NovelToon NovelToon
Satu Malam Yang Merubah Ku

Satu Malam Yang Merubah Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Hamil di luar nikah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Millea

Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.

Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.

“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:

mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Pagi hari. Aaliyah menatap dari jendela kamarnya, sebuah rumah yang berada dalam kompleks perumahan Elit di Kensington, tempat dimana rumah yang dulu ia tempati bersama sang ayah. Rumah ini sekarang menjadi salah satu warisan yang di berikan Daddy nya pada Aaliyah dan sang Ibu. Semenjak sang Daddy wafat, Aaliyah merasa bersyukur tidak tinggal sendirian disini, melainkan bersama sang Mommy yang mendapatkan pindah tugas di London, Inggris. Yang sebelumnya bertugas di Madagascar selama 3 tahun.

Udara dingin musim gugur menusuk kulit, membuat embun tipis menempel di kaca. Ia mendesah pelan, matanya masih menyimpan lingkar hitam akibat malam-malam tanpa tidur nyenyak. Sejak kejadian

di hotel itu, dunia seakan kehilangan warnanya.

“Good morning, darling.”

Suara ibunya, Amira, terdengar lembut dari ruang makan. Wanita itu berparas anggun dengan garis wajah campuran Turki dan Indonesia dengan bolat mata yang berwarna coklat. Amira bekerja sebagai diplomat, jadwalnya sibuk, tetapi selalu berusaha menjaga rutinitas sarapan bersama putrinya sambil bercerita satu sama lain, tentang pekerjaan mereka kemarin.

Apa lagi setelah sang suami meninggal Amira meluangkan sedikit waktunya untuk meneman sang putri sarapan sebelum mereka berdua beraktivitas.

“Pagi juga, Mom,” jawab Aaliyah dengan suara pelan. Ia memaksa tersenyum, meski tubuhnya terasa berat.

Di meja, roti bakar, selai aprikot, dan secangkir kopi hitam sudah tersaji. Aaliyah duduk, menunduk, berusaha menyembunyikan wajah yang penuh beban. Mommynya belum tahu apa yang menimpanya malam itu, dan Aaliyah tidak punya keberanian untuk bercerita. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa dirinya—yang selama ini begitu hati-hati dalam bergaul—telah di Nodai oleh seorang pria mabuk di kamar hotel dan dipaksa menjalani malam yang tak pernah ia inginkan?

Ia menggenggam cangkir kopi erat-erat. Kata-kata pria itu masih membekas. Lebih tepatnya, kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri setelah semua terjadi.

“ Aku tidak butuh pertanggung jawaban mu! Lebih baik segera lah kau bertobat dan mendekati diri pada tuhan, ingat kedua orang tua mu. Bagaimana meraka sampai tahu kalo anak lelakinya seorang gay."

Wajahnya panas hanya mengingatnya. Aaliyah tahu pria itu—sudah sering ia lihat di kompleks ini. Tinggal tidak jauh, hanya beberapa rumah dari kediamannya. Seorang pria Indonesia yang katanya sudah lama bekerja di Inggris. Tetapi namanya, Aaliyah benar-benar tidak tahu. Ia hanya mengenal wajahnya.

Amira terus memperhatikan gerak gerik sang putri yang sejak beberpa hari ini terus

terlihat menyembunyikan sesuatu pada dirinya. Wajah lesu penuh tekanan membuat Ibu satu anak itu merasa curiga di buatnya.

" Apa yang sedang Aaliyah sembunyikan dari ku ? Kenapa dia tidak mau bercerita pada Mommy nya ?"  gumam Amira lirih sambil terus memperhatikan wajah Aaliyah yang penuh beban.

"Apa Bibi Fatma tahu dengan masalah yang sedang Aaliyah sembunyikan dari ku ? " ucap Mommy Amira dalam hati.

Bibi Fatma merupakan mantan pengasuh Aaliyah saat kecil dulu. Tapi saat ini Bibi Fatma berpindah jobdes menjadi juru masak di kediaman mereka.

---

Di lain tempat, Pratama terbangun dengan kepala berat. Hanya cahaya tipis menembus gorden kamarnya yang membuatnya sadar pagi sudah datang. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kedua tangannya seolah ada noda tak kasat mata yang menempel.

“Maafkan aku…” gumamnya pelan, lalu menunduk.

Dia tidak bisa melupakan apa yang terjadi. Bayangan perempuan itu—mata yang dipenuhi amarah, tubuh yang menolak keras, dan kata-kata penuh kebencian—menempel di pikirannya. Itu bukan sekadar mabuk lalu kehilangan kendali. Itu dosa. Itu penghianatan terhadap semua hal yang ia percayai tentang dirinya sendiri.

Sepanjang hidup, Pramana tidak pernah merasa tertarik pada perempuan. Sejak remaja, ia sudah menerima kenyataan bahwa dirinya hanya bisa jatuh cinta pada pria. Tak ada yang mengetahui kenyataan ini selain sahabat karipnya di London. Jadi ketika ia sadar dirinya menodai seorang wanita, itu bukan hanya kesalahan moral, tapi juga pukulan terhadap perbuatan yang telah ia buat selama ini, di tambah dengan kata - kata Aaliyah malam itu. Membuat Pramana semakin tersiksa.

“Apa yang sudah aku lakukan…” suaranya pecah, bergetar.

