NovelToon NovelToon
Pria Kedua

Pria Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Patahhati / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Janda / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.


"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.

"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bengkel ayah

Setelah sebelumnya mampir dulu ke sebuah outlet makanan untuk membeli oleh-oleh, akhirnya Aira sampai di halaman depan rumah orangtuanya. Nampak pintu depan rumah terbuka. Setelah memarkir motor maticnya, Aira melepas helm berwarna silver dengan karakter batman favoritnya.

Perempuan ini menghela napas sejenak. Membuang pikiran tidak-tidak jika orangtuanya ingin bertemu. Setelah memantapkan hati untuk menerima semua wejangan dari mereka, Aira turun dari motor dan mengetuk pintu. Ruang tamu tampak lengang. Kakinya masuk begitu saja setelah mengucap salam. Kemudian muncullah ibu saat kakinya sudah dekat belokan menuju ruang tv.

"Aira datang, Bu ..." ucap Aira ketika melihat ibu di dapur menyalakan kompor.

"Yang di tunggu-tunggu sudah datang. Ayo masuk." Ibu begitu antusias mengajak putrinya.

"Kok sepi, Bu? Mana Ayah?" tanya Aira celingukan mencari sosok ayah di ruang tengah. Namun yang di cari tidak ada. Di luar saja tadi tidak ada siapa-siapa. Bahkan batang hidung kakak laki-laki satu-satunya juga tidak muncul. Tangan Aira mendorong pintu kamar kakaknya yang terbuka sedikit dan mendapati kamar kosong. Kakaknya memang tidak ada. Bukan sedang berpura-pura tidak mendengar kedatangannya.

"Ayahmu sedang membetulkan mobil di bengkel samping sama Wira."

"Malam-malam begini? Bukankah sudah tutup Bu?" tanya Aira heran seraya mengalihkan perhatian dari kamar Wira.

"Iya. Memang sudah tutup, tapi tadi kakakmu membawa mobil temannya yang sempat mogok di jalan depan. Untung saja bisa nyala sebentar hingga sampai rumah, jadi bisa masuk bengkel Ayah." Ibu menjelaskan.

Aira memang punya seorang kakak laki-laki yang belum menikah. Usianya terpaut hanya dua tahun dengannya. Dia bekerja di perusahaan susu formula. Tangan Aira membuka kulkas dan mengambil minuman dingin. Kemudian membawa botol minuman itu pergi.

"Mau kemana Ai?" tanya ibu yang sepertinya menyiapkan sesuatu untuk kedua laki-laki di rumah ini.

"Aku mau melihat ayah sebentar," ujar Aira sambil berlalu.

"Ya sudah. Ayahmu pasti senang melihatmu datang." Perempuan ini berjalan keluar dengan perlahan dan menuju ruangan di samping rumah. Untuk jalan yang di lewatinya tadi, bengkel ini tidak kelihatan. Namun jika melewati jalan yang lain, Aira akan melihat sebuah bengkel. Kakinya berjalan santai dengan sandal jepit yang ada di rak sandal di depan tadi.

Dari luar, kelihatan sebuah mobil di dalam bengkel. Tidak ada pikiran apa-apa saat melihat mobil itu disana, tapi saat Aira sudah bisa melihat siapa saja yang tengah sibuk berdiri di sekitar mobil, Aira baru sadar.

Ada seseorang yang tidak asing baginya di dalam bengkel selain keluarganya.

"Kapan datangnya, Ai?" tanya Wira kakak laki-laki Aira. Mendengar Wira bertanya, pria yang ada di samping Wira juga ikut menoleh. Aira tertegun sesaat. Saat ini bola matanya tidak lepas dari sosok pria yang ada di sana.

Pria itu juga tertegun melihat diri Aira. Sepertinya dia juga tidak menyangka akan bertemu disini. Pria itu Ibrar. Keduanya saling tertegun melihat masing-masing berdiri di tempat ini sekarang. Mulut mereka tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun karena rasa terkejut.

