Season1
Dita merupakan gadis cantik yang selalu di kucilkan keluarga nya, di saat pesta ulang tahun saudari tirinya bernama Sheila menjebaknya dengan mencampurkan obat perangsang di minuman Dita.
Nathan, seorang Ceo tampan yang banyak di kagumi oleh kaum hawa. Nathan yang menderita mysophobia yang alergi jika di dekati oleh wanita maupun di sentuh.
Sahabat nya bernama Daniel prihatin akan phobia Nathan hingga nekat memberi obat dan menyewa seorang pemuas nafsu.
Season ke 2
Menceritakan kehidupan dan perjalanan cinta dari twins L. Al yang gila dengan pekerjaan dan juga perfeksionis, sementara El kebalikan dari itu.
Lea, adik dari twins L yang sangat manja dengan IQ standar. Dia sangat mengagumi wajah pria yang berparas tampan, hingga banyak pria yang salah paham dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Dita yang telah menidurkan bayi kembarnya dan berjalan menuju lemari pakaian, mengambil sesuatu dari dalam kotak kayu yang sangat kuno yang penuh ukiran indah.
Dita membuka kotak itu dan menatap dengan nanar, "Bagaimana ini? uang ku kian menipis, ini tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan juga keperluan baby twins, " gumam nya yang meneteskan air mata.
Karena tidak ada yang menjaga putra kembarnya, mau tak mau Dita pergi kewarung untuk berhutang dan meninggalkan bayi mungil itu, "aku harus cepat sebelum anak-anak ku terbangun. Oh tuhan....semoga penjaga warung memperbolehkan aku berhutang. "
Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, akhirnya dia sampai di warung kecil dan mendekat.
"Bu, aku ingin beras, telur, minyak goreng, dan juga susu bayi, " ucap Dita yang sedikit cemas.
"Baik neng, tunggu sebentar. Akan ibu carikan dulu! " sahut penjaga warung.
Pikiran Dita selalu membayangkan anak-anaknya dirumah, apa mereka sudah bangun atau mereka menangis. Entahlah, dia selalu memikirkan baby twins.
"Ini neng, totalnya jadi 70 ribu, " penjaga warung menyodorkan 1 kantong pesanan Dita.
"Em.... um.... begini bu, untuk sekarang saya tidak punya uang, apa aku bisa berhutang? " ucap Dita yang ragu-ragu.
"Emang neng kerja apaan? "
"Saya belum bekerja bu, saya sudah mencari pekerjaan tapi belum dapat, " sahut Dita tertunduk lesu.
"Wahh....maaf neng, saya gak berani ngasih hutang, neng kan tau sendiri warung ibu kecil. Bagaimana pemutaran modalnya, jika neng gak bayar. "
"Tolong lah bu, saya butuh itu untuk saya hidup dan juga bayi kembar saya, " Dita memohon menyatukan telapak tangannya.
"Yah, kalau masalah bayi ibu juga gak tega neng, yaudah deh gapapa hutang dulu. Oh ya, suami neng kemana? " penjaga warung menyergitkan dahinya, terlihat jelas Dita menundukkan kepala membuat sang ibu berpikir jika suami Dita meninggal.
"Kalau neng mau kerja, ada yang butuh jasa buruh cuci. "
Seketika Dita menegakkan kepala dengan bersemangat "saya mau kerja buruh cuci bu, tapi saya gak bisa ninggalin anak-anak. "
"Tenang, kamu bisa nyuci sambil ngerawat anak kamu kok, " sang penjaga warung memberikan Dita sebuah alamat rumah dimana dia akan menjadi buruh cuci disana.
Dita menerima alamat itu dan membawa beberapa kebutuhannya, dia tidak ingin anak-anaknya menangis.
****
Menyuci tanpa henti di tambah merawat kedua anak nya yang terbilang cukup aktif, Dita cukup kesulitan mengerjakan pekerjaannya mencuci. Rasa lelah yang Dita terima, sudah menjadi makanannya sehari-hari, bahkan sesekali tetangganya berbaik hati untuk menjaga baby twins.
Di malam hari pun, saat baby twins terlelap, Dita berlalu pergi dan menyelesaikan semua borongan cucian. Rasa ngantuk dan waktu tidur berkurang tidak masalah baginya, yang terpenting kebutuhan untuk kedua putranya tercukupi.
Sedikit demi sedikit, uang yang berhasil dia peroleh di kumpulkannya untuk membeli mesin jahit, karena mendiang sang ibu sangat pintar menjahit dan pernah mengajarkan nya sewaktu kecil.
