Ava Serenity Williams, putri bungsu Axton Brave Williams, jatuh cinta pada seorang pria bernama Ryan Dome. Ia mencintainya sejak berada di bangku sekolah. Ava bahkan rela menjadi seseorang yang bukan dirinya karena Ryan seakan menuntut bahwa yang akan menjadi kekasih dan istrinya nanti adalah seorang wanita sempurna. Ryan Dome, putra Freddy Dome, salah satu rekan bisnis Axton Williams. Freddy berencana menjodohkan Ryan dengan Ava, hingga menjadikan Ava sebagai sekretaris putranya sendiri. Namun, siapa yang menyangka jika Ryan terus memperlakukan Ava layaknya seorang sekretaris, bahkan pembantunya. Ia menganggap Ava tak pantas untuk dirinya. Ryan bahkan memiliki kekasih saat dirinya dalam status tunangan dengan Ava. Hingga akhirnya Ava memilih mundur dari kehidupan Ryan. Ia mencari ketenangan dan jati dirinya yang hilang, hingga akhirnya ia bisa jatuh cinta sekali lagi. Apakah cinta itu untuk Ryan yang berharap Ava kembali? Ataukah ada pria lain yang siap mencintai Ava drngan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI
Setelah disepakati, acara pernikahan antara Ryan dan Ava akan dilaksanakan sampai batas waktu yang akan ditentukan kembali kemudian.
Axton tak setuju jika putri bungsunya itu menikah terburu buru, apalagi ia baru saja akan lulus kuliah, meskipun hanya tinggal menunggu wisuda saat ini.
“Dad,” Ava duduk tepat di samping Axton dan bersandar pada bahu ayahnya itu.
“Jangan pernah melakukan apapun dengan terburu buru, kenali dirinya lebih baik lagi setelah acara pertunangan kalian,” pesan Axton pada Ava.
“Aku mengerti, Dad. Terima kasih karena tak menolaknya,” ujar Ava.
Axton hanya tersenyum tipis. Ia tak akan menolak secara terang terangan pada putra Keluarga Dome. Ia akan membiarkan Ava melihat kebusukan keluarga itu dan Ava sendiri lah yang akan menolaknya suatu saat nanti.
“Beristirahatlah, bukankah lusa kamu harus mengikuti wisuda?”
“Hmm, Bukankah Dad juga harus hadir di sana. Jadi sebaiknya Dad juga beristirahat. Lagipula Mommy pasti sudah menunggu Daddy di kamar,” ucap Ava.
Axton mencubit hidung Ava sambil tersenyum kemudian mereka pun bangkit bersama untuk masuk ke dalam kamar tidur mereka masing masing.
*****
“Kamu berhasil, Son!” Freddy menepuk bahu Ryan. Ia merasa sangat senang dengan jawaban Ryan tadi yang sebenarnya tak pernah ia sangka kalau putranya bisa mengatakan hal seperti itu.
Namun, Ryan hanya diam saja lalu bergegas masuk ke dalam kamar tidurnya. Di dalam kepalanya, ia sedang menyusun rencana serta kata kata untuk kekasihnya, Imelda.
“Ava, Ava … Ava! Mengapa harus ada wanita seperti dia yang mendekatiku?!” ungkap Ryan dengan kesal sambil menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ia mulai menerawang sambil menatap langit langit kamar tidurnya. Setelah beberapa saat, senyum mengembang di wajahnya. Ia seakan mendapat pencerahan dan jalan untuk membuat Ava menderita.
*****
Acara pertunangan antara Ryan dan Ava berlangsung tertutup. Hal itu adalah keinginan Keluarga Williams karena Axton memang menutup akses tentang Ava pada banyak orang. Ia tak ingin putrinya diketahui oleh banyak orang dan membuatnya menjadi tak aman.
Hal itu justru menguntungkan bagi Ryan. Ia yang awalnya menolak pertunangan itu pun kini tak perlu takut jika sampai diketahui oleh Imelda karena berita tersebut tak akan pernah keluar, hanya sebatas keluarga saja yang tahu.
“Ry,” Ava yang berdiri berdekatan dengan Ryan, berusaha berbicara dengan pria yang kini berstatus sebagai tunangannya.
Namun, Ryan akan tetap menjadi Ryan jika hanya berdua bersama dengan Ava.
“Ada apa?!” tanya Ryan dengan sedikit ketus, tapi tetap perlahan karena ia tak mau sampai ada yang mendengar dan melaporkannya.
“Maukah kamu datang di acara wisudaku?” tanya Ava penuh harap.
“Tidak.”
“Mengapa tidak?” tanya Ava lagi.
“Aku sibuk, lagipula bukankah pertunangan kita ini bersifat tertutup, jangan sampai ada yang tahu,” jawab Ryan yang memanfaatkan keadaan.
“Tapi …”
“Tak ada tapi tapian! Apa kamu mau aku membatalkan acara pertunangan ini? Jangan membuatku menyesal telah mengambil keputusan ini,” ujar Ryan.
Ava langsung diam lalu menutup mulutnya rapat rapat. Ia tak mau jika Ryan membatalkan pertunangan mereka. Ia sudah mencintai Ryan sejak ia pertama kali melihatnya. Jika itu hanya cinta monyett, bukankah harusnya sudah hilang? Tapi tidak bagi Ava, menurutnya ini adalah cinta yang sesungguhnya.
