Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 Keluarga Harmonis
Wita melihat suami dan kedua anaknya sudah tertidur pulas. “Astaga, kok mereka malah ketiduran sih?” seru Mommy Wita.
Wita membangunkan suami dan kedua anaknya. “Ayo bangun, katanya lapar ingin makan,” seru Mommy Wita.
“Mommy lama banget masaknya, jadi kita ngantuk,” sahut Syarif.
“Maaf, ayo bangun kita makan bersama,” seru Mommy Wita.
Ketiganya bangun dengan perut yang sudah sangat lapar. Mereka menuju meja makan dengan wajah yang berbinar-binar karena masakan Mommy mereka sudah selesai. Tapi, pada saat sampai di meja makan selera makan mereka tiba-tiba hilang melihat kondisi masakan Wita.
Ketiganya saling pandang satu sama lain. “Ini masakan Mommy?” tanya Daddy Tri tidak percaya.
“Iya dong, memangnya masakan siapa lagi?” sahut Mommy Wita dengan senyumannya.
Wita memberikan semuanya piring dan mengambilkan nasi. Jika Nasi masaknya memang benar karena gampang tinggal masukan ke dalam Rice cooker. Yang jadi masalah itu adalah lauk pauknya.
“Mommy masak apa ini?” tanya Sherina lirih.
“Tumis kangkung, tempe goreng, ayam goreng, makanlah,” seru Mommy Wita dengan menopang wajahnya sendiri.
“Mommy tidak makan?” tanya Syarif.
“Nanti saja, kalian dulu yang makan nanti baru Mommy,” sahut Mommy Wita.
Lagi-lagi ketiganya saling pandang satu sama lain. Sherina mengambil tumis kangkung, dia sedikit kesusahan karena kangkungnya tidak dipotong-potong, Wita langsung memasaknya begitu saja. Syarif dan Tri tampak meringis melihat masakan Wita, yang sama sekali tidak menggugah selera.
“Dad, makan duluan dan cicipi masakan Mommy,” celetuk Syarif dengan senyumannya.
“Iya Dad, buruan makan, Mommy penasaran bagaimana menurut Daddy masakan Mommy,” timpal Mommy Wita.
“Dasar anak durhaka,” batin Daddy Tri dengan kesalnya.
Akhirnya dengan ragu-ragu, Tri pun memasukan tumis kangkung ke dalam mulutnya. Tri membelalakkan matanya karena rasanya aneh dan tidak enak sama sekali. “Kalian makan dulu yang banyak ya, Mommy ingin mandi gerah,” seru Mommy Wita.
Ketiganya langsung mengangguk dengan semangat. Setelah Wita masuk ke dalam kamar mandi, Tri langsung memuntahkan makanannya. Tri minum sebanyak mungkin membuat Sherina dan Syarif meringis.
“Bagaimana Dad? Enak tidak?” tanya Sherina.
“Gak enak, rasanya aneh,” bisik Daddy Tri.
“Terus bagaimana dong?” seru Syarif.
“Kita buang saja semua lauk pauknya, soalnya kalau bilang sama Mommy masakan dia gak enak, bisa-bisa Mommy kamu marah dan kalian tahu ‘kan marahnya Mommy kalian seperti apa?” sahut Daddy Tri.
“Mubazir Dad, bagaimana kalau kita kasih aja sama tetangga,” seru Syarif.
Sherina dengan cepat memukul kepala Syarif dengan sendok. “Gila Lu, Daddy aja sampai mau muntah, terus sekarang Lu mau kasih ke orang? Lu mau cari perkara, Dek,” kesal Sherina.
“Ya, sudah buruan buang keburu Mommy selesai mandi,” seru Syarif.
Ketiganya sibuk memasukan semua lauk pauknya ke dalam kantong kresek. Hanya nasi yang tidak mereka buang karena kalau nasi itu tidak baik jika dibuang-buang. Akhirnya mereka hanya bisa makan sama nasi saja.
Tidak lama kemudian, Wita pun selesai mandi lalu berganti baju. Setelah berganti baju, dia menghampiri semuanya ke meja makan. Betapa bahagianya Wita saat melihat semuanya habis.
“Hah, serius masakan Mommy habis semua?” tanya Mommy Wita tidak percaya.
“Iya, Mom. Ternyata masakan Mommy enak sekali, iya ‘kan anak-anak?” seru Daddy Tri dengan mengedipkan sebelah mata sebagai kode.
