NovelToon NovelToon
Aku Dia Dan Dirimu

Aku Dia Dan Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mencintai ku, dan jika pun cinta segitiga ini tetap harus berlanjut maka aku akan pastikan bahwa aku akan menjadi pemenang nya. apapun yang terjadi nantinya." ucap Daisy yang sudah putus asa karena tidak bisa melepaskan diri dari cinta yang terus membelenggu nya.

Dengan luka dan tetes air mata gadis cantik itu melanjutkan langkahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Persahabatan dua gadis dewasa berusia 22 tahun itu cukup erat, sebenarnya bukan dua tapi tiga, namun berhubung salah satu dari mereka tidak melanjutkan kuliah di jurusan yang sama jadi salah satu dari mereka jarang bertemu karena gadis bernama Tiana itu juga tidak kuliah di kampus yang sama.

Mereka berasal dari keluarga berada, tapi kehidupan mereka tidak sama, mereka memiliki problem masing-masing.

Jeny yang bahagia dengan keluarga nya yang utuh, sementara Tiana dengan keluarga broken home nya, dan juga Daisy dengan perceraian kedua orang tuanya hingga menyisakan derita yang selama ini Daisy tanggung bersama kedua orang tuanya.

Jeny dan Daisy sepakat untuk mengambil jurusan kedokteran karena mereka memiliki trauma tersendiri atas sakit yang diderita oleh orang terkasih nya.

Jeny dengan keponakan nya yang mengalami auto imun, setelah kepergian kakak tertuanya yang merupakan anak bawaan dari sang mommy.

Sementara Daisy dengan kondisi sang Mama yang sakit parah hingga akhirnya ia harus menjadi anak piatu saat ini.

Melihat orang yang sangat kita cintai sakit tapi kita tidak berdaya untuk menolong nya, hal itu yang memacu semangat keduanya.

Dan kini kehidupan Daisy sudah tidak seperti dulu lagi, dia sudah kehilangan banyak harta benda untuk pengobatan sang Mama, dan kini hanya tinggal rumah dan dua mobil milik mereka yang tersisa berikut tabungan yang hanya tersisa empat ratus juta.

Uang itu tidak mungkin cukup untuk melanjutkan kuliah nya nanti, Daisy hanya akan menjadi dokter umum bukan dokter spesialis dalam yang selama ini dia cita-cita kan karena untuk itu dia harus kembali lagi melanjutkan kuliahnya untuk mengambil spesialis.

Tapi setidaknya dia masih bisa kuliah hingga lulus menjadi dokter nanti setelah itu ia akan bekerja lebih dulu untuk kembali menyambung pendidikan nya itu.

Daisy kini masih anteng dengan lamunannya setelah tadi gagal bercerita pada Jeny karena Jeny tiba-tiba saja tidak enak perut dan Daisy langsung mengantar Jeny pulang ke rumah nya.

Kuliahnya hanya tinggal satu semester lagi, Daisy pun harus bisa menggunakan uang nya sebaik mungkin.

Dia juga masih memikirkan tentang biaya perawatan rumah sekaligus gaji kedua asisten rumah yang mungkin sebentar lagi akan pindah bekerja karena Daisy sudah bicara pada nyonya Sisilia.

"Non ini ada titipan dari papah non, maaf bibi baru sempat memberikan nya pada nona, tuan bilang pin nya tanggal pernikahan nyonya dan tuan."ucap bi Cece dengan ragu-ragu karena dia tau nona muda nya tidak akan mau menerima itu.

"Bibi kembalikan saja pada dia, aku tidak sudi menggunakan semua itu, karena dengan begitu sama saja aku ikut menyakiti mama, bilang padanya bahwa aku akan tetap hidup meskipun tanpa belas kasihan darinya."ucap Daisy.

"Bibi tidak bisa non maaf bibi tidak berani menentang tuan."tolak bi Cece.

"Baiklah simpan saja itu disana biar aku kembalikan padanya."ucap Daisy yang kini hendak menghidupkan laptop nya.

"Non, ponsel nona bergetar."ucap wanita itu lagi mengingatkan saat melihat handphone tersebut hampir jatuh.

