" menikahlah dengan ku dan jadilah ibu untuk putriku, apa kamu mau ?"
" apa om meminta ku hanya untuk menjadi ibu untuk anak om bukan istri om ?"
Apa jadinya jika di lamar secara mendadak oleh duda dingin yang bahkan baru Mala temui dimana bukan menjadi istrinya tapi hanya menjadi ibu dari anaknya ?
Apakah Mala akan menerima pinangan duda dingin itu ?
Dan apakah cinta itu akan tumbuh saat keduanya masih memiliki luka yang di sebabkan karena cinta orang di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R-kha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saran Seorang Sahabat
Darrel tau jika sahabatnya penasaran dengan apa yang putri kecilnya katakan tapi menurut Darrel ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan apapun pada Fildan karena kondisi Mala jauh lebih penting dari apapun setidaknya demi kemanusiaan.
" akan ku jelaskan nanti, sekarang tolong obati dia tanpa banyak bertanya dulu " ajak Darrel yang langsung berjalan ke kamar tamu di ikuti Cantika dan juga sahabatnya.
" bi, apa bibi masih di dalam ?" tanya Darrel dari balik pintu karena pintu kamar tamu yang tertutup rapat dan tak mungkin Darrel membukanya begitu saja terlebih di dalam ada seorang gadis yang belum iya tau asal usulnya.
" tunggu sebentar pak " ucap Bi Ani dari dalam karena saat ini bi Ani sedang membantu Mala mengganti pakaian yang memang selalu ada di ruang tamu, meski hanya celana pendek selutut dan kaos bolong tapi itu jauh lebih baik dari pakaian Mala semalam yang terlihat kotor dan ada bagian yang robek jika di perhatikan dengan seksama.
Darrel, Fildan dan Cantika pun menunggu di depan pintu kamar tamu hingga tak butuh waktu lama pintu itu pun di buka oleh bi Ani dan dari sana bisa di lihat jika tampilan Mala sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
" Cantika masuk ya " ucap Cantika sebelum memasuki kamar tamu dan langsung di jawab anggukan oleh Mala yang kini sudah duduk di tepi tempat tidur karena Mala tak enak jika harus tidur saat pemilik rumah datang menemuinya.
" apa kamu sudah jauh lebih baik ?" tanya Darrel yang hanya berdiri tak jauh dari Cantika putrinya yang juga hanya berdiri menatap wajah cantik Mala.
" iya pak, saya juga baru akan pergi " ucap Mala yang langsung ingat ucapan Darrel yang memintanya untuk pergi jika kondisinya sudah lebih baik.
" kamu baru akan bisa pergi setelah kondisi kamu benar benar sehat " ucap Darrel yang terdengar memerintah dari pada memberi saran.
" Fildan tolong cek kondisi tubuhnya dan obati luka yang ada di tubuhnya " ucap Darrel yang tak Mala duga jika Darrel juga menyadari luka di tubuhnya.
" tidak usah pak, saya sudah banyak merepotkan bapak di sini sebaiknya saya pergi saja " ucap Mala yang kini sudah bangkit tapi malah di hentikan oleh Cantika dengan menggenggam tangan Mala dan mengarahkannya untuk kembali duduk di tempat tidur lagi.
" mulai saat ini kakak akan menjadi bunda Tika, benarkan ayah " ucap Cantika yang langsung mengatakan hal itu pada Mala hingga membuat Fildan menatap serius ke arah Darren penuh rasa penasaran.
" obati saja dia jangan banyak bertanya apapun saat ini " ucap Darrel yang memilih pergi meninggalkan kamar tamu tanpa menjawab apalagi membantah ucapan putrinya itu.
Tak ingin sahabatnya semakin kesal Fildan pun langsung berjalan menghampiri Mala dan meminta Mala untuk berbaring di atas tempat tidur begitu juga dengan Cantika yang iya minta naik ke atas tempat tidur untuk menemani Mala yang akan iya periksa seperti permintaan Darrel.
" maaf aku perisa dulu ya " ucap Fildan meminta izin sebelum melakukan pemeriksaan pada Mala.
" saya baik baik saja pak " ucap Mala yang bisa menduga jika laki laki di hadapannya ini seorang dokter.
" saya tau kamu baik baik saja tapi saya hanya ingin memastikan kondisi mu, itu saja " ucap Fildan sambil memasang stetoskop ke telinga dan mulai mengarahkan kepala stetoskop itu ke arah dada atas Mala dan meminta Mala menarik dan menghembuskan nafas seperti pemeriksaan pada umumnya.
