NovelToon NovelToon
Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Ichigatsu

Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 - Krisis Citra Raja Iblis

Hari-hari Avara disibukkan dengan banyak hal; pembuatan sertifikat tanah, segel identitas, dan stock opname barang-barang di istana. Dia berusaha keras untuk tetap bisa tidur di sela kesibukannya, agar bisa mengimbangi kekuatan fisik para iblis yang bekerja bersamanya.

Bisa dikatakan hampir tidak ada lagi pandangan sebelah mata yang ditujukan padanya, terutama dari para iblis birokrat yang menerima efek langsung proyek-proyeknya. Mereka mungkin masih memperlakukan Avara sebagai entitas yang berbeda, tapi dalam perkara pekerjaan, para iblis itu telah memandangnya sebagai rekan sejawat yang memikul beban serupa. Tidak ada lagi rasa segan di antara mereka untuk bekerja sama atau sekadar memanggil Avara, pun sebaliknya, tidak ada lagi rasa takut bagi Avara untuk membagi tanggung jawabnya pada mereka.

Hingga sebuah prahara muncul..

Pada satu hari, Fulqentius membuat sebal Oriole dengan mendatangi langsung ruang kerja Avara yang penuh dengan 'tim IT' dan dua iblis muda pekerja magang. Ruangan itu terasa lebih sempit dari yang seharusnya, jadi sang raja iblis tidak memaksakan diri masuk. Dia hanya berdiri di ambang pintu, dengan Oriole berkali-kali menghela napas di belakangnya. Semua iblis di sana segera bangkit dalam posisi siaga, tubuh mereka tegak oleh penghormatan.

Fulqentius diam-diam mencari sosok Avara yang sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Dia diam untuk waktu yang lama, yang diduga semua iblis di sana sedang digunakannya untuk memeriksa kinerja mereka. Sehingga saat Fulqentius menanyakan bagaimana perkembangan pekerjaan mereka, semua iblis itu berdiri kaku dan berwajah pias.

Seorang iblis muda yang duduk paling dekat dengan pintu, gemetar karena takut, terutama saat raja iblis bertanya langsung padanya. "Sampai sejauh mana pekerjaan kalian?"

Dengan jari-jari bergetar, iblis muda itu menyerahkan sebuah laporan manual, yang menurutnya belum selesai diinput ke dalam sistem. "Kami sudah hampir selesai, "Your Majesty."

Saat Fulqentius berwajah puas itulah Avara kembali. Dia bertanya-tanya ada apa gerangan seorang raja turun untuk mengecek tempat kerja sederhana milik bawahannya, jadi dia segera mendekat. Hal pertama yang didapati Avara adalah wajah lega sang raja dan secarik kertas yang lantas dicurigainya.

"Your Majesty," sapanya.

"Avara Luna Manara," balas Fulqentius.

Avara menghela napas. "Sudah saya bilang, panggil saya dengan Avara saja."

Fulqentius mengangguk, tidak memerhatikan raut risih Oriole yang melihat tuannya dikritik oleh seorang manusia.

"Kudengar pekerjaan kalian hampir selesai."

Avara terkejut. "Pardon?"

Fulqentius menggoyangkan ringan kertas laporan yang dibawanya, yang kemudian menarik perhatian Avara. Gadis itu meminta ijin untuk meminjamnya sebentar, mengecek apapun yang tertulis di sana.

"Laporan ini salah, Your Majesty."

Berpaling, Avara menatap rekan kerjanya satu-persatu, bertanya-tanya siapa yang memberikan laporan setengah jadi ini pada sang raja.

"Salah?"

"Tepatnya, kurang sesuai," koreksi Avara. "Pekerjaan kami masih jauh dari selesai. Bagaimanapun juga kami mengerjakan empat proyek besar dalam satu waktu."

Baru setelah itu, Avara mendapati wajah pucat para iblis dalam ruang kerjanya, yang segan dan luar biasa takut pada Fulqentius. Avara segera menyadari bahwa kedudukan mereka tentu harus memaksa mereka untuk senantiasa bersikap formal pada sang raja, dan tentu saja berada dalam tekanan untuk membuatnya senang.

Avara menghela napas kembali. Ini akan menjadi PR lagi baginya.

...****************...

Menjelang siang, Avara diundang untuk mengikuti rapat dengan Fulqentius dan Archdemon Azelion.

"Kau harus berhati-hati dalam bicara," pesan Oxron.

"Dan bertindak," lanjut Fulton.

"Atau berpikir," tambah Gaiyus.

