AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matematika
Suasana di ruang kuliah besar mulai hening. Dosen pengajar yang terkenal galak dan sangat pintar, Profesor Sastro, baru saja selesai menjelaskan materi yang cukup rumit.
"Baiklah anak-anak. Teori sudah saya jelaskan. Sekarang saatnya kita lihat siapa yang benar-benar mengerti dan siapa yang cuma datang numpang duduk," kata Profesor Sastro dengan nada dingin.
Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan. Dan tanpa sengaja, pandangannya berhenti tepat di wajah Deon Key yang duduk santai di barisan tengah bersama Prizeyl dan Vina.
"Anak misterius itu... yang ambil tiga jurusan sekaligus. Mari kita uji seberapa hebat dia."
"Deon Key! Maju ke depan!" panggil Profesor Sastro tegas.
Seluruh kelas langsung hening.
"Wih... dapet nih!"
"Siaatt! Dosen galak lagi! Awas kena semprot!"
Para cowok-cowok yang tadi iri dan kesal melihat Deon jadi pusat perhatian langsung tersenyum licik.
"Hahaha! Sambutlah nasibmu wahai orang kaya! Pamer sana! Nanti kalau nggak bisa jawab, malu sendiri lo!"
"Iya nih! Biar sadar diri! Kampus ini tempatnya otak, bukan tempat pamer mobil dan senyum-senyum!"
"Lihat aja nanti dia bakal diam bego di depan papan tulis! Hahaha!"
Mereka berbisik-bisik penuh kepuasan, menanti momen memalukan menimpa Deon.
Deon menghela napas pelan, lalu berdiri dengan tenang. Ia berjalan santai ke depan kelas, mengambil kapur tulis, dan menatap papan tulis yang penuh dengan rumus-rumus matematika dan logika tingkat tinggi.
Profesor Sastro menatap Deon tajam.
"Jawab pertanyaan ini. Buktikan bahwa rumus ini berlaku untuk semua kondisi, dan berikan solusi tercepat untuk kasus di bawah ini."
Soalnya sangat sulit! Panjang, rumit, dan butuh pemikiran berjam-jam bahkan untuk mahasiswa senior.
Tapi...
Deon hanya melihat soal itu selama 3 detik.
"Hmm... gampang sekali." gumamnya pelan.
Tangannya bergerak!
Tret... tret... tret...
Bukan menulis pelan-pelan. Deon menulis secepat kilat! Huruf-huruf dan angka-angka itu mengalir keluar dari otaknya begitu saja.
Ia tidak hanya menjawab. Ia menuliskan 3 cara penyelesaian berbeda sekaligus!
Ia bahkan menemukan kesalahan kecil dalam penulisan rumus di papan tulis dan memperbaikinya dengan rapi!
BRUMMMM...
Dalam waktu kurang dari 2 menit, papan tulis yang luas itu penuh dengan tulisan rapi, indah, dan sangat logis!
Deon meletakkan kapurnya, lalu menoleh ke Profesor Sastro.
"Selesai Pak. Mohon diperiksa."
Seluruh kelas diam.
Diam beku.
Mulut semua orang pada menganga lebar. Mata mereka melotot tak percaya melihat tulisan di papan tulis.
"Itu... itu bahasa apa? Kok rumusnya gak ngerti tapi kelihatan hebat banget?"
"Gila... dia nulisnya kayak mesin cetak! Cepet banget!"
"Dan dia jawab pake 3 cara?! Gila otak dia dari besi apa gimana?!"
Para cowok yang tadi senyum-senyum jahat sekarang wajahnya berubah pucat pasi. Mulut mereka terbuka lebar, dagu hampir nyerempet lantai.
"BRUK!"
Salah satu cowok menjatuhkan pulpennya.
"G... gila... itu beneran manusia?" gumamnya pelan, suaranya bergetar.
"Tadi kan kita kira dia cuma orang kaya doang..." bisik temannya dengan napas pendek. "Ternyata... otaknya lebih ngeri dari mukanya!"
"Gila... kita salah orang. Jangan cari masalah sama dia. Nanti kita yang kelihatan bodoh."
Mereka semua langsung menunduk, merasa sangat kecil dan bodoh di hadapan kejeniusan Deon. Rasa iri itu lenyap digantikan oleh rasa hormat dan ketakutan.
Di bangku belakang, Prizeyl dan Vina bertepuk tangan pelan dengan mata berbinar-binar.
"Ganteng banget sih pas lagi mikir!" seru Vina berdecak kagum.
"Kan sudah kubilang! Dia itu Deon Key! Bukan anak biasa!" jawab Prizeyl bangga sekali, seolah-olah dia yang menjawab soal itu.
Profesor Sastro memeriksa jawaban Deon. Wajahnya yang biasanya serius dan kaku kini berubah menjadi senyum lebar yang sangat jarang muncul.
"Sempurna... benar semua... dan caranya sangat elegan," kata Profesor Sastro pelan, lalu ia menepuk bahu Deon kuat-kuat.
"Anak muda... kau bukan sekadar murid. Kau adalah guru bagi kami semua. Silakan duduk kembali. Terima kasih sudah mengajari kami hari ini."
Tepuk tangan meriah meledak di seluruh ruangan!
"WOOOOHHH!!! DEON JAGOAN!!!"
Saat jam kuliah usai, mereka bertiga keluar dari kelas. Deon berjalan santai, sementara Prizeyl dan Vina berjalan di sampingnya takjub.
"Deon... kamu itu beneran manusia apa alien sih?" tanya Vina masih tidak habis pikir. "Tadi soalnya susah minta ampun lho! Dosen aja jarang yang bisa jawab secepat itu!"
Deon tersenyum simpul. "Biasa Vina. Kan itu cuma logika doang. Yang penting pola dan alurnya nyambung."
"Dasar jenius membosankan!" celetuk Prizeyl sambil mencubit lengan Deon pelan. "Tapi serius deh... tadi keren banget! Cowok-cowok yang tadi sinis sama kamu, sekarang pada natap kamu kayak lihat hantu! Pada takut dan kagum!"
"Hahaha biarin. Biar mereka tahu. Punya wajah ganteng dan mobil bagus itu biasa. Punya otak sekeren ini... itu baru langka!"
Dan hari itu pun menjadi sejarah.
Deon Key bukan lagi sekadar mahasiswa kaya raya. Dia kini dikenal sebagai Si Jenius Tak Terkalahkan!.