NovelToon NovelToon
Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nenek Jendral di pintu

Nenek Jendral di Pintu

Dokter Andri melakukan prosedurnya. Entah bagaimana darah Chandra dan Cikal diperiksa. Tabung-tabung kecil, alat-alat bunyi tit-tit, cairan biru merah. Semua orang menonton dengan napas ditahan.

Sementara Anna cuma duduk diam di sofa. Anggun. Nyender. Tangan kanannya ngangkat cangkir teh, diseruput pelan. Asepnya ngepul nutupin setengah wajah. Senyumnya tipis, nggak kebaca.

Pikirannya penuh rencana. _“Pintar juga dia,”_ pujinya pada Chandra dalam hati. _Datangin dokter ke rumah, nggak ke RS. Biar nggak ada yang bisa intervensi. Otak Jendral emang beda._

Anna bangkit dari duduknya. Jalan pelan ke dekat meja, langkahnya nggak bersuara. Matanya tertuju ke alat-alat. Persis Profesor yang sedang melihat muridnya praktek kelulusan. Tangannya dilipat di depan. Aura dosen killer keluar.

“Andri, kepalamu baik?” tanyanya santai. Nadanya datar. Kayak nanya “udah makan?” padahal ini ruang sidang darah.

Spontan dokter yang sedang fokus mengalihkan perhatian. Tangannya yang megang pipet berhenti di udara. Matanya menatap wajah Anna. Kaget. Ada jeda satu detik. Dari mata hazelnya saja sudah ketahuan: itu si wanita bercadar, dokter klinik kumuh dekat pasar, Tempat dia dulu magang. Tempat dia belajar nyuntik pertama kali.

“Gu...” kata guru hampir lolos dari bibirnya yang pecah.

Namun tertahan. Sebuah kode mata tajam dari Anna. Dingin. Memerintah. _Tutup mulutmu._

Andri langsung nunduk. Keringat dingin netes dari pelipisnya yang diperban.

Keadaan kembali hening. Heningnya bukan hening biasa. Ini hening ruang ujian. Tapi bukan ujian semester. Ini ujian yang sesungguhnya. Ujian nyawa, ujian nama baik, ujian Cikal.

Selang beberapa waktu, Andri berdiri. Tangannya gemetar megang selembar kertas hasil print. Suaranya dia jaga biar tegas. “Dari hasil yang saya dapat, saya bersumpah. Saya bersaksi. Jendral Arjuna Chandra dan tuan muda Cikal... DNA mereka 99,9 persen serasi.”

Ucapannya mantap. Tegas. Nggak ada ragu.

Wajah Chandra pucat. Darahnya kayak turun semua ke kaki. Tapi napasnya... napasnya lega. Lega banget. Bahunya yang tadi tegang, turun. _Cikal memang anakku._ Pikirnya. Satu pikiran itu aja.

Tanpa aba-aba, tanpa jaga image Jendral, Chandra langsung narik Cikal ke pelukannya. Dekapannya erat. Kenceng. Kayak takut Cikal hilang kalau dilepas. Hidungnya nancep di rambut Cikal. Bau bayi, bau rengginang.

Semua orang di sana juga lega. Chandrawati nutup mulut, nangis. Arjuna nepuk bahu Rangga. Delapan selir pada megangin dada. Kecurigaan Chandra selama ini kejam, terlalu jahat, tapi mereka yakin Anna suci. Dia nggak khianat. Dari dulu mereka percaya.

Sementara Anna? Cuma diem. Dari awal dia tau jawabannya. Nggak ada deg-degan. Nggak ada kaget. Cuma nyeruput teh lagi. Habis.

Satu sisi, Ratna nggak terima.

Matanya membesar. Badannya gemetar. “Nggak mungkin!” Jeritnya mecah keheningan. “Dokter ini gadungan! Dia pasti salah! Alatnya rusak!”

Mata semua orang langsung ke Ratna. Tatapannya kosong. Kayak... nggak peduli. Ratu drama mulai lagi. Biasa. Capek.

“Nggak mungkin salah, Bu,” jawab Dokter Andri. Profesional. “Ini udah sesuai prosedur. Standar Kemenkes. Dua kali tes. Hasilnya sama.”

“Ini salah! Ini nggak mungkin!” sahut Ratna nggak terima. Suaranya melengking. Tiba-tiba kakinya nendang kaki meja. _Bruk._ Gelas, tabung, alat-alat dokter yang ada di atasnya terbang. Cairan tumpah. Kertas hasil berantakan.

“Bu!” Bagas mau maju, tapi Chandra angkat tangan. Suruh diem.

“Ini udah betul,” Andri panik, jongkok mau pungut alatnya. “Coba tanya guru saya. Betul kan, Guru?”

