NovelToon NovelToon
Bu CEO Korban Makcomblang

Bu CEO Korban Makcomblang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Berondong / Cinta Beda Dunia / Wanita Karir / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.

Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.

Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.

Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.

Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.

Cover Ilustrasi by ig pixysoul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Mau ngapain sih dia ke sini?"

Arcila buru-buru berjalan cepat di lorong yang sepi. Di kanan dan kiri, terdapat pintu-pintu tertutup rapat. Isinya adalah deretan kamar khusus keluarga di Hotel Astoria. Terletak di lantai paling atas. Arcila membuka satu pintu, sebuah kamar tipe presidential suite.

"Dia nggak amanah," ucapnya masih menggerutu.

Tubuh Arcila merosot di balik pintu. Tasnya dilempar gitu aja, nggak peduli itu adalah tas keluaran terbaru dari brand ternama. Harganya di atas 300 juta. Tapi di mata Arcila, tas tersebut sama sekali nggak berharga.

"Aku harus telfon dia!" Arcila berdiri lagi, mengambil asal tasnya. Ia masuk ke kamar. Pemandangan kota yang kelihatan indah sekaligus hangat, nggak bikin emosinya reda.

Ponsel mahal ditempelkan di telinga kiri. Arcila siap meledak, masa bodoh dengan julukannya sebagai wanita tenang, elegan, nggak dramatis. Di saat-saat kayak gini, wajar kalau dia marah!"

"Mas Dafsa!" panggil Arcila, menekan nama Dafsa untuk menggambarkan seberapa kuat emosinya.

"Bu Arcila, ya?" Di seberang sana, Dafsa malah kegirangan. Dia turun dari motornya, memasang standar satu, batal pergi dari basement Hotel Astoria. "Saya ingin bertemu, Bu, kenapa tadi Ibu lari?"

"Kenapa saya lari? Anda nggak tahu jawabannya?"

"Lho, kenapa, ya?" Dafsa jadi bingung. Ia terdiam sesaat, mengingat-ingat kejadian kemarin sore. Kayaknya Arcila marah, soalnya kemarin Dafsa nunjukin sikap agak kurang ajar.

Sebetulnya nggak bisa dianggap kurang ajar juga. Mengingatkan klien soal kejujuran adalah tugasnya. Tapi sekarang, Dafsa malah ngerasa bersalah. Apa mungkin karena dia butuh banget bantuan Arcila, sampai-sampai mengenyampingkan motto kiosnya sendiri?

Ah, Dafsa juga bingung.

"Katanya Mas bisa menjaga rahasia klien, terus mana buktinya? Kenapa datang ke tempat kerja saya? Maunya Mas apa? Bilang sama semua orang kalau saya pernah datang ke Kios Makcomblang Dafsa?!" Suara Arcila melengking.

Betul kalau dia kehilangan kontrol. Mau bagaimana lagi, tindakan Dafsa yang muncul di hotel bukan hanya mengganggu, tapi sudah amat sangat berbahaya. Bagi Arcila, reputasinya tidak boleh digoyahkan oleh siapa pun, dan oleh gosip apa pun. Susah payah ia dan kedua orang tuanya membangun citra selama puluhan tahun, demi mendapatkan dukungan dari tetua keluarga Astoria.

"Ternyata ya, Arcila Astoria yang selama ini kelihatan elegan, mahal, nggak gampang digapai, ketahuan dateng ke Kios Makcomblang Dafsa! Mau apa coba? Apa dia udah kehilangan harapan dapetin suami yang cocok sama kriterianya? Segitu nggak menariknya dia di mata cowok-cowok?"

Suara dalam kepala Arcila menggaung tanpa diminta. Suara-suara itu tercipta dari rasa khawatir yang nggak bisa disepelekan.

"Saya minta maaf, Bu. Kedatangan saya ke hotel untuk membicarakan kriteria yang Ibu inginkan," kata Dafsa, sadar betul di mana letak salahnya. Ternyata, dia emang nggak boleh ketemu sembarangan sama Arcila. Perempuan itu punya jabatan penting di hotel. Namanya udah besar. Sedikit aja ada yang kelihatan ganjil di mata orang-orang, udah, semuanya bakalan hancur.

"Selain itu, saya juga ingin minta maaf soal sikap saya kemarin sore, Bu. Harusnya saya memberi peluang untuk Bu Arcila lebih banyak."

