NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Yuda tiba-tiba bergerak. Tangannya menarik selimut dari ranjang, lalu langsung melemparkannya pada Carisa.

Terlalu cepat, seperti refleks yang tidak sempat ia pikirkan. Napasnya terdengar lebih berat dari tadi. Dadanya naik turun pelan, tapi jelas ia sedang menahan sesuatu.

Ia memalingkan wajah. Suasana kamar langsung berubah kaku.

Yuda berdiri diam beberapa detik. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kecil di sisi tubuhnya. Ada jeda panjang sebelum ia akhirnya bicara, suaranya lebih rendah dari biasanya.

"Tutupi tubuhmu dengan itu," kata Yuda setelah melempar selimut ke arah Carisa. Suaranya rendah, tapi tegang. "Aku tidak yakin bisa terus menahan diri."

Carisa diam sejenak. Selimut di tangannya terasa berat, bukan karena kainnya, tapi karena situasinya.

Wajahnya menghangat. Ada rasa malu yang jelas terasa menampar harga dirinya, tapi ia menahannya agar tidak terlihat. Ia menarik selimut itu lebih tinggi, lalu menegakkan wajahnya..

"Baguslah kalau kamu menahan diri," jawabnya pelan, seperti pada dirinya sendiri.

Matanya sempat bertemu dengan Yuda, hanya sebentar, sebelum ia mengalihkan pandangan lagi.

Meski jantungnya tidak tenang, Carisa tetap berusaha berdiri, tidak mau terlihat kalah di situasi itu.

“Apa kamu sengaja menggodaku supaya aku tidak bertanya lebih jauh tentang Reynanda?” kata Yuda, suaranya tetap rendah, tapi lebih tajam dari sebelumnya.

Carisa langsung menoleh.

Wajahnya memanas, bukan hanya karena malu, tapi juga karena tersinggung.

“Jangan mengada-ada,” jawabnya cepat. Nadanya naik sedikit, lalu ia menahannya lagi. “Aku tidak seperti itu.”

Tangannya meremas selimut, lebih kuat dari yang disadari.

Yuda menatapnya lama, tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras tipis, tapi sorot matanya tidak berubah.

Seperti masih mencoba memastikan mana yang benar, dan mana yang sedang disembunyikan.

"Aku tidak bilang kamu seperti itu." Yuda menatapnya datar. "Aku bertanya apakah kamu sengaja."

"Dan jawabannya tidak." Carisa menatap balik, kali ini tidak menghindar. "Aku tidak memanipulasi kamu, Yud. Jangan tuduh aku dengan sesuatu yang tidak aku lakukan."

"Baik." Yuda mengangguk pelan. Tapi matanya tidak lepas dari Carisa. "Lalu jelaskan kenapa setiap kali aku menyebut namanya, kamu selalu defensif?"

"Aku tidak defensif."

"Kamu baru saja menaikkan suaramu."

"Karena kamu menuduh aku."

"Aku bertanya," koreksi Yuda pelan. "Dan kamu bereaksi bahkan sebelum aku selesai bicara."

Carisa menggenggam selimutnya lebih erat. Tidak menjawab.

Yuda memiringkan kepalanya sedikit, seperti sedang mengamati sesuatu yang baru ia sadari.

"Dua tahun aku tidak pernah melihat kamu seperti ini. Kamu selalu tenang. Selalu terkontrol."

"Yuda!"

"Tapi setiap kali menyangkut dia, semuanya berubah." Suaranya tetap datar, tapi berat di ujung kalimatnya terasa jelas. "Di Bandung. Di meja makan tadi. Dan sekarang."

"Sebenarnya apa yang sedang kamu cari."

"Aku sedang mencari jawaban, Carisa."

Carisa berjalan menjauh. Tidak tahan lagi di bawah tatapan itu. Ia berjalan ke jendela, membelakangi Yuda.

Hujan di luar turun lebih deras.

"Kamu selalu melakukan itu," suara Yuda terdengar dari belakang.

"Melakukan apa?"

"Berbalik, menghindar. Saat percakapan menyentuh sesuatu yang tidak ingin kamu hadapi."

Carisa diam.

"Aku tidak memaksamu bercerita," lanjut Yuda. "Tapi ada perbedaan antara menjaga privasi dan menyembunyikan sesuatu. Dan malam ini aku perlu tahu kamu sedang menjaga yang mana."

"Aku tidak menyembunyikan apa pun."

"Itu bukan jawaban yang Sebenarnya."

"Yuda…" suara Carisa mulai melemah. "Kamu mau aku bilang apa?"

"Aku mau kamu jujur."

Yuda akhirnya berdiri. Tapi tidak mendekat sepenuhnya. Ia berhenti di tengah kamar.

"Aku tidak menuntut banyak. Tapi kalau ada sesuatu yang melibatkan kita, aku berhak tahu."

"Tidak ada yang terjadi."

"Di tangga darurat hari ini?"

Carisa membeku.

Yuda memperhatikan itu. Lama.

"Siapa yang bilang?" suara Carisa akhirnya keluar.

"Itu tidak penting."

"Penting buat aku."

"Baik." Yuda mengangguk pelan. "Seseorang di gedung itu. Cukup?"

Carisa tidak menjawab.

"Jadi memang ada sesuatu."

"Yuda, dengarkan aku..."

"Aku mendengarkan." Yuda memotong. "Selalu ingin mendengarkan kamu. Aku tidak pernah menyimpulkan sebelum mendengar penjelasan."

Ia berhenti, lalu menatapnya lebih lama.

"Aku sebenarnya tidak ingin bertanya. Tapi aku ingin kamu yang memilih bicara sendiri."

Lalu ia berbalik, kembali ke ranjang.

"Yuda…" Carisa memanggil pelan.

Yuda berhenti, tapi tidak menoleh.

"Maaf."

Hening.

"Aku tidak butuh permintaan maaf." suara Yuda rendah. "Aku cuma butuh satu hal dari kamu, Carisa."

"Yuda, percayalah padaku! aku dan dia hanya profesional kerja."

Ia sedikit menoleh.

"Jangan buat aku merasa bodoh karena memilih percaya padamu."

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!