Pramana memutuskan masuk kantor lebih siang. Ia bekerja di sebuah firma keuangan internasional, posisi yang cukup mapan setelah bertahun-tahun meniti karier. Tapi pagi ini, bahkan jas mahal dan dasi sutra tidak bisa menutupi kekacauan batinnya. Ia ingin menemukan wanita itu. Minta maaf. Melakukan sesuatu—apapun—untuk menebus perbuatannya. Tapi bagaimana caranya? Ia bahkan tidak tahu siapa dia.

---

Hari berikutnya, di sebuah galery kecil di pusat kota, Aaliyah menata mock-up desain interior untuk klien barunya. Ia bekerja sebagai desainer di perusahan interior, ia sering mendapat proyek dari rekomendasi ibunya yang punya banyak koneksi internasional. Pekerjaan adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya lupa, walau hanya sejenak.

“Aaliyah, desain tak perlu di ragukan lagu, ini sangat bagus, ” puji salah satu kolega seninya, seorang pria paruh baya bernama Mr. Collins. “Kamu sangat detail membuat desain yang sangat saya inginkan "

Elara tersenyum sopan. “Thank you, Mr. Collins.”

Dalam hati, ia justru berjuang keras menahan gemetar. Setiap kali melihat cahaya lampu tamaram atau mendengar suara musik keras, ingatannya berputar kembali ke malam itu. Ia benci dirinya sendiri yang lemah, benci pria itu, dan benci kenyataan bahwa mereka sebenarnya tinggal begitu dekat.

Bagaimana kalau aku bertemu dengannya lagi? pikirnya dengan cemas. Apa yang akan kulakukan? Apa aku harus berteriak? Atau berpura-pura tidak mengenalnya?

---

Sore itu, jawaban atas pertanyaan Aaliyah datang lebih cepat daripada yang ia duga.

Ia baru saja pulang, berjalan di trotoar dalam kompleks perumahannya. Angin dingin menusuk, membuatnya membungkus tubuh dengan mantel krem panjang. Rambut cokelat tuanya dibiarkan tergerai, menutupi sebagian wajah. Ia menahan napas ketika langkahnya melambat.

Di ujung jalan, seorang pria keluar dari rumah dengan pintu bercat hitam. Tubuh jangkung, rambut hitam yang sedikit berantakan, dan jas kerja masih melekat. Aaliyah langsung mengenalinya.

Dia.

Jantung Aaliyah berdegup kencang. Itu pria yang menyeretnya malam itu. Pria yang mabuk, menodainya, lalu meninggalkannya rasa trauma yang tak bisa hilang.

Pramana, tanpa menyadari sorotan mata itu, mengunci pintu rumahnya lalu menuruni tangga kecil menuju mobil. Ia mengangkat ponsel, berbicara cepat dalam bahasa Inggris dengan logat British yang sudah kental. Dari ekspresinya, ia tampak gelisah, seperti sedang dikejar pikiran.

Aaliyah berdiri kaku, bersembunyi sedikit di balik pohon maple yang daunnya mulai menguning. Tangannya gemetar, perutnya terasa mual. Ia ingin berlari, ingin masuk rumah secepatnya, tapi tubuhnya justru terpaku.

Ketika Pramana berjalan melewati jalan setapak, jarak mereka tidak lebih dari sepuluh meter. Untuk sesaat, mata Aaliyah menangkap dengan jelas wajah itu. Sorot mata penuh sesal, garis rahang yang kaku, dan ekspresi letih.

Namun Pramana tidak menoleh padanya. Sama sekali tidak. Ia hanya melewati, masuk ke dalam mobil, lalu pergi.

Aaliyah tersentak. Jadi benar—dia tidak mengenalnya. Tidak tahu bahwa wanita yang ia seret malam itu adalah tetangganya sendiri.

Perasaan aneh merayap di dada Aaliyah. Antara lega, karena rahasianya masih aman, sekaligus sakit, karena baginya malam itu berarti luka sekaligus trauma mendalam baginya, sementara bagi Pria itu… mungkin hanya kabut dari alkohol.

Air mata menetes dari sudut matanya. Ia bergegas berjalan menuju rumahnya, menutup pintu dengan keras, lalu jatuh terduduk di balik pintu.

“Kenapa harus aku…” bisiknya lirih.

---

Di sisi lain, Pramana mengemudi dengan pandangan kosong. Jalanan kota London yang sibuk tidak sanggup mengalihkan pikirannya. Malam itu terus mengulang di kepalanya. Ia mendengar suara perempuan itu lagi—keras, penuh tuduhan—“Kau bahkan seorang pria gay. Apa artinya ini bagimu?!”

Ia memukul setir dengan keras.

“Aku harus menemukanmu,” katanya pelan. “Aku harus…”

Namun ia tidak tahu harus mulai dari mana. Dunia terasa terlalu luas untuk mencari seseorang yang bahkan namanya pun ia tidak tahu.

---

Malam tiba, dan dari jendela kamar masing-masing, dua jiwa itu menatap ke arah yang sama tanpa saling tahu. Aaliyah duduk dengan secangkir teh hangat di tangannya, masih gemetar setiap kali teringat wajah Pramana. Sementara Pramana duduk di meja kerjanya, menatap kosong ke luar jendela dengan segelas whisky di atas meja— minuman yang dulu sangat ia sukai, menjadi minuman yang sangat ia benci saat ini.

Gara - gara minuman itu ia mabuk berat lalu menodai anak gadis orang di kamar hotel. Tempat dimana perusahan tempat kerjanya mengadakan pesta.

Dua rumah, satu kompleks, dua hati yang terluka.

Dan takdir baru saja mulai mempermainkan mereka.

Bersambung....

1
Uthie
Coba mampir 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!