Sekarang mata Arcila menyipit dengan pandangan lurus ke depan. Permintaan maaf dari Dafsa menimbulkan sedikit kecurigaan. Bukannya kemarin sore, lelaki yang jadi owner Kios Makcomblang Dafsa itu kelihatan tegas banget, ya? Bisa dibilang nggak ada toleransi buat sebuah kebohongan.

"Anda mau memanfaatkan saya, Mas Dafsa?" Terang-terangan Arcila bertanya. Selain kesal pada Dafsa, ia juga kesal pada diri sendiri. Bagaimana bisa Arcila melewatkan kemampuannya membaca niat orang lain?

Arcila mengepalkan sebelah tangannya yang terbebas. Sekarang bukan lagi kesal, tapi ia sudah sangat marah. Semua rencana menyembunyikan jari diri gagal total. Dafsa pasti udah tahu siapa Arcila sebenarnya, makanya lelaki itu datang ke hotel.

Sementara itu, Dafsa terdiam. Tercipta sebongkah rasa bersalah. "Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Bu. Saya salah," akunya tak mau mengelak.

"Saya kecewa sekali, Mas. Andai saja Mas Dafsa memegang teguh keprofesionalan dalam bekerja, dan membantu saya setulus hati, saya pasti akan memberikan bayaran seratus kali lipat dari klien lainnya. Tapi karena Mas Dafsa sudah bersikap sangat kurang ajar seperti ini, biar saya tegaskan, jangan pernah muncul lagi di depan saya!"

Dafsa menelan ludah. Makin merasa bersalah. Dua kali ia salah langkah. Pertama nggak perhatian sama kliennya, sampai nggak tahu dari mana mereka berasal. Kedua bikin kecewa kliennya. Sepanjang berkarir sebagai makcomblang, Dafsa nggak pernah dikritik segini tajamnya.

Oke, dia emang salah. Dafsa udah keterlaluan.

"Bu—"

Tut ... tut ... tut ....

Arcila mengakhiri panggilan secara sepihak. Ponselnya dilemparkan begitu saja, mendarat mulus di atas ranjang beralaskan seprai katun Mesir yang halus dan berkilau.

Tubuhnya menyusul, telentang dengan kepala menghadap ke langit-langit kamar. Rangka lampu chandelier keemasan tiba-tiba terlihat sangat rumit. Sepertinya Arcila harus berendam supaya tubuhnya terasa ringan. Ia juga harus keramas. Siapa tahu semua rasa pening di kepala bisa disingkirkan dengan harumnya sampo mahal yang ia miliki. Baru ingin beranjak ke kamar mandi, suara bel di depan pintu berbunyi nyaring.

Arcila membuang napas. Mustahil staff hotel yang datang, sebab mereka tidak punya akses naik ke lantai paling atas. Terpaksa Arcila menyeret kaki, membuka pintu tanpa mengecek monitor.

"Papa," panggil Arcila, bergumam pelan menatap sang ayah di depan mata.

"Sudah Papa duga kamu ada di sini." Rama Astoria masuk tanpa permisi, duduk nyaman di atas sofa beludru berwarna hitam. "Kenapa mendadak mau nginep di sini, Cila?"

Arcila diam. Rama memang memanggil nama kecilnya dengan lembut, tapi ada sedikit tekanan dalam suaranya.

"Mau santai aja, Pa," kilah Arcila ikut duduk.

"Santai bisa dilakukan di rumah."

"Bosan, Pa." Untuk yang kedua kalinya Arcila kembali berkilah, sambil menunjukkan sederet giginya yang rapi.

"Papa pikir kamu mau menghindar," sindir Rama melonggarkan dasi. Lelaki paruh baya yang terlihat masih bugar dan tampan itu menatap putri semata wayangnya cukup serius.

"Menghindar dari apa?"

"Dari pembicaraan soal makan malam keluarga besar satu minggu lagi. Kita yang akan jadi tuan rumahnya. Belum lupa, kan?"

"Oh, mana mungkin aku lupa, Pa," jawab Arcila tertawa pelan. Tawa yang sebenarnya bisa diartikan, kalau dia lagi kejepit.

