Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Melihat gurat mendung di wajah Mbak Ratna, Yudha merasa penasaran. Apakah wanita dengan posisi setinggi ini juga memiliki beban pikiran? Namun karena Ratna mengajaknya minum, Yudha pun setuju. Lagi pula, pesta minumnya tadi sempat terganggu urusan Dishub, jadi ini kesempatan bagus untuk lanjut.
Setelah beberapa gelas, Ratna mulai terbuka. Dari sanalah Yudha akhirnya mengetahui sedikit tentang masa lalu wanita ini. Ternyata, Ratna pernah menikah sepuluh tahun yang lalu dan memiliki keluarga yang sangat bahagia. Suaminya adalah teman kuliahnya di Universitas ternama; mereka adalah pasangan serasi, sama-sama berbakat, cantik, dan tampan. Keduanya berasal dari keluarga terpandang dan pernikahan mereka berjalan sangat mulus setelah mereka lulus dan memiliki pekerjaan stabil.
Karena latar belakang keluarga yang kuat, suami Ratna bekerja di sebuah media cetak besar dan kariernya melesat hingga menjadi pemimpin redaksi. Ratna sendiri sukses di organisasi kepemudaan provinsi dan dua tahun kemudian dipromosikan menjadi wakil direktur kantor komite provinsi—jabatan yang sangat bergengsi. Di puncak kesuksesan karier itulah mereka memutuskan menikah.
Namun, takdir seolah cemburu pada kebahagiaan mereka. Di hari kedua setelah pernikahan, suami Ratna yang sedang bertugas meliput berita di daerah pegunungan terjebak dalam musibah tanah longsor. Mobil yang dikendarainya terperosok, dan ia meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.
Maka, meskipun karier politiknya mulus selama bertahun-tahun, Mbak Ratna tidak pernah benar-benar merasa bahagia. Rasa rindu pada mendiang suaminya sering membuatnya terjaga di malam hari, dan kesepian yang mendalam terus menyiksanya.
Ratna seolah sudah memendam cerita ini terlalu lama, dan hari ini, di depan Yudha, ia menumpahkan semuanya.
Mendengar kisah itu, hati Yudha terasa nyeri karena simpati. Hidup sebagai wanita karier di birokrasi pemerintahan ternyata jauh lebih sulit dan sepi daripada yang terlihat. Tak heran jika Mbak Ratna selalu tampak menyimpan kesedihan di balik senyum anggunnya.
"Yudha, jangan cuma melihat saja, ayo minum juga! Jarang sekali kamu datang ke rumah Mbak hari ini, dan aku benar-benar senang ada kamu yang menemani. Aku sudah bekerja begitu keras selama bertahun-tahun ini. Semuanya aku pendam sendiri, aku harus berpura-pura bahagia di depan orang tua kami karena aku tidak ingin mereka khawatir di usia mereka sekarang. Aku benar-benar menderita..."
Sambil berbicara, Mbak Ratna membenamkan wajahnya di lipatan lengannya dan mulai menangis sesenggukan. Pemandangan itu membuat hati Yudha mencelos karena rasa iba.
Yudha bangkit dari kursinya, melangkah perlahan ke sisi Ratna, dan berbisik pelan, "Mbak, jangan khawatir lagi. Mbak tidak akan sendirian lagi. Ada Yudha di sini buat Mbak."
Yudha meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Ratna yang halus, mencoba memberikan ketenangan melalui sentuhannya. Mendengar isak tangis Ratna yang seolah menjadi pelepasan atas segala beban selama ini, Yudha merasa sesak. Ia membatin: Siapa yang menyangka di balik sosok Ibu Wakil Bupati yang begitu glamor dan berwibawa, tersimpan rasa tidak berdaya yang begitu besar? Manusia memang selalu memiliki dua sisi, dan biasanya hanya sisi berkilau itulah yang dipamerkan kepada dunia.
Kata-kata penghiburan Yudha seolah menjadi pelabuhan aman yang sudah lama dicari Ratna. Wanita itu tiba-tiba menghambur ke pelukan Yudha, menyandarkan kepalanya erat-alih di bahu pemuda itu sambil terus terisak.
