Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-Gara Lucky
Lucian sama sekali tidak melirik para pelayan yang terang-terangan mengagumi fisiknya. Pikirannya sudah telanjur dikuasai oleh satu nama: Annabella.
Siapa yang berani membawanya pergi? Ke mana mereka menyembunyikannya?
Lucian mengepalkan tangan di dalam air hingga permukaan kolam beriak hebat. Ia membenci rasa kehilangan kendali, terlebih jika itu menyangkut istrinya sendiri. Annabella adalah miliknya, hanya miliknya dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mencurinya begitu saja.
Tatapannya berubah setajam silet.
“Annabella... kau pikir bisa melarikan diri begitu saja dariku?”
Ia mendongak, menatap langit malam dengan sorot mata yang menyala oleh amarah dan dendam. “Jangan harap aku akan melepaskanmu.”
Kepalan tangannya di dalam air semakin mengerat. “Dan siapa pun yang sudah berani mengulurkan tangan untuk membawamu... aku pastikan dia akan membayar mahal.”
__
Dua hari telah berlalu.
Kediaman Winston tampak tenang dari luar, tetapi di dalamnya, suasana hati Lucian berada di ambang ledakan. Kesabarannya sudah habis. Keberadaan Annabella masih tertutup kabut tebal, dan semua itu gara-gara satu orang: Lucky.
Jika saja adiknya itu tidak lancang campur tangan, Annabella tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari jangkauannya.
Di ruang kerja pribadinya, Lucian menatap layar komputer dengan rahang mengeras. Tim IT-nya sudah jungkir balik membongkar rekaman CCTV dari berbagai sudut kota, tetapi hasilnya nihil. Jejak Annabella seolah lenyap tersapu angin, dihapus bersih dari setiap lensa kamera pengawas.
Tidak butuh waktu lama bagi Lucian untuk menyimpulkan situasinya. Orang yang membantu istrinya bukan penjahat sembarangan. Seseorang di balik pelarian ini memiliki kemampuan hacker kelas atas, bahkan mungkin setara dengannya dalam memanipulasi jejak digital.
Lucian membanting kursinya ke belakang, berdiri dengan gerakan patah-patah.
“Faisal, ikut aku ke ruang IT. Sekarang.”
Asisten setianya itu langsung melangkah cepat, mengekor di belakang sang CEO.
Setibanya di ruangan ber-AC dingin itu, Lucian langsung mendudukkan diri di depan salah satu monitor utama. Jemarinya dengan lincah menari di atas kibor, mengeksekusi barisan kode perintah untuk memindai ulang data mentah yang gagal dibaca timnya.
“Siapa pun kau di balik layar...” geram Lucian penuh penekanan, “aku pasti akan menemukanmu.”
“Tuan, apakah kita perlu melibatkan pihak luar atau agensi swasta?” tanya Faisal hati-hati.
Lucian mendengus dingin tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Tidak perlu. Aku akan mencarinya sendiri.”
Ia adalah pria yang pantang mengakui kekalahan, apalagi dalam bidang teknologi yang merupakan wilayah kekuasaannya. Kali ini, ia akan membuktikan bahwa tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang bisa mempermainkannya.
Sementara itu, siang menjelang sore, kedatangan tamu tak diundang menyapa kediaman Winston. Cristal melangkah masuk dengan senyum anggun, disambut hangat oleh Adara yang langsung menariknya ke ruang tamu.
“Cristal, Sayang! Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Adara antusias.
“Baik, Tante. Aku kebetulan sedang sengaja mampir, ingin bersilaturahmi sekaligus mengecek kabar Lucian.”
Adara tersenyum lebar. Ia memang sejak lama menjagokan Cristal untuk bersanding dengan putranya—perempuan berpendidikan tinggi, berasal dari kalangan elite, dan memiliki karier cemerlang. Sangat kontras dengan Annabella yang di matanya hanya menjadi noda hitam bagi silsilah keluarga Winston.
“Lucian sedang sibuk di ruangannya, Sayang. Tapi kau tidak perlu cemas, dia pasti senang sekali kalau tahu kekasihnya datang mencarinya.”
Cristal tersenyum tipis, lalu melayangkan pandangan penuh selidik ke sekeliling ruangan. “Oh ya, Tante... omong-omong, ke mana Annabella? Aku tidak melihatnya.”
Senyum di wajah Adara seketika lenyap, digantikan kerutan jijik. “Untuk apa kau repot-repot menanyakan perempuan sial itu?”
