"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.
Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?
Atau ia justru ikut terjerumus juga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH LIMA
Ia duduk di pinggir ranjang, menatap Adelia dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk seseorang yang barusan mendengar anak angkatnya sendiri sedang cemas di luar kota.
"Del," ucap Bastian pelan namun tegas, "Sekarang Lukas pasti sedang sibuk kerja. Kamu tahu sendiri dia kalau sudah urusan bisnis, nggak bisa diganggu."
"Tapi Pa... dia kelihatannya khawatir sekali. Sampai mimpi buruk juga sepertinya... aku harus bilang kalau aku baik-baik saja," ucap Adelia.
"Papa sudah beritahu Lukas tadi waktu dia nelpon Papa juga." Bastian menatap lurus ke matanya. "Papa bilang kamu lagi istirahat. Lukas pasti sudah tenang sekarang."
Adelia mengerutkan kening. "Pa... tapi kenapa Papa gak bilang sama aku? Kenapa Papa angkat telpon mas Lukas, tapi gak kasih ke aku?"
Bastian tak berkedip. "Lukas bilang hp kamu mati tadi, Papa kira kamu lagi nggak mau diganggu. Lagipula... Papa cuma bantu."
Adel menunduk, gelisah.
"Biar bagaimanapun," lanjut Bastian, "Jangan ganggu Lukas dulu! Kasihan, dia pasti capek sama urusan kerjaannya."
"Tapi Pa-"
"Del." Suara Bastian lebih dalam, namun tidak marah.
"Percaya sama Papa! Kalau Lukas senggang, dia pasti telpon lagi."
Adel terdiam, bingung harus menjawab apa. Ada sesuatu yang terasa tidak beres... namun ia tidak berani mendesak.
Akhirnya ia berkata lirih, "Baik, Pa..."
Bastian tersenyum hangat-senyum yang tidak diketahui Adelia menyimpan niat lain di baliknya. Ia berdiri, menepuk lembut bahu menantunya.
"Minum herbalnya, ya! Papa ke bawah dulu," ujar Bastian.
Saat pintu menutup, Adelia memeluk ponselnya, tatapannya kosong.
Ia tidak tahu bahwa suaminya meneleponnya dengan panik tadi pagi. Ia juga tidak tahu bahwa suara cemas itu tidak pernah sampai kepadanya. Ia tidak tahu bahwa ayah mertuanya telah menutup jarak komunikasi antara dirinya dan Lukas tanpa ia sadari.
Yang ia tahu hanya satu, ada sesuatu yang mulai salah.
Dan ia tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.
****
Senja mulai turun, langit berwarna oranye lembut yang memantul di kaca-kaca besar rumah itu. Adelia duduk di sofa ruang keluarga sambil memegang ponselnya. Wajahnya terlihat lebih cerah dibanding siang tadi karena sebuah pesan baru saja masuk dari temannya.
"Del, kantor tempat aku kerja lagi butuh admin nih.
Kayaknya kamu cocok banget. Gajinya lumayan, jam kerjanya santai. Kalau minat, aku rekomendasikan kamu ya!"
Mata Adelia berbinar.
"Alhamdulillah..." bisiknya lirih, sebuah senyum muncul. "Akhirnya aku bisa kerja. Bisa keluar rumah. Nggak akan terus berduaan sama Papa Bastian..."
Ia membalas pesan temannya dengan cepat.
"Aku mau! Kamu bantu aku ya!"
Beberapa pesan balasan masuk, berisi instruksi untuk mengisi data dan jadwal interview yang mungkin akan dibuat besok atau lusa.
Adel merasa semangat. Sudah lama ia ingin melakukan sesuatu yang produktif selain mengurus rumah. Lukas pun dulu pernah bilang ia boleh bekerja jika ingin, asal tidak memaksakan diri.
Setelah membalas pesan, pikirannya langsung tertuju pada suaminya.
Ia melihat jam-pukul 17.45.
"Mas Lukas biasanya sudah selesai kerja jam segini...
mungkin aku bisa telpon dia sekarang."
Adelia menekan nama kontak suaminya.
Satu nada sambung.
Lalu hilang.
Ponsel Lukas tidak aktif.
Adel menggigit bibir, gelisah. "Kenapa ponselnya mati? Mas... kamu kenapa sih..."
Ia mencoba sekali lagi.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Adelia menutup ponsel, menunduk. Kecemasan itu kembali menghantam dadanya. Mimpi buruk yang Lukas ceritakan lewat pesan semalam terlintas kembali di kepalanya.
Saat ia memikirkan itu, seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Adelia tersentak sedikit.
"Kenapa wajah kamu murung begitu?"
Itu Bastian.
Ia duduk terlalu dekat. Tubuhnya masih membawa
aroma sabun dan parfum yang khas, membuat Adel sedikit memalingkan wajah.
"Pa... saya cuma lagi kepikiran Mas Lukas," jawab Adelia jujur. "Nomor dia nggak aktif, saya jadi khawatir."
Bastian mengangguk pelan, ekspresinya dibuat seolah memahami. "Wajar, Del. Suami kamu kan sedang ada tugas besar. Kadang sinyal bisa saja hilang."
"Biasanya dia nggak sampai matiin ponselnya kayak gini, Pa..." gumam Adelia.
"Kamu harus belajar percaya, Lukas itu sudah dewasa. Dia tahu jaga diri," ucap Bastian.
Bastian menepuk lembut punggung tangan Adelia.
Adelia menarik tangannya halus agar tidak terlalu lama bersentuhan.
Lalu, untuk mengalihkan pikiran dari kecemasannya, Adelia berkata, "Oh iya Pa, tadi sore ada pesan dari teman lama saya. Katanya ada lowongan kerja di bagian admin. Saya pikir... mungkin saya mau coba kerja, Pa. Biar nggak bosan tiap hari di rumah."
Reaksi Bastian berubah drastis.
Dari tenang...
menjadi kaku.
Tatapannya menajam sedikit. "Kamu mau kerja?"
"I-iya, Pa. Kalau Papa izinkan..." jawab Adel hati-hati.