NovelToon NovelToon
MENGANDUNG BENIH SANG CEO DINGIN

MENGANDUNG BENIH SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Diam-Diam Cinta / Office Romance
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."

Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.

Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.

Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Cinta di Meja Sarapan

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, menyinari kamar tidur yang tampak berantakan estetik—sisa-sisa kehangatan semalam yang masih terasa di udara. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar kicau burung persaingan dengan suara khas tukang bubur yang lewat di depan mansiun.

Nevan berdiri di depan cermin besar, kemeja putih mahalnya sudah terpasang namun kancing atasnya masih terbuka. Wajah sang Bossman tampak frustrasi, tangannya berulang kali memutar-mutar dasi sutranya namun simpulnya tak kunjung sempurna.

Naira muncul dari balik pintu kamar mandi, sudah rapi dengan aroma parfum yang segar dan menenangkan. Ia menghampiri suaminya sambil memutar bola mata, namun bibirnya mengulas senyum kecil yang manis.

"Sini, Mas. Kebiasaan deh, udah nikah tujuh tahun tapi urusan dasi masih aja kayak anak SMA mau ujian," ujar Naira lembut sembari mengambil alih ujung dasi tersebut.

Nevan tidak melewatkan kesempatan. Ia segera menarik pinggang Naira pelan, merapatkan tubuh istrinya dan menatapnya dengan pandangan manja yang hanya ia tunjukkan di dalam kamar ini.

"Ya sengaja lah, Sayang. Biar ada alasan buat manja-manjaan dulu sebelum ketemu klien yang hobi marah-marah," bisik Nevan.

Naira tetap fokus merapikan kerah dan mulai menyimpul dasi dengan lihai. "Gombalnya pagi-pagi banget ya, Pak Nevan? Simpan tenaganya buat cari cuan, oke?"

Nevan menunduk, jarak wajah mereka begitu dekat hingga hembusan napasnya terasa di kening Naira. Suaranya berubah menjadi berat dan romantis. "Nai, kamu tahu nggak? Bau parfum kamu itu satu-satunya hal yang bikin aku semangat bangun pagi. Makasih ya udah sabar sama aku."

Naira mendongak. Mata mereka bertemu dalam sebuah tatapan yang dalam. Suasana seketika menjadi hening dan sangat romantis, seolah dunia berhenti berputar hanya untuk mereka berdua. "Sama-sama, Mas. Aku juga makasih karena kamu selalu—"

"MAMAAAAA! TOLOOOONG!"

BRAKKK!

Pintu kamar ditendang hingga terbuka lebar. Musik romantis di kepala Nevan seketika berubah menjadi musik komedi yang upbeat.

Arkana, yang kini sudah berusia 5 tahun, berlari masuk dengan sarung yang dikalungkan di leher seperti jubah superhero. Tanpa permisi, ia langsung melompat dan menyusup ke tengah-tengah, memisahkan tubuh Nevan dan Naira dengan kekuatan penuh.

"Stop! Papa jangan pegang-pegang Mama! Mama mau bantuin Arka cari kaos kaki gambar Spiderman dulu!" teriak Arkana sambil ngos-ngosan, jari telunjuk kecilnya menunjuk Nevan dengan gaya menantang.

Nevan hampir terjungkal ke belakang, menatap jagoan kecilnya itu dengan wajah tak percaya. "Arka! Papa lagi momen romantis sama Mama, loh. Kaos kaki kan bisa cari sendiri, kamu kan jagoan?"

Arkana melipat tangan di dada, mendongak menatap ayahnya dengan gaya sok bos yang sangat mirip dengan Nevan. "Enggak bisa! Mama itu asisten Arka. Papa cari asisten lain aja di kantor. Mama cuma punya Arka!"

Naira tidak bisa menahan tawa gelinya melihat tingkah dua pria kesayangannya itu. "Duh, jagoan Mama udah bangun? Sini, sayang..."

"Eh, enak aja," Nevan nggak mau kalah, ia mencoba menarik tangan Naira kembali ke sisinya. "Mama itu istri Papa, Arka. Papa yang bayar penghulu dulu!"

Arkana langsung memeluk kaki Naira kuat-kuat, seolah sedang mempertahankan wilayah kekuasaan. "Bodo amat! Arka yang nemenin Mama tidur tiap Papa dinas ke luar kota! Mama sayang Arka kan? Ayo kita sarapan, Ma. Papa ditinggal aja!"

Naira mengecup kening Nevan singkat—sangat singkat hingga Nevan belum sempat merasakannya—lalu beralih menggendong Arkana. "Maaf ya, Mas. Skor pagi ini: Anak satu, Suami nol. Kamu lanjutin sendiri ya dasinya, atau minta bantuan asisten di kantor!"

Nevan hanya bisa berdiri mematung, melihat istri dan anaknya keluar kamar dengan kemenangan di tangan Arkana. "Arka! Besok Papa kasih kamu tugas sekolah yang banyak ya! Awas kamu!" teriak Nevan pasrah.

Dari balik pintu yang sudah tertutup, suara cempreng Arkana masih terdengar nyaring. "Wlee! Papa kalah! Mama punyakuuu!"

