[SUDAH TERBIT]
Ingin beli, chat me atau DM di @diagaa11
Dengan sengaja aku menggantikan kakakku di hari pernikahan kakakku. Namun pada akhirnya aku kehilangan pria yang kucintai, inikah karma?
***
Zora: Aku ini istrimu apa peliharaan yang selalu di kurung?
Gavin: Sekali kau menjadi milikku, jangan berharap orang lain bisa menyentuhmu
Cek lanjutannya...
Note: Part tidak lengkap karena untuk kepentingan penerbitan.
#My Third Novel#
Ig: @diagaa11
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiAgaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yakin
"Mike!" jawab Jennie
"Mike?" kaget Zora
"Iya Mike," jawab Jennie
"Mike temanku? Yang artis itu? Seniman legend itu?" tanya Zora beruntun
"Iya Zora!" jawab Jennie
"Oh my god, lalu tunggu apa lagi? Ayo terima saja. Mike kurang apa?" tanya Zora
"Kurang mengenalku saja," jawab Jennie
"Hah?" bingung Zora
"Aku tidak suka menjalin hubungan dengan orang yang belum aku kenal," ucap Jennie
"Jen, dia itu tampan, cerdas, keluarganya terhormat, berbakat dan wah dia benar-benar pria idaman. Tunggu apa lagi?" tanya Zora
"Aku tidak suka terburu-buru, bahkan dari awal aku melihatnya pun aku tidak punya kesan sama sekali kepadanya. Jelas aku butuh waktu untuk menyukainya," ucap Jennie
"Just give he a time," ucap Zora
"Time?" tanya Jennie
"Sure time, terkadang waktu itu misteri. You can fall in love with him only in 10 second or 10 years," ucap Zora
"What! No, hanya waktu yang tidak aku punya Zora!" ucap Jennie
"Maka berikan waktu yang masih kau punya sampai saat ini," ucap Zora
Jennie termenung sejenak mendengar perkataan Zora. Memang ada benarnya, dia belum pernah memberikan kesempatan pada Mike untuk saling mengenal.
"Baiklah, i will try," jawab Jennie
Selesai makan, mereka kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk pergi ke London. Ada perasaan tak rela didalam hati Zora yang tidak bisa dijelaskan.
*****
Pagi Hari
Hari ini Zora dan Jennie berdandan tidak seperti biasanya agar orang tidak mudah mengenali mereka. Jennie memakai baju v neck press body dengan celana jeans berwarna hitam dan sepatu boots. Jennie menggerai rambut pirang pendeknya yang sedikit diwarnai coklat dengan rapi dan memakai make up yang sedikit berbeda dari biasanya.
Sementara Zora, ia memakai softlens buatan Radit yang ia bawa. Zora memakai baju atasan putih dan rok levis seatas lutut. Zora juga memakai make up yang sedikit cetar, tidak seperti biasanya.
"Wow Zora, kau benar-benar cantik saat seperti ini!" ucap Jennie
"Biasa saja. Terlihat begitu karena aku biasanya tidak berpenampilan seperti ini," ucap Zora
"Sebelumnya kau juga cantik, tapi tidak pernah melepas kacamata dan tidak memakai make up tebal saja," ucap Jennie
"Kau bisa saja," ucap Zora
"Ayo berangkat!" ajak Jennie
Mereka berangkat, saat turun sudah ada seorang sopir yang menunggu dan membawakan koper mereka. Jennie dan Zora duduk termenung masing-masing membayangkan apa yang akan terjadi setelah mereka sampai di London.
"Nona, kita sampai!" ujar sopir yang membuyarkan lamunan Zora dan Jennie
"Oh iya, tunggu aku sebentar!" ucap Jennie
"Astaga Jennie! Kita ngapain di sini? Bahaya Jen, ayo kita segera pergi!" ajak Zora yang agak lirih
"Tenanglah, aku akan memberikan kenang-kenangan untuk suami sialanmu itu. Tenanglah, aku tidak akan memberi tahukan dimana kamu," ucap Jennie
"Tapi Jen...." ragu Zora
"Shhh... Kau tenang, duduk dengan diam dan baik disini ok!" ucap Jennie
Jennie turun dari mobil dan masuk ke dalan villa. Bagaimana Zora tidak panik, Jennie turun di depan villa Gavin, namun tidak masuk ke wilayah villa, hanya di pinggir jalan. Zora sedikit menunduk agar wajahnya tidak terlihat.
*****
Di Villa
"Gavin! Gavin, keluar kamu!" teriak Jennie
Mendengar teriakan Jennie, Gavin langsung turun ke bawah dan bertanya pada Jennie.
