NovelToon NovelToon
OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH

Status: tamat
Genre:Horor / Tamat
Popularitas:303.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mari Ani

Mohon maaf untuk tidak boom like reader!
terimakasih.

Omah simbah ini, merupakan cerita fiksi
penulis saja, omah simbah adalah rumah yang sudah di tempati tiga generasi.

Rumah besar dengan gaya kuno ukiran pintu dari kayu jati dengan model kupu tarung semakin memberikan kesan aneh dan seram.

Prameswari merupakan gadis generasi keempat usianya kini memasuki enam belas tahun dengan postur tinggi, kulit coklat, dan tomboy.

Mempunyai kelebihan yang tak di sadarinya
hingga perjalanan mistis yang di laluinya dengan tanpa sengaja membawanya mundur beberapa puluh tahun silam.

Perjalanan yang membawanya mengenal siapa dia sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 . TEMAN KECIL PRAMESWARI

Perjalanan waktu lambat laun merambat naik Seperti halnya masa tumbuh kembang anak Nur. Prameswari bayi kecilku kini sudah berusia empat tahun. Memasuki usia balita dengan tingkahnya yang aktif dan bahasanya yang lancar dan gayanya yang ceplas ceplos membuat tetangga kanan kiri Nur yang mempunyai anak sepantaran dengan Prameswari kadang salah paham dengan apa yang di maksud.

Usia empat tahun, sudah pantas masuk sekolah play group, sekolah titipan untuk anak Nur, namun nyatanya Nur masih ragu untuk mendaftarkan Prameswari. Melihat tingkahnya sehari-hari di rumah.

Nur sedikit ragu dan semakin bingung saat mendapati Prameswari bertingkah aneh di rumah, tersenyum, kadang tertawa sendiri hingga tergelak, tak jarang berbicara sendiri serta bermain dengan riangnya serasa memiliki teman di sampingnya.

Pikiran Nur tertuju pada Srikanti. "Apa mungkin?" ucap Nur pelan. Tapi segera Nur tepis pikiran jahat yang tiba-tiba muncul.

Akhirnya Nur memutuskan untuk mengajarinya sendiri di rumah dengan perlahan dan yang Nur bisa. 'Toh, Nur juga masih lulusan SMA pikir Nur.'

Seperti pagi ini, saat sedang asyik memasak di dapur dan Prameswari duduk di samping Nur dengan kursi kecil yang biasa untuk duduk saat menemani Nur di dapur.

Mendadak Prameswari tertawa tergelak kemudian berujar. "Jangan begitu nanti ibu marah," ucapnya . Seketika Nur menoleh dan berjongkok mendengar ucapan Prameswari.

"Prameswari bicara dengan siapa?" tanya Nur penasaran, namun yang Nur tanya hanya menggeleng.

Nur kembali berdiri melanjutkan memasak.

Sedetik kemudian Nur mendengar Prameswari sudah tertawa terkikik, sambil berucap.

"Boleh," ucap Prameswari Sedikit mendekat kearah Nur sembari menyeret kursinya, kemudian menarik rok bawahan Nur.

"Bu ... mau kenalan sama temen Prameswari? Mendengar ucapan Prameswari Nur langsung menghentikan memasak.

"Teman siapa Prameswari?"

"Ada! Ibu mau kenalan?" ucapnya lagi.

"Teman Pram bilang, dia mau kenalan sama ibu!"

Nur diam beberapa saat. "Itu dia Bu berdiri di pojok kan dekat kaki ibu," ucap Prameswari lagi.

Seketika Nur menoleh ke arah yang di tunjuk Prameswari. "Siapa Nak? Nggak ada siapa siapa?"

"Ada Bu, nah senyumkan!" ucap, Prameswari.

"Mau kan Prameswari kenalin, dia itu yang tiap hari nemani Prameswari," sembari menunjuk ke arah samping Nur.

"Itu yang tiap hari menemani Prameswari setiap hari," ulang Prameswari berucap.

"Deg," terjawab sudah ketakutan Nur selama ini.

Seketika Nur mematikan kompornya, alat penggorengan Nur taruh begitu saja, mendadak pikiran Nur menjadi kongslet. Meraih tubuh Prameswari jangan macam-macam yo Nduk?" ucap Nur sambil berlalu keruang tengah.

Prameswari yang Nur gendong masih tertawa sembari meledek sosok yang entah di mana keberadaannya. Begitu tiba di ruang tengah dengan sedikit tergopoh Nur duduk, melihat tingkah Nur yang aneh, ibu langsung bertanya.

"Kenapa Nur?"

