Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kucing Galak & Patung Es
Ruang makan mansion Valehart malam ini terasa sangat luas dan sunyi. Hanya ada denting perak pisau dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal.
Cahaya lilin di atas meja panjang itu menari-nari, memantulkan bayangan Lucien dan Aurora yang duduk berhadapan dalam kebisuan yang kaku.
Aurora, yang sudah berganti pakaian dengan gaun rumah berbahan sutra ringan, tampak sangat fokus pada potongan daging di piringnya. Setelah adegan "tampar pipi" di kamar mandi tadi, ia bertekad untuk tampil sedingin es di depan Lucien. Ia tidak boleh terlihat goyah sedikit pun.
Lucien sendiri duduk dengan postur sempurna, namun matanya sesekali melirik ke arah Aurora yang tampak terlalu tekun memotong makanan yang sebenarnya sudah terpotong rapi.
Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga suasana terasa menyesakkan. Aurora sudah bersiap untuk menyelesaikan makannya secepat mungkin dan kabur ke kamar, sampai tiba-tiba suara Lucien memecah kesunyian.
"Apakah teh di kedai dekat toko buku itu benar-benar enak?"
Aurora tersedak pelan.
Ia segera meraih gelas air putihnya dan meminumnya dengan cepat untuk menenangkan diri.
Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana Lucien bisa tahu?
"Bagaimana kau—" Aurora menggantung kalimatnya, lalu mencoba bersikap tenang kembali. "Kau memata-matai aku?"
Lucien meletakkan garpunya dengan tenang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap Aurora dengan tatapan datar yang sulit dibaca.
"Aurelia adalah kota yang kecil bagi pria sepertiku. Dan keselamatanmu adalah tanggung jawabku, sesuai kontrak," jawab Lucien dengan nada yang terdengar seperti sedang membicarakan laporan cuaca, padahal ada kilatan aneh di matanya.
Ia berhenti sejenak, lalu melontarkan pertanyaan yang benar-benar acak.
"Lalu... apa kau lebih suka teh Earl Grey daripada lukisan yang belum selesai?"
Aurora mengerutkan kening, benar-benar bingung dengan arah pembicaraan Lucien.
"Apa maksudmu? Itu pertanyaan yang tidak masuk akal."
Lucien hanya menatapnya, ada sedikit kerutan di dahi pria itu—seolah dia sedang menahan sesuatu yang lebih dari sekadar pertanyaan random.
"Bukan apa-apa. Aku hanya berpikir, jika kau butuh 'udara segar', kau bisa memintaku untuk menemanimu. Kau tidak perlu mencarinya dari orang yang hanya bisa bicara soal teori hukum sepanjang sore."
Aurora tertegun.
Tunggu sebentar. Apakah Lucien Valehart yang agung dan dingin ini baru saja... menyindir Adrian Morel?
Aurora meletakkan pisau dan garpunya dengan denting yang sengaja ia buat sedikit lebih keras. Ia menegakkan punggung, menatap langsung ke mata Lucien dengan tatapan menantang yang paling angkuh.
"Oh, kau juga menjadi kritikus teh?" Aurora mengangkat sebelah alisnya dengan gaya yang sangat provokatif.
"Tehnya sangat enak, Lucien. Terima kasih sudah bertanya. Dan soal Tuan Morel, setidaknya dia tidak menghabiskan waktu makan malam dengan menginterogasiku seperti seorang tersangka di kantor polisi."
Lucien sedikit menyipitkan matanya. Rahangnya mengeras, sebuah tanda bahwa sindiran Aurora baru saja mengenai sasaran.
"Aku tidak menginterogasimu. Aku hanya memastikan kau tidak membuang-buang waktu dengan orang yang salah," balas Lucien, suaranya kini sedikit lebih dalam dan dingin.
Aurora mendengus remeh. Bukannya takut, sifat keras kepalanya justru semakin berkobar.
"Orang yang salah? Dia seorang profesional yang sangat sopan. Dan jika aku ingin menghabiskan waktu soreku sambil mendengarkan 'teori hukum' sambil menikmati Earl Grey, itu adalah hakku. Di kontrak kita tidak ada poin yang menyebutkan aku dilarang minum teh dengan pria yang punya selera humor lebih baik daripada patung es di depanku ini."
Lucien terdiam. Suasana di ruang makan itu mendadak terasa seperti medan perang yang hanya dipisahkan oleh sehelai kain meja.
"Patung es?" gumam Lucien pelan, hampir tidak terdengar.
"Ya, patung es yang tiba-tiba bisa memantau jadwal minum teh istrinya," sahut Aurora lagi, semakin berani. Ia kemudian memotong sepotong kecil daging dengan gerakan anggun yang sangat menyebalkan.
"Lagi pula, bukankah kau sendiri yang bilang kota ini sedang 'kacau'? Jadi, bukannya seharusnya aku merasa aman karena ada seorang pengacara handal yang menemaniku? Dia bahkan membukakan pintu untukku, sesuatu yang mungkin... kau lupa cara melakukannya karena terlalu sibuk dengan buku besarmu."
Aurora memberikan senyum paling manis namun paling palsu yang pernah ia miliki. Ia merasa menang saat melihat Lucien meremas serbet di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Makan itu, Tuan Valehart yang Terhormat! batin Aurora dalam hati sambil berteriak kegirangan.