"Ya tuhan terima kasih, sekarang aku bisa menjahit dan berhenti menjadi buruh cuci. Walau hidup ku penuh kekurangan tapi aku bahagia memiliki dua putra yang menemaniku, " lirih Dita yang melihat mesin jahit terpampang di sudut ruangan kontrakannya.
Sekarang kehidupan Dita jauh lebih baik, dimana dia memiliki beberapa pelanggan setianya. Kedua putranya berusia 2 tahun, apalagi mereka sekarang sangat aktif.
Dita menjahit dengan tenang, karena kedua putranya tidak pernah membuatnya kerepotan, Al dan El seakan tau apa yang di alami ibunya.
Dita mendengar suara ketukan pintu dan mengalihkan perhatian ke asal suara, "Masuk lah, " ucap Dita tersenyum.
"Neng, ibu mau buat baju untuk kondangan. Itu bisa siap 3 hari lagi gak?. "
" Akan saya usahakan, " Dita menyunggingkan senyuman di wajahnya.
"Oh ya, neng Dita gak kerepotan merawat anak kembar sambil bekerja? " kepo nya.
"Enggak kok bu Ana, mereka ateng kok gak rewel" balas Dita tersenyum.
"Ooh, suami nya kemana sih? gak pernah liat tuh, " ujar si ibu kepo.
"Saya gak punya suami bu Ana."
"Wah, kelihatannya neng masih muda kok udah jadi janda ya? " sewot bu Ana.
Dita berusaha sabar menghadapi pelanggan nya "sudah takdir saya bu. "
"Kasihan anak nya masih kecil dan belum merasakan kasih sayang ayah nya. Oh ya neng, saya kasih tau yaa! neng kan janda, jadi jangan pernah ngerebut suami orang kayak di sinetron itu lho, " ujar bu Ana sewot.
Dita cukup menambah kesabarannya, "ya tuhan, berikan aku kesabaran berlapis, " batinnya dan menghela nafas sebanyak 3 kali dan mengusap dadanya mengontrol emosi.
"Iya, aku gak pernah niat merebut suami orang kok bu, karena bagi saya, kedua anak-anak saya lebih dari cukup. "
"Aku hanya ngasih tau kok, " ujar bu Ana tanpa tau malu.
Setelah pengukuran baju selesai, Dita memutuskan membawa kedua putranya menuju swalayan, ada beberapa keperluan yang harus dia beli untuk anaknya.
Dita memasukan kedua putra nya ke dalam troli belanjaan untuk memudahkannya, sambil memilah dan memilih kebutuhan yang dia perlukan, Dita mengambil beberapa cemilan untuk twins L.
Di saat Dita ingin membeli es krim untuk kedua putranya, tak sengaja dia bertemu dengan Sheila yang saat itu juga ada di swalayan. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik, hingga kaki mulus milik Sheila mengarah ke arah Dita.
"Hai kak, wahh..lihat penampilan mu sekarang, lebih seperti gembel. Dan apakah ini keponakan ku? " ucap Sheila yang memegang pipi gembul Al dan El.
Tak terima dengan itu, El menggigit tangan Sheila dengan sangat kuat, membuat Sheila merintih kesakitan, "dasar anak kurang ajar, " Sheila ingin menampar El tapi di cekal oleh Dita.
"Jangan pernah mengangkat tanganmu di depan anak ku, kita tidak ada urusan lagi. Menyingkirlah, aku ingin lewat, " ucap Dita menepis tangan Sheila dengan kasar dan mendorong troli.
"Tidak semudah itu kau pergi. Kau tau, aku sangat senang dengan kondisi mu yang memprihatinkan. Tubuh mu dari atas sampai bawah (Sheila melihat Dita dari ujung rambut hingga ujung kaki) ck.... ck sangat tidak layak. "
"Minggirlah, aku tidak ingin berdebat denganmu di depan anak-anak ku, " balas Dita dengan raut wajah datar.
"Aku sangat kasihan dengan mu, mempunyai dua putra yang tidak tau siapa ayahnya, jika aku jadi kau! aku akan bunuh diri, " cibir Sheila yang bertolak pinggang.
"Aku tau ini rencana mu, Sheila. Di satu sisi aku harus mengucapkan terima kasih, karena berkat mu aku mempunyai dua anak yang sangat tampan dan juga lucu. "
"Ck, sangat sombong. Lihat saja nanti, bagaimana aku membuat mu sengsara, KAKAK, " sheila berlalu pergi meninggalkan swalayan itu, Dita hanya mengelus pelan dadanya.