Avara bertanya-tanya seberapa menyeramkannya Archdemon satu ini hingga membuat tim-nya berpesan demikian. Meski begitu tidak ada yang menjelaskan apapun padanya saat Avara mengungkapkan pertanyaannya, membuatnya justru tak henti-henti merasa penasaran. Mungkin dirinya harus kembali menjumpai Archdemon yang merepotkan.

Nyatanya, Azelion adalah iblis wanita yang memiliki kesan terpelajar yang kuat, elegan, dan rapi. Tanduknya runcing di kiri-kanan kepala, dengan rambut ikal sepinggang yang tampak sangat terawat. Matanya tajam khas para petinggi iblis, tapi mungkin untuk menangkap hal-hal yang memerlukan ketelitian dan kecermatan tinggi.

Kesan pertama Avara saat melihat Azelion adalah bahwa wanita itu adalah figur sempurna bagi pekerja korporat.

Dan kesan itu semakin baik saat si iblis menjabat tangannya.

"Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu, Manara. Gagasanmu tentang database kerajaan sangat mengagumkan."

"Terima kasih.." Avara bingung bagaimana harus memanggilnya. "My Lady. Senang jika apa yang sudah saya kerjakan bisa membantu. Tapi Anda bisa memanggil saya Avara saja, karena Manara bukanlah nama marga."

"Oke, Avara. Sebaliknya, panggil aku Miss saja." Lalu Azelion tertawa formal. "Meski jika melihat usia asliku, aku sudah tidak cocok dipanggil begitu."

Fulqentius jelas puas pada pertemuan pertama mereka yang berjalan lancar, tanpa pertikaian atau sekedar pancaran perasaan benci yang membabi-buta.

Rapat mereka bertiga, disertai Oriole sebagai ajudan sekaligus sekretaris setia Fulqentius, sebagian besar membahas pencapaian Avara sebagai admin yang banyak merombak hal-hal fundamental di kerajaan iblis. Sebagai kepala bagian Arsip, alih-alih merasa dipermalukan, Azelion justru merasa sangat terbantu oleh ide-ide yang dibawa Avara. Dia sangat senang telah didukung dalam administrasi berbagai hal di kerajaan yang selama beratus-ratus tahun lebih mementingkan perang dari segalanya.

"Saya sangat merasa terhormat jika bisa membantu kerajaan sebesar kerajaan iblis, Miss Azelion. Ini merupakan kesempatan yang tidak mungkin datang dua kali dalam hidup saya." Avara tersenyum. "Meski begitu ada hal yang mengganggu benak saya, jika boleh saya sampaikan di sini."

Azelion menatap Fulqentius, meminta keputusannya.

"Katakan," putus Fulqentius.

"Saya sempat memeriksa laporan-laporan yang disampaikan pada His Majesty," buka Avara, sebelum menarik napas panjang. "Dan sebagian besar laporan itu palsu."

Fulqentius tercengang. Sementara Azelion memilih diam.

"Apakah ada yang bisa Anda jelaskan, Miss?"

Kini giliran Azelion yang menarik napas panjang. "Saya mengakui bahwa banyak laporan yang masuk ke meja Your Majesty tidak semuanya benar-benar apa adanya. Sebagian besar laporan terlalu dilebih-lebihkan, dan menutupi apa yang sebetulnya terjadi di kenyataan."

"Tapi, kenapa?" kejar Fulqentius, terdengar putus asa tanpa dia inginkan.

"Karena Anda, My Lord," jawab Avara, menimpali.

Fulqentius mengernyit bingung.

"Karena mereka semua takut pada Anda."

Pelan, Fulqentius mengistirahatkan punggungnya ke sandaran kursi, pikirannya mengelana ke tempat lain, ke waktu yang telah terlewati.

Memang ada masa saat dirinya menyadari kenyataan yang diungkapkan Avara dengan mudah itu, tapi Fulqentius tidak pernah berpikir bahwa hal itu akan mempengaruhi jalan pemerintahannya dengan begitu penting. Sang raja iblis mungkin hanya berpikiran bahwa sudah sepatutnya dia menjaga imaji sebagai satu-satunya orang yang paling ditakuti di sana, tidak tahu-menahu jika ternyata hal yang sama akan menghambatnya di satu waktu.

Azelion memutuskan, "Jika Anda berkenan, mulai saat ini saya akan pastikan bahwa laporan dari kami akan selalu faktual, Your Majesty. Seperti seharusnya kami melapor selama ini."

"Ya, laksanakanlah."

Dan dengan begitu saja, satu PR Avara selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!