Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
POV Reyhan
Langkah kakiku terasa limbung saat menyusuri lobi marmer apartemen yang luar biasa megah itu. Ransel kulit kanvas yang tersampir di pundakku terasa berkali-kali lipat lebih berat, seolah-olah seluruh tumpukan buku sastra di dalamnya menjelma menjadi batu. Aku tidak menoleh lagi ke belakang. Aku tahu, pria bernama Charles Utama itu memiliki segalanya untuk membuatku lenyap dari pandangan duniaku hanya dengan satu jentikan jari. Namun, bukan intimidasi kekuasaannya yang membuat dadaku terasa dihantam godam, melainkan tatapan mata Andini.
Gadis kecilku gadis yang dulu hanya tahu cara mengepang rambutnya dengan pita kain murah kini menatapku dari balik punggung seorang konglomerat dengan pandangan yang asing. Pandangan yang penuh pembelaan untuk pria lain.
Aku melangkah keluar menembus pintu kaca berputar, membiarkan hawa panas Jakarta menerpa wajahku. Aku berjalan tanpa arah di trotoar, membiarkan memori dalam kepalaku berputar mundur, kembali ke masa empat tahun lalu, di sebuah kota kecil tempat segalanya bermula.
Namaku Reyhan Dewangga. Bagiku, hidup ini adalah tentang barisan kata, rima, dan bagaimana cara mengabadikan rasa melalui goresan pena. Sejak duduk di bangku SMA, aku mengarsiteki duniaku di dalam ruang perpustakaan daerah yang sepi dan berdebu. Di sanalah aku merasa paling hidup, di antara aroma kertas usang dan keheningan yang menenangkan. Sampai pada suatu sore yang diguyur hujan lebat, pintu perpustakaan berderit terbuka, menampilkan seorang anak perempuan berseragam SMP yang basah kuyup.
Dia adalah Andini. Rambutnya yang legam agak lepek terkena air, dan tangannya mendekap erat sebuah buku tulis bersampul cokelat yang sudah agak robek di bagian sudutnya. Dia tidak membawa payung, wajahnya pias karena kedinginan, namun matanya—sepasang manik cokelat yang jernih—langsung berbinar saat melihat jajaran rak buku di hadapannya.
"Kak, boleh saya menumpang membaca di sini sampai hujannya Reda?" tanyanya saat itu, suaranya cicit dan teramat santun.
Aku yang saat itu menjabat sebagai ketua komunitas mading dan relawan perpustakaan hanya mengangguk pelan. Sejak sore itu, perpustakaan daerah bukan lagi menjadi milikku sendiri. Andini menjadi pengunjung paling setia. Setiap hari setelah jam sekolah usai, dia akan berjalan kaki menuju perpustakaan, duduk di meja sudut bawah jendela, lalu tenggelam dalam buku-buku sastra klasik yang bahkan jarang disentuh oleh anak-anak sebayanya.
Lama-kelamaan, sekat di antara kami mencair. Aku mulai memperhatikannya. Andini adalah definisi dari kesederhanaan yang murni. Dia tidak pernah membicarakan tentang gawai terbaru, pakaian modis, atau tempat nongkrong yang sedang tren. Ceritanya selalu berkisar tentang Bapak Sudarman, ayahnya yang seorang buruh tani yang luar biasa bijaksana, dan Ibu Narsiah yang selalu membuatkan jamu kunyit asam hangat setiap kali dia kelelahan.
Suatu hari, aku mendapati dia sedang menangis diam-diam di balik rak buku fiksi. Di tangannya, buku tulis bersampul cokelat itu terbuka.
"Ada apa, Andini?" tanyaku, duduk di lantai di sebelahnya.
Dia menyeka air matanya dengan canggung. "Tidak apa-apa, Kak Reyhan. Aku hanya... aku baru saja menulis puisi tentang Ibu. Atap rumah kami bocor semalam, dan Ibu harus terjaga sampai subuh untuk memindahkan tempat tidurku agar aku tidak kehujanan. Aku merasa bersalah karena belum bisa membelikan atap yang baru untuk Bapak dan Ibu."
Saat itulah, jantungku berdesir untuk pertama kalinya. Ada rasa hangat sekaligus dorongan kuat di dalam dadaku untuk melindunginya. Anak perempuan ini memiliki hati yang terbuat dari emas. Di tengah kemiskinan dan keterbatasan keluarganya, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara membahagiakan orang tuanya melalui untaian kata.
Aku mengambil buku tulisnya, membaca baris demi baris puisi yang ia tulis. Bahasanya sederhana, namun metafora yang ia gunakan begitu tajam dan menyentuh.
"Kau punya bakat yang luar biasa, Din," ucapku tulus hari itu, menatap matanya yang masih basah. "Jangan pernah berhenti menulis. Suatu hari nanti, kita akan kuliah di jurusan sastra yang sama. Kita akan menerbitkan buku bersama, dan kau akan membelikan rumah dengan atap paling kokoh untuk orang tuamu dari hasil tulisanmu."
