Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9. Ruang Gelap Masa Lalu
Gudang bawah tanah mansion Dirgantara bukanlah tempat yang sering dikunjungi manusia. Terletak di ujung lorong paling belakang, menuruni tangga beton yang curam dan lembap, ruangan itu adalah tempat penyimpanan barang-barang lama yang tidak lagi diinginkan, namun terlalu berharga untuk dibuang. Bau debu yang menyesakkan bercampur dengan aroma apek dari kayu yang mulai lapuk menyambut Alya saat ia membuka pintu besi yang berderit nyaring.
Lampu bohlam tunggal di langit-langit berkedip-kedip, memantulkan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Alya berdiri mematung di ambang pintu, seragam pelayan abu-abunya terasa kontras dengan kegelapan di depannya. Di sinilah ia harus menghabiskan malamnya sebagai hukuman atas "kebahagiaan" palsu yang ia tunjukkan pada ayahnya siang tadi.
"Kenapa diam saja? Cepat masuk!" suara Nyonya Ratna menggelegar dari balik punggungnya. Wanita itu mendorong bahu Alya hingga gadis itu terhuyung ke depan.
"Nyonya... di sini sangat gelap dan sesak. Saya punya asma," bisik Alya lirih, mencoba mencari sisa belas kasihan.
Ratna tertawa sinis. "Asma? Gadis sepertimu tidak berhak memiliki penyakit mewah. Bersihkan semua peti ini, tata ulang rak-rak itu, dan pastikan tidak ada sarang laba-laba tersisa. Arka ingin tempat ini rapi karena ada dokumen penting yang ingin dia cari di sini."
Suara kunci yang diputar dari luar membuat jantung Alya mencelos. Ia terjebak lagi. Kali ini di tempat yang bahkan tidak memiliki jendela. Oksigen terasa mulai menipis, bukan karena fisiknya, melainkan karena rasa takut yang mulai merayapi pikirannya.
Alya mulai bekerja. Dengan kain lap di tangan dan ember berisi air dingin, ia mulai menggosok permukaan peti-peti kayu besar. Debu beterbangan setiap kali ia memindahkan barang, membuatnya terbatuk-batuk hingga dadanya terasa sesak.
Namun, di tengah kelelahan itu, matanya tertumpu pada sebuah peti kecil yang terbuat dari kayu mahoni dengan ukiran yang halus. Peti itu berbeda dari barang-barang rongsokan lainnya. Letaknya tersembunyi di balik tumpukan koran lama tahun 1990-an.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Alya membersihkan permukaan peti itu dan membukanya. Di dalamnya, terdapat tumpukan foto-foto lama yang warnanya sudah mulai menguning, beberapa buku harian, dan sebuah selendang sutra berwarna biru muda yang masih menyisakan aroma parfum bunga melati yang samar.
Alya mengambil salah satu foto. Seorang wanita cantik dengan senyum yang sangat lembut tampak menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun. Anak itu memiliki mata hitam yang tajam—mata yang sama dengan Arka. Wanita itu pastilah mendiang ibu Arka.
"Dia sangat cantik," gumam Alya tanpa sadar.
Ia mulai membaca salah satu lembaran buku harian yang terbuka. Tulisan tangannya rapi dan miring ke kanan.
"Hari ini Arka kecil bertanya mengapa ayahnya jarang pulang. Aku hanya bisa tersenyum dan mengatakan ayahnya sedang bekerja keras untuk kita. Padahal, aku tahu dia sedang berjuang menyelamatkan apa yang tersisa dari perusahaan yang dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Hatiku hancur melihat Arka tumbuh dalam ketegangan ini..."
>
Alya tertegun. Sahabatnya sendiri? Apakah yang dimaksud adalah ayahnya, Prasetyo?
Ia terus membaca lebih dalam. Di halaman berikutnya, nada tulisan itu berubah menjadi penuh keputusasaan.
> "Dana medis itu ditarik. Aku tidak tahu harus mengadu pada siapa lagi. Prasetyo tidak menjawab teleponku. Jika sesuatu terjadi padaku, aku hanya ingin Arka tahu bahwa benci tidak akan pernah menyelesaikan apa pun. Tapi aku takut, aku sangat takut Arka akan mewarisi luka ini..."
>
Alya menutup buku itu dengan tangan gemetar. Ia merasakan kesedihan yang mendalam dari setiap kata yang tertulis di sana. Ia bisa membayangkan Arka kecil, berdiri di koridor rumah sakit, melihat ibunya perlahan kehilangan cahaya hidupnya karena kekurangan biaya. Jika ia berada di posisi Arka, apakah ia juga akan sekejam ini?
Tiba-tiba, suara pintu besi terbuka mengejutkannya. Alya dengan cepat memasukkan kembali buku harian itu ke dalam peti, namun ia tidak sempat menutupnya dengan sempurna.
