Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.
Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.
Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.
Akankah penyamaran Willy berhasil?
Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Kamar kos Willy terletak di belakang kampus UI. Biasanya dipenuhi ricuh anak-anak dapur atau sesekali terdengar drama seorang penghuni yang nekad membawa masuk pacarnya sendiri. Seketika suasana berubah. Malam itu ia sulap menjadi studio make-over dadakan.
Lampu meja dibiarkan menyala terang, cermin kecil dari kamar mandi dipasang di meja belajar menggunakan lakban, dan di depannya ada tumpukan baju cewek pinjaman dari sepupunya, Rina Tjokro.
Rina, cewek 24 tahun yang kerja di stasiun TV keluarga mereka, tapi hobinya menonton drama Korea di chanel saingan TV tetangga. Ia sedang duduk selonjoran di kasur sambil memegang HP, bersiap merekam video. Mukanya memerah menahan tawa sejak tadi.
“Wil, lo serius mau nyamar jadi cewek? Kos Bunga Bangsa itu cewek only, Bro. Satpamnya aja bisa ngecek KTP sambil merem pake mata batin.”
Willy sedang berdiri di depan cermin. Ia memakai rok span hitam dan blouse putih longgar yang Rina bilang “aman untuk pemula”. Rambutnya yang biasanya pendek rapi sekarang ditambahkan wig sepanjang sebahu warna cokelat muda yang Rina telah beli di toko oren seharga Rp150 ribu.
“Serius. Gue udah riset. Gue baca artikel tentang voice training, gesture cewek, dan cara jalan. Gue udah latihan seminggu full ini,” jawabnya meyakinkan yang malah membuat Rina ngakak sampai hampir terjatuh dari ranjang.
“Latihan apa? Lo rekam suara sendiri terus diputer ulang gitu? Gue denger lo bilang ‘hai aku Willa’ kayak lagi ngomong ke mic rusak. Nggak ada aura-aura ceweknya!” balas Rina terpingkal.
“Itu masih tahap awal. Suara gue emang agak rendah, tapi gue bisa naikin pitch-nya. Gini nih ….” Dia tarik napas dan mencoba bicara lebih tinggi.
“Hai, aku Willa Tjokro. Mahasiswi baru FEB.”
Suara output-nya malah seperti erangan kucing kawin. Rina langsung guling-guling di kasur, tangannya membekap mulut sendiri, menahan agar tidak berteriak.
“Ya ampun, Wil! Itu bukan cewek, itu kayak Si Tikus Minnie keselek durian Tok Dalang!” Gelak tawa Rina memenuhi ruangan, tapi Willy malah memicing, tidak masuk jokes itu di otak mininya.
“Hah? Siti Kusmini siapa?”
“Si Tikus Minnie, bodoh. Dipisah bacanya, hadeh!” Rina semakin tak kuasa, perutnya semakin kram karena candaan itu.
“Oke, serius. Gini, Rin, gue ‘kan baru latihan. Gue udah nonton tutorial YouTube ‘male to female voice training’. Gue praktek tiap pagi pas mandi. Udah paling mujarab itu.”
“Oke, Wil. Nama samaran lo Willa Tjokro? Bagus, mirip Willy versi soft. Tapi hati-hati kalau si Willa sepupu kita sampai tau lo pake nama dia buat deketin cewe, bisa sakaratul maut mendadak lo dipanggil tuhan!” Rina bergidik sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya yang tertunda, “sekarang gesture. Cewek biasanya jalan langkahnya kecil, tangan juga nggak terlalu lebar gerakannya. Coba deh lo jalan dulu.”
Willy coba jalan mondar-mandir di kamar sempit itu. Langkahnya kaku, bahunya naik-turun seperti anggota TNI persiapan perang.
“Yaelah. Lo mirip robot AI gagal yang lagi belajar tari jaipong. Lebih rileks! Pinggulnya digoyang dikit, tangan harus ngayun natural.”
Willy mencoba lagi. Kali ini pinggulnya digoyang berlebihan sampai hampir menabrak ujung meja.
