NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Sinar matahari pagi yang mulai terik menembus jendela vila, menyinari ruang makan tempat mereka baru saja menyelesaikan sarapan dalam keheningan yang tenang.

Namun, ketenangan itu hancur saat wajah Xena mendadak berubah menjadi sangat pucat, tangannya mencengkeram pinggiran meja dengan kuat.

Tanpa sempat mengucap sepatah kata pun, Xena bangkit dan berlari kencang menuju kamar mandi.

"Uweek... hoekk!"

Suara Xena yang sedang memuntahkan seluruh isi perutnya terdengar jelas hingga ke ruang tengah.

Prabu tersentak. Ia segera menyusul dan menemukan Xena sudah terduduk lemas di lantai kamar mandi, bersandar pada tembok dengan napas yang terputus-putus. Seluruh tubuhnya berkeringat dingin.

Rasa panik yang sudah lama mati di dalam diri Prabu mendadak bangkit.

Tanpa berpikir panjang, ia membungkuk dan membopong tubuh ringan istrinya itu.

"Apa yang kamu lakukan, Pra? Turunkan aku," gumam Xena lemah.

"Diamlah!" bentak Prabu, namun kali ini nada bicaranya penuh kekhawatiran.

Ia merebahkan Xena di sofa ruang tengah yang empuk.

"Mana tas medismu? Di mana kamu simpan obat-obatmu?"

"Pra, aku nggak apa-apa. Cuma masuk angin, tadi air lautnya dingin sekali," ucap Xena sambil berusaha mengatur napasnya.

Prabu tidak mendengarkan. Ia segera mengambil tas medis Xena di sudut ruangan, mencari sesuatu yang bisa membantu.

Ia menemukan sebotol minyak kayu putih. Prabu kembali ke sisi Xena, ia ragu sejenak namun kemudian duduk di tepi sofa.

"Aku, minta izin untuk mengoleskan ini ke perutmu. Kamu harus hangat," ucap Prabu kaku, matanya tidak berani menatap langsung ke arah Xena.

Xena hanya mengangguk lemah. Ia merasakan tangan hangat Prabu menyentuh kulit perutnya, memijat dengan gerakan memutar yang sangat lembut.

Kehangatan minyak kayu putih dan perhatian tak terduga dari suaminya membuat pertahanan Xena luruh.

Perlahan, rasa mual itu mereda, digantikan oleh rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan.

Xena memejamkan matanya, menikmati momen langka ini sampai akhirnya ia jatuh ke dalam tidur yang sangat pulas karena kelelahan fisik dan batin yang luar biasa.

Prabu menghentikan gerakannya saat mendengar napas Xena yang mulai teratur.

Ia menatap wajah wanita di hadapannya—wajah yang tetap cantik meski sedang pucat, wajah yang tetap bertahan di sisinya meski terus disakiti.

"Dasar dokter bandel," bisik Prabu lirih. Sebuah senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya tanpa ia sadari.

Ia bangkit pelan-pelan agar tidak membangunkan Xena, lalu mengambil selimut tebal dari kamar.

Ia menyelimuti tubuh Xena dengan hati-hati, memastikan tidak ada celah udara dingin yang masuk.

Prabu kemudian duduk di kursi seberang sofa, menjaga wanita itu dalam diam, menyadari bahwa hatinya yang membatu mulai menunjukkan retakan yang semakin lebar.

Sambil menunggu Xena terbangun, Prabu mulai bergerak.

Ia membawa piring-piring kotor ke bak cuci piring, mencucinya dengan canggung namun bersih.

Ia kemudian mengambil sapu, membersihkan pasir-pasir pantai yang terbawa masuk ke lantai kayu vila.

Melakukan pekerjaan rumah tangga yang biasa dikerjakan Xena ternyata memberinya sedikit rasa tenang yang aneh.

Setelah memastikan vila rapi, Prabu melangkah ke balkon.

Ia merogoh ponselnya dan menekan nomor yang sudah lama tidak ia hubungi secara sukarela.

"Halo, Pa," sapa Prabu saat sambungan terhubung.

"Prabu? Ada apa kamu telepon?" suara ayahnya terdengar berat dan tegas di seberang sana.

Prabu terdiam sejenak, menatap luasnya cakrawala.

