mungkin tidak akan pernah saya temukan."
Cyrus tidak berkata apapun, tapi tangannya bergerak dari punggung Calypsa ke rambutnya, menyelipkan jari-jarinya dengan sangat pelan.
"Dan sekarang." ujarnya akhirnya.
Calypsa memikirkannya dengan serius sebelum menjawab. "Sekarang saya masih di depan monitor." ujarnya.
"Tapi ada yang berbeda."
"Apa."
"Ada seseorang yang menyiapkan kopi di tepi meja saya." ujar Calypsa. "Dan saya tidak harus berpura-pura bahwa itu tidak berarti apapun."
Dada Cyrus bergerak sedikit di bawah kepalanya, gerakan kecil yang Calypsa sudah cukup kenal sebagai versi terkontrol dari tertawa.
"Menikahlah denganku." ujar Cyrus.
"Lamaran yang sangat romantis yang bisa kubayangkan dari seorang Cyrus." jawab Calypsa, dan kali ini ia bisa merasakan senyum di sudut mulutnya sendiri.
Cyrus menekan bibirnya ke atas kepalanya, pelan dan lama, bukan ciuman yang menginginkan apapun selain menjadi apa adanya.
Di luar, Aethelgard masih hujan.
Di dalam, Calypsa menutup matanya dan membiarkan ritme napas di bawah kepalanya yang teratur dan dalam menariknya perlahan ke tempat yang tenang, ke tempat di mana tidak ada jaringan yang perlu dilacak dan tidak ada jejak yang perlu dihapus dan tidak ada yang perlu ia buktikan kepada siapapun.
Hanya malam ini. Hanya ini.
Silent Queen, yang selama dua tahun tidak pernah benar-benar berhenti bergerak, akhirnya diam.
Dan di dalam diam itu, untuk pertama kali dalam sangat lama, tidak ada yang terasa kurang.
TAMAT