“Lalu kapan kita akan mulai mempersiapkan pernikahan kita?” tanya Ava lagi.
Ryan menghela nafasnya dan kembali menatap Ava dengan tajam, “acara pertunangan kita saja belum selesai, tapi kamu sudah memikirkan pernikahan! Seharusnya kamu berpikir bagaimana membantuku menjadi pengusaha sukses agar kedua orang tuamu tidak malu memiliki menantu sepertiku.”
“Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?”
“Kena kamu!” batin Ryan.
“Kamu bisa meminta Daddymu untuk berinvestasi lebih banyak di Perusahaan Dome dan mungkin akan lebih baik jika kamu menjadi sekretarisku. Bukankah dengan begitu kita akan semakin dekat?” ucap Ryan.
“Benarkah? Benarkah aku boleh menjadi sekretarismu?” Ava sangat senang karena Ryan memperbolehkannya berada dekat dengan pria itu, sangat jarang sekali.
“Ya,” jawab Ryan singkat.
“Aku mau!”
“Ah tidak! Tidak! Tidak jadi.”
“Loh kok tidak jadi?”
“Nanti Daddymu marah. Aku tak mau dianggap memperalatmu. Aku akan mencari sekretaris sendiri saja nanti,” ucap Ryan yang terdengar memprovokasi bagi Ava.
“Jangan! Jangan lakukan itu. Aku mau menjadi sekretarismu. Nanti aku yang akan mengatakannya pada Daddy,” ujar Ava. Ava tak ingin Ryan memiliki sekretaris selain dirinya, apalagi jika itu wanita.
Kini langkah Ava sudah lebih maju daripada sebelumnya. Ia tak ingin kehilangan Ryan. Ia akan menuruti apapun keinginan Ryan agar pria itu selalu berada di dekatnya, seperti dahulu.
“Bekerjalah setelah wisuda, kalau tidak aku akan meminta asistenku untuk mencari sekretaris wanita yang lebih baik darimu.”
Ava menghela nafasnya pelan. Ia kini berpikir bagaimana caranya untuk berbicara dengan ayahnya. Ia tak ingin Dad Axton salah sangka dengan Ryan yang akan berimbas pada hubungannya.
*****
Suara hentakan high heels seakan bergema di bandara. Tampak seorang wanita dengan tinggi semampai melangkah memasuki area kedatangan. Dengan sebuah kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, dan sebuah tas tangan di lengannya, ia berjalan bersama seorang asisten pribadi menuju mobil yang telah menunggunya.
“Jo, kita langsung ke apartemen, aku lelah.”
“Baik, Nona,” ucap Joanna.
Joanna adalah manager sekaligus merangkap sebagai asisten pribadi untuk model internasional bernama Imelda Belva. Sebenarnya hari ini Imelda ada jadwal temu dengan seorang pengusaha yang akan menjadikannya brand ambassador untuk sebuah produk yang akan diluncurkan sekitar dua minggu lagi. Namun, Joanna tak berani jika harus menentang keputusan Imelda.
Mobil berwarna silver tersebut langsung membawa Imelda dan Joanna menuju ke apartemen milik Imelda. Dengan statusnya sebagai model internasional, Imelda diberikan apartemen oleh agency yang menaunginya.
Di tempat lain, tepatnya di Perusahaan Dome, Ryan tersenyum bahagia saat melihat sebuah portal berita di ponselnya, yang memperlihatkan kedatangan Imelda.
“Apa kamu ingin memberiku kejutan, baby? Kamu tidak memberitahuku jika kamu akan kembali hari ini,” gumam Ryan.
Ryan yang sedang asyik asyiknya memperhatikan layar ponsel, dikejutkan oleh Mario yang sudah berdiri di depan meja kerjanya.
“Ada apa?! Apa kamu tak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?” tanya Ryan.
“Maaf, Tuan. Saya sudah mengetuknya beberapa kali tapi tidak ada jawaban,” ucap Mario.
“Kalau tidak ada jawaban berarti aku tidak mau kamu ganggu. Dasar bodoh! Begitu saja masih perlu diajari,” ucap Ryan kesal.
“Tapi saat ini Tuan Magno ingin bertemu dengan anda terkait dengan revisi proposal kerja sama, Tuan,” ucap Mario.
Brakkk!!!
“Bilang donk dari tadi!” ucap Ryan sambil menghela nafasnya kasar, “lalu ia segera melangkahkan kali keluar ruangan menuju ke ruang meeting.
Lagi dan lagi, Mario harus menahan semuanya. Ia tak mungkin berhenti saat ini, apalagi ibunya membutuhkan banyak uang untuk pengobatan penyakitnya. Sesekali ia teringat pada sahabatnya, yang ia yakini bisa membantunya, tapi tak mungkin ia lakukan.
🧡🧡🧡
terima kasih Thor dengan ceritanya yang keren
terima kasih kakak Author 🙏🙏
semoga kakak Author selalu sehat, selalu semangat dan selalu sukses dalam berkarya aamiin...
ditunggu karya berikutnya ❤️🙏💪💪💪
semangat tour semoga sehat selalu ditunggu up karya yang baru💪💪💪🥰
trimadong Nia jangan sia sialan kesempatan yg ada di depan mata