Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pelatihan Malam Terakhir
Pukul 03.00 dini hari. Villa Pradipa sunyi, hanya suara jangkrik dan desiran angin di antara pohon pinus. Tapi Aditya tidak tidur. Ia duduk bersila di taman belakang, di atas rumput yang masih basah oleh embun. Liontin di dadanya berdenyut pelan, menyerap sisa-sisa energi matahari yang tersimpan di udara malam.
Status Host:
· Level: 9 (Alam Bela Diri Tingkat Atas)
· Progress ke Alam Master: 15%
· Koin: 2310
"Melawan dua level 12 dengan level 9 adalah bunuh diri," bisiknya pada diri sendiri. "Aku perlu naik setidaknya satu level lagi."
Ia membuka Toko Sistem
Item tersedia untuk kultivasi:
· Pil Pemadatan Energi: 1000 Koin (Mempercepat kultivasi 200% selama 2 jam)
· Ruang Meditasi Portabel: 1500 Koin (Menciptakan ruang isolasi energi. Waktu di dalam: 1 jam \= 6 jam di luar. Sekali pakai.)
Aditya menghitung. Jika ia membeli keduanya, tersisa -190 Koin—tidak cukup. Tapi jika hanya Ruang Meditasi, ia bisa menggunakannya dengan Jurus Surya yang sudah level 3.
"Ambil Ruang Meditasi Portabel."
Koin tersisa: 810.
Sebuah kubus transparan seukuran bilik telepon muncul di hadapannya. Dindingnya berkilau seperti kaca, tapi terbuat dari energi murni. Begitu Aditya masuk, dunia luar menghilang. Tidak ada suara. Tidak ada angin. Hanya keheningan absolut dan konsentrasi energi yang jauh lebih padat dari udara biasa.
"Enam jam dalam satu jam," gumamnya. "Cukup."
Ia duduk bersila. Jurus Surya level 3 diaktifkan. Energi dari liontin mengalir ke seluruh tubuhnya, tapi kali ini ia tidak hanya menyerap—ia memadatkan. Setiap serat otot, setiap saluran meridien, diisi oleh energi emas yang semakin pekat.
---
Satu jam berlalu di dunia luar. Enam jam di dalam ruang meditasi.
Aditya merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya. Bukan rasa sakit seperti saat pemurnian dulu, tapi sensasi aneh—seperti tulang-tulangnya bergetar pada frekuensi yang berbeda, seperti darahnya mengalir lebih cepat.
DING!
Level naik: 9 → 10 (Alam Bela Diri Puncak).
Kekuatan: 35 → 42. Kecepatan: 33 → 39. Stamina: 55 → 65.
Skill baru terbuka: Tinju Surya (Level 1)—Pukulan yang menyalurkan energi matahari langsung ke tubuh lawan. Efek tambahan: Membakar energi negatif pada kontak.
Aditya membuka mata. Ruang meditasi di sekitarnya retak, lalu hancur menjadi butiran cahaya. Ia berdiri, merasakan tubuhnya yang lebih ringan, lebih kuat.
"Level 10," bisiknya. "Masih dua level di bawah Kala dan Kali. Tapi setidaknya bukan jurang yang tidak bisa dijembatani."
---
Pukul 05.00. Maya menemukan Aditya di dapur, membuat kopi dengan wajah lelah tapi mata berbinar.
"Kau tidak tidur?"
"Aku naik level." Aditya menyeruput kopinya. "Level 10 sekarang."
Maya mengangguk pelan. "Bagus. Karena aku baru dapat kabar dari informanku di pelabuhan. Pulau Kolektor dijaga lebih ketat dari biasanya malam ini. Kala dan Kali tidak sendiri. Ada enam penjaga tambahan, semuanya level 4 sampai 6."
"Kenapa diperkuat?"
"Rupanya Kolektor tidak sebodoh itu. Dia tahu setelah memberi informasi padamu, kita akan bergerak. Jadi dia siapkan sambutan." Maya duduk, menuang kopi untuk dirinya sendiri. "Atau... dia memperingatkan penjaganya tanpa memberitahu kita."
"Jebakan."
"Mungkin." Maya menyesap kopinya. "Tapi kita tetap akan pergi, kan?"
Aditya tersenyum tipis. "Kau yang tidak sabar menembak sesuatu."
"Sudah hampir seminggu. Tanganku gatal."
Alesha muncul di pintu dapur, masih dengan piyama sutra dan rambut tergerai. "Kalian berdua sudah bangun? Ini masih subuh."
"Kita briefing misi malam ini," kata Maya. "Mau dengar?"
Alesha duduk, mengambil cangkir ketiga. "Tentu."
---
"Begini rencananya," Maya membuka peta digital di tabletnya. "Pulau Kolektor ada di Kepulauan Seribu, sekitar dua jam naik speedboat dari Marina Ancol. Pulau itu kecil—hanya satu hektar—dengan satu bangunan utama bergaya vila modern. Brankas bawah tanah ada di bawah vila, tepat di ruang tengah."
