Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 3. Hadiah
Pagi di kediaman White, ya kediaman milik Rona White. Seorang pelayan mengantarkan undangan sambil membawa seekor kuda yang sangat bagus sebagai hadiah atas rasa terima kasih dari tuan muda Dean Wilton karena menyelamatkan nyawanya waktu lalu.
Bily yang kaget melihat beberapa pelayan membawa kudanya di dekat kandang kuda.
“Ah maaf ini apa ya? kelihatannya nona kami tidak akan senang menerima kuda yang begitu berharga ini.” Tolak Bily dengan halus kepada pelayan tersebut.
“Maaf keputusan ini ada ditangan Nona anda, Tuan kam saat ini sedang mengunjungi kediaman nona.” Jawab cepat dari pelayan ang mengantar kuda tersebut.
Saat ini Dean berada di ruang tamu kediaman White menunggu gadis itu menghampirinya. Ia duduk dengan santai menatap sekeliling ruangan tersebut.
Malam Sebelum kedatangan Dean ke kediaman White. Dia sempat bingung memikirkan hal apa yang akan disampaikan pada gadis itu.
Malam itu sungguh dingin angin berhembus dengan derasnya. Pepohonan melambaikan rantingnya kekanan dan kekiri. Malam ini menjadi malam terdingin di sebuah desa kecil yang belum lama ia tinggalkan.
Dean yang sedari tadi membolak balik kertas dan menandatangani beberapa kontrak serta mencoret-coret arsip di dalamnya. Wajahnya tampak serius namun tetap terlihat tenang, tak ada satupun keraguan yang ia rasakan. Namun satu hal, ia merindukan sosok gadis cantik yang ia temui beberapa waktu lalu.
“Aduh perutku.” Gumam Dean memegangi perutnya.
Seorang lelaki masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Dengan tenang ia meletakkan nampan tersebut dan menutup sebagian jendela yang ada di ruang kerja majikannya tersebut.
“Tampaknya anda kelelahan dan lupa makan malam tuan.” Ucap Rico dengan tenang.
“Sepertinya aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku kacaukan Rico.” Sambil tersenyum tipis di ujung bibirnya.
Rico menaikkan kacamatanya ke ujung pangkal hidungnya menatap tuan mudanya tersebut lalu mengeluarkan beberapa berkas dari sakunya.
“Kelihatannya nona kita sedang mengalami sedikit kendala tuan.” Sembari meletakkan berkas tersebut.
Dengan cepat Dean membaca kertas tersebut dan menatap lekat apa yang akan segera ia rencanakan.
“Kirim seseorang besok pagi, aku akan berkunjung ke kediaman gadis itu. Dan sebaiknya kau menyiapkan hadiah untuknya.” Memerintah kan Rico sambil menaruh kedua tangannya diatas meja sembari kepala nya menyanggah dagunya.
“Maaf tuan sepertinya nona kita ini tidak terlalu menyukai hadiah.” Ungkapnya menyela Dean yang sedari tadi menyembunyikan ekspresinya.
“Benarkah, haruskah kita menyusun beberapa rencana yang membuatnya menerima kebaikanku.” Tanya Dean pada pelayannya tersebut.
“Hari ini kudengar nona berusaha menjinakan seekor kuda liar.” Ungkap Rico dengan nada sedikit ragu.
“Ha apa kuda liar?” Dean bertanya sembari menaikkan alisnya.
“Seperti yang tertulis di berkas tersebut, nona kita ini selain ceria ia juga unik. Tampaknya ia ingin memiliki kendaraan yang cepat untuk mengatur jalur bisnis perdagangan pengiriman susunya keluar kota.” Menjelaskan dengan sangat rinci.
“Begitu ya, dia seorang wanita yang sangat bekerja keras. Lalu bagaimana dengan kakak perempuannya?” Tanya Dean memastikan keluarga dari gadis yang menolongnya itu.
“Ah nona Rona memiliki kakak bernama Emily, seperti yang ada ketahui gadis itu cukup lemah dalam fisik. Berbanding terbalik dengan nona Rona. Haruskah saya mencari tahu lebih lanjut tuan?” Tanya Rico sambil mengambil nampan makanan yang baru saja di habiskan Dean.