“Iya, Mom. Enak sekali, Kak Sherina sampai nambah dua kali,” dusta Syarif.
Sherina menendang kaki Syarif, sembari senyum yang dipaksakan. “Wah, Mommy bahagia sekali. Padahal itu pertama kali Mommy masak loh, bumbu-bumbunya pun asal-asalan karena Mommy tidak tahu. Tapi kalau kalian suka, besok Mommy akan masak lagi untuk kalian,” seru Mommy Wita dengan senyumannya.
Ketiganya meringis, mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jabatan Wita di keluarga sangat mengerikan, bahkan ketiganya akan tunduk pada apa yang diucapkan oleh Wita. Wita adalah ras terkuat di bumi yang memiliki kekuatan empat elemen api, air, angin, dan tanah yang sangat sulit terkalahkan oleh Tri dan kedua anaknya.
“Sherina, kamu bantu Mommy mencuci piring dan gelas kotor ini,” seru Mommy Wita.
“Ok, Mom.”
Keduanya pun mencuci piring di dapur, sedangkan Tri dan Syarif duduk di ruang tamu. “Daddy sih pakai memuji masakan Mommy segala, kalau begini ‘kan jadi ribet ke depannya,” kesal Syarif.
“Ya, habis mau bagaimana lagi? Memangnya kamu berani protes masakan Mommy kamu?” tanya Daddy Tri.
“Beuhhh.... Gak berani,” sahut Syarif dengan sengirannya.
“Ya, makanya kita cari aman saja. Kaya yang gak tahu aja, Mommy kamu kalau sudah marah, auranya bisa mengalahkan setan bahkan setan juga bakalan sungkem sama Mommy kamu,” seru Daddy Tri.
“Hayo loh, aku aduin sama Mommy kalau Mommy mirip setan kata Daddy,” seru Syarif.
Seketika Tri mengambil bantal kursi dan membekap wajah Syarif dengan bantal itu. “Ampun gak?” seru Daddy Tri.
Syarif terus berontak dan berhasil lolos. “Gila, Daddy mau bunuh Syarif!” seru Syarif dengan napas ngos-ngosan.
“Kamu yang bikin ulah duluan. Awas saja kalau sampai kamu ngadu sama Mommy,” ancam Daddy Tri.
Syarif menatap Tri dengan tatapan menantang, setelah itu dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Keluarga Tri, memang keluarga yang sangat asyik dan juga kocak. Meskipun keluarga konglomerat, tapi mereka tidak kaku seperti orang-orang kaya pada umumnya.
***
Malam pun tiba, Syarif dan Sherina duduk termenung di teras. Perut mereka sangat lapar karena tadi hanya makan nasi saja.
“Kak, lapar gak?” seru Syarif.
“Lapar bangetlah,” sahut Sherina.
“Pesan gofood saja,” ucap Syarif.
“Memang bisa masuk ke kampung ini kalau kita pesan gofood?” tanya Sherina.
“Gak tahu, coba saja,” sahut Syarif.
Badru dan Ismail lewat depan rumah mereka. “Tetangga baru tuh, kita kenalan yuk!” seru Badru.
“Ayo!”
Keduanya menghampiri Sherina dan juga Syarif. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Hai, tetangga baru,” seru Badru.
“Hai juga,” sahut Sherina.
Ismail membersihkan tangannya dengan bajunya lalu mengulurkan tangan ke arah Syarif dan Sherina. “Kenalkan aku Ismail bin Marzuki biasa dipanggil Mail,” seru Mail.
“Gue Syarif.”
“Sherina.”
Mail tidak melepaskan tangannya, dia malah senyum-senyum membuat Sherina bingung. “Woi, gantian,” seru Badru.
“Aku Badru,” ucap Badru.
Mereka pun berkenalan satu sama lain. “Kamu kerja apa? Kok aku baru lihat seragam kaya gitu?” tanya Sherina kepada Mail.
“Aku polisi kampung,” sahut Mail.
“Hah, polisi kampung? Kok gua rasanya baru dengar, mana seragamnya hijau lagi bukanya kalau polisi itu coklat ya,” seru Syarif bingung.
“Dia Hansip, bukan Polisi,” sela Badru.
“Hansip itu apa?” tanya Sherina.
“Hansip itu pertahanan sipil,” sahut Mail.
“Tugasnya ngapain aja?” tanya Sherina kembali.
“Buat ngamanin kampung aja dan jaga-jaga kampung,” sahut Mail.
“Oh begitu,” sahut Sherina dan Syarif bersamaan.