"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Habis tak tersisa
Di dapur Rasti dibantu Siti menyiapkan bekal makan siang. Siti tersenyum kecil melihat Rasti yang sibuk menyusun beberapa kotak bekal masuk ke dalam tas.
"Nyonya perhatian sekali,"
"Bukan perhatian, Bu. Rasti hanya menjalankan peran," sahutnya pelan.
"Tapi tetap saja, Nyonya sangat memperhatikan Tuan muda Xena," balas Siti lagi.
Kali ini Rasti berhenti lalu menatap Siti. Rasti menarik nafas pelan sebelum akhirnya berbicara,
"Bu, sebenarnya..."
"Rasti," panggil Mira.
Kalimat itupun terputus, dan Rasti langsung berpamitan pada Siti.
"Sudah dulu, Bu. Nanti kita sambung." ucapnya.
Rasti berjalan meninggalkan dapur sambil membawa tas bekal untuk suaminya.
"Iya, Ma," sahutnya.
"Kau sudah siapkan makan siangnya?" tanya Mira.
"Sudah, Ma," sahutnya sambil memperlihatkan tas ditangannya.
"Bagus,"
"Pak Aiman sudah menunggumu dari tadi. Cepat kau pergi sekarang," sambung Mira.
Rasti mengangguk pelan. "Iya, Ma."
Tanpa banyak bicara lagi, ia langsung melangkah keluar. Tas bekal di tangannya terasa sedikit lebih berat dari seharusnya. Sementara di halaman depan Pak Aiman sudah berdiri di samping mobil.
"Silahkan Nyonya," ucapnya sopan sambil membukakan pintu.
"Terima kasih, Pak," sahut Rasti pelan.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah. Sepanjang perjalanan, Rasti hanya diam. Tangannya menggenggam tas bekal itu, sesekali menatapnya tanpa sadar.
"Semoga tidak sia-sia," gumamnya lirih.
Beberapa waktu kemudian, mobil berhenti di depan gedung kantor Xena.
"Sudah sampai, Nyonya," ucap Aiman.
Rasti turun perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada gedung tinggi di hadapannya. Untuk sesaat, langkahnya tertahan. Namun ia tidak punya alasan untuk mundur.
Rasti masuk perlahan. Sampai di lobby, ia berjalan mendekati meja resepsionis.
"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" sapa seorang wanita dengan ramah.
"Saya ingin bertemu dengan Xena," jawab Rasti pelan.
Wanita itu mengernyit mendengar Rasti memanggil bosnya hanya dengan menyebutkan namanya saja tanpa embel-embel kata Pak atau sejenisnya. Tapi wanita itu tetap melayaninya dengan ramah.
"Maaf sebelumnya. Apakah sudah ada janji sebelumnya, Ibu?"
Rasti menggeleng pelan.
"Maaf Ibu, kalau tidak ada janji, kami tidak bisa..."
"Biarkan dia masuk."
DEG
Tiba-tiba suara bariton terdengar dari belakang. Rasti sontak menoleh ke arahnya. Sementara wanita itu menunduk pelan.
Xena berdiri di sana. Tegap dengan setelan jasnya. Tatapannya lurus ke arah Rasti. Resepsionis itu terlihat sedikit panik.
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu..."
"Tak apa," potong Xena cepat.
Matanya kembali pada Rasti dan... bawaan yang ada di tangannya.
"Kau ke sini?" tanyanya.
Rasti mengangkat tas bekal itu sedikit.
"Kau lihat,"
Xena menatapnya beberapa detik. Lalu berbalik.
"Ikut."
Tanpa menunggu Rasti mengekornya dari belakang. Semua mata melihat mereka sambil berbisik-bisik. Saat sedang berada di pintu lift tubuh Rasti bergetar. Xena meliriknya sekilas.
" Ada apa?" tanyanya pelan.
"Apakah kita akan masuk ke sana?" tanya Rasti balik.
"Maksudmu lift ini?"
Rasti mengangguk pelan.
"Tentu saja. Kenapa, kau takut?" ucap Xena.
"Sedikit,"
"Kau bisa menggunakan tangga untuk naik ke atas," ucap Xena sambil mengarahkan pintu menuju tangga.
Rasti mengikuti arah kepala Xena, "Baiklah."
Xena menarik tangan Rasti.Rasti terkejut saat Xena menggenggam erat pergelangannya. Refleks ia langsung menatap Xena, tatapannya bingung sekaligus kaget.
"Kau benar-benar ingin naik tangga?" ucap Xena datar.
Rasti masih belum menjawab. Fokusnya hanya kepada tangan pria itu yang masih melekat pada lengannya.
