Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan baru dan kedekatan yang tak disangka
Sore itu, setelah kepergian viona yang meninggalkan aura negatif seperti kabut asap terbakar, Cantika masih duduk di sofa ruang tamu dengan wajah pucat. Tangannya mencengkram bantal kecil, sementara lututnya gemetar pelan. Bukan karena takut… lebih ke kaget dicakar hidup-hidup sama perempuan elegan lirikan setajam eyeliner itu.
Yoga duduk di sebelahnya, tapi dengan jarak yang masih cukup sopan, mengamati ekspresinya. “Kamu beneran nggak apa-apa?”
Cantika menggeleng, tapi cepat-cepat mengangguk. “Engg—eh iya—nggak… eh tunggu, maksud aku aku baik-baik aja. Cuma… shock.”
Yoga menghela napas panjang. “viona memang selalu begitu. Dia manis di depan, tajam di belakang.”
Cantika memeluk bantal lebih erat. “Kayak durian tipis, ya? Luar hijau, dalam… dor.”
Yoga spontan mendengus kecil. “Kok durian?”
“Ya soalnya durian kalau jatuh bisa bikin pingsan.”
Yoga menatapnya lama… lalu tanpa sadar, ujung bibirnya naik.
Dia nyengir.
YOGA. PRADIPTA. NYENGIR.
Cantika kaget sendiri. “Eh… Mas Yoga ketawa?! Dicatat dalam sejarah dunia!”
Yoga buru-buru mengembalikan wajah dinginnya. “Aku nggak ketawa. Cuma… napas.”
“Napas bentuk senyum?”
Yoga pura-pura merapikan jam tangannya, mengabaikan. “Udah, nggak usah dibahas.”
Cantika ikut terkekeh, tapi detik berikutnya kembali serius. “Mas… aku takut kalau aku jadi masalah buat keluarga ini.”
Yoga menatapnya, kali ini tanpa bercanda. “Kamu bukan masalah, Cantika. Kamu cuma… kebetulan masuk dalam masalah yang udah ada.”
“Wah, gitu lebih menenangkan,” gumam Cantika sarkas.
---
Belum sempat mereka lanjut ngobrol, tiba-tiba dari lantai atas terdengar suara Bu Ratna.
“Yogaaa! Cantikaaa! Ke atas sebentar!”
Mereka saling pandang.
Cantika langsung berbisik, “Mama kamu galak nggak sih?”
“Lumayan tergantung mood.”
“Tadi mood-nya gimana?”
“Kayaknya… waspada.”
“Hah! Waspa—”
"Eh ..mas tunggu aku !"
Yoga sudah jalan duluan, dan Cantika buru-buru mengejar, takut dibiarkan sendirian menghadapi interogasi.
Sesampainya di kamar utama, Bu Ratna sudah duduk di sofa dengan wajah serius. Bapak Yoga, Pak Bram, juga di sana, duduk tegak dengan muka kaku,entah marah, pusing, atau kolesterol naik.
“Kalian berdua duduk,” kata Bu Ratna.
Cantika reflek duduk sambil menegakkan punggung kaya lagi ikut tes baris-berbaris.
Bu Ratna menatap mereka satu-satu. “Kita dapat informasi baru.”
Yoga mengerutkan kening. “Tentang viona?”
“Dan keluarganya,” sambung Pak Bram. Suaranya berat. “Mereka mengancam secara resmi akan memperkarakan masalah ini. Mereka ingin bilang bahwa keluarga kita memaksa mereka, padahal mereka yang kabur.”
Cantika refleks menelan ludah. “Tapi… tapi aku nggak ada hubungannya,”
“Nah itu masalahnya.” Pak Bram menatap Cantika lekat-lekat. “Kamu bisa dijadikan sasaran tuduhan. Mereka bisa bilang kamu sengaja masuk untuk menggantikan posisi viona .”
Cantika langsung terbelalak. “HAH?! Aku masuk rumah itu cuma karena salah alamat paket! Mana mungkin aku sengaja?!”
Yoga ikut menimpali, “Aku buktiin dari CCTV kalau dia cuma kurir.”
“Tetap saja,” ucap Bu Ratna pelan. “Opini publik bisa ke mana saja.”
Cantika terdiam.
Yoga memijat pelipis. “Jadi apa rencana kita?”
Pak Bram menatap mereka dengan berat. “Untuk sementara… kalian berdua harus tampil kompak. Sangat kompak.”
Cantika melotot. “Maksudnya… kompak gimana?”
Bu Ratna menjawab lembut, “Dari luar, pernikahan kalian harus terlihat bahagia dan meyakinkan. Publik harus melihat kalau kalian menikah karena cinta… bukan karena terpaksa atau menggantikan siapa pun.”