Tak menjawab pertanyaan ibu, tetapi Nur langsung duduk di samping ibu. Dengan heran ibu melihat, kemudian ibu langsung tersenyum kemudian menatap Nur.

"Lah, anaknya baik Nur, jadi ibu biarkan supaya prameswari ada temennya, kasian di rumah sendiri Nur! Kamu sendiri juga sibuk kerja.

Mendengar ucapan ibu, Nur langsung protes.

"Bu, saya ingin, Prameswari itu seperti teman temannya, agar dia bisa sekolah Bu! Kasian Prameswari," ucap Nur sedikit keras.

Sembari membenahi cara Nur duduk di kursi jati, ibu hanya diam mendengar ucapan Nur dan tersenyum, hingga sesaat kemudian.

"Lha ... Prameswari itu sudah menjadi takdir nya bisa melihat yang begitu-begitu Nur, nggak bisa di ubah nanti malah bisa-bisa berimbas ke anakmu Nur."

"Ya, tolong di usahakan Bu, kasihan," ucap Nur lagi.

"Ya, sudah besok ibu usahakan Nur, tapi ini tidak untuk selamanya Nur," ucap ibu.

Terhenti sejenak, kemudian menghisap rokoknya dan membuang asapnya berkali-kali.

Tatapan ibu kini menerawang jauh. "Nanti kalau Prameswari sudah berumur lima belas tahun apa yang menjadi kelebihannya akan kembali dengan sendirinya Nur, ibu hanya bisa melindunginya bukan menutup atau menghilangkannya."

"Sudah takdir Nur," ucap ibu sembari mengepulkan asap rokoknya lagi.

Nur termenung beberapa saat mengartikan ucapan ibu. "Ya, nggak apa-apa Bu, asalkan saat ini Prameswari bisa berbaur dengan teman-temannya Bu."

"Andaikan besar nanti dia pasti bisa mengendalikan," ucap Nur sedikit menghibur.

Melihat Prameswari kini sudah bermain-main

di ruang tengah sambil sesekali tertawa.

"Coba lihat Bu, kasian anak itu, Nur jadi takut Bu kalau nanti terus begitu," ucap Nur sembari menatap Prameswari.

Ibu hanya manggut-manggut, kemudian sedikit beringsut dan kembali mengambil rokoknya dan menyesap kembali kopinya, masih diam sambil sesekali tersenyum melihat tingkah Prameswari.

"Tapi, Ibu nggak jamin Nur, itu sudah jadi takdirnya Prameswari bisa lihat yang begitu-begitu."

Entalah, Nur tak ingin banyak berfikir untuk saat ini, paling tidak untuk sepuluh tahun kedepan Prameswari masih aman, bisa bermain dengan wajar bersama teman-temannya.

Melihat Prameswari berjalan ke kamar, sementara Nur kembali ke dapur untuk mengerjakan apa yang belum selesai tadi.

Hingga pukul tiga sore Nur baru selesai, mencuci semua peralatan dapur dan menyimpannya lagi dengan rapi. Berhenti sejenak di ruang tengah melihat Ibu tengah melakukan entah apa itu, hanya kepulan asap dupa yang sudah menyebar ke seluruh ruangan.

"Apa, lagi yang Ibu lakukan," mendengar ocehan Nur Ibu hanya melirik dan kembali melanjutkan ritualnya.

Memilih kembali ke kamar, untuk mandi. Setelah mandi, melihat Prameswari masih tidur tiba-tiba, Nur melihat Srikanti sudah duduk di sisi Prameswari sambil memandangnya dalam.

Nur sedikit berdehem untuk mengalihkan pandangannya ke arah Prameswari. Melihat Nur datang dan berdehem Srikanti langsung bergegas pergi dengan senyum tersungging.

"Terima kasih Srikanti," ucap Nur pelan.

Mendengar kata-kata Nur, seketika Srikanti langsung menghilang begitu saja. Bersamaan

terdengar suara adzan maqrib, Nur bergegas membangunkan Prameswari.

"Ayo, bangun maqrib Nduk," ucap Nur sembari menggoyang goyang tubuhnya.

Lama belum terbangun juga. Nur langsung mengangkatnya dan mengganti memangku tubuh Prameswari, tak berapa lama matanya mulai terkejab dan matanya trebuka lebar-lebar, menatap sesaat kemudian tersenyum.

"Prameswari shalat yuk," ajak Nur berharap Prameswari mau ikut, Nur hanya melihat Prameswari mengangguk kan kepalannya.

"Ayo ... ajak Nur sembari ke kamar mandi mengajarinya cara berwudhu.