Ting
Lift terbuka, Xena langsung menarik Rasti masuk ke dalam lift tanpa melepas pegangannya. Rasti masih terdiam. Tubuh mereka bersentuhan. Saat lift tertutup Rasti menarik tangannya kasar.
Hal itu justru membuat Xena menoleh padanya.
"Kau takut naik lift?" ucap Xena.
"Bukan. Cuma...aku tidak suka ruang sempit."
Ting
Lift terbuka. Xena keluar lalu kembali Rasti mengikuti langkahnya hingga sampai pada sebuah pintu besar di ujung lorong. Pintu besar itu terbuka begitu Xena mendorongnya tanpa ragu. Rasti sedikit tertegun saat masuk ke dalam.
Ruangan itu luas,dengan jendela kaca besar yang langsung menghadap ke kota. Cahaya matahari masuk dengan leluasa, membuat suasana terasa terang namun tetap dingin. Sama seperti pemiliknya.
"Masuk," ucap Xena singkat.
Rasti melangkah pelan. Ia berdiri canggung di dekat pintu, sementara Xena sudah berjalan menuju meja kerjanya.
"Letakkan di sana," katanya lagi, menunjuk meja kecil di dekat sofa.
Rasti mengangguk. Ia berjalan ke arah yang ditunjuk, lalu mulai mengeluarkan isi bekal satu persatu. Tangannya bergerak rapi seperti sudah terbiasa. Aroma makanan perlahan memenuhi ruangan.
Xena yang awalnya membuka laptop, kini berhenti. Matanya melirik sekilas ke arah Rasti.
"Apa saja?" tanyanya.
"Sup ayam, telur sambal dan tempe orek," jawab Rasti tanpa menoleh.
Hening sejenak. Xena berdiri lalu berjalan mendekat. Ia menatap makanan itu cukup lama.
"Kau yang masak atau Bu Siti?" tanyanya lagi.
"Kau pikir?"
Xena tak menjawab, ia lalu menarik kursi dan duduk di depan meja kecil itu. Tangannya meraih sendok, tapi belum mulai makan.
"Kau tidak perlu melakukan ini," ucapnya tiba-tiba.
Rasti akhirnya menoleh, "Aku tau."
"Lalu kenapa kau tetap datang?"
Rasti terdiam sesaat. Lalu menarik nafas pelan, " Karena aku diminta."
"Diminta?" alis Xena terangkat sedikit.
"Iya, oleh Mama," jawabnya singkat.
DEG
Xena menghela nafas kasar. Tapi ia terdiam sejenak. Sejak kapan Mama mulai mendukung hubungan ini. Bukankah Mama belum menerima Rasti sebagai menantunya?.
"Kau yakin Mama yang menyuruhmu,?" tanya Xena lagi.
"Lalu, kau pikir aku berbohong?" sahut Rasti sedikit kesal.
"Tidak. Bukan begitu maksudku."
"Lalu?"
Xena tak menjawab, biar dia saja yang memikirkannya. Xena akhirnya mulai makan. Satu suapan. Lalu satu lagi. Rasti masih berdiri di tempatnya. Tidak duduk. Tidak bergerak.
"Kau tidak duduk?" tanya Xena tanpa menatap.
"Tidak perlu,"
Xena berhenti makan. Ia mengangkat wajahnya.
"Duduk."
Nada suaranya tidak tinggi. Tapi jelas perintah. Rasti ragu sejenak, lalu akhirnya memilih duduk di ujung sofa. Jarak mereka masih ada.
"Kau tidak makan?" tanya Xena lagi.
"Aku sudah makan di rumah."
Hening lagi. Xena kembali menyuap makanannya. Tapi kali ini lebih pelan.
"Aneh," gumamnya tiba-tiba/
"Apa?"
"Makanan ini..." ia berhenti,seolah memilih kata.
"...terlalu normal."
Rasti mengernyit bingung, "Maksudmu?"
"Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang dibuat-buat," lanjut Xena.
Rasti diam sejenak, "Lalu itu salah?"
Xena menggeleng kecil, "Tidak. Justru..."
Rasti menunggu, tapi tidak ada lanjutan.
"Apa?" tanya Rasti lagi.
Xena menatapnya sebentar, lalu kembali pada makanannya, "Tidak apa-apa."
Rasti menghela nafas kecil. Ia sudah terbiasa dengan. jawaban setengah seperti itu. Beberapa menit berlalu. Xena menghabiskan. makanannya tanpa banyak bicara. Rasti memperhatikan tanpa sadar. Dan entah kenapa ada rasa lega kecil melihat pria itu menghabiskan semua makanan yang ia bawa tanpa sisa sedikitpun.
Xena meletakkan sendok nya," Kau bisa pulang sekarang."