Ia tahu ia sedang bermain dengan api, tapi melihat Lucien kesal seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada menonton pertunjukan teater mana pun di Aurelia.
Suasana di ruang makan itu mendadak mendingin.
Lucien meletakkan serbetnya ke atas meja dengan gerakan yang sangat pelan, namun auranya terasa mencekam. Ia bangkit dari kursinya, tidak melepaskan pandangannya dari Aurora sedikit pun.
Aurora tetap mendongak, mencoba mempertahankan ekspresi angkuhnya, meski dalam hati ia mulai merasa bahwa ia mungkin sudah melangkah terlalu jauh.
Lucien berjalan memutari meja panjang itu, langkahnya lambat dan berwibawa, seperti predator yang sedang mengunci mangsanya.
Ia berhenti tepat di samping kursi Aurora, lalu membungkuk perlahan hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Aurora.
Bau aroma kayu cendana dan samar-samar wangi minuman keras dari napas Lucien membuat pertahanan Aurora goyah seketika.
"Kau sangat berani malam ini, Aurora," bisik Lucien, suaranya rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuh Aurora.
"Kau membandingkanku dengan pria itu, menyebutku patung es, dan mengeluh soal kurangnya... perhatian dariku?"
Lucien mengunci tatapan mata Aurora, tangannya kini bertumpu di sandaran kursi Aurora, mengurung wanita itu di tempatnya.
"Katakan padaku," lanjut Lucien dengan nada dingin namun penuh provokasi yang berbahaya.
"Apakah kau sedang menantangku untuk membuktikan seberapa 'hangat' patung es ini bisa memperlakukanmu? Atau kau sebenarnya sedang memohon agar aku menutup mulutmu itu dengan cara yang tidak akan bisa dilakukan oleh pengacara kesayanganmu itu?"
Napas Aurora tertahan.
Ia bisa merasakan kehangatan dari tubuh Lucien yang kini sangat dekat dengannya.
"Kau—" Aurora mencoba membalas, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
"Apa?" potong Lucien.
"Apa kau ingin aku menciummu sekarang hanya untuk membuktikan bahwa aku punya lebih banyak nyali daripada sekadar membukakan pintu untukmu?"
Tantangan itu menggantung di udara, sangat panas dan menyesakkan. Aurora bisa melihat kilatan gelap di mata Lucien yang menunjukkan bahwa pria itu sama sekali tidak sedang bercanda.
Keheningan yang mencekam itu pecah dalam sekejap mata.
PLAK!
Refleks yang dipicu oleh rasa terkejut dan gugup yang luar biasa membuat tangan Aurora melayang begitu saja ke pipi Lucien. Suara tamparan itu bergema di ruang makan yang sunyi, membuat pelayan di sudut ruangan bahkan sampai menahan napas.
Wajah Lucien terlempar ke samping.
Ia mematung.
Keheningan yang menyusul kali ini jauh lebih menakutkan daripada sebelumnya.
Mata Aurora membelalak lebar. Ia menatap tangannya sendiri, lalu menatap pipi Lucien yang mulai memerah. Jantungnya seolah mau melompat keluar dari dadanya.
"Ma—maaf!" Aurora tergagap, suaranya naik dua oktav karena panik.
"Maksudku... i-itu... JANGAN MACAM-MACAM DENGANKU!"
Aurora berteriak untuk menutupi rasa malunya yang sudah sampai ke ubun-ubun. Wajahnya kini bukan lagi merah karena marah, tapi sudah merah padam seperti kepiting rebus.
Sebelum Lucien sempat memutar kepalanya kembali untuk menatapnya, Aurora sudah mengambil langkah seribu.
Ia menyambar pinggiran gaunnya, berbalik, dan lari tunggang-langgang meninggalkan ruang makan seperti kucing yang baru saja melihat hantu—atau lebih tepatnya, kucing yang baru saja melakukan kesalahan besar dan takut kena semprot.
Langkah kakinya yang terburu-buru bergema di koran mansion, meninggalkan Lucien yang masih berdiri mematung di samping kursi kosong, perlahan menyentuh pipinya yang berdenyut panas dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
Langkah kaki Aurora yang terburu-buru perlahan menghilang, digantikan oleh kesunyian ruang makan yang kini terasa lebih hangat dari sebelumnya.
Para pelayan yang tadi sempat menahan napas kini tertunduk dalam, tidak berani mengangkat wajah.
Lucien masih berdiri di posisi yang sama. Ia perlahan menurunkan tangannya dari pipi yang baru saja ditampar itu.
Dugaannya benar.
Aurora bukanlah wanita yang bisa dijinakkan hanya dengan ancaman kosong.
Perlahan, Lucien menoleh ke arah pintu tempat Aurora menghilang. Sesuatu yang langka terjadi. Ketegangan di wajahnya mencair, digantikan oleh ekspresi yang belum pernah dilihat oleh siapapun di mansion itu sebelumnya.
Lucien tersenyum tipis—sangat tipis hingga hampir tidak terlihat—namun ada binar geli dan ketertarikan yang nyata di matanya.
Ia kembali menyesap minumannya, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih baik daripada saat ia memulai makan malam tadi.
"Kucing galak," gumam Lucien rendah pada dirinya sendiri.
Ia meletakkan gelasnya, lalu merapikan jasnya dengan santai seolah-olah tamparan tadi hanyalah sebuah sapaan manis.