Andini tersenyum. Senyuman yang sangat indah, yang membuat pohon mahoni di luar jendela perpustakaan seolah-olah ikut berbunga. Sejak hari itu, kami menjadi tidak terpisahkan. Di bawah bayangan pohon mahoni di pinggir lapangan sekolah, kami menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdiskusi tentang Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, hingga Sapardi Djoko Damono.
Aku mengajarinya cara menyusun rima yang estetis, dan dia mengajariku cara melihat dunia dengan ketulusan. Di mataku, Andini adalah cinta pertamaku yang paling suci. Sebuah rasa yang tumbuh tanpa perlu diutarakan dengan kalimat *'aku mencintaimu'*, karena setiap bait puisi yang kami tukar di dalam buku sampul cokelat itu sudah lebih dari cukup untuk mewakili perasaan kami. Aku sengaja menahan diri untuk tidak menembaknya, karena aku ingin menunggunya tumbuh dewasa. Aku ingin menjaganya sampai dia siap melangkah bersamaku ke jenjang perguruan tinggi.
Namun, takdir adalah seorang penulis naskah yang kejam.
Dua tahun lalu, aku mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan kuliah sastra di sebuah universitas negeri di luar kota. Itu adalah kesempatan emas yang tidak bisa kulewatkan demi masa depanku, dan juga demi masa depan yang kuimpikan bersamanya. Hari keberangkatanku adalah hari terakhir aku melihat Andini yang dulu.
Di stasiun kereta yang bising, dia menggenggam erat sebuah pena bulu pemberianku. "Kak Reyhan, berjuanglah di sana. Aku akan menyusulmu dua tahun lagi. Aku akan tetap menjadi Andini yang menjaga janji kita di bawah pohon mahoni."
Aku pergi dengan keyakinan penuh. Namun, jarak dan kesibukan kuliah perlahan-lahan mengikis komunikasi kami. Surat-suratku mulai jarang dibalas, dan nomor telepon rumah tetangganya satu-satunya alat komunikasi yang ia miliki sudah tidak aktif lagi. Aku mendengar kabar burung bahwa Bapak Sudarman jatuh sakit keras, namun aku yang terikat kontrak beasiswa ketat di luar kota tidak bisa pulang begitu saja. Aku merasa tidak berdaya, terombang-ambing di antara ambisi akademis dan rasa khawatir yang membakar dada.
Hingga akhirnya, dua tahun berlalu. Aku lulus dengan predikat terbaik dan segera kembali ke kota ini, langsung bergabung dengan komunitas literasi dan Yayasan Utama untuk mencari nafkah sekaligus mencari keberadaan Andini. Aku berencana mendatangi rumahnya minggu ini, membawa seluruh tabungan kecilku untuk membantunya jika dia masih dalam kesulitan.
Tapi takdir justru mempertemukan kami di tempat ini. Di sebuah apartemen pencakar langit yang harganya mungkin tidak akan pernah bisa kubeli seumur hidupku.
Aku menghentikan langkahku di sebuah taman kota yang sepi, duduk di bangku kayu bawah pohon peneduh yang mengingatkanku pada pohon mahoni kami dulu. Aku merasai dadaku yang masih berdenyut nyeri.
Andini-ku yang dulu bangga dengan kesederhanaannya, kini hidup di dalam kemewahan yang diatur oleh kontrak pria lain. Dia bilang Charles Utama adalah pelindungnya. Dia bilang Charles adalah orang yang menaruh ember untuk menampung hujannya.
"Kau salah, Andini," bisikku pada angin sore yang berembus kering. "Pria itu tidak sedang menaruh ember untuk hujarmu. Dia sedang membelimu dengan kekuasaannya. Dia membawa hatimu yang murni ke dalam dunia bisnisnya yang kotor dan penuh kepalsuan."
Aku mengepalkan tangan di atas lutut. Rasa kehilangan ini begitu masif, bertransformasi menjadi letupan amarah yang membakar kesadaranku. Aku tahu aku hanyalah seorang guru privat, seorang pemuda biasa yang tidak memiliki apa-apa dibandingkan dengan Charles Utama. Namun, melihat bagaimana Andini membela pria itu di depanku membuatku sadar akan satu hal: Andini tidak sedang ditawan secara fisik, jiwanya yang mulai terbiasa dengan perlindungan Charles adalah hal yang paling berbahaya.
Aku mengambil ponsel dari saku celanaku, menatap nomor kontak Bu Sarah yang baru saja memutus kontrak kerjaku atas perintah Charles. Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan ego masa mudaku mengambil alih akal sehatku.
Charles Utama mengira dia bisa menghapus masa lalu Andini hanya dengan uang dan kekuasaan. Dia mengira dia bisa mengusirku begitu saja dari kehidupan gadis yang telah bersamaku sejak awal. Tapi dia lupa, puisi yang tertanam di dalam hati tidak akan pernah bisa dihapus oleh laporan keuangan mana pun.
"Aku tidak akan menyerah, Andini," ucapku lirih, menatap langit Jakarta yang perlahan mulai menggelap. "Jika duniaku yang dulu terlalu kecil untuk membawamu kembali, maka aku yang akan masuk ke dalam duniamu yang baru. Aku akan membuktikan padamu bahwa sangkar emas tetaplah sebuah sangkar, dan kau pantas untuk terbang bebas di langit yang sesungguhnya."