Sungguh suatu hal baru melihat Ibrar berdiri di depannya saat ini. Di lingkungan rumahnya. Di dalam bengkel ayahnya. Ini sangat tidak biasa.

"Ai," tegur Wira membuyarkan lamunan adiknya. Juga membuat Ibrar mengerjapkan mata dan melihat ke laki-laki ini.

"Aku datang barusan," jawab Aira datar. Rupanya dia masih ingat pertanyaan yang di lontarkan Wira tadi. Padahal beberapa detik pikirannya sedang terfokus pada manajer baru itu. Hingga sebuah jawaban tidak keluar dari bibirnya.

Ayah masih belum berbicara apa-apa karena beliau tengah serius. Tubuh Aira otomatis membungkuk sebentar melihat atasannya ada disini. Ibrar mengangguk menerima sapaan hormat dari bawahannya.

"Sopan sekali kamu Ai? Tidak biasanya ...," ujar Wira sedikit meledek. Terkekeh dengan sikap adiknya yang tidak biasa. Aira menipiskan bibir geram.

"Dia atasanku," jawab Aira sengaja memelankan suara karena sebenarnya malas menjawab Wira.

"Jadi kalian saling kenal?" tanya Wira terkejut.

"Iya," jawab Ibrar sambil tersenyum ke Wira. Aira hanya diam sambil melihat ke arah lain dan meneguk air di dalam botol minuman yang di pegangnya.

"Enggak nyangka. Ternyata dunia begitu sempit." Wira menepuk bahu Ibrar. Mungkin sempit sekali hingga kemana-mana Aira selalu bisa bertemu pria itu.

Setelah menyelesaikan pembersihan selang karburator yang kotor, mereka beristirahat. Duduk melepas lelah sambil meminum teh hangat yang di bawakan Aira setelah ibu berteriak tadi.

Tubuh Aira hendak beranjak pergi dari sana, tapi Wira mencegah setelah mengatakan bahwa Ibrar dan Aira saling kenal kepada ayah.

"Teman sekolah?" tanya ayah yang mulai antusias karena sudah menyelesaikan pekerjaannya. Aira menghela napas. Rupanya karena Aira memelankan suara, beliau masih belum tahu kenapa mereka berdua bisa kenal.

"Bukan, Pak. Kita teman kerja. Kita bekerja dalam satu perusahaan," ucap Ibrar sopan. Aira tidak memberikan penjelasan apapun. Dia begitu malas menjawab. Namun kecanggungan tentu ada. Karena ini pertamanya mereka berdua bertemu di luar area pekerjaan.

"Teman kerja, ya ... ayah pikir kalian teman sekolah." Ayah Aira mengangguk-angguk. "Ini putri saya yang tinggal sendiri di kontrakan. Dia tidak mau tinggal sama orangtuanya," ujar ayah mengagetkan bagi Aira. Mungkin bagi ayah itu hanya gurauan. Namun tidak bagi Aira.

Perbincangan itu terasa terlalu intim jika di bahas dengan orang asing. Hingga bola matanya sempat melebar sekejap. Sementara Ibrar bingung merespon apa. Bola matanya melirik ke arah Aira yang sudah berwajah masam. Wira hanya tergelak melihat itu.

"Soal itu tidak perlu di beritahukan kepada orang lain kan, Yah ... Apalagi orang asing." Aira secara terang-terangan mengatakan bahwa Ibrar adalah orang asing di antara mereka bertiga. Meski mereka adalah atasan di tempat kerja, disini adalah area yang bisa membuat Aira bebas mengatakan apa saja. Ibrar hanya mengangkat alisnya saat mendengar itu.

"Orang asing sih bukan Ai ... Wira seringkali mengajak Ibrar ini kesini ..." ujar ayah yang membuat Aira semakin terkejut.

"Dia sering kesini?" tanya Aira meyakinkan dirinya sendiri.

"Dia sering mampir bengkel Ayah, Ai ... " Wira menjelaskan. Ibrar tidak ikut-ikutan mengiyakan penjelasan Wira dan ayahnya. Karena dia tahu  perempuan ini tengah kesal. Aira melirik.