"Oh makasih bi,"ujar Daisy sambil meraih handphone tersebut.

Daisy pun langsung bangkit dari duduknya dan menerima panggilan tersebut.

"Ya aunty"ujarnya

"Apa?!"ujar Daisy lagi dengan paniknya.

"Baik aunty Daisy kesana."ucap Daisy dengan terburu-buru menutup telfonnya kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu sebelum dia pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Jeny.

Ternyata nyonya Sisilia yang menghubungi Daisy dan memberitahu nya untuk menemani Jeny yang baru saja dilarikan ke rumah sakit karena sakitnya semakin parah.

Sepertinya Jeny mengalami gangguan pencernaan karena tadi dia makan-makanan yang cukup pedas.

Hanya butuh tiga puluh menit untuk Daisy yang kini sudah tampil cantik dengan make-up natural yang kini membuat wajah nya semakin cantik, bukan tanpa alasan dia berdandan, semua itu untuk menutupi wajah sembab nya.

Sementara untuk acara tahlilan digelar di mesjid komplek rumah, dan dihadiri oleh banyak ibu pengajian disana.

Daisy sendiri tidak tahu itu karena itu atas permintaan tuan Wijaya agar putrinya tidak terus larut dalam duka ditambah lagi dia ingin doa tersebut lebih khusyuk.

Daisy sendiri bahkan sampai lupa bertanya tentang persiapan tersebut karena sahabatnya terus-terusan memanggil dirinya ditengah-tengah rasa sakit nya itu.

Daisy yang kini membawa Hoodie dan tas selempang di tangan nya pun langsung bergegas pergi dengan mobilnya.

Gadis cantik itu diminta untuk datang oleh nyonya Sisilia yang saat ini sedang berada di luar negeri dan baru berangkat tadi siang untuk pengobatan cucunya.

Sementara di kediaman nyonya Sisilia hanya ada Aksa yang kini masih sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan. Dan Jeny dibawa oleh asisten tuan Dimitri yang tidak ikut dengan tuanya ke luar negeri.

Daisy yang kini tiba di rumah sakit pun langsung disambut oleh pria paruh baya yang merupakan asisten pribadinya tuan Dimitri.

"Nona Daisy mari ikut saya, nona Jeny terus menangis sambil memanggil anda."ucapnya.

"Apa tidak ada yang menjaganya pak?"ucap gadis itu tampak khawatir.

"Ada para pelayan dan juga dokter keluarga, tapi nona terus memanggil anda dan meminta anda untuk datang karena tidak mau ditemani yang lainnya."ucap pria itu lagi.

Daisy pun semakin mempercepat langkahnya dan setelah sampai di depan ruang VVIP tersebut dia langsung bergegas masuk.

"Jeny,"ucap nya yang kini langsung disambut tangis oleh Jeny.

"Sayang kamu lama sekali, aku takut sendirian ini juga sakit, kak Aksa tidak datang... Hiks."ucap Jeny yang kini langsung muntah dan itu untuk keberapa kalinya, beruntung muntahan nya itu tepat pada wadah yang disediakan oleh perawat.

Daisy pun langsung membantu membersihkan bibir Daisy dengan sisa muntahannya yang berupa liur di bibirnya.

"Kamu pasti keracunan makanan sayang, apa saja yang kamu makan sebelum makan bersama ku tadi?"ucap Daisy yang kini meminta dokter untuk kembali memeriksa kondisi Jeny.

Dokter pun bilang bahwa Jeny keracunan makanan, dia sudah diberi obat dan saat ini obat nya sudah mulai bereaksi karena Jeny sudah mulai membaik dan muntahan nya sudah jarang, ditambah rasa sakit di perutnya sudah mulai berkurang.

Daisy pun memberi Jeny minum, setelah itu ia pun duduk sambil menggenggam tangan Jeny dan mengusap perut Jeny dengan lembut, dan perlahan gadis itu menutup mata karena merasa sangat nyaman, sampai saat seseorang datang menghampiri mereka dengan terburu-buru.