Cantika spontan batuk. “Cinta??”
Yoga memalingkan wajah, tenggorokannya bergerak menandakan ia menahan komentar. “Mama… kita belum—”
“Yoga,” potong Bu Ratna tegas. “Ini masalah serius. Kalian harus bekerja sama.”
Cantika ingin protes, tapi kata-katanya hilang di tenggorokan. Menikah mendadak saja sudah sulit… apalagi harus pura-pura mesra?
Setelah rapat keluarga itu bubar, Cantika keluar kamar dengan kepala pening.
Yoga menyusul di belakang. “Kamu yakin bisa?”
Cantika berhenti. “Mas… aku aja lihat kamu lebih dari tiga detik udah grogi. Gimana mau pura-pura mesra?!”
Yoga mengetuk dahi Cantika pelan. “Kamu terlalu banyak mikir.”
“Aduh! Dahi aku bukan drum!”
Yoga memasukkan tangannya ke saku. “Kita coba pelan-pelan. Aku juga nggak ahli dalam hal… begituan.”
Cantika memandangnya curiga. “Mas serius nggak ahli? Aura kamu kayak aktor drama korea yang tiap episode ganti pacar.”
Yoga mendengus. “Aku jarang dekat sama perempuan. Kamu lihat sendiri kan, bagaimana aku putus sama Ghea.”
“Ehm… iya sih,” Cantika menjawab sambil menggaruk tengkuk.
Yoga menghela napas panjang. “Cantika…”
“Hm?”
“Aku tahu kamu takut. Aku juga.”
Cantika menatapnya kaget.
“Jadi… kita hadapi bareng. Tapi mulai sekarang, apa pun yang terjadi, kamu harus percaya sama aku.”
Ada jeda beberapa detik.
Sampai akhirnya Cantika mengangguk pelan. “Iya… kita bareng.”
---
Malam hari, konflik baru muncul lagi.
Saat Cantika hendak mau tidur, ponselnya berbunyi. Notifikasi grup keluarga sahabat-sahabat lama. Tapi bukan itu yang bikin dadanya mencelos.
Ada screenshot postingan di media sosial.
Akun gosip.
Judulnya:
“PENGANTIN KABUR DIGANTI KURIR? APA MOTIF SEBENARNYA?”
Di bawahnya ada foto Cantika yang lagi megang paket—waktu masih kerja.
“Ini dia perempuan yang tiba-tiba menikah dengan pewaris Pradipta Group. Banyak netizen menduga ia sudah punya niat sebelumnya…”
Cantika membeku.
Tangannya gemetar.
Langsung dia lihat komentar-komentar.
# “Dari kurir naik level jadi nyonya??”
“Duh modus banget.”
“Pasti pura-pura salah alamat.”
Jantungnya seperti diremas.
Yoga tiba-tiba muncul di depan pintu. “Kamu belum tidur?”
Cantika buru-buru menutupi layar ponsel. Tapi terlambat,wajahnya sudah memerah dan matanya berkaca-kaca.
Yoga langsung mendekat. “Apa ada yang terjadi?”
Cantika menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Yoga menatapnya tegas. “Cantika.”
Diam beberapa detik.
Lalu Cantika menyerah, menunjukkan layarnya. “Ini…”
Yoga membaca cepat. Wajahnya berubah tajam. Sangat tajam.
Lalu… tanpa berkata apa-apa, dia mengambil ponsel Cantika, mematikannya, dan menggenggam tangan Cantika dengan hangat.
“Jangan lihat komentar itu lagi.”
Tangan Cantika gemetar. “Tapi mereka bilang aku—”
“Biarin,” potong Yoga. “Kamu nggak sendirian. Aku yang akan hadapi mereka.”
Cantika terdiam, matanya panas.
Yoga menatapnya, suaranya rendah tapi tegas.
“Kamu istriku sekarang. Dan aku nggak akan biarkan siapa pun menjatuhkan kamu.”
"Tapi aku takut mas ,aku takut orang orang percaya dengan gosip itu ,padahal aku kesini datang kerumah ini tidak punya maksud apa apa ,aku hanya ingin mengantarkan paket ,dan aku juga tidak tahu ternyata aku salah alamat dan masuk kerumah ini ."
"iya aku tahu ,walaupun aku juga masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang terjadi ."
"Maksud mas yoga ..mas tidak percaya sama aku ,dan mas menuduh aku seperti orang orang itu ?"
"Bukan maksud aku nggak percaya sama kamu ,hanya aku belum percaya saja ,kamu datang dan tiba tiba menjadi istriku ."
"Sama ,aku juga masih belum percaya ,Jodoh kali ."