Sahut Andri, tatapannya langsung ke Anna.

Pletak.

Diikuti tatapan semua orang. Chandrawati, Arjuna, Rangga, delapan selir, Bagas, Chandra. Semua mata tajam sekarang nodong Anna. Kayak nodong pake celurit. Nunggu jawaban. Nunggu pembenaran.

Anna letakin cangkir tehnya. _Ting._ Pelan. Senyumnya nggak hilang.

“Oh... ini ulah kamu,” ucap Ratna. Jarinya gemetar nunjuk wajah Anna. Kukunya panjang merah. “Jangan-jangan kalian berdua sekongkol! Dari awal!”

Ratna ketawa. Ketawa tinggi. Ketawa orang setengah gila. Air matanya keluar tapi dia ketawa. “Chandra! Cikal bukan anak kamu! Itu pasti anak haram dokter sama Anna! Mereka sekongkol! Mereka main di belakang! Aku tau semua!”

Dia teriak lagi, terus jambak rambutnya sendiri. “Kalian semua dibodohin! Sama perempuan jalang ini! Sama profesor cabul itu!”

Rangga maju selangkah. Badannya ngalangin Anna. “Jaga mulutmu, Ratna.” Suaranya rendah. Suara bapak singa.

Chandra? Dia masih meluk Cikal. Tapi matanya sekarang ke Ratna. Dingin. Beku. Kayak ngeliat orang asing. Atau ngeliat orang sakit.

“Ribut pagi begini,” suara itu terdengar dari arah pintu.

Suara wanita. Serak. Berat. Tidak tua, tapi matang. Seperti sutra yang digesek batu. Berwibawa. Tajam. Nusuk ke tulang.

Semua kepala noleh.

Di pintu besar, berdiri seorang wanita. Tegak. Rambutnya disanggul rendah, ada beberapa helai putih di pelipisnya. Kebaya kutubaru warna marun gelap, kainnya bahan mahal yang jatuh sempurna. Selendang batik melilit anggun di bahu. Usianya keliatan baru akhir 40-an. Tapi aura bangsawannya... ngalahin Chandrawati. Ngalahin semua orang di ruangan.

Di tangannya bukan tongkat. Tapi kipas. Kipas kayu cendana bertutup. Diketuk pelan ke telapak tangan satu lagi. _Tik._

“Ayam pada malu karna kalah berisik,” lanjutnya. Pelan. Tapi satu rumah denger. Dagunya naik sedikit. Menilai.

Hening lagi. Tapi hening beda. Kalau tadi hening tegang, ini hening... segan. Heningnya rakyat jelata lihat darah biru masuk.

Ratna yang tadi histeris, mendadak diem. Bibirnya berhenti ngomel. Matanya ngeliat ke pintu. Pucat. Tangannya yang tadi jambak rambut, turun lemas. Lututnya goyang. Dia kenal suara itu. Kenal banget.

Chandra melepas pelukannya dari Cikal. Berdiri tegak. Insting militernya nyala. Tapi ada bingung di matanya. “Nek... Nenek?”

Wanita itu melangkah masuk. Nggak ada suara. Langkahnya ringan tapi lantai kayak nunduk. Aromanya masuk duluan. Bukan menyan. Melati. Melati kembang sore dicampur kayu cendana. Bau mahal. Bau... kekuasaan.

Dia berhenti di tengah ruangan. Matanya, yang tajam dan gelap kayak malam tanpa bintang, nyapu semua orang. Ke cucunya, Chandra. Ke Ratna yang pucat. Ke kertas DNA yang berantakan. Ke Andri yang nunduk dalam.

Lalu matanya berhenti.

Ke Anna.

Sedetik. Dua detik.

Kipas di tangannya berhenti diketuk. Bibir merahnya yang nggak pake lipstik kebuka sedikit. Bukan marah. Bukan nyengir. Kaget. Kaget banget. Kayak lihat hantu. Atau lihat seseorang istimewa nya ada di situ.

“Profesor...?” panggilnya. Pelan. Serak. Berwibawa. Tapi ada getar nggak percaya di ujungnya. “Anindya? Kamu... di sini? Di rumah Chandra?”

kalo ada rezeki, traktir author kopi ☕

1
Anne
kereeen thor.. bru ketemu ini td malam.. baca marathon.. eh udh kelar aja smp bab ini.. ditunggu y updateny thor..
Rosmawati
bgus cerita nya
lnjut thor
awesome moment
gubrak g c?
Anne
kopi thor... udh dikrm
supyani: makasih onty, yang betah ya sampe cikal gede.
total 1 replies
Rubi Yati
cikal keren😍😍😍
supyani: makasih onty😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!