"Bagaimana keadaan nya, kenapa dia bisa seperti ini?"ucap nya dengan tatapan mata pada Daisy sementara pertanyaan itu dilontarkan pada asisten sang daddy.

...*****...

"Dia keracunan makanan?"ucap pria tampan yang tidak lain adalah Aksa.

Pria itu baru saja melihat hasil laporan medis adik semata wayangnya itu, dan Daisy kini terlihat sangat merasa bersalah karena dia yang memesan makanan untuk Jeny sesuai seleranya, dan Jeny yang meminta Daisy memesankan makanan untuk nya.

"Kalian makan dimana tadi siang?"ujar Aksa untuk pertama kalinya berbicara pada Daisy dengan lirih tapi cukup membuat Daisy merasa diintrogasi.

"Kami tadi siang makan di cafe resto xx, dan kami memakan menu yang sama." jawab Daisy yang kini tidak berani menatap pria tampan dengan ekspresi wajah yang datar itu.

"Kenapa bisa, bukankah biasanya jika makanan itu beracun kalian berdua juga akan keracunan?"ucap Aksa menyelidik.

"Saya rasa makanan itu tidak beracun karena kami juga saling mencicipi makanan yang kami pesan tadi, mungkin kondisi tubuh Jeny yang kurang baik ditambah dia sedang merasa kesal saat makan."ucap Daisy.

"Kesal?"ucap Aksa yang kini semakin menyelidik.

"Ya kak, tadi dia marah-marah karena teman-teman kami mengucapkan bela sungkawa dengan cara yang tidak sewajarnya, dan itu berhasil memicu kemarahan Jeny. Mungkin kakak tau sendiri bagaimana saat Jeny merasa kesal selama ini."ucap Daisy.

"Saya tidak pernah tau itu."balas Aksa.

Daisy pun langsung terdiam, dia kembali fokus pada Jeny.

Aksa sendiri kini fokus pada handphone nya sampai saat dia menerima panggilan telepon dari seseorang.

"Ya aku disini baby, aku tidak sempat memberitahu mu tentang ini,"ucap Aksa sambil bangkit dan berjalan menghampiri jendela ruang VVIP yang menjulang tinggi tersebut.

"Aku tidak pulang, tapi kamu bisa datang jika tidak sibuk."ucap Aksa lagi yang terdengar samar-samar karena pria itu bicara dengan nada pelan dan penuh kelembutan.

Daisy pun tidak sengaja mendengarkan obrolan tersebut, tapi kupingnya tidak budek dan wanita itu memiliki sensitivitas yang tinggi.

"Hmm..."lirih nya lagi sambil mengakhiri panggilan tersebut.

Aksa pun kembali duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut, dia sempat melirik pada Daisy sekilas, sementara yang dia lirik terus fokus mengusap lembut perut adiknya yang kini terlelap dalam tidurnya.

"Tunggu sampai saya selesai mandi, setelah itu kamu bisa pulang."ucap pria tampan yang kini meraih paper bag besar dari tangan sang asisten pribadi.

Daisy pun merasa bingung, di satu sisi dia disuruh menemani Jeny hingga ia pulang, tapi disisi lain Aksa meminta nya untuk pulang dan yang mana yang harus Daisy turuti.

Satu jam telah berlalu Aksa pun keluar dari dalam kamar mandi, dan kini dia sudah jauh lebih fresh dari tadi tidak lupa ketampanan nya semakin terpancar saat ini saat dia menggunakan pakaian santai nya yang kini memperlihatkan otot tubuh nya.

Aksa pun duduk di sofa sambil mengacak rambut nya dengan asal, rambut klimis nya itu semakin membuat pesona nya terpancar keluar.

Daisy yang sejak tadi berusaha untuk tidak menatap kearah pria tampan itu pun masih bisa melihat pria tampan itu dari sudut matanya.

"Jen, cepat sembuh ya sayang aku pulang dulu, sekarang sudah ada kak Aksa yang akan menjaga mu."ucap Daisy sambil mengusap lembut puncak kepala Jeny.

"Ehem..."tiba-tiba Aksa berdehem, namun Daisy tidak menatap kearah nya, dan gadis itu bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri sofa untuk mengambil Hoodie dan tas nya.