“Cari tahu seperlunya saja, tapi besok jika saya datang dan gadis itu menolak hadiah saya. Beli semua persediaan susu mereka. Mungkin bantuan ini bisa sangat membantunya.” Ucap Dean berdiri meninggalkan meja kerjanya.
“Baiklah tuan malam sudah larut, sebaiknya anda tidur sekarang. Saya permisi terlebih dahulu.” Rico meninggalkan Dean yang masih menatap keluar jendela menikmati malam dingin yang cukup indah baginya.
“Gadis yang sangat unik.” Senyum tipis Dean sembari menatap langit.
Hentakkan kaki dari seorang gadis terdengar dari kejauhan, Dean menatap pintu masuk yang hendak terbuka. Seorang gadis anggun berada diujung pintu tersebut. Dean dengan gadis itu saling menatap lekat, namun gadis itu terpaku pada ketampanan Dean.
“Maaf telah menunggu lama.” Ucapnya dengan lembut.
Tak lama dari balik pintu terlihat seorang gadis dengan pakaian berburuhnya memasukin ruangan dan membuat Emily menatap gadis yang tidak salah lagi adalah adiknya.
“Maaf membuatmu menunggu tuan.” Ucap Rona sembari mengatur nafas dan memegangi dadanya.
“Ya aku menunggumu nona.” Jawab santai Dean yang senyum serta pandangannya tidak putus dari Rona.
Rona dan Emily duduk di satu sofa yang sama. Emily berbisik kepada Rona sambil memberikan kode padanya.
“Kau ini bagaimana dengan pakaianmu, lelaki tampan sedang berkunjung di kediaman kita ini.” Bisik Emily pada Rona.
“Diamlah.” Bisik Rona pada kakaknya.
Rona menatap lelaki itu dan lelaki itu menatap dalam matanya dan sangat dalam, tak sengaja wajah Rona memerah.
“Astaga apa ini? kenapa aku tersipu dan malu, jantungku tidak berhenti berdetak. Tidak saat ini bukan saatnya begini.” Gumam Rona dalam hati.
“Kelihatannya tuan menikmati tehnya.” Ucap Emily membuka suara dari keheningan ini.
“Ah benar aku menyukai aromanya, teh ini sangat segar.” Jawab Dean, namun yang di maksudnya bukan wangi dari tehnya melainkan aroma tubuh Rona yang melewatinya saat hendak duduk tadi.
“Apakah yang membuat tuan datang kesini? seperti yang telah saya dengar anda memberikan saya hadiah yang cukup besar.” Ucap Rona masih menatap lelaki itu.
“Itu bukan hal besar nona, anda sudah cukup baik dalam menyelamatkan saya. Dan saya dengar anda membopong saja ke rumah tua pinggir desa ini. saya benar-benar sangat berterimakasih atas hal ini.” Ucapnya sambil meletakkan cangkir teh nya perlahan.
“Sial kenapa lelaki ini memancarkan wangi seperti waktu itu. Aku kira penciumanku buruk atau aku salah ternyata benar aroma mawar yang menyengat ada pada lelaki ini.” Gumam Rona dalam hati.
“Rona. Rona.” Panggil Emily.
“Ah maaf ada yang saya pikirkan. Namun tetap saja tuan, kuda ini terlalu mahal untuk saya. Saya hanya cukup bersyukur anda selamat.” Ucap Rona menolak halus tawaran lelaki yang sudah membuatnya jatuh hati tersebut.
“Sepertinya anda harus melihat kudanya terlebih dahulu dan menaikinya baru anda paham.” Ucap Dean bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya pada Rona.
Rona menatap tangan panjang besar lelaki itu yang mengulur tepat di hadapannya. Seperti terhipnotis tangan Rona menggenggam tangan lelaki tersebut.
Emily menyadari ada perasaan yang membuat adiknya itu seakan tertarik pada lelaki ini.
“Pergilah Rona, tuan sudah menggenggam tangan anda. Ajaklah ia berkeliling kediaman ini. Saya akan undur diri terlebih dahulu tuan.” Ucap Emily meninggalkan mereka berdua.
Hentakkan kaki senada, menuju kandang sapi tempat kuda itu diletakkan. Tangan Rona dengan tuan muda Dean masih bergandengan. Rona menoleh kekiri dan menepuk kepalanya, jantungnya tidak berhenti berdetak dengan kencangnya. Sedangkan lelaki itu dengan senyuman dan sikap tenangnya membuat Rona salah tingkah.