"Pa, kapan aku bisa terbang lagi? Aku sudah bosan di sini. Aku ingin kembali ke kokpit."

Hening sejenak. "Kamu belum siap, Pra. Dokter belum memberikan lampu hijau, dan kesehatan mentalmu lebih penting daripada jam terbang. Dan, di mana istrimu? Kenapa suaramu pelan sekali?"

Prabu melirik ke arah ruang tengah, di mana Xena masih terlelap di balik selimut tebalnya.

"Dia masuk angin," jawab Prabu singkat. "Tadi pagi dia memaksaku lari pagi tapi malah dia yang ambruk."

"Jaga dia, Pra," suara ayahnya melembut namun penuh penekanan.

"Xena itu wanita yang luar biasa. Jangan sampai kamu menyesal karena menyia-nyiakannya seperti kamu menyia-nyiakan hidupmu sendiri belakangan ini. Ayah tidak mau dengar kamu menyakitinya lagi."

Prabu tidak menjawab. Ia hanya menatap jemarinya yang masih berbau minyak kayu putih—sisa saat ia merawat Xena tadi.

"Aku tutup dulu, Pa. Ada yang harus aku urus," ucap Prabu sebelum mematikan ponselnya.

Ia kembali masuk ke dalam, berdiri di samping sofa tempat Xena tidur.

Melihat wajah damai istrinya, kata-kata ayahnya dan Yanuar terus berputar di kepalanya.

Tanpa sadar, ia membenarkan letak selimut Xena yang sedikit melorot, sebuah gerakan refleks yang jauh lebih lembut daripada kata-kata kasar yang biasa ia lontarkan.

Pikiran Prabu melayang jauh ke masa sepuluh tahun lalu, saat koridor SMA masih menjadi saksi bisu keangkuhannya.

Bayangan itu muncul begitu jelas, seolah baru terjadi kemarin.

Kala itu, aula sekolah riuh dengan tepuk tangan. Nama Xena diumumkan sebagai juara pertama olimpiade Fisika tingkat provinsi.

Dengan wajah berseri-seri dan napas yang memburu karena bahagia, Xena tidak menuju ke deretan kursi guru atau orang tuanya.

Ia justru berlari ke arah Prabu yang sedang duduk di pinggir lapangan basket bersama gengnya.

"Ini untuk kamu, Pra. Aku belajar keras supaya bisa menang dan memberikan ini padamu," ucap Xena remaja dengan suara gemetar, menyodorkan piala perak yang masih berkilat itu.

Prabu masih ingat betapa hangat tatapan Xena saat itu. Namun, di sampingnya, Tryas tertawa sinis sambil melipat tangan di dada.

"Piala? Buat apa Prabu simpan rongsokan itu? Emangnya dia butuh rumus fisika buat menerbangkan pesawat?"

Demi membuktikan kesetiaannya pada Tryas—dan demi menjaga egonya di depan teman-temannya—Prabu mengambil piala itu.

Tanpa sepatah kata pun, ia melemparkannya ke dalam bak sampah besar di sudut lapangan. Suara dentang piala yang menghantam dasar besi bak sampah itu seolah menjadi penanda hancurnya hati Xena saat itu.

Tanpa menoleh lagi pada Xena yang mematung dengan mata berkaca-kaca, Prabu merangkul bahu Tryas.

"Ayo pergi, Yas. Di sini terlalu silau karena ada orang yang merasa paling pintar," ucap Prabu tajam sebelum berjalan pergi meninggalkan Xena sendirian.

Prabu menghela napas panjang, tersadar dari lamunannya. Ia menatap telapak tangannya sendiri.

Tangan yang dulu membuang prestasi tulus Xena, kini justru baru saja digunakan untuk mengoleskan minyak kayu putih ke perut wanita yang sama.

Ia memandang wajah Xena yang masih terlelap. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya.

Ia menyadari satu hal: Xena tidak pernah berubah. Dia tetap memberikan segalanya untuk Prabu, meski berkali-kali hadiahnya dibuang ke tempat sampah emosional oleh suaminya sendiri.

"Kenapa kamu tetap tinggal, Xen?" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar oleh desau angin.

Prabu duduk di lantai, bersandar pada sofa tempat Xena tidur, seolah sedang menjaga harta paling berharga yang dulu pernah ia buang tanpa sisa.

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!