Arka berdiri di sana. Ia tampak lelah, matanya redup, dan ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang ia pakai saat bertemu Prasetyo tadi siang.
"Apa yang kau lakukan?" suara Arka dingin, namun ada nada yang berbeda—sesuatu yang lebih rapuh.
"Aku... aku hanya membersihkan ini," jawab Alya gugup.
Arka melangkah maju. Matanya tertuju pada peti mahoni yang terbuka. Seketika, ekspresinya berubah. Kemarahan besar yang dibalut luka lama meledak di matanya. Ia menyambar peti itu dari tangan Alya dan membanting penutupnya.
"Siapa yang mengizinkanmu menyentuh ini!" Arka mencengkeram kerah seragam Alya, mengangkat tubuh gadis itu hingga ia harus berjinjit. "Tangan kotor keturunan pencuri sepertimu tidak layak menyentuh barang-barang ibuku!"
"Maaf, Arka... aku tidak bermaksud... aku hanya ingin tahu..."
"Ingin tahu apa? Ingin tahu bagaimana ibuku menderita karena ayahmu?" Arka mendorong Alya ke dinding beton yang kasar. Punggung Alya menghantam dinding dengan keras, membuatnya merintih kesakitan.
Arka mengambil selendang biru muda dari dalam peti. Ia membelainya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menatap Alya dengan kebencian yang kini bercampur dengan air mata yang ia tahan sekuat tenaga.
"Ibuku meninggal sambil memegang selendang ini, Alya. Dia menungguku menjemputnya dengan uang yang tidak pernah datang karena ayahmu memblokir semua rekening keluarga kami!" Arka berteriak, suaranya menggema di gudang yang sempit itu. "Dan kau... kau datang ke sini, mengenakan seragam pelayan, dan berpura-pura kasihan? Kau menjijikkan!"
"Aku tidak berpura-pura, Arka!" Alya balas berteriak, air matanya kini mengalir deras. "Aku membaca buku hariannya! Ibumu tidak ingin kau menyimpan dendam ini! Dia ingin kau bahagia!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alya. Wajah Alya terlempar ke samping. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan darah segar. Keheningan yang mengerikan menyelimuti ruangan itu setelah suara tamparan tersebut.
Arka tertegun menatap tangannya sendiri. Ini adalah pertama kalinya ia menggunakan kekerasan fisik yang seekstrim itu pada Alya. Ia melihat Alya yang tersungkur di lantai, memegangi pipinya yang memerah, dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Keluar," bisik Arka, suaranya parau.
Alya tidak bergerak. Ia terlalu syok dan sakit.
"AKU BILANG KELUAR!" Arka menendang sebuah kursi kayu di dekatnya hingga hancur berkeping-keping.
Alya bangkit dengan susah payah. Ia tidak menatap Arka lagi. Ia berjalan tertatih-tatih meninggalkan gudang itu, melewati Arka yang kini berlutut di samping peti ibunya, membenamkan wajahnya di selendang biru itu dan terisak tanpa suara.
Alya menaiki tangga beton dengan sisa kekuatannya. Pipinya terasa panas dan berdenyut, namun hatinya terasa lebih perih. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Arka tidak hanya membenci ayahnya, Arka membenci kenyataan bahwa ia mulai merasa bersalah pada Alya. Dan setiap kali rasa bersalah itu muncul, Arka akan menyerangnya dengan lebih kejam untuk menutupi kelemahannya sendiri.
Sesampainya di kamar atas, Alya tidak menuju ranjang. Ia masuk ke kamar mandi, mengunci pintu, dan duduk di bawah pancuran air dingin. Ia membiarkan air menghapus darah di bibirnya dan air mata di pipinya.
Di bawah siraman air yang membekukan, Alya memeluk lututnya. Ia merasa seperti sedang tenggelam dalam lautan dendam yang tidak ada ujungnya. Arka terjebak dalam masa lalu, dan Alya dipaksa menjadi jangkar yang menahannya di dasar laut yang gelap itu.
"Ibu... Ayah... tolong aku," isaknya di bawah gemuruh air.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Arka tidak kembali ke kamar. Ia tetap di gudang bawah tanah, di tengah debu dan kenangan menyakitkan, membiarkan dirinya hancur bersama bayang-bayang ibunya. Sementara itu, Alya tertidur di lantai kamar mandi yang dingin, bermimpi tentang sebuah dunia di mana namanya tidak berarti "beban" dan cintanya tidak berarti "khianat".
Esok akan datang dengan siksaan baru, dan Alya tahu, pertahanannya mulai retak. Ia tidak tahu berapa banyak tamparan lagi yang bisa ia terima sebelum jiwanya benar-benar mati.