Jadi orang ini sering muncul di rumahku? Dia?

"Kok nak Ibrar enggak bilang bahwa kenal Aira," kata ayah.

"Saya juga baru tahu kalau ini rumah Aira, Pak," ujar Ibrar.

"Jadi kamu enggak tahu kalau ini rumah Aira?" tanya Wira.

"Tidak. Aku baru bekerja beberapa bulan di mall tempat dia bekerja. Baru tahu aja barusan. Saat Aira muncul di bengkel." Wajah Ibrar menunjukkan kesungguhan saat bicara. Pria ini tidak berbohong. Kejadian tidak terduga ini juga adalah suatu kebetulan saja.

"Sekali-kali ingatin Aira untuk pulang ke rumah, nak Ibrar. Anak perempuan Bapak ini seperti enggak mau pulang kesini." Sekali lagi ayah Aira berkata soal dirinya. Tangan Aira menyentuh cangkir teh dan meneguknya. Meneguknya dengan cepat. Rasanya ingin pergi dari sini segera. Ibrar melihat itu. Pria ini menangkap rasa tidak nyaman itu.

"Lho, Ibrar ini temannya Aira toh?" tanya ibu yang datang membawakan satu toples kue kering. Beliau mendengar perbincangan barusan.

"Iya, Bu." Ibrar mengangguk.

"Enggak nyangka. Ternyata langganan setia bengkel ayah adalah teman anak kita. Jadi Ibrar juga baru tahu ini rumah Aira, ya?" Ibu ikut duduk di kursi bersama yang lain. Sepertinya semakin lama Aira terjebak disini.

"Benar." Ibrar tersenyum sopan.

"Ibrar ini sering ke sini lho, Ai. Kadang bukan benerin mobilnya saja. Dia sering menemani ayahmu ngobrol sambil nge-teh di sini." Tangan ibu menepuk lengan Ibrar. Seperti sudah seperti anak sendiri.

1
Bunda Keisha
baca Novel ini udah ke 6 nya.. sampai hapal banget.. suka banget sama novel ini.. ❤ aq kasih bunga 🌺🌻🌹🌷 banyak ya
ione
/Smile//Smile/
Inah Ilham
sudah baca 30 episode baru nyadar klo ini karya lady_ Ve, pantes mc nya wanita muda yg tangguh
Lienda nasution
alah....ceritanya bertele tele thor
Tri Lestari Endah
Dari awal sampai disini ceritanya buat greget
banyak pelajaran yang di dapat

berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Latifah Latifah: setujuuu
total 1 replies
Ririnyulianti Yulianti
Luar biasa
Bang Juky
umur 16 si aira dah kerja ya
Anik kartin
banyak pesan moral yg disampaikan pada tiap tokohnya..semoga kita bisa belajar dr tiap kejadian dan mengambil hikmahnya...semangat kak untuk karya selanjutnya..
Anik kartin
bukan cinta....tapi DOSA
Yomita Hervina
agak aneh ibrar jg ngomong wanitaku saat di dpn yuta n wira jg jk ga salah.kl sdh sprti itu kesannya dia mmg pny affair dgn prmpuan tsb,kecuali kl itu dia lakukan di dpn org asing/bukan kenalan.
Sri Widjiastuti
tegas mu telat eros
Sri Widjiastuti
oalah nduk2 sdh tau rasanya jd pencuri. sekarang parno kecurian
Sri Widjiastuti
adakah sosok ibrar beneran, hari gini😇😇
Tiadayanglain
Betul tu nara
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Tiadayanglain
Kok aneh perempuan ni udah di sakitin tapi kok susah move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Tiadayanglain
Aneh kakak kok hri tu ibrar ngaku wanitaku
Tiadayanglain
Nah pelihara anak haram MU eros
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
seru_seruan
aku ngulang baca entah keberapa kalinya.
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?
Nurazmi Azmi
Kok nggak di cerita in Aira itu masih hamil apa keguguran ya, YG jelas dong Thor jangan bikin bingung
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!