Cristal memasang ekspresi polos yang dibuat-buat. “Ah, aku hanya penasaran saja, Tante. Bukankah dia biasanya ada di sini?”
Adara mendengus sinis. “Perempuan berandal seperti dia tak pantas berpijak di rumah ini! Mantan narapidana itu sudah kuusir tiga hari lalu. Entah sekarang dia masih bernapas atau sudah mati kelaparan di pinggir jalan, aku sama sekali tidak peduli.”
Dalam hati, Cristal hampir melompat kegirangan mendengar kabar itu, meski ia berusaha menjaga ekspresi simpatiknya tetap natural.
“Benarkah, Tante? Ya ampun... kasihan sekali.”
Kasihan? Batin Cristal tertawa sinis. Ia justru merasa lega luar biasa. Selama Annabella enyah dari sisi Lucian, jalan baginya untuk merebut singgasana Nyonya Winston terbuka lebar.
Cristal lantas merapat, meraih jemari Adara dengan lembut. “Tante... sebenarnya ada hal serius yang ingin kubicarakan.”
“Katakan, Sayang. Apa itu?”
“Bisakah Tante membantu membujuk Lucian agar lekas menceraikan Annabella... lalu menikahi-kanku?” mohon Cristal dengan suara termanisnya.
“Ayahku terus mendesakku, menanyakan kapan kepastian pernikahan kami. Aku tidak mungkin terus digantung tanpa kejelasan, Tante. Lagian, mempertahankan pernikahan Lucian dengan perempuan tidak berguna itu sama sekali tidak ada artinya, kan?” lanjutnya mendesak.
Adara mengangguk mantap, terhasut sepenuhnya. “Kau benar, Cristal. Sejak awal, Lucian tidak seharusnya menikahi perempuan pembawa sial itu. Tenang saja, serahkan padanya pada Tante. Nanti akan kubujuk Lucian.”
Mata Cristal berbinar puas. “Terima kasih banyak, Tante. Aku tahu Tante satu-satunya orang yang selalu mendukungku.”
“Sudah semestinya, Sayang. Hanya kau yang paling pantas mendampingi Lucian.”
Setelah mengobrol beberapa menit lagi, Cristal melirik jam tangan mewahnya. “Aduh, Tante, aku harus segera pergi. Hari ini aku ada jadwal wawancara penting di stasiun TV.”
“Baiklah, Sayang. Hati-hati di jalan, jangan sampai terlambat.”
Cristal berpamitan dengan senyum kemenangan yang sulit disembunyikan. Di dalam hatinya, ia yakin benteng pertahanan Lucian tidak akan bertahan lama lagi.
Sepeninggal Cristal, Adara bangkit dan mencari suaminya. Ia mendapati Arsen tengah duduk seorang diri di ruang keluarga, termenung dalam keheningan yang pekat dengan tatapan kosong menerawang jauh.
Adara mendekat, melingkarkan tangan di bahu suaminya. “Sayang, ada apa? Dari tadi kamu melamun terus. Apa yang sedang kamu pikirkan?”
Arsen mengerjap pelan. “Anak kecil itu...”
Dahi Adara langsung berkerut dalam. “Anak kecil yang mana lagi?”
“Anak kecil yang bersama Annabella hari itu.”
Wajah Adara seketika mengeras, menunjukkan ketidaksukaan yang kentara. “Untuk apa kamu masih memikirkan anak pembawa sial itu? Dia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga kita! Bisa jadi dia anak yang dilahirkan Annabella selama di penjara.”
Arsen menatap istrinya tajam. “Jangan bicara sembarangan, Adara. Kita bahkan tidak tahu siapa orang tua kandung anak itu.”
“Lalu apa pedulimu? Annabella sudah pergi menghilang dari hidup kita. Kita tak perlu membebani pikiran dengan orang-orang asing yang tak sederajat dengan keluarga kita.”
Adara lantas menarik lengan suaminya, mencoba merajuk. “Sudahlah, daripada kamu pusing memikirkan hal tidak penting, lebih baik menemaniku ke butik. Aku ingin melihat koleksi tas terbaru.”
Arsen menghela napas berat sebelum akhirnya bangkit menuruti ajakan istrinya. Namun, jauh di lubuk hatinya, bayangan wajah mungil Yumna terus berkelebat mengusik batinnya. Entah mengapa, setiap kali ia mengingat anak itu, ada debaran asing dan rasa akrab yang tidak mampu ia jelaskan dengan akal sehat.
__
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???