Setelah shalat Nur melihat Prameswari masih menguap beberapa kali. "Masih ngantuk?" tanya pelan.

Tak ada jawaban hanya tubuhnya saja yang kemudian di rebahkan ke kasur, Nur kembali tersenyum melihatnya. Tak lama Nur pun kemudian ikut menyusul naik ke ranjang merangkul tubuhnya yang kecil sembari memandang wajahnya. Ini adalah wajah Mas Sipun dan sedikit mirip dengan kakek buyutnya. Sesaat hati Nur menjadi sedikit melo, tak terasa air mata Nur turun juga.

"Mas, maafkan Nur, kini semakin sesak dada Nur jika semua bukan keinginan Nur pasti Mas Sipun masih ada, bisa menggendong Prameswari mengajaknya kemanapun," ucap Nur lirih.

Hingga tengah malam Nur masih belum bisa memejamkan mata, Nur kemudian sedikit menggeser tubuh dan menyandarkan tubuh di sandaran ranjang. Tanpa sengaja, mata Nur tiba- tiba tertuju pada sekelebat bayangan di balik jendela kamar dengan sedikit takut Nur mencoba untuk bangkit dan melihat ke luar jendela, melongokkan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri dan tiba-tiba bayangan itu sudah berdiri tepat di depan Nur.

Melihat sosoknya Nur sedikit tergagap dengan menyebut namanya.

"Mas- Mas, Si-Sipun," ucap Nur tergagap.

"Nggak mungkin, ini nggak mungkin, Mas Sipun sudah tiada, ini nggak mungkin ... teriak Nur histeris dan keras dan itu membuat Ibu langsung datang ke kamar.

"Nur ... panggil ibu, melihat Nur masih terisak dan duduk di bawah jendela kamar, hanya tangis yang terdengar kian menjadi.

"Nggak mungkin Bu ... ini semua nggak mungkin, kembali Nur berucap seakan tak percaya dengan yang Nur lihat dan hanya ini yang terus terucap dari mulut Nur.

Ibu melihat Nur seperti ini. "Nur ... tenang jangan seperti ini, lihat Prameswari dia juga bingung, melihatmu menangis seperti ini," ucap ibu lagi.

Ibu langsung memeluk Nur. "Maafkan ibu Nur

ibu terlambat menolongnya."

Tangis Nur makin menjadi. "Bu ... tak berapa lama Nur tak ingat apapun dan kembali pingsan.

1
Nur Bahagia
lhah sejak kapan bu Nur mahfum dgn hal2 seperti ini.. biasanya dia menolak, menentang, menghindar.. sueerr aku pusyiiingg Thor 😵😫
Nur Bahagia
hal lain yg bikin bingung adalah penulisan kalimat saat ngobrol.. campur baur.. tolong di koreksi kak 🙏
Nur Bahagia
ceritanya bagus.. tp penyebutan tokohnya bikin bingung
Nur Bahagia
tau2 penyebutan Nur menjadi ibu 😅
Nur Bahagia
takut mulu.. protes mulu.. pingsan mulu ntar 🤣
Nur Bahagia
yaa kamu juga kenapa ga bisa menerima keadaan?
Nur Bahagia
etdah sering banget pingsan Nur 🤦‍♀️
Nur Bahagia
kok bisa gatau ya.. emang selama ini gimana keseharian Nur dan mbah Rum
Nur Bahagia
om wowo kah yg ganggu? 😱
Nur Bahagia
kayaknya perewangan nya mbah Rum ini.. melindungi Nur dan Prameswari
Nur Bahagia
apa kegiatan mu mbah Rum.. kok sering bepergian 🤔
Nur Bahagia
tersenyum misterius.. hemmm nek 🤨
Nur Bahagia
ohh bayi nya terbungkus air ketuban thoo.. kirain tadi bayi nya suruh bungkus Rum 🙏😅
Nur Bahagia
aku nggak nahan2 lhoo 🤣
Nur Bahagia
wah nama ku Thor 😅
Mai Esya Noor
ya betul betul..sepatutnya sat set sat set..lancar..
Shyfa Andira Rahmi
kenapa ngga ditebang aja siihh pohon jmbunya....ko jdi ikut meringing yaaa😬😬😬
Sri Wiludjeng
Cerita nya seru ... kayak nyata gthu ... Keren dech
Mari ani: Terima kasih Kak, udah mampir di cerita aku
total 1 replies
Shyfa Andira Rahmi
bapanya kemana mbah😅😅
Asih Sulastri
Luar biasa
Mari ani: Terima kasih Kak, sudah singgah di karya aku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!