NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23

***

Gedung Dinas Kesehatan Kota berdiri megah dengan pilar-pilar beton yang dingin. Di lantai dua, tepat di dalam ruang rapat utama, suasana terasa sangat mencekam. Pak Pramono duduk di kursi pimpinan sidang etik disiplin, dikelilingi oleh empat anggota majelis kehormatan yang tampak menatap Melani dengan pandangan penuh penghakiman.

Melani duduk sendirian di kursi pemeriksaan yang berada di tengah ruangan. Bidan muda itu mengenakan kemeja putih bersih yang dipadu kain tenun birunya. Jemari lentiknya saling bertautan di atas pangkuan, mencoba menahan gejolak rasa cemas yang menghimpit dadanya.

"Bidan Melani," buka Pak Pramono dengan suara berat yang sengaja dibuat berwibawa, menyandarkan tubuhnya pada kursi kulit mahal. "Sidang disiplin tertutup hari ini digelar untuk menindaklanjuti laporan pelanggaran berat yang Anda lakukan di Pustu Hulu Rawa. Anda dituduh membiarkan praktik kebidanan liar, membiarkan dukun beranak tanpa sertifikat menangani persalinan, serta mengabaikan prosedur medis resmi."

Melani menegakkan punggungnya, menatap lurus Pak Pramono tanpa gentar. "Tuduhan itu tidak benar, Pak Pramono! Saya tidak pernah membiarkan praktik liar. Yang saya lakukan adalah merangkul para dukun beranak untuk menjadi asisten medis yang steril di bawah pengawasan saya, demi menekan angka kematian ibu dan bayi di sana."

Pak Pramono terkekeh dingin, memotong ucapan Melani seraya mengetuk penanya di atas meja. "Penjelasan Anda tidak bernilai di hadapan aturan dinas, Melani! Anda hanyalah seorang bidan junior yang bertindak melampaui kewenangan. Atas pelanggaran berat ini, majelis etik telah sepakat untuk mencabut Surat Tanda Registrasi dan izin praktik Anda secara permanen, serta merekomendasikan kasus ini ke jalur hukum pidana!"

"Atas dasar hukum yang mana Anda berani mencabut hak seorang pahlawan kemanusiaan?!"

Brak!

Pintu ganda ruang sidang terpental terbuka lebar secara mendadak.

Seluruh anggota majelis etik dan Pak Pramono tersentak kaget dari kursi mereka. Suara bariton yang menggelegar tenang dan sarat akan wibawa mutlak itu membelah ketegangan ruangan.

Rangga Wira melangkah masuk dengan pendar wibawa yang luar biasa. Sang Ketua Adat Hulu Rawa mengenakan kemeja hitam yang dibalut rompi tenun sakral kebesarannya. Langkah kakinya yang mantap menghentak lantai marmer ruangan, disusul oleh Pak Rahardjo yang berjalan tegap di sampingnya.

Pak Pramono berdiri dengan raut wajah memerah penuh amarah. "Siapa Anda?! Ini sidang disiplin tertutup! Orang luar dilarang masuk ke ruangan ini!"

"Saya bukan orang luar!" tegas Rangga Wira, menghentikan langkahnya tepat di samping kursi Melani. Manik mata hitamnya yang tajam sehitam malam mengunci pandangan Pak Pramono. "Saya adalah Rangga Wira, Ketua Adat Hulu Rawa—pemimpin tertinggi dari tanah tempat Bidan Melani mengabdikan jiwanya! Dan saya hadir di sini sebagai saksi utama sekaligus pelindung bagi Bidan kami!"

Pak Pramono terbelalak, tangannya yang gemetar menunjuk Rangga. "Orang hutan tidak punya hak bicara di gedung dinas ini! Satpam! Usir orang ini keluar!"

"Jangan berani menyentuhnya!" gertak Pak Rahardjo melangkah maju membela calon menantunya. "Pak Pramono, Anda tidak bisa bertindak sewenang-wenang menggunakan jabatan Anda untuk melampiaskan dendam pribadi pada putri saya!"

"Dendam pribadi?!" bentak Pak Pramono panik, mencoba menguasai keadaan. "Saya bertindak atas nama hukum dan kebenaran dinas! Bidan Melani telah melakukan tindakan ilegal tanpa izin dinas!"

"Siapa bilang tidak ada izin?!"

Sebuah suara berwibawa lain terdengar dari lorong luar.

