Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Dunia mengenal Adrian Mettond sebagai pria dingin, kaku, dan tanpa ampun yang mencampakkan istrinya di tengah badai skandal. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling gelap, tersimpan sebuah rahasia yang ia kunci rapat dengan rantai kepedihan: Adrian pernah mencintai Catherina Lawrence dengan seluruh kewarasan yang ia miliki.
Kata siapa Adrian tidak mencintai Cathe?
Ia menerima Catherina saat semua orang di kalangan elit berbisik bahwa gadis itu adalah "barang bekas" sang Pangeran Cavanaught. Adrian tidak peduli. Ia melihat Catherina sebagai gadis yang hancur karena ditinggalkan, dan ia ingin menjadi pahlawan yang menyatukan kembali kepingan-kepingan itu. Demi apa pun, ia menerimanya dengan tangan terbuka, tanpa memandang latar belakangnya yang yatim piatu atau sejarah cintanya yang legendaris dengan Everest.
Namun, kejayaan itu runtuh dalam satu malam yang seharusnya menjadi malam paling membahagiakan.
Dua minggu setelah pernikahan mewah mereka, Adrian akhirnya merasa Catherina sudah cukup tenang untuk ia sentuh. Di bawah temaram lampu kamar pengantin mereka, Adrian memberikan seluruh kelembutannya. Ia bergerak dengan rasa hormat yang tinggi, mencoba menunjukkan bahwa ia adalah suami yang berbeda dari Everest yang liar.
Tetapi, tepat saat pelepasan pertama mereka—saat Adrian merasa ia telah memenangkan jiwa Catherina—sebuah bisikan lirih keluar dari bibir istrinya. Sebuah desahan yang menghancurkan seluruh harga diri Adrian sebagai pria.
"Everest..."
Nama itu meluncur begitu saja dari bibir Catherina.
Adrian mematung. Dunia seolah berhenti berputar. Hatinya hancur berkeping-keping di atas ranjang mereka sendiri. Meski Catherina menangis dan meminta maaf berkali-kali malam itu, meski istrinya bersujud memohon ampun atas kekhilafan lidahnya, Adrian tahu itu adalah risiko yang harus ia tanggung. Sejak awal, Catherina sudah jujur.
"Aku tidak bisa mencintai siapa pun selain Everest, Adrian. Aku tidak bisa melupakannya. Jangan kejar aku, kau hanya akan terluka," ujar Catherina saat mereka pertama kali dekat.
Namun Adrian tetap kekeh. Ia sombong. Ia merasa dengan kekayaannya, dengan sikap santunnya, ia bisa menghapus bayang-bayang Everest Cavanaught. Ia berpikir waktu akan menyembuhkan luka Cathe.
Ia teringat kembali dua minggu sebelum hari wisuda Catherina. Saat itu, Adrian mencoba mengungkapkan perasaannya untuk kesekian kali. Catherina menatapnya dengan mata yang lelah dan berkata, "Jika kau datang karena penasaran, atau sekadar ingin bermain-main, jangan denganku, Adrian. Aku bukan mainan."
Dengan lancar dan penuh keyakinan, Adrian menjawab, "Aku mencintaimu, Cathe. Aku menerima apa pun konsekuensinya. Kumohon, terima aku."
Catherina akhirnya luluh. Mereka berpacaran selama dua minggu yang singkat. Hingga hari wisuda tiba, di tengah hiruk pikuk perayaan, Adrian memutuskan untuk melamarnya. Ia ingin mengikat Catherina secepat mungkin sebelum Everest kembali.
Sebulan kemudian, mereka menikah dalam pesta yang menjadi pembicaraan seluruh kota.
Adrian ingat betapa bahagianya ia hari itu. Ia berjanji akan menunggu kesiapan Catherina. Namun, ingatan pahit kembali muncul pada malam kedua setelah mereka bersama. Catherina terus mengeluh sakit perut yang luar biasa. Wajah istrinya pucat, dan ia tampak sangat menderita. Adrian merasa bersalah; ia pikir ia terlalu kasar atau mungkin Catherina mengalami trauma psikologis yang mendalam. Sejak malam itu, Adrian tidak lagi berani menyentuh istrinya. Ia merasa kasihan, ia tidak ingin menyakiti wanita yang ia cintai.
Namun, badai yang sesungguhnya datang satu bulan kemudian.
Pernikahan mereka baru berjalan empat minggu saat Catherina pingsan, dan akhirnya melakukan pemeriksaan kesehatan. Hasilnya keluar dan menghantam Adrian seperti godam: Catherina hamil 9 minggu.
Adrian terduduk di kursi ruang periksa, dunianya gelap. Sembilan minggu? Bagaimana mungkin? Ia baru menyentuh Catherina tiga minggu yang lalu. Jika Catherina hamil sembilan minggu, artinya pembuahan itu terjadi jauh sebelum pernikahan mereka.
Saat itulah Julie masuk ke dalam kehidupannya. Julie, wanita yang selama ini menjadi pengamat dari jauh, mulai membisikkan racun ke telinganya.
"Kau tidak tahu betapa liarnya Everest dan Catherina, Adrian," hasut Julie suatu malam di bar. "Mereka tidak akan pernah benar-benar putus. Kau hanya tameng bagi mereka. Pasti mereka sering bertemu di belakangmu, bahkan sebelum kau menikahinya. Cathe hanya menggunakanmu untuk menutupi benih Everest."
Semua hasutan itu, ditambah dengan bukti usia kehamilan yang tidak sinkron, membawa Adrian masuk ke dalam pesona Julie. Julie sangat pengertian. Julie tidak memberikan teka-teki. Saat Adrian merasa rindu akan sentuhan wanita—sentuhan yang tidak bisa ia dapatkan dari istrinya yang "sakit" dan "berkhianat"—Julie menawarkan dirinya.
Adrian tidak menyentuh Catherina lagi setelah itu. Menghabiskan setiap malam bersama Julie menjadi cara Adrian membalas dendam atas pengkhianatan yang ia yakini dilakukan Catherina. Ia ingin Cathe merasakan dinginnya ranjang mereka, sebagaimana ia merasakan dinginnya pengkhianatan di hatinya.
Hingga hari kelahiran itu tiba.
Begitu perawat membawa bayi kecil itu keluar, Adrian tidak merasakan getaran apa pun. Tidak ada ikatan batin. Dan saat ia melihat wajah bayi yang dinamai Liam itu, kecurigaannya terbukti seribu persen. Tidak ada satu pun rupa Mettond di wajah bayi itu. Tidak ada bentuk matanya, tidak ada garis rahangnya.
Bayi itu adalah replika sempurna dari pria yang paling ia benci di dunia ini.
"Kau benar-benar menghancurkanku, Catherina," bisik Adrian di dalam ruang kerjanya yang sepi, menatap botol whisky yang sudah kosong. "Aku memberikanmu namaku, kehormatanku, dan hatiku. Tapi kau... kau justru membawa benih Pria lain ke dalam rumahku sendiri."
Kini, Adrian tahu ia telah memenangkan perang di media, namun ia kalah dalam perang di hatinya. Ia melepaskan Catherina dengan cara yang paling kejam karena hanya dengan cara itulah ia bisa menahan rasa sakit yang luar biasa—rasa sakit mengetahui bahwa setulus apa pun ia mencintai, ia tetaplah orang asing di hidup Catherina Lawrence.
Sementara Everest, pria yang bahkan tidak ada di sana saat Cathe melahirkan, tetap menjadi pemilik mutlak dari wanita dan anak yang selama ini Adrian jaga dalam kepalsuan.
🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