Refan tega mecampakkan Maira yang sudah lama bersamanya demi orang baru yang bernama Reya. Akhirnya Maira menikah dengan Hendra yaitu temannya Refan sendiri. Akhirnya Maira bahagia bersama Hendra. Refan yang begitu terpuruk dan menyesali keputusannya akhirnya Refan bersimpuh di kaki mantan istrinya untuk mengajaknya kembali rujuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weta anjelina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20 Pov Reya
Aku berjalan menuju ke kamar, ku hempaskan pintu itu dengan keras ku kunci pintu itu erat-erat ku tinggalkan Mas Refan sendirian di luar.
Meski aku istri sirihnya Mas Refan aku juga berhak bahagia, aku juga berhak atas rumah ini namun istri tua bangkenya Mas Refan itu memperlakukan ku layaknya seorang pembantu.
Aku tidak menuntut apa-apa di rumah ini aku hanya ingin di hargai apalagi Mas Refan sibuk mengurus istri tuanya itu sedangkan aku, aku tidak pernah di perdulikannya melihat Mas Refan lebih memilih menemani istri tuanya itu, entah kenapa dada rasanya begitu sesak sekali.
Dulu Mas Refan berjanji akan menceraikan nya, tapi apa? Mas Refan malah menjadikan aku yang kedua, itu yang membuatku sangat terpukul sekali.
Aku mencoba menjalani walaupun itu sulit, hari-hari ku lewati dengan perasaan terpukul. Ada rasa yang begitu kecewa sekali, Mas Refan telah Mombohongi ku.
Aku menangis sesegukkan sendirian di kamar, ku dengar Mas Refan dari tadi Memanggil-manggilku, ku abai kan saja aku tidak ingin mas refan tau kalau aku selemah itu.
Udah setengah jam aku di kamar ku dengar Mas Refan tidak nyahut lagi pelan-pelan ku buka sedikit pintu, aku ngintip dari dalam tarnyata Mas Refan udah pergi ku susul dia keluar kulihat pintu rumah terkunci.
Ah sial aku gagal lagi melarangnya pergi menjenguk wanita tua itu.
Aku sangat kesal sekali, lihat saja akan ku buat wanita tua itu menderita sehingga dia tidak betah dengan Mas Refan dan segera meminta Mas Refan menceraikannya.
Hari ini aku membuat strategi baru aku segera membeli obat tidur di apotik sebelah, rencananya saat istri tuanya Mas Refan pulang aku segera mencapur obat keras ini di dalam minumannya, dan aku bisa leluarsa memiliki Mas Refan seutuhnya tanpa ada yang menganggu kami berdua.
Sudah dua jam aku menunggu di rumah Mas Refan bersama wanita tua itu tidak juga kunjung pulang, kulihat pukul udah menunjuk angka dua, ah aku merasa mengantuk sekali aku beranjak ke kamar mandi segera ku basuh muka ku, ku pikir dengan membasuh muka bisa menghilangkan sedikit ngantukku, ternyata tidak aku terkampar di kamar tidur aku tertidur pulas hingga esok harinya.
Aku bergegas bangun dan membuka pintu kamar, aku mencari mereka berdua di seluruh sudut ruangan.
"Ah ternyata mereka belum pulang juga." Gumamku sembari menuju dapur, ku ambil segelas air ku tegukkan air itu.
Aku bergegas menuju halaman rumah, rencananya aku ingin keluar membeli sayur biasanya yang berhubungan dengan kebutuhan dapur adalah istri tuanya Mas Refan, sekarang wanita itu lagi terbaring di rumah sakit, tentu aku yang mengurus semua keadaan di rumah.
Ya aku terpaksa mengambil uang kebutuhan ku untuk mencukupi kebutuhan dapur, aku sedikit menyunggingkan bibir rasanya begitu kesal sekali apalagi menunggu Mas Refan yang tak kunjung pulang.
Tok tok,,,
Kulihat ada orang yang mengentok pintu diluar dari dapur aku bergegas keluar untuk membuka pintu ku kira Mas Refan yang pulang.
"Ini mbak galonnya."
"Tarok aja di dalam mas, nanti uangnya di bayar sama Mas Refan ya." Jawabku kepada tukang jual air galon itu.
Ku kira Mas Refan yang pulang ternyata tukang galon yang mengetuk pintu, ah rasanya aku bertambah kesal sekali.
"Oke mbak, oiya mbak pembantu barunya pak Refan ya? cantik banget." Kurang ajar sekali tukang galon itu mengataku pembantu di rumah ini.
Rasanya mau ku seret lidahnya keluar biar mulutnya ngak bisa ngomong lagi.
"Eh,, mas aku ini istri mudanya Mas Refan bukan pembantunya, mas kalo ngomong mulut di jaga ya." Bentakku pada tukang air galon itu.
"Ma,, Maf mbak kan aku ngak tau, jangan marah-marah gitu dong, keliatan cantik sekali."
"Yasudah pergi sana." Aku mengusir tukang galon sialan itu.
"Pak Refan memang pintar mencari daun muda." Kulihat tukang galon itu mengeleng-gelengkan kepala.
"Dasar tukang galon gatel." Gumamku sembari membanting pintu.