NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Pertemuan Tanpa Sadar

Lobby Alvero Group hampir selalu bergerak dengan pola yang sama setiap sore. Langkah kaki cepat terdengar saling bersahutan di atas lantai marmer, pintu otomatis membuka dan menutup tanpa henti, sementara suara percakapan formal muncul lalu tenggelam di antara lalu lalang pegawai dan tamu bisnis. Semua berjalan rapi, terukur, dan nyaris tanpa cela, seperti mesin besar yang tahu tugas masing-masing.

Di tengah keteraturan itu, ada satu sosok yang menjadi pusat perhatian tanpa perlu berusaha. Zayden Alvero tidak perlu menaikkan suara agar ruangan menegang, tidak perlu memanggil nama orang agar jalur di depannya otomatis terbuka. Kehadirannya saja sudah cukup membuat banyak orang merapikan postur, menurunkan nada bicara, dan memeriksa ulang pekerjaan yang dibawa.

Ia dikenal tegas, singkat, dan jarang memberi ruang pada hal yang dianggap tak penting. Bagi Zayden, waktu adalah sesuatu yang tak pantas diboroskan. Jika rapat bisa selesai dalam sepuluh menit, maka lima belas menit terasa berlebihan. Jika sebuah laporan bisa diringkas dua halaman, maka dua puluh halaman hanyalah kemalasan yang dibungkus formalitas.

Karena itu, anak kecil dan segala dunia ribut di sekitarnya bukan sesuatu yang pernah masuk dalam prioritas hidupnya. Ia tidak membenci anak-anak, hanya tak pernah punya alasan untuk mendekat. Mereka menangis tiba-tiba, bertanya tanpa jeda, berlari tanpa arah, dan menyentuh benda mahal seolah semua barang diciptakan untuk dimainkan.

Singkatnya, anak-anak adalah kekacauan kecil yang berjalan dengan dua kaki.

Maka ketika seorang bocah menabrak kakinya di lobby sore itu, beberapa pegawai yang melihat dari kejauhan langsung saling melirik diam-diam. Mereka sudah hafal ekspresi Zayden saat terganggu. Tatapan dingin, rahang mengeras, lalu satu kalimat pendek yang cukup membuat orang dewasa berkeringat.

Namun yang terjadi justru berbeda.

Buk.

Tubuh kecil itu membentur tulang keringnya lalu oleng ke belakang. Sebelum jatuh, tangan Zayden sudah lebih dulu menahan bahu mungil tersebut dengan gerakan refleks yang cepat dan mantap.

"Pelan."

Nada suaranya rendah seperti biasa, tetapi tak ada ketajaman di sana.

Bocah itu mendongak. Rambut hitamnya sedikit berantakan, tangan kanannya menggenggam robot kecil berwarna biru, dan sepasang mata tajam menatap lurus tanpa gentar.

"Wah."

Zayden mengangkat alis tipis. "Apa?"

"Om tinggi sekali."

Dua resepsionis yang mendengar langsung menunduk sibuk pada layar komputer masing-masing, menahan reaksi. Kalimat seperti itu tak pernah dilontarkan siapa pun kepada CEO mereka.

Zayden tetap menatap anak tersebut. "Dan itu masalah?"

Rheon memiringkan kepala seolah sedang menimbang jawaban paling tepat.

"Kalau Om jatuh, pasti bunyinya gede."

Ada jeda dua detik. Lalu sudut bibir Zayden bergerak sangat tipis. Jika tidak memperhatikan baik-baik, orang akan mengira itu hanya perubahan napas biasa.

Namun mereka yang bekerja lama di gedung ini tahu persis. Itu senyum.

Vania yang baru kembali dari kedai kopi mematung di dekat pintu putar sambil membawa gelas kertas.

"Aku tadi lihat Pak Zayden senyum?" bisiknya pada Adrian.

Adrian bahkan belum sempat menyesap kopinya. "Kalau itu benar, aku butuh saksi."

