Kisah dari seorang dokter wanita yang jenius, cantik, baik hati, ahli meracik obat atau racun dan multi talenta yang menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya, kalau dia adalah anak angkat dari salah satu ketua anggota mafia kejam di dunia.
Callysta Angelina mengalami kehidupan yang penuh lika liku dan menguras segala emosinya yang terkadang bertentangan dengan hati nuraninya sendiri.
Callysta di hadapkan pada dua pilihan yang paling berat dalam hidupnya, hidup yang terus di tentukan oleh orang lain membuatnya semakin muak, Callysta tidak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.
Callysta berpikir hanya kematiannnya saja yang bisa membuatnya lepas dari semua rasa sakit, tetapi bukannya mati malah dia berada pada dunia lain.
Mampukah seorang Callysta Angelina menemukan pilihan hidup yang di inginkanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TDT angreni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Keluarga Besar Yuandara.
***mansion keluarga Yuandara***
Antoni sangat gelisah di dalam kamarnya karena dia tidak dapat menghubungi Callysta dari semalam, asisten pribadinya juga tidak mendapati Callysta di apartemennya yang sepi serta di rumah sakit tempatnya bekerja pun Callysta tidak ada.
Antoni sangat cemas bila terjadi sesuatu pada Callysta dengan apa yang sudah di ceritakan Callysta padanya beberapa waktu yang lalu, bahwa dia sudah di jodohkan oleh sang papa Jimmy Choo dengan seorang ketua mafia Mr.X yang terkenal sangat kejam di dunia mafia.
Antoni takut bila Callysta meninggalkannya karena tidak ingin melihat dirinya dan keluarga terancam oleh Mr.X, dia terus berusaha menghubungi ponsel Callysta tetapi tetap sama tidak bisa tersambung, ponselnya tidak aktif.
"di mana kamu sayang." ucapnya seraya meraba photo Callysta di dalam ponselnya.
"jangan buat aku cemas begini." ucapnya kembali dengan masih memandang wajah Callysta yang tersenyum manis di dalam ponselnya.
'tok tok tok' suara pintu kamar di ketuk.
"siapa?" tanya Antoni sedikit membentak karena rasa kesal di hatinya bertambah oleh ketukkan pintu yang mengganggu.
"saya tuan pelayan Lia…anda sudah di tunggu di ruang makan oleh semua anggota keluarga." jawab pelayan Lia dari luar kamar.
"pergilah aku akan turun sebentar lagi."
"baik tuan." balas pelayan Lia yang langsung pergi.
Antoni menghembuskan nafasnya perlahan, dia melihat kembali photo Callysta dan menciumnya sayang, diapun menuliskan pesan pada Callysta.
"telpon aku segera, I love you." isi pesan Antoni.
Antoni pun keluar dari kamar karena hari ini di adakan makan malam bersama keluarga besar Yuandara, karena besok akan ada pesta ulang tahun tuan besar Yuandara yaitu Opa dari Antoni yang akan di adakan di salah satu hotel milik keluarga Yuandara.
Dia sebenarnya sangat malas sekali apalagi harus bertemu dengan salah satu sepupunya yang sangat menyebalkan, putra semata wayang sang paman yang sudah meninggal dunia kerena di bunuh oleh musuh bisnisnya yang memakai jasa anggota mafia, dan sejak kecil pula sepupunya itu tinggal bersama sang Opa dan Oma mereka di kota Z, kota kelahiran sang Opa kota di mana keluarga Yuandara berasal dan menjadi kota kekuasaan sang Opa yang sangat di hormati oleh masyarakat kota Z.
Opanya bernama Johan Yuandara dan memiliki istri bernama Mina Yuandara, mereka memiliki 2 orang putra yaitu Mario Yuandara putra pertama dan Marco Yuandara putra kedua yang sudah meninggal, Mario Yuandara memiliki putra semata wayang yang bernama Antoni Yuandara, sedangkan Marco Yuandara memiliki putra semata wayang yang bernama David Yuandara.
Antoni dan David memiliki umur yang sama hanya berbeda beberapa bulan saja, tetapi semenjak Marco Yuandara meninggal dunia saat David berumur 10 tahun, Johan membawa David serta sang menantu untuk tinggal bersamanya agar David dapat pengawasan langsung dari sang Opa.
David Yuandara sangat terkenal di kota Z, pengusaha sukses, kaya raya, terkenal dan juga tampan, tapi sayang selalu memasang wajah datar dan dingin bila menghadapi orang asing dan semua bawahannya, tidak jauh berbeda dari Antoni.
Antoni dan David adalah rival bisnis sekaligus saudara sepupu yang sama-sama sukses dalam bidang bisnis masing-masing, tetapi mereka tidak lah dekat layaknya saudara sepupu karena jarang bertemu dan berkumpul, mereka sama-sama sibuk dengan bisnisnya masing-masing.
Antoni dengan langkah malasnya berjalan menuju ruang makan dimana di sana sudah ramai berkumpul semua anggota keluarganya yang tadi siang baru saja tiba dari kota Z.
"selamat malam semuanya.!" sapa Antoni pelan seraya berjalan menuju ke arah sang Opa dan memeluk nya sekilas.
"selamat malam Antoni Opa sangat merindukan mu?" ucap sang Opa membalas pelukkan Antoni.
"aku juga Opa" balas Antoni.
"selamat malam Oma !" sapa Antoni mencium dan memeluk sekilas Omanya yang tetap cantik saat umurnya sudah tua.
"selamat malam sayang." sapa Oma tersenyum manis melihat cucu tampan yang sudah lama tidak di lihatnya.
"selamat malam Tante Mia !" sapa Antoni pada mamanya David.
"selamat malam sayang, apa kabarmu?" tanya Tante Mia pada Antoni.
"aku baik Tante."
Antoni pun menyapa mama dan papanya, serta keluarga dari saudara mamanya yang juga datang, tetapi dia mencari seseorang yang tidak hadir yaitu David, satu satunya saudara sepupunya.
"David masih ada urusan, besok baru dia akan datang." ucap Opa nya tahu akan siapa yang di cari Antoni.
Opanya sangat tahu sekali, kedua cucunya walaupun tidak dekat dan jarang bertemu mereka sama-sama saling merindukan hanya saja sama-sama gengsi mengakuinya.
"ooooo…!" ucap Antoni singkat.
Mereka pun makan malam dengan tenang dan bahagia, tetapi tidak dengan Antoni yang masih cemas akan keadaan Callysta yang tidak ada kabar sampai sekarang, Antoni hanya bisa makan sedikit.
...----------------...
***mansion milik Mr.X***
Sedangkan Callysta yang masih di mansion Mr.X sudah berada dalam kamarnya yang telah di siapkan oleh Mr.X, setelah perdebatan mereka di ruang tamu, Mr.X memaksa Callysta untuk tinggal dengannya selama dua hari, Callysta yang mendapatkan ancaman dari Mr.X atas keselamatan keluarga Yuandara pun hanya bisa mengalah dan mengikuti apa yang di inginkan oleh Mr.X.
lagi-lagi Callysta hanya bisa mengikuti apa yang di tentukan oleh orang lain padanya, tidak memiliki pilihan untuk menentukan pilihannya sendiri, untuk menangispun Callysta sudah lelah, tidak ada gunanya lagi untuk menangis membuang air mata dan energinya, dia akan mengalah dulu untuk sementara sampai dia menemukan jalan harus bagaimana?
Dia masih berharap ada keajaiban untuknya agar bisa hidup dengan apa yang dia inginkan, tidak lama untuknya merenung terdengar ketukkan dari luar pintu yang memanggilnya karena Mr.X sudah menunggunya.
Callysta pun keluar dari kamar dan mengikuti kepala pelayan yang menunjukkan jalan menuju ruang makan, di sana sudah ada Mr.X menunggunya untuk makan malam bersama, tanpa menyapa Callysta duduk pada kursi di sebelah kanan Mr.X dengan bantuan kepala pelayan menarik kan kursi untuknya.
Mereka berdua makan dengan tenang hanya suara dentingan sendok dan piring saja yang terdengar, semua pelayan yang ada di sana merasakan aura yang sangat menegangkan melihat Mr.X dan Callysta duduk di satu meja tetapi tanpa suara sedikitpun.
Callysta diam karena dia sudah malas untuk berdebat dengan Mr.X yang tentu hasilnya dia tidak pernah akan menang sama sekali melawan Mr.X, lebih baik diam daripada berdebat hanya akan menghabiskan tenaga dan pikirannya saja, lebih baik diam untuk memikirkan dan menyusun rencana apa yang akan di buat Callysta selanjutnya.
"selesai makan ikut aku ke ruang kerja." perintah Mr.X melihat ke arah Callysta yang masih makan tetapi tidak menikmati sedikitpun makanannya.
Callysta diam tidak menjawab dia masih sibuk mengaduk makanan dan mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"apa kau dengar?" tanya Mr.X sedikit keras ingin tahu respon dari Callysta.
"apa aku ada pilihan untuk menolak?" tanya Callysta tanpa melihat ke arah Mr.X ia masih asyik dengan makanannya yang hanya dia aduk-aduk di atas piring.
Mr.X melihat semua apa yang di lakukan oleh Callysta, dan dia melihat wajah cantik yang di tekuk karena masih merasa kesal dan kecewa.
Mr.X menghela nafasnya perlahan untuk membuat hatinya agar bisa sabar menghadapi Callysta.
"sudah cukup, bila kau tidak suka makanannya dan tidak ingin makan lagi." ucap Mr.X memegang tangan Callysta yang terus mengaduk-aduk malas makanan yang ada di atas piring hingga sudah tercampur menjadi satu.
Callysta melihat ke arah tangannya yang di pegang oleh Mr.X lalu beralih melihat wajah Mr.X yang memandangnya lembut, Callysta dengan segera menarik dan melepaskan seketika sendok yang dia pegang hingga sendok tersebut jatuh ke lantai.
Callysta tidak menghiraukannya, dia hanya memperbaiki duduknya untuk tegak dan memandang lurus ke depan.
Mr.X sangat tahu Callysta masih marah dan tidak suka padanya, tetapi dia akan mencoba bersabar untuk menghadapi Callysta karena dia benar-benar sangat mencintai Callysta dan tidak ingin kehilangan Callysta, wanita yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali Mr.X melihat senyum manis Callysta di sebuah rumah sakit di kota Z.
Rumah sakit kecil yang di khususkan untuk para warga di sana berobat gratis dan Callysta menjadi dokter relawan selama 2 Minggu, itulah awal dari pertemuan mereka yang Callysta tidak tahu, Mr.X setiap hari datang ke rumah sakit tersebut untuk melihat wajah cantik dan senyuman manis Callysta yang sudah mencuri hati dan perhatian seorang Mr.X.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
semangat menulis kk😊😊