Iya, kejepit keadaan. Makan malam bersama keluarga besar itu petaka buat Arcila, apalagi keluarga intinya yang akan jadi tuan rumah. Seluruh keluarga besar pasti akan datang. Adik dan kakak dari kakek serta neneknya. Om dan tante dari papanya. Sepupu, keponakan. Kalau ada yang nggak datang, siap-siap aja dicecar di acara makan malam berikutnya.

Arcila nggak pernah absen. Dia selalu hadir. Tapi kehadirannya selalu jadi buah bibir. Karena apa? Karena cuma dia yang belum nikah di umur 31 tahun ini. Semua sepupunya udah nikah. Sebagian besar ketemu jodoh di umur 25, paling lambat 27 tahun. Jadi udah pasti, Arcila dapet predikat Jomlo Paling Tua di keluarganya. Menyedihkan, bukan?

"Jangan tunjukkan kekurangan kamu di depan orang lain, ya. Keluarga besar itu masuknya orang lain. Kamu paham apa maksud Papa?"

Arcila setengah mengangguk. Dia ingin menyela, kalau melajang sampai umur 31 tahun bukan kekurangan. Tapi apalah daya, Arcila nggak punya tenaga buat beradu argumen. Dia takut ujung-ujungnya bakalan dijodohin lagi sama si om-om anak lima. Papanya 'kan emang rada ajaib. Lebih baik ngeliat anaknya nikah sama duda anak lima, daripada ngeliat anaknya nggak ada kemajuan soal percintaan dari tahun ke tahun.

"Aku udah ada kandidat kok, Pa," ucap Arcila. Sungguh dusta paling besar yang pernah ia bawa di depan Rama Astoria.

"Oh, ya? Cowoknya baik? Pekerja keras? Dari keluarga mana?" Rama tampak antusias.

"Nanti aku kenalin langsung ya, biar Papa bisa menilai sendiri." Itu adalah kalimat paling aman yang bisa Arcila ucapkan. "Sekarang aku mau bersih-bersih terus istirahat. Dua jam lagi aku turun ke restoran buat makan malam. Papa mau nunggu?"

Rama menggelengkan kepala. Ia punya urusan di tempat lain. "Bawakan Papa calon menantu yang terbaik ya, Cila, jangan mempermalukan Papa di depan keluarga besar kita. Kamu ini calon pewaris, harus selalu bisa diandalkan."

Arcila hanya melempar senyum seraya mengangguk, mengantar Rama keluar dari kamarnya. Setelah sang ayah melangkah ke lift, Arcila merosot lagi di balik pintu.

"Gimana ini? Apa aku hubungi lagi si Mas Biro itu?" tanya Arcila, hanya mengingat Dafsa sebagai penolongnya.

1
yuma
ngakak bangettt anjirr, lgian cuci motor cma pke kolorrr mna wrna kuning🤣🤣
yuma
udahlah daf, klau itu udh jd keputusan arcila. toh gak ada ruginya bagi km
Wulandaey
aihh cila walaupun kesel masi belain kang mas dafsa
Wulandaey
yeu andra suka ikut campur deh🤣 dah nyingkir lah cila sukanya ama mas dafsaa
Nurani Putri
mungkin ini alasan dy di cerai sma istri nya trdahulu kali ya rempong
Nurani Putri
ayoo daf tinggal blg maaf susah btul
ainnuriyati
hahahaa maluu nya sampe ke kolor kolor tu🤣
ainnuriyati
cila bgitu jg krn kepepet daf aslinya ma bener itu
brilliani
ah, tipe cowo rempongg ama sok ngatur ya
brilliani
🤣🤣 dafsa mulai jilat ludah sendiri
Hardy Greez
dicariin cilaa 🤭 papa mertua jg nanyanya ke dafsa yaa
yuma
kasian udah pedeee bgtt🤣🤣
yuma
akhirnya ada hilal cemburu wkwkw
yuma
awass nyesel dafsa🤭
yuma
njrr trnyta udh di jodohin dri orokkkk, cma bda nasib aja
yuma
njrrr smpe di kirain teronggg, aduhhh pusing jga dgn arcilaaa
Caramel
tapii dafsa udh mulai pedulii Ihkk, kecarian jga dia gaada arcila
Caramel
gak espekk bgtt dudanya msh muda, tapi gacor bgtt udh pnya anak 5
Caramel
hmmm yukkk dafsa buka hati, Terima aja cegil itu
Caramel
gak bisa berkata-kata lgi dengan kelakuan gila arcila😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!