"Dan Kala dan Kali?" tanya Aditya.
"Kembar kultivator level 12. Informasi dari Kolektor: mereka selalu di depan brankas. Tidak pernah tidur, tidak pernah lengah. Informasi tambahan yang kudapat semalam:" Maya menggeser tabletnya, "...Kala spesialis serangan jarak dekat. Skill-nya Pukulan Gletser—bisa membekukan apa pun yang disentuhnya. Kali spesialis serangan jarak menengah. Skill-nya Cambuk Bayangan—bisa menyerang dari jarak 10 meter dengan bayangannya sendiri."
"Es dan bayangan," Aditya mengulang. "Lumayan kontras dengan api dan matahari."
"Itu kenapa kita harus memisahkan mereka. Kalau mereka bertarung bersama, kombinasi es dan bayangan bisa menutupi kelemahan masing-masing." Maya menunjuk denah vila. "Aku akan memancing Kali keluar dari ruang bawah tanah. Tembakan jarak jauh dari atas—dia akan mengejar sumber suara. Begitu dia keluar, Aditya masuk ke bawah tanah dan menghadapi Kala sendirian."
"Sendirian melawan level 12."
"Kau tidak perlu mengalahkannya. Cukup tahan dia sampai aku selesai dengan Kali. Atau..." Maya menatap Aditya, "...kau bisa mengalahkannya dengan Jurus Matahari Terbit. Itu masih bisa dipakai?"
"Cooldown-nya sudah selesai. Tapi hanya 60 detik."
"Jadi kau punya 60 detik untuk mengalahkan Kala. Setelah itu, kalau dia belum tumbang..." Maya tidak menyelesaikan kalimatnya.
Alesha menyela. "Aku ikut."
Keduanya menoleh.
"Kau tidak bisa," kata Aditya.
"Belati Surya bisa melukai kultivator. Aku sudah membuktikannya di gudang Kartel Lotus."
"Itu karena musuhmu level 9, dan itu pun dia kabur. Sekarang kita bicara level 12, Alesha. Satu pukulan dari mereka bisa membunuhmu sebelum kau mengayunkan belati."
"Aku tidak akan bertarung langsung. Tapi aku bisa jadi pengalih. Atau..." Alesha mengepalkan Belati Surya yang tiba-tiba sudah ada di tangannya—entah sejak kapan ia mengambilnya, "...aku bisa jadi pilihan terakhir kalau kalian berdua gagal."
Maya dan Aditya bertukar pandang.
"Kau keras kepala," kata Maya akhirnya. "Aku suka itu."
"Baik." Aditya menghela napas. "Tapi kau tetap di perahu sampai kami beri isyarat. Jangan masuk ke pulau kecuali situasinya darurat."
"Siapa yang menentukan darurat?"
"Kalau kalung pelacakku berhenti bergerak selama lima menit," Aditya menyerahkan kalung itu pada Alesha, "itu tandanya aku sudah mati. Kalau itu terjadi, kau dan Maya kabur. Jangan coba menyelamatkanku."
Alesha menatap kalung itu, lalu menatap Aditya. Matanya sulit dibaca.
"Aku tidak suka skenario itu."
"Aku juga. Tapi lebih baik punya rencana buruk daripada tidak sama sekali."
Pukul 22.00. Speedboat hitam meluncur dari dermaga Marina Ancol. Di atasnya, tiga orang duduk dalam diam: Maya di kemudi, Aditya di sampingnya dengan pedang kayu di punggung dan Jubah Senyap berkibar, Alesha di belakang dengan Belati Surya di balik jaket tahan air.
Angin laut berbau asin. Bulan sabit menggantung rendah di langit, memberikan penerangan minim—sempurna untuk penyusupan.
"Estimasi tiba 30 menit," lapor Maya.
Aditya mengaktifkan All-Seeing Eye, memindai cakrawala.
Pulau terdeteksi: 2,7 mil laut di depan.
Jumlah musuh: 8 terdeteksi.
· 6 penjaga (Level 4-6), tersebar di perimeter pulau.
· Kala (Level 12, bawah tanah).
· Kali (Level 12, bawah tanah).
· Tameng Bumi: Terdeteksi di brankas bawah tanah. Energi: Perisai, level 15 ke bawah.
"Tameng Bumi masih di brankas. Kala dan Kali masih di bawah tanah. Belum ada tanda mereka tahu kita datang."
"Atau mereka sudah tahu dan pura-pura tidak tahu," bisik Alesha.
"Itu juga mungkin."
Speedboat terus melaju. Pulau mulai terlihat di kejauhan—sebuah titik gelap dengan satu lampu kuning dari vila di atasnya.
Pertempuran untuk pusaka keempat akan segera dimulai.