Pintu ruang sidang kembali terbuka. Dr. Aris—Kepala Tim Pelayanan Kesehatan Daerah Dinas Kesehatan Kabupaten—melangkah masuk dengan map tebal bersampul emas di tangannya, disusul oleh dua utusan dari dinas kesehatan provinsi.

Pak Pramono seketika membeku di tempatnya, wajahnya yang tadinya memerah kini berubah pucat pasi bagaikan mayat. "Dokter... Dr. Aris? Kenapa Anda bisa ada di sini?"

Dr. Aris melangkah mendekati meja majelis etik, menatap Pak Pramono dengan raut kekecewaan yang amat dalam. "Saya hadir di sini untuk meluruskan fitnah keji yang sedang Anda susun, Pak Pramono!"

Dr. Aris meletakkan berkas tebal itu di atas meja sidang dengan hentakan kencang.

"Ini adalah Berkas Laporan Audit Resmi dan Sistem Rujukan Kemitraan Medis Hulu Rawa yang telah disahkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten dan Provinsi sejak dua minggu lalu!" pukas Dr. Aris nyaring, suaranya bergema di seluruh ruangan. "Inovasi Bidan Melani merangkul para dukun beranak justru diakui sebagai program percontohan terbaik dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi di daerah terpencil!"

Para anggota majelis etik saling pandang dengan raut terkejut. Salah seorang anggota majelis meraih berkas tersebut dan membukanya tergesa-gesa.

"I-ini... ini dokumen resmi yang ditandatangani oleh Gubernur dan Kepala Dinas Provinsi?" bisik anggota majelis etik itu tak percaya.

"Benar!" tegas Dr. Aris. "Semua tindakan Bidan Melani adalah sah secara medis dan hukum negara. Tidak ada satu pun pelanggaran yang dilakukan oleh Bidan Melani!"

Pak Pramono menyapu keringat dingin di dahinya dengan sapu tangan, suaranya terbata-bata. "Tapi... tapi laporannya... dia memperkerjakan dukun..."

"Cukup, Pak Pramono!" potong Rangga Wira dengan suara beratnya yang mengintimidasi. Sang Ketua Adat melangkah satu tapak mendekati meja Pak Pramono, memancarkan aura pimpinan yang tak terhentikan. "Jangan pura-pura menjadi korban aturan ketika Anda sendiri yang menjadi dalang di balik semua kejahatan ini!"

Rangga Wira mengeluarkan sebuah perekam suara kecil dan lembaran foto dari balik rompi tenunnya, meletakkannya di atas meja sidang.

"Ini adalah bukti rekaman pengakuan Sutan dan anak buah Anda yang ditangkap di perbatasan Hulu Rawa kemarin!" pukas Rangga tegas. "Anda sengaja menyebarkan paku, merusak mobil ayah Melani, dan berniat mencelakakan nyawa mereka demi memaksa Melani tunduk pada keinginan pribadi Anda!"

Deg!

Suara rekaman percakapan Sutan yang menyebut nama Pak Pramono diputar di tengah ruangan. Seluruh anggota majelis etik terperanjat shock mendengarnya.

"Bahkan Anda menyuruh orang untuk merusak pasokan obat di Pustu kami!" tambah Pak Rahardjo dengan nada amarah yang membuncah. "Anda telah menyalahgunakan jabatan Anda demi kepuasan dendam pribadi!"

Pak Pramono terduduk lemas di kursinya, matanya melotot kosong. Segala kebohongan, manipulasi, dan kejahatan yang ia sembunyikan rapat-rapat kini terbongkar tuntas tanpa sisa di depan majelis etik dan pejabat provinsi. Ia tak bisa lagi mengelak atau berkutik sedikit pun.

Anggota majelis etik tertua bangkit berdiri, mengetukkan palu sidang dengan wajah penuh ketegasan.

Tok! Tok! Tok!

"Atas dasar bukti resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Provinsi, serta bukti kejahatan yang dihadirkan... Majelis Etik memutuskan bahwa seluruh tuduhan terhadap Bidan Melani dinyatakan GUGUR DAN TIDAK BERDASAR!" seru anggota majelis etik nyaring. "Surat Tanda Registrasi dan izin praktik Bidan Melani tetap berlaku sah! Dan untuk Pak Pramono... kasus penyalahgunaan wewenang serta tindakan kriminal ini hari ini juga resmi kami serahkan ke pihak kepolisian!"

