Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kekacauan
Malam merayap seperti tinta yang tumpah di atas Hutan Terlarang.
Di balik rimbunnya pepohonan purba yang meliuk seperti jemari raksasa, sebuah sosok berjubah hitam pekat bergerak tanpa suara.
Tian Hao menarik tiga tubuh yang kaku dengan satu tangan, kekuatan fisik dari Ranah Pemurnian Tubuh Tahap 5 membuatnya mampu menyeret beban manusia seolah-olah mereka hanyalah karung jerami kering.
Langkah kakinya berhenti di depan sebuah celah gua yang memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Ini adalah wilayah kekuasaan Ular Putih, induk dari Bai Kecil yang telurnya telah ia curi setahun yang lalu.
"Aku lebih suka mengecewakan seluruh dunia daripada membiarkan dunia mengecewakanku sekali lagi," bisik Tian Hao. Suaranya datar, tanpa beban moral, seolah ia sedang membacakan hukum alam yang tak terelakkan.
Ia melepaskan satu orang, Zhao, yang matanya masih melotot namun tubuhnya mulai bisa digerakkan secara paksa.
Tian Hao mengeluarkan seekor serangga parasit kecil berwarna ungu gelap dari botol porselen. Tanpa ragu, ia membiarkan serangga itu menggali masuk ke dalam leher Zhao.
"Serangga ini terhubung dengan jantungmu," ucap Tian Hao dingin. "Lari ke dalam gua itu. Serang apa pun yang kau lihat. Jika kau mencoba membocorkan identitasku atau berbalik melawanku, serangga ini akan meledakkan jantungmu dalam satu detik. Katakan pada semua orang bahwa kalian tidak sengaja membunuh 'bayi' makhluk suci yang sedang mengamuk."
Ketakutan yang murni terpancar dari mata Zhao, namun tubuhnya kini bergerak di luar kendalinya, dikendalikan oleh parasit dan insting bertahan hidup yang semu. Ia berlari masuk ke dalam kegelapan gua dengan teriakan histeris yang memecah kesunyian malam.
Beberapa saat kemudian, sebuah raungan frekuensi tinggi yang mampu meretakkan batu bergema dari dalam gua. Tanah bergetar hebat.
BOM!
Bagian depan gua hancur berantakan. Seekor ular raksasa dengan sisik seputih salju yang kini ternoda oleh kemarahan muncul.
Matanya yang merah menyala memancarkan aura kehancuran. Kehilangan telurnya dan kini diprovokasi oleh manusia rendahan membuat makhluk itu kehilangan akal sehatnya.
Tian Hao sudah menghilang ke atas dahan pohon tertinggi, menyembunyikan hawa keberadaannya sepenuhnya. Ia memperhatikan saat sinyal darurat keluarga Tian melesat ke langit, memicu cahaya merah yang terang.
Tak butuh waktu lama bagi kekuatan utama keluarga Tian untuk tiba. Dipimpin oleh Tian Fei yang terbang di atas pedang energinya, puluhan penjaga inti dan tetua mengepung area tersebut.
"Makhluk suci ini mengamuk! Bentuk formasi!" teriak Tian Fei. Auranya meledak, menandakan kekuatannya di Ranah Kristalisasi Inti Tahap 5. Energi emas yang padat menyelimuti tubuhnya, menekan udara di sekitar hingga radius puluhan meter.
Pertempuran pecah tanpa peringatan. Ular Putih raksasa itu melesat seperti kilat perak, ekornya menghantam barisan penjaga depan.
PRAK!
Tiga penjaga inti hancur seketika, tulang-tulang mereka remuk menjadi bubur di dalam zirah besi mereka. Darah memercik ke batang-batang pohon ginkgo.
Tian Fei meraung, pedangnya menebas udara dan menciptakan bilah energi raksasa yang menghantam sisik ular tersebut.
Ting! Ting! Ting!
Percikan api spiritual meledak saat energi kristal beradu dengan pertahanan alami sang naga tanah.
"Tetua Kedua! Ambil sayap kiri! Jangan biarkan dia mendekati pemukiman!" perintah Tian Fei dengan wajah yang tegang. Ia sadar ada yang aneh.
Makhluk sesunyi Ular Putih tidak akan keluar dari sarangnya tanpa alasan yang sangat kuat. Ia merasakan ada tangan tersembunyi di balik kekacauan ini, namun ia tidak punya waktu untuk berpikir.