" sejak kapan kamu demam ?" tanya Fildan setelah meletakkan kembali stetoskop ke dalam tasnya dan mulai mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuh Mala yang masih terasa demam.
" kemarin siang " jawab Mala jujur.
Fildan hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun karena kini tatapan matanya terfokus pada beberapa lebam yang ada di tangan dan juga betis bawah yang mulai terlihat menghitam.
" lebam ini ?" tanya Fildan penuh curiga sekaligus iba atas apa yang harus di alami wanita muda di hadapannya ini.
" dua hari yang lalu " jawab Mala dengan mata yang berkaca kaca tapi ada rasa trauma yang terlihat di mata itu yang di dasari oleh Fildan.
" baiklah, saya akan meminta Darrel membelikan beberapa obat untuk mu dan untuk beberapa hari ini kamu harus cukup banyak istirahat dan tenangkan dirimu karena saat ini kamu sudah aman " ucap Fildan seolah tau apa yang sudah di alami Mala tanpa harus di jelaskan.
" om Fildan tenang saja, cantika pasti akan menjaga bunda apalagi hari ini dan besok Cantika libur sekolahnya " ucap Cantika yang memang baru berusia lima tahun dan baru sekolah taman kanak kanak tingkat A.
" anak pintar, jaga bunda mu ya " ucap Fildan yang paham kerinduan Cantika akan sosok seorang ibu yang selama ini iya inginkan.
Fildan pun keluar dari kamar tamu lalu menghampiri Darrel yang sedang duduk di teras rumah sambil menghisap sebatang rokok yang terselip di sela sela jarinya.
" siapa gadis muda itu ?"
" aku menduga dia mengalami kekerasan fisik mungkin dari orang terdekatnya tapi aku tak tau " ucap Fildan yang kini sudah duduk tak jauh dari Fildan sahabatnya sambil juga menyalakan sebatang rokok di sela sela jari tangannya.
" namanya Kemala, aku tidak tau dia siapa dan dari mana dia berasal karena semalam tiba tiba saja dia ada di jok belakang mobil " ucap Darrel sambil menatap jauh ke arah jalan yang ramai lalu lalang mobil dan motor yang lewat tanpa henti.
" tapi memang sebelum aku tau dia ada di dalam mobil ku, ada seorang laki laki yang tiba tiba saja menghentikan ku dan mencari seorang gadis "
" apa mungkin laki laki itu mencari Mala ?" tanya Darrel sambil menatap ke arah Fildan.
" jika kamu dan gadis itu baru bertemu lalu kenapa Tika menyebut gadis muda itu calon bunda nya ?" tanya Fildan penasaran.
" entahlah, aku pun tau tau bagaimana harus menjelaskan pada Tika jika dia tak bisa menjadi bundanya " ucap Darrel yang masih memeluk lukanya hingga saat ini.
" kamu tau, mungkin ini jalan dari tuhan untuk menyembuhkan luka yang menyelimuti hatimu dan juga memberikan keluarga yang utuh untuk Cantika " ucap Fildan berpikir positif atas apa yang sedang terjadi pada sahabatnya saat ini.
" apa maksudmu ?" tanya Darrel sambil menatap serius ke arah sahabatnya.
" nikahi dia, jadikan dia istri sekaligus ibu untuk Cantika " ucap Fildan santai.
" apa kamu sudah gila ?"
" pernikahan itu sesuatu yang sakral dan aku tak bisa mempermainkan ikatan pernikahan " ucap Darrel kesal.
" aku tak meminta mu untuk mempermainkan ikatan pernikahan "
" jalani pernikahan itu sepenuh hatimu dan aku yakin kamu, Mala dan Cantika akan menemukan kebahagiaan dari pernikahan yang kamu dan Mala lakukan " ucap Fildan.
" lalu apa kamu pikir wanita itu akan mau menikah dengan laki laki yang bahkan tidak iya kenal " ucap Darrel yang tak bisa begitu saja menyetujui saran yang di berikan sahabatnya.
" coba saja dulu karena bukan hanya kamu yang memiliki luka di masa lalu, aku yakin Mala juga memiliki luka yang mungkin saja lebih parah dari yang kamu alami " ucap Fildan sambil mematikan rokok yang mulai habis.
" pikirkan baik baik saran ku dan jika kamu butuh bantuan untuk meyakinkan Mala, aku sangat bersedia " ucap Fildan santai sambil bangkit dari duduknya.
✍️✍️✍️ apa Darrel akan mengikuti saran yang di ajukan sahabatnya ? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada Mala sebelum bertemu dengan Darrel ?
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Love you moreee 😘 😘 😘
terus si Reva dan si Okta diusir dari rumah itu😏