Tok!

Palu keadilan diketuk dengan mantap.

Sorak rasa syukur terpancar seketika di dalam ruangan. Melani menutup wajahnya dengan kedua tangan, meneteskan air mata bahagia atas keadilan yang akhirnya tegak lurus. Pak Rahardjo memeluk putri tunggalnya dengan Isak haru yang mendalam.

Dua orang petugas keamanan masuk ke ruangan dan langsung mengawal Pak Pramono yang tertunduk lesu keluar dari ruang sidang. Pejabat korup itu akhirnya memetik hasil dari kejahatannya sendiri.

Dr. Aris melangkah mendekati Melani dan Rangga Wira, menjabat tangan mereka berdua dengan rasa bangga yang luar biasa. "Selamat, Bidan Melani! Keadilan akhirnya berpihak pada kebenaran. Terima kasih juga untuk Ketua Adat Rangga Wira yang begitu gigih membela tenaga medis kita."

Melani menatap Rangga Wira yang berdiri gagah di sebelahnya. Pria tegap itu menyunggingkan senyum amat tampan—seulas senyum penuh keharuan dan kebanggaan yang hanya ditujukan untuk Melani.

Rangga mengulurkan tangannya, mengusap lembut lelehan air mata di pipi mulus Melani. "Sudah saya katakan, Melani-ku... tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh atau merusak cahayamu selama saya berdiri di sisimu."

Melani mengangguk tulus, memegang erat jemari hangat Rangga di pipinya. "Terima kasih, Rangga... Terima kasih telah menjadi benteng terbaik dalam hidup saya."

Pak Rahardjo merangkul bahu Rangga dan Melani bersamaan, menatap dua insan berbeda dunia itu dengan senyuman paling bahagia. "Mari kita pulang... Ke rumah kita, dan ke Hulu Rawa!"

Di bawah naungan keadilan yang telah tegak, ancaman dari kota kini sirnah sepenuhnya. Langkah Bidan Pelindung dan sang Ketua Adat kini lapang, siap melangkah kembali ke tanah Hulu Rawa untuk menyambut hari pernikahan adat mereka yang sakral dan penuh kebahagiaan.

Bersambung..

Kan engga lama drama drama kaya gini wkwkw

1
Apis
knp g di jelasin jg kejahatan pramono lainya thor kaya ke Melani dendamnya karna Melani menolak di nikah sirih jd istri ke 2 biar tambah malu sekalian jd tambah seru biar di rujak sama istrinya 😄
neng ade
akhirnya di tindak tegas juga itu pak Pramono..
Nurul Boed
ceritanya beda dgn novel yang lain,, bagus kak,,, semangat up ya kak 😍😍
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
neng ade
up yang banyak dong thor 🙏
Apis
dramanya jngn berat" ya thor tipis" aj kalo manis"nya baru boleh bnyk 😄
nunik rahyuni
klo menikah aoa cuma di drsa hulu rawa sj...g ke kampung melani dlu baru di boyong je desa suami...masa melani di tinggal di hulu rawa
neng ade
menunggu acara upacara pelaminan adat Hulu Rawa
Kusii Yaati
pejabat Pramono harus di tindak lanjuti itu, laporkan saja biar di pecat 😡
neng ade
selamat untuk Rangga dan Melani karena udah dapat restu dari ayahnya Melani
neng ade
Sutan harus dihukum bersama orang yang menyuruh nya
dika edsel
keren ceritanya...,bintang lima untukmu thor🌟
Kusii Yaati
semangat pak ketua,raih restu keluarga calon Bu ketua suku...ku doa' kan lancar...💪😘
pasti lancar ya Thor 🤭
neng ade
Rangga dan Melani semoga keduanya mendapatkan restu dari kedua orang tua Melani ❤️
Kusii Yaati
dua duanya tapi yang paling berat akan berpisah dengan pak ketua suku 🤭
neng ade
Melani takut karena harus berpisah dengan mu Rangga 😊
Apis
duh pak rangga udah mulai ter ter Melaniku nich 🤣🤣🤣🤣
neng ade
manis dan romantis yang indah dan syahdu ❤️
neng ade
setelah itu akan ada pernikahan adat antara Rangga dan Melani
neng ade
Alhamdulillah.. ..🤲
neng ade
Rangga dan Melani berjodoh .. mereka berdua akhirnya bisa menangkap basah Sutan dengan barang bukti yang ada di tangan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!