Nevan kembali melihat ke arah cermin. Dasinya masih miring, sekacau perasaannya pagi ini. Ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Punya anak satu aja saingannya kayak ngelawan bos mafia."

Pagi yang cerah di mansiun Wiratama tidak lantas membuat suasana di ruang makan menjadi tenang. Di atas meja kayu jati yang kokoh, aroma nasi goreng buatan Naira berpadu dengan telur mata sapi yang masih mengepul dan segelas susu hangat. Namun, di antara kelezatan sarapan itu, ada "aliran listrik" persaingan yang terpancar dari dua laki-laki beda generasi.

Nevan duduk di kursi utama dengan wibawa seorang CEO, menyesap kopi hitamnya tanpa gula sambil menatap tajam ke arah Arkana. Sementara itu, Arkana yang duduk di kursi tingginya tepat di samping Naira, mengangkat dagunya tinggi-tinggi—meniru persis gaya angkuh Papanya saat sedang di kantor.

Naira menyendokkan nasi goreng ke piring Nevan dengan gerakan lembut. "Ini nasi gorengnya, Mas. Kurang kecap nggak?"

Nevan melirik Arkana dengan senyum penuh kemenangan. "Makasih, Sayang. Kamu emang paling tahu selera suamimu. Pas banget," ucapnya sengaja menekankan kata 'suamimu'.

Tak mau kalah, Arkana langsung menggeser piringnya ke depan Naira dengan bunyi trek! yang cukup nyaring. "Ma! Arka juga mau! Tapi nasi goreng Arka harus dibentuk beruang. Terus telurnya harus di atas kepala beruangnya! Cepetan, Ma!"

Nevan menyipitkan mata, merasa otoritasnya sebagai kepala keluarga mulai digoyang. "Arka, Mama bukan koki restoran. Makan aja yang ada. Jangan manja."

Arkana menatap Nevan tak kalah tajam, mata bulatnya berkilat menantang. "Mama itu koki pribadiku! Papa kan punya sekretaris di kantor, minta tolong dia aja!"

Naira tertawa geli, tangannya dengan terampil mulai membentuk nasi menjadi bentuk beruang untuk putra kecilnya. "Sudah, sudah. Ini beruangnya udah jadi. Jangan berantem terus, ah. Malu dilihat Bi Inah."

Baru saja Naira hendak menyuapi Arkana, tiba-tiba Nevan berdehem keras sambil memegangi lehernya.

"Uhuk! Aduh, Nai... tenggorokanku mendadak sakit sekali," Nevan memasang wajah memelas yang dibuat-buat. "Bisa suapin aku sesendok aja? Biar semangat kerja cari cuan buat beli mainan Arka."

Arkana melotot sempurna. Ia langsung menarik tangan Naira yang sedang memegang sendok. "Enggak boleh! Arka dulu! Arka kan masih kecil, butuh energi buat main bola. Papa udah tua, makan sendiri bisa!"

Nevan justru semakin mendekatkan wajahnya ke arah Naira, suaranya berubah manja yang membuat para staf kantornya mungkin akan pingsan jika mendengarnya. "Nai, masa kamu tega lihat suamimu yang cari nafkah ini lemas di kantor? Satu suapan aja dari tanganmu..."

Sontak, Arkana berdiri di atas kursinya, melingkarkan lengan kecilnya di leher Naira dari samping seolah memasang barikade. "MAMA PUNYAKU! Papa cari mama lain saja di toko bangunan sana!"

Naira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua "bayi" ini. Dengan sigap, ia menyuapkan sesendok nasi ke mulut Nevan, lalu dengan kecepatan kilat menyuapkan sesendok lagi ke mulut Arkana.

"Nah! Satu buat Papa Gede, satu buat Papa Kecil. Puas?" tanya Naira sambil menahan tawa.

Nevan mengunyah nasi gorengnya sambil menaikkan satu alisnya ke arah Arkana, memberikan serangan terakhir. "Tetep aja, Mama tidurnya sama Papa nanti malam. Kamu tidur sama guling."

Wajah Arkana memerah, matanya mulai berkaca-kaca karena kesal, tapi ia malah jadi makin galak. "Gak mau! Arka mau tidur di tengah-tengah! Arka mau kunci pintu kamar biar Papa tidur di sofa!"

"Ya ampun... Mas Nevan, kamu tuh ya, sama anak sendiri kok nggak mau ngalah," omel Naira sambil mengusap kepala Arkana. "Dan Arka, jangan gitu sama Papa, nanti rencana beli es krimnya Mama batalin loh."

Mendengar kata "es krim", Nevan dan Arkana saling lirik dalam diam. Keduanya terdiam sejenak, seolah sedang melakukan negosiasi batin. Namun, tak lama kemudian, keduanya serempak menyodorkan piring kosong mereka ke arah Naira dengan wajah yang sama-sama memelas.

"MA, TAMBAH LAGI!" seru Nevan dan Arkana berbarengan.

Naira menghela napas pasrah sambil mengambil piring mereka. "Nasib punya dua bayi di satu rumah... yang satu CEO, yang satu calon CEO, kelakuannya sama saja."

1
yuningsih titin
naira mau dipaksa kawin jadi istri ke empat tuan Tommy...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!