Yudha terpaku. Merasakan lekuk tubuh yang matang dan harum menempel ketat pada dirinya, sebuah kenyamanan yang tak terlukiskan menyapu kesadarannya. Naluri lelakinya bergejolak seketika. Ia pun dibuat takjub oleh pesona Ratna yang luar biasa; hanya dengan sebuah pelukan, ia hampir kehilangan kendali diri. Dalam hati, Yudha merutuki dirinya sendiri karena begitu mudah tergoda.
Mendengar tangisan Ratna yang memilukan, Yudha berpikir: Wanita secantik ini, setelah bertahun-tahun dalam kesepian, pasti sangat tersiksa. Hidup terkadang memang begitu keras bagi seorang wanita.
Tiba-tiba, Yudha menyadari suara isakan itu menghilang. Karena penasaran, ia melirik dan mendapati bahwa Mbak Ratna telah tertidur pulas dalam pelukannya. Yudha hanya bisa menghela napas, antara merasa lucu dan serba salah. Ia mengangkat tubuh wanita itu dengan lembut untuk memindahkannya ke tempat tidur.
Gerakan itu tanpa sengaja menyingkap kecantikan yang belum pernah Yudha lihat sebelumnya. Di bawah pakaian rumahnya yang longgar, kulit seputih salju itu tampak nyata. Kaki jenjangnya yang mulus terlihat berkilau di bawah lampu kamar yang temaram. Gelombang panas seketika meluap di hati Yudha, apalagi saat ia melihat sekilas pakaian dalam berwarna gelap di balik kain yang tersingkap—sebuah dorongan dosa muncul di benaknya.
Namun, Yudha masih mencoba menggunakan akal sehatnya. Status Ratna terlalu berbeda dan berisiko. Yudha sekuat tenaga menekan kegilaan yang hampir tak terkendali itu, membaringkan Ratna di kasur, dan bersiap untuk berbalik pergi.
Tapi pada saat itulah, hal tak terduga terjadi. Sebuah tangan tiba-tiba menariknya dari belakang. Gerakan mendadak itu, bahkan bagi seorang praktisi bela diri seperti Yudha yang tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat kedua, membuatnya kehilangan keseimbangan. Yudha terjatuh ke atas tempat tidur, dan seketika tubuh yang lembut, wangi, dan menggoda itu mendekapnya dengan sangat erat.
"Uh!..." Yudha menatap Mbak Ratna yang jaraknya kini hanya beberapa sentimeter dari wajahnya dengan keterkejutan luar biasa. Matanya memancarkan gairah yang membara.
"Adikku... aku butuh kamu..." rambut Ratna tampak berantakan, dan matanya yang sayu dipenuhi dengan kerinduan yang mendalam.
"Ah! Tidak... Mbak, jangan begini... aku juga tidak bisa..." Yudha menggelengkan kepala, kata-katanya menjadi terbata-bata karena gugup.
Hati Yudha diliputi konflik. Meskipun ia tak punya daya tahan terhadap tubuh indah di depannya, ia tidak tahu apakah Ratna benar-benar sadar atau hanya karena pengaruh alkohol. Bagaimana jika Ratna menyalahkannya saat ia terbangun nanti?
Namun, Yudha tidak menyangka bahwa Mbak Ratna benar-benar telah kehilangan rasionalitasnya. Ia tidak lagi menimbang banyak hal, tangannya terus bergerak menarik pakaian Yudha.
Gila! Apa aku, Yudha, akan 'diperkosa' secara paksa? Yudha merasa syok bukan main, namun beberapa saat kemudian, ia membiarkan logikanya menyerah pada situasi.
Sementara itu, Ratna juga tidak tinggal diam. Ia menanggalkan pakaiannya sendiri hingga tak ada lagi yang menghalangi penyatuan mereka malam itu di dalam kesunyian rumah elit di Bandung tersebut.
Seketika, pandangan Yudha seolah menangkap kilatan cahaya yang menyilaukan. Matanya membelalak, hampir tak percaya dengan apa yang ada di depannya. Ia belum pernah melihat sosok yang begitu indah dan menggoda seperti ini. Bahkan jika dibandingkan dengan Gisel atau Yasmin, kecantikan mereka seolah memucat. Inilah pesona matang dari seorang wanita dewasa yang sesungguhnya. Yudha merasakan aliran panas menjalar ke hidungnya, seolah ada sesuatu yang mendidih di dalam dirinya.