“Woi! Jangan sampe jatuh! Lo lagi nyamar jadi cewek, bukan cosplay robot rusak!” teriak Rina menahan tubuh Willy.
Mereka berdua akhirnya duduk di lantai, ngakak bersahutan. Willy melepas wig-nya, rambut aslinya acak-acakan.
“Rin, gue beneran nggak gila, ‘kan? Gue cuma pengen deket sama Summer tanpa bikin dia takut. Gue pengen buktiin kalau ada cowok yang bisa jadi temen tanpa ancaman. Nah, pertanyaannya, kalau nyamar gini apa nggak kelewatan?”
“Gila sih. Bodoh banget malah. Seumur gue hidup, selama 24 tahun, nggak pernah terbesit sedikit pun di pikiran gue ada niat jadi lawan jenis. Tapi gue ngerti niat lo. Lo cuma pengen dia ngerasa aman. Itu bagi gue manis banget, Wil. Jarang cowok mikir gitu.”
“Jadi lo mau bantu?”
“Bantu sih boleh aja, tapi syaratnya kalau ketahuan, lo tanggung jawab sendiri. Gue nggak mau dicoret dari KK gara-gara bantu sepupu jadi banci crossdresser.”
Mereka lanjut make-over. Rina mengajari cara memakai lipstik nude agar tidak terlihat menor, kemudian cara duduk rapat, dan senyum tipis tanpa keliatan gigi terlalu lebar. Willy praktek berkali-kali. Kadang berhasil, keseringan gagal seperti biduan gadungan.
Puncaknya adalah ketika Willy kembali berteriak dengan suara tingginya.
“Hai, aku Willa. Baru pindah ke kost ini. Boleh kenalan?”
“Ini! Ini lumayan! Suaranya masih kayak robot, tapi kalau dipelanin dikit bisa lolos. Rambut wig-nya pas, bajunya oke. Kacamata juga pake yang frameless biar mirip Summer, biar kayak cewek tampang innocent.”
Willy berkaca lagi. Vibes wajahnya masih Willy, tapi dengan wig, sedikit bedak, dan baju cewek. Memang terlihat beda. Tidak secantik Anya Geraldine, tetapi sudah cukup mengelabui mata orang-orang yang enggan memperhatikan lebih jauh.
“Gue daftar besok pagi. Gue udah hubungin ibu kostnya lewat temen cewek di kelas. Katanya ada kamar kosong di lantai 2. Asal bayar sewa dulu.”
“Perfect! Lo bodoh, tapi jenius. Lo bakal jadi temen se-kost Summer. Lo bisa ngobrol santai dan belajar tanpa nakut-nakutin dia. Tapi, Will, lo harus janji. Jangan maksa dia buat suka sama lo. Inget tujuan awal lo apa, buat bantu dia,” tegas Rina.
“Ya, gue cuma pengen dia bisa senyum lepas kalau ada orang deket, meski orang itu gue yang nyamar.”
“Lo emang aneh, sih, tapi lo tulus dan gue bangga.”
Malam itu, Willy tidur dengan wig masih menempel di kepala. Bukan karena nyaman, tapi ia sendiri lupa melepasnya. Ia bermimpi dirinya sendiri sedang menikmati kopi berduaan bersama Summer. Mereka mengobrol tentang mata kuliah Statistika. Bedanya kali ini Summer tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Dan besok paginya, Willa Tjokro resmi daftar menjadi penghuni baru Kos Bunga Bangsa.
Satpam depan hanya melihat sekilas KTP palsu hasil memalak milik sepupu jauh. Sisanya pria gendut itu mengangguk dan langsung membuka pagar.
Willa alias Willy sekarang menarik napas dalam-dalam, langkahnya ragu masuk ke halaman kos yang penuh tanaman dan suara cewek-cewek tertawa di teras.
Di lantai 2, kamar 204, Summer sedang duduk di balkon kecil. Rambutnya terkena angin pagi, kacamata frameless-nya dibersihkan dengan ujung baju. Ia tak pernah tahu akan ada teman satu kost yang datang di hidupnya dan mengubah segala-galanya menjadi lebih kacau.
“Okay, here we go again!”