"Kamu pulang diantar sopir."ucap Aksa tiba-tiba berbicara.

"Tidak saya bawa mobil sendiri kak."ucap Daisy tanpa menatap kearah Aksa.

"Kalau begitu ambillah uang bensin nya di asisten saya."ucap pria itu lagi.

"Tidak perlu kak, bensin mobil full jadi tidak perlu bensin lagi."ucap Daisy yang kini menolak dengan lembut.

"Kau sendirian di rumah apa tidak kesepian, kenapa tidak tinggal di rumah kami saja?"ucap pria yang kini mampu mengingatkan Daisy tentang semua kepedihan nya itu.

"Tidak kak terimakasih, saya sudah mempersiapkan diri saya untuk hari ini sejak lama karena saya tau hari ini akan datang mengingat keadaan mama tidak kunjung sembuh dan hanya bisa bergantung pada obat-obatan."ucap Daisy yang kini berusaha untuk menahan air matanya.

"Maaf saya tidak bermaksud untuk mengingatkan mu tentang itu, tapi saya hanya menyarankan."ucap pria yang kini membantu Daisy mengambil kunci mobilnya yang sempat terjatuh.

"Tidak apa-apa kak, terimakasih tolong sampaikan maaf saya pada Jeny karena tidak bisa mene,

"Daisy... sakit, Dai tolong aku."ucap Jeny yang kini membuat keduanya melirik kearah gadis cantik yang ternyata masih memejamkan matanya.

"Sepertinya kamu akan menginap disini," ucap Aksa.

Daisy tidak menjawab hanya membalas dengan anggukan pelan.

Gadis cantik itu kembali duduk di samping bed pasien yang ditempati oleh Jeny, sampai saat seseorang datang menghampiri Aksa dengan peluk cium seakan Daisy tidak ada disana.

Daisy pun berada di zona tidak nyaman saat ini, namun dia masih berusaha untuk bertahan karena Jeny.

Dia tidak ingin Jeny sedih saat dirinya tidak ada disana saat gadis itu terbangun, sampai saat suara dari arah sampingnya membuat dirinya mau tidak mau menoleh ke arah sumber suara tersebut.

"Sayang dia siapa, tidak biasanya kamu merasa nyaman dengan gadis asing disekitar mu?"ucap wanita cantik seusia Aksa dan mungkin hanya beda beberapa tahun saja.

"Saya Daisy nona, maaf jika anda berdua merasa tidak nyaman dengan kehadiran saya disini, saya hanya khawatir kalau Jeny bangun dan mencari saya nanti nya."ucap Daisy yang merasa tersinggung karena wanita itu menganggap Daisy seperti hama pengganggu.

"Saya tidak tanya kamu nona saya tanya calon suami saya!"balas wanita itu seakan tidak terima.

"Sudah hentikan baby nanti Jeny terbangun dan kamu tidak akan pernah diijinkan untuk berada disini,"ucap Aksa sambil menatap lekat wajah Daisy.

Sementara Daisy yang mendapatkan tatapan itu langsung bangkit dari duduknya dan kembali berjalan menuju sofa untuk meraih tas dan Hoodie nya.

"Saya tunggu di luar saja, jika Jeny bangun nanti tolong beritahu saya."ucap Daisy pada Aksa.

Pria itu tidak menjawab tapi justru malah menatap datar kearahnya seakan tidak peduli dengan itu.

Daisy pun langsung bergegas keluar dari ruangan yang terasa begitu sempit saat ini, tidak seperti beberapa menit sebelum kedatangan wanita itu.

Sampai saat Daisy keluar dari dalam ruangan tersebut, Daisy langsung ikut duduk bergabung dengan kedua asisten pribadi yang kini tengah duduk di kursi tunggu.

"Nona kenapa anda malah keluar, bagaimana kalau non Jeny mencari anda?"ucapnya.

"Sampai saat itu tiba biarkan saya disini.

1
Syamsiar Samude
bingung ceritaxthor knpa Aksa dibikin jatuh hati sama daesy pdhl sdh mw brtunangan malas rasax lanjut baca bila sll bikn greget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!