Sementara itu, Rheon sudah kembali berdiri tegak dan menepuk-nepuk celananya seolah habis menyelesaikan urusan penting. Ia lalu menatap setelan gelap Zayden dari atas sampai bawah dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan.

"Om kerja di sini?"

"Iya."

"Sebagai apa?"

"Saya bos."

Rheon membulatkan mata. "Bos besar?"

"Cukup."

"Berarti Om bisa libur kapan saja."

Sekretaris pribadi Zayden yang berdiri beberapa langkah di belakang langsung menunduk. Bahunya bergerak halus menahan tawa.

"Siapa bilang?" tanya Zayden.

"Bos biasanya nyuruh orang."

"Kalau orangnya salah kerja, saya tetap harus datang."

Rheon merenung beberapa detik, lalu mengangguk bijak.

"Kasihan juga."

Kalimat itu polos sekali sampai seorang staf keamanan terbatuk mendadak demi menyamarkan tawanya. Tak ada orang waras yang pernah menyebut hidup Zayden Alvero kasihan di depan wajahnya sendiri.

Namun pria itu sama sekali tak tersinggung.

"Nama kamu siapa?" tanyanya.

"Rheon."

"Datang dengan siapa?"

"Mbak Nira. Tapi tadi aku lihat air mancur, terus di sini banyak kaki."

"Banyak kaki?"

"Iya. Orang dewasa kalau jalan suka buru-buru, jadi yang kelihatan cuma kaki."

Zayden menatap lobby yang memang sedang sibuk. Penjelasan itu aneh, tetapi masuk akal dari sudut pandang anak kecil.

"Kamu tersesat."

Rheon cepat menggeleng. "Aku bukan tersesat. Aku cuma belum balik."

Jawaban itu membuat Zayden diam sejenak. Anak ini tenang, terlalu tenang untuk usianya. Sebagian besar bocah seusianya akan menangis jika kehilangan pendamping di tempat asing. Rheon justru sibuk menilai situasi dan bercakap-cakap seperti orang dewasa kecil.

"Takut?" tanya Zayden.

"Sedikit."

"Kenapa tidak menangis?"

Rheon mengangkat bahu. "Kalau nangis, aku tetap belum tahu jalan pulang."

Vania mencubit lengan Adrian pelan. "Anak itu keren."

"Yang lebih aneh Pak Zayden masih berdiri di sana."

Zayden sendiri belum bergerak. Ia menatap bocah di depannya dengan rasa heran yang jarang muncul. Ada sesuatu pada cara anak ini bicara yang mengusik perhatian. Bukan hanya berani, tetapi seperti tak pernah belajar takut pada status.

Rheon kini menunjuk jam tangan di pergelangan tangan Zayden.

"Itu mahal ya?"

"Mungkin."

"Kalau dijual bisa beli seribu robot?"

"Saya tidak menghitung pakai robot."

"Berarti Om kurang imajinasi."

Sekretarisnya berdeham sambil menatap langit-langit.

Zayden menurunkan pandangan pada anak itu. "Kamu sering bicara seperti ini?"

"Kalau lawannya seru."

"Lalu saya seru?"

"Lumayan."

Ada keheningan singkat yang terasa lucu bagi siapa pun yang melihat. CEO paling ditakuti di gedung sedang dinilai kelayakannya oleh bocah lima tahun.

"Umur kamu berapa?" tanya Zayden lagi.

"Lima."

"Lima tahun dan sudah suka mengomentari orang."

"Aku observasi."

Kata itu diucapkan cukup jelas, hanya sedikit cadel di huruf tertentu.

Zayden membeku sepersekian detik.

Observasi.

Kata yang dulu sering ia gunakan. Kata yang jarang dipakai anak kecil seusia ini.

"Siapa yang mengajarimu kata itu?"

"Mommy."

Jawaban singkat itu membuat sesuatu tertarik samar di dadanya. Perasaan asing yang tak ia sukai karena tak bisa dijelaskan.

"Mommy kamu kerja di sini?"

