SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Tawa
Suasana pagi di SMA Cakrawala masih terasa sama, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam dada Aruna.
Setelah malam yang emosional di bengkel, ia merasa separuh hatinya tertinggal di antara noda oli dan deru mesin motor Aska. Namun, dunia tidak berhenti berputar.
Begitu ia melangkah melewati gerbang sekolah, sosok tinggi dengan seragam rapi sudah berdiri di dekat koridor kelasnya.
"Pagi, Na," sapa Adrian dengan senyum yang begitu cerah, seolah matahari sore kemarin masih membekas di wajahnya.
"Pagi, Kak," jawab Aruna. Ia masih merasa agak canggung, terutama setelah ia diam-diam pergi ke bengkel tanpa memberi tahu siapa pun.
Adrian tidak terlihat marah atau curiga. Ia justru berjalan di samping Aruna dengan santai, tangannya dimasukkan ke saku celana.
"Aku baru dengar kalau di dekat taman kota ada festival kuliner malam ini. Katanya ada martabak legendaris yang antrinya bisa berjam-jam. Kamu mau coba nggak? Kita nggak usah bahas materi biologi molekuler dulu, kita fokus ke martabak aja."
Aruna menoleh, menatap Adrian yang nampak begitu tulus ingin menghiburnya. Sisi "asik" Adrian ini benar-benar sulit untuk ditolak. Dia tidak lagi kaku, tidak lagi memaksa Aruna duduk di depan tumpukan buku.
"Kakak nggak bosen ngajak aku jalan terus?" tanya Aruna sambil bercanda.
Adrian tertawa, suara tawanya terdengar renyah dan menenangkan. "Selama yang aku ajak jalan itu kamu, kayaknya kata bosen nggak ada di kamus aku, Na. Lagipula, aku lihat kamu belakangan ini banyak pikiran. Aku cuma pengen jadi orang yang bisa bikin kamu ketawa, itu aja."
---
### Radar Sasha dan Keraguan yang Mengusik
Di jam istirahat, Sasha, Jelita, dan Lulu sudah berkumpul di meja pojok kantin. Sasha nampak gelisah, berkali-kali melirik ke arah meja OSIS di mana Adrian sedang berbincang dengan teman-temannya.
"Na, lo tadi berangkat bareng Kak Adrian lagi?" tanya Sasha dengan nada menyelidiki.
"Nggak, Sha. Gue berangkat sendiri, tapi tadi emang ngobrol sebentar sama dia," jawab Aruna sembari mengunyah siomaynya.
Sasha mendekatkan wajahnya, suaranya mengecil. "Gue nggak tahu ya, Na. Gue emang liat Kak Adrian itu asyik banget sekarang. Dia bahkan traktir anak-anak kelas sebelah kemarin. Tapi, gue sempet denger selentingan pas gue lagi lewat di depan ruang OSIS. Temen-temen segengnya yang dari sekolah elit itu sering dateng ke sini buat nyari dia."
"Ya wajar lah, Sha, kan temennya banyak," timpal Jelita, meskipun matanya tetap waspada.
"Bukan itu! Masalahnya, mereka kalau ngeliat lo pas lagi sama Kak Adrian itu tatapannya aneh. Kayak lagi liat... gue nggak tahu ya, kayak lagi liat sesuatu yang menarik buat dibahas di grup mereka," lanjut Sasha cemas.
Aruna terdiam. Ia teringat betapa nyamannya ia semalam saat bersama Aska, namun ia juga tidak bisa memungkiri bahwa Adrian adalah orang yang selalu ada di sekolah saat ia merasa jenuh.
Adrian tidak pernah sekalipun membuatnya merasa tidak nyaman belakangan ini. Malah, Adrian seolah menjadi pelarian yang indah dari realita hidup Aska yang terlalu berat untuk ia tanggung sendirian.
---
### Momen di Bawah Lampu Kota
Sore harinya, sesuai janji, Adrian benar-benar membawa Aruna ke festival kuliner itu. Suasananya sangat ramai dan meriah. Lampu-lampu hias menggantung di atas jalanan, menciptakan atmosfer yang sangat romantis.
"Na, coba ini!" Adrian menyuapkan sepotong martabak manis yang masih hangat ke arah Aruna.
Aruna menerimanya dengan ragu, namun rasa manis dan gurih itu langsung meleleh di mulutnya. "Enak banget, Kak!"
"Kan, aku bilang juga apa," Adrian tersenyum puas. Ia lalu mengajak Aruna duduk di sebuah bangku kayu di pinggir festival, tempat mereka bisa melihat orang-orang yang berlalu-lalang. "Aku seneng liat kamu bisa lepas begini, Na. Aku pengen kamu tahu kalau hidup itu nggak selalu tentang beban. Ada hal-hal manis kayak martabak ini yang layak buat dinikmati."
Adrian menatap Aruna dengan sorot mata yang dalam, namun tetap lembut. "Kamu jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri ya. Soal apa pun yang lagi kamu pikirin, entah itu sekolah atau... teman kamu yang lain, aku harap kamu tetep bisa bagi waktu buat kebahagiaan kamu sendiri."
Kalimat Adrian terdengar sangat suportif, membuat Aruna merasa sangat dihargai. Namun, di saat yang sama, ia melihat sebuah motor jaket hijau melintas di jalan raya tepat di samping area festival. Sosok itu tidak melihat ke arah mereka, ia hanya melesat cepat dengan tumpukan kotak kiriman di kursi belakangnya.
Hati Aruna mencelos. Di tengah kemanisan martabak dan tawa Adrian, ada rasa pahit yang tiba-tiba muncul. Ia merasa sedang berada di dua dunia yang berbeda. Di dunia Adrian, semuanya terasa manis dan berwarna. Di dunia Aska, semuanya terasa keras dan berdebu.
"Na? Kok malah bengong? Martabaknya keburu dingin lho," panggil Adrian lembut, tangannya mengusap sekilas sisa cokelat di sudut bibir Aruna.
"Eh, iya Kak," jawab Aruna pelan.
Malam itu, Adrian terus menunjukkan sisi terbaiknya. Ia mengajak Aruna bermain beberapa permainan di festival, memenangkan sebuah boneka kecil untuk Aruna, dan mengantarnya pulang sampai depan rumah dengan sangat sopan.
Tidak ada paksaan, tidak ada kata-kata yang menyinggung perasaan. Semuanya sempurna. Terlalu sempurna sampai Aruna merasa takut bahwa kenyamanan ini akan membuatnya lupa pada aspal yang telah mengajarkannya arti menjadi manusia.
Adrian melambaikan tangan saat mobil putihnya perlahan meninggalkan halaman rumah Aruna. Aruna berdiri di sana, memeluk boneka pemberian Adrian, sambil menatap langit malam yang mendung. Ia merasa semakin bimbang.
Bagaimana bisa seseorang menjadi begitu asyik dan baik, sementara di sudut lain kota, seseorang yang lain sedang mempertaruhkan nyawanya demi sesuap nasi? Dan yang lebih membingungkan lagi, kenapa Aruna mulai merasa nyaman dengan keduanya dengan cara yang berbeda?
perasaan bacaku sdah pelan"🤭tapi kok masih kurang ya
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