"Rose, syukurlah kamu disini. Apa kau tau di mana Zora? Dia tidak pulang sejak semalam, aku tidak tau dimana dia. Dia juga tidak pulang ke rumah orang tuanya," panik Gavin
Plakkkk......
Jennie menampar Gavin saat itu juga. Gavin terdiam dan tidak membalas, hanya menatap Jennie kembali.
"Itu balasan karena kamu melukai hati sahabatku! Aku tau kau keras kepala, tapi jangan paksa Zora dengan egomu! Aku berharap, kau bisa lebih baik setelah kepergian Zora!" ucap Jennie
"Rose aku mohon beritahu aku dimana Zora," pinta Gavin sambil memegang tangan Jennie
"Aku tidak tau!" ketus Jennie
"Kau pernah berjanji akan membantuku untuk satu hal, apapun itu kan? Aku minta, beri tahu aku dimana Zora!" pinta Gavin
"Sayangnya aku tidak tau dia dimana dan dia hanya mengirim pesan padaku kalau dia akan pergi selamanya darimu!" ucap Jennie sambil menepis tangan Gavin
"Apa?" kaget Gavin
"Aku kesini untuk pamit. Aku akan kembali ke London," ucap Jennie lalu pergi
Memang sejak kemarin Gavin sudah bingung mencari dimana Zora berada. Tak ada jejak, bahkan gps yang ia pasang di ponsel dan kalung Zora pun tidak aktif. Gavin merasa seperti ada yang hilang setelah Zora pergi. Gavin juga belum paham kenapa dia mengkhawatirkan Zora.
Jennie berjalan kembali menuju mobilnya dan masuk. Baru duduk ia sudah di sambut dengan banyak pertanyaan beruntun dari Zora, Jennie sampai kesulitan menjawabnya.
"Kau kenapa kesini? Ada apa? Bagaimana dengan Gavin? Apa dia curiga? Atau dia tau keberadaaanku? Jangan-jangan dia akan mengikuti kita? Atau dia akan mengurungku lagi?" tanya Zora
"Zora pelan-pelan! Tanya satu-satu, aku bingung jawabnya!" kesal Jennie
"Oh maaf," jawab Zora
"Baiklah, tadi aku hanya pamit karena akan kembali ke London. Hanya itu," ucap Jennie
"Hanya itu?" tanya Zora
"Hanya itu, tapi Ra tadi waktu aku ke sana dia tampak panik saat mengetahui kau menghilang," ucap Jennie
"Dia hanya ingin mengurungku lagi Jen," ucap Zora sambil menunduk
"Tapi aku melihat sebuah kekhawatiran di matanya," ucap Jennie
"Heh, dia? Khawatir padaku? Jangan bercanda. Baginya aku ini hanya mainan atau koleksi saja," ucap Zora
"Tapi apa kau sudah benar-benar yakin akan pergi?" tanya Jennie
"Iya aku sudah yakin," jawab Zora
"Baiklah jika itu keputusanmu, aku tidak bisa melarang. Pak jalan," ucap Jennie
Mereka kembali berjalan menuju bandara, Zora lebih banyak diam di perjalanan. Ia berpikir keras, apakah keputusannya ini sudah benar? Satu sisi dia berat meninggalkan seluruh keluarganya, tapi di satu sisi hatinya juga ingin berhenti menderita. Zora sudah cukup lelah.
*****
Di Bandara
Sesampainya mereka di sana, mereka di sapa oleh Bryant, kakak Jennie.
"Hello Mr. Bryant," gurau Jennie
"Hello Ms. Rose," gurau Bryant
"Lama menunggu?" tanya Jennie
"Sangat! Aku menunggu sejak kemarin hahahaha," gurau Bryant
"Basi!" ucap Jennie
"Hai Zora, im glad you here (Aku senang kau di sini)," ucap Bryant
"Thanks Bryant," jawab Zora tak bersemangat
"Hei... Whats going on? Why you look sad? (Apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat sedih?)" tanya Bryant
"Im okay," jawab Zora
"Baiklah, ayo naik!" ajak Bryant
Bryant masuk ke dalam pesawat lebih dulu. Sedangkan Zora masih memejamkan mata dan menghela nafas panjang.
"Are you okay?" tanya Jennie
"Im okay Jen," jawab Zora
"Kau benar-benar yakin akan pergi ke London?" tanya Jennie
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Happy reading:)
Rasain tuh Vin,saat kamu di tinggal baru kamu tau arti kehilangan dan penyesalan..😡😡