"Iya."

"Bagian apa?"

Rheon berpikir keras. "Bagian sibuk."

Beberapa orang yang mendengar menunduk menahan senyum.

"Nama ibumu?"

Bocah itu menyipitkan mata curiga. "Kenapa Om tanya banyak sekali?"

"Agar saya bisa bantu mencari dia."

"Kalau Om bohong?"

Zayden menatapnya datar. "Menurutmu saya bohong?"

Rheon memandangi wajahnya cukup lama, benar-benar menilai seperti hakim kecil.

"Enggak."

"Kenapa?"

"Kalau jahat biasanya mata orang sempit begini." Ia mencontohkan wajah galak dengan lucu. "Mata Om capek, bukan jahat."

Sekretaris Zayden kali ini benar-benar harus berpaling.

Zayden sendiri tak tahu harus merespons apa. Ia sudah lama tidak dipandang sesederhana itu. Bukan sebagai CEO, bukan pewaris keluarga besar, bukan nama di media. Hanya seorang pria bermata lelah di mata anak kecil.

Ia berjongkok agar sejajar, gerakan yang membuat lobby mendadak terasa lebih hening. Banyak orang pura-pura sibuk sambil diam-diam melirik.

"Om punya anak?" tanya Rheon tiba-tiba.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Itu pertanyaan pribadi."

"Oh." Rheon mengangguk mengerti. "Berarti belum lulus."

"Lulus apa?"

"Jadi ayah."

Zayden menatapnya cukup lama. Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa meninggalkan gema aneh di kepala. Ia tak pernah memikirkan peran itu secara serius. Hidupnya selama ini diisi angka, kontrak, target, dan perluasan bisnis.

"Lalu kenapa semua orang harus jadi ayah?" tanyanya.

Rheon memeluk robot birunya. "Kalau enggak, nanti siapa yang diajak main robot?"

Zayden kehabisan jawaban.

Dua pegawai HR di dekat lift nyaris tertawa keras.

"Ini lebih seru dari serial malam minggu."

"Diam, nanti kita dipindah cabang."

Rheon mengangkat robotnya tinggi-tinggi. "Ini namanya Titan-X."

"Nama yang buruk," ujar Zayden spontan.

Rheon terkejut. "Enggak buruk."

"Terlalu panjang."

"Bikin yang lebih bagus kalau Om bisa."

Zayden menerima robot itu, memeriksanya beberapa saat. Mainan plastik murah, satu roda sedikit longgar, cat di bahu mulai pudar. Ia lalu menyerahkan kembali.

"Sentinel."

Rheon berkedip kagum. "Keren."

"Memang."

"Om pintar juga."

Pujian polos itu membuat wajah Zayden melunak nyaris tak terlihat.

Ia berdiri lagi. Sosok CEO dingin kembali utuh dalam sekejap, tetapi perasaan aneh itu belum pergi. Anak ini terasa familiar dengan cara yang mengganggu. Bentuk matanya saat serius, alis yang terangkat ketika bertanya, cara menatap lurus tanpa ragu.

Ia pernah melihat semua itu.

Di mana?

Dari arah lift, suara langkah cepat terdengar bersama panggilan penuh panik.

"Rheon!"

Bocah itu langsung berseri. "Mommy!"

Zayden menoleh.

Seorang perempuan berlari keluar lift dengan napas memburu dan wajah pucat. Rambutnya sedikit berantakan, tas masih tergantung di bahu, dan matanya mencari ke segala arah sampai jatuh pada anak kecil di depannya.

Lalu ia melihat Zayden.

Tubuh Elvara berhenti sesaat, cukup singkat untuk luput dari orang lain. Namun Zayden menangkapnya jelas.

Rheon berlari dua langkah lalu dipeluk erat.

"Jangan pergi sendiri lagi," ujar Elvara dengan suara bergetar.

"Aku cuma lihat air mancur."

"Rheon."

Nada lembut namun tegas itu membuat anak tersebut menunduk. Elvara lalu mengangkat wajah pada Zayden. Sikapnya sopan, tetapi bahunya kaku.

"Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan."

Zayden tak langsung menjawab. Pandangannya berpindah dari Elvara ke Rheon, lalu kembali lagi. Dari jarak sedekat ini, sesuatu yang tadi samar menjadi lebih mengusik.

Mata anak itu.

Garis bibir saat diam.

Cara berdiri.

"Anak Anda?" tanyanya.

"Iya."

"Namanya Rheon."

"Iya."

"Usianya?"

Elvara menelan ludah nyaris tak terlihat. "Lima tahun."

Angka itu jatuh pelan, tetapi menimbulkan gelombang dalam kepala Zayden. Lima tahun. Wajah familiar. Elvara yang jelas tegang melihat dirinya.

Rheon mengangkat robotnya. "Om, namanya sekarang Sentinel."

Elvara memejamkan mata singkat seolah sedang menahan sesuatu.

"Dia banyak bicara," ujar Zayden.

"Dia memang aktif."

"Dia cerdas."

"Terima kasih."

Jawaban Elvara singkat dan cepat, seperti orang yang ingin segera pergi.

Zayden menyadarinya.

"Kenapa Anda tampak tegang, Bu Elvara?"

"Saya hanya kaget anak saya ada di sini."

Rheon menarik lengan ibunya. "Mommy, Om ini tadinya Om Tinggi."

Beberapa pegawai gagal menahan tawa kecil.

Elvara tampak ingin menghilang ke lantai marmer.

"Bagus. Sekarang kita pulang," katanya cepat.

Ia menggenggam tangan Rheon dan berbalik. Namun sebelum melangkah jauh, Zayden memanggil sekali lagi.

"Bu Elvara."

Ia menoleh dengan susah payah.

"Besok pagi bawa konsep kampanye baru ke ruang saya."

Nada suaranya formal, wajar, dan tidak memberi celah. Namun tatapannya jauh dari biasa. Tatapan seseorang yang baru menemukan benang kusut dan berniat menariknya sampai ujung.

"Baik, Pak."

Mereka berjalan ke pintu keluar. Rheon masih sempat menoleh dan melambaikan robotnya.

"Bye, Om Sentinel."

"Nama saya Zayden."

"Oh." Rheon berpikir sebentar. "Om Zayden lebih bagus daripada Om Tinggi."

Kali ini beberapa orang benar-benar harus menunduk agar tak terlihat tertawa.

Pintu kaca menutup setelah Elvara dan anaknya pergi. Lobby kembali bergerak seperti semula, tetapi udara terasa berubah. Banyak mata pura-pura sibuk sambil menunggu apa yang akan dilakukan bos mereka.

Sekretaris Zayden mendekat hati-hati.

"Pak, mobil sudah siap."

Zayden masih menatap pintu yang tertutup rapat. Rahangnya mengeras tipis, pikirannya bekerja cepat.

"Hmm."

"Bisa berangkat sekarang?"

Ia akhirnya mengalihkan pandangan. Wajahnya kembali datar, tetapi sorot matanya jauh lebih tajam dari sebelumnya.

"Jadwal ulang."

"Baik, Pak."

Sekretaris itu mencatat cepat.

Zayden memasukkan satu tangan ke saku celana. Di kepalanya, potongan-potongan yang tadi berserakan mulai bergerak mencari tempat masing-masing.

Lima tahun.

Elvara.

Anak bermata familiar.

Kepanikan yang terlalu jelas.

Ia menoleh pada asistennya.

"Cari seluruh data personal Bu Elvara Naysha yang tersedia di HR."

"Pak?"

"Sekarang."

Asisten itu langsung mengangguk dan pergi.

Zayden kembali menatap ke arah pintu kaca. Suaranya sangat pelan, hampir tenggelam oleh bunyi lobby yang kembali sibuk.

"Kenapa rasanya